Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Baju Baru


__ADS_3

Sudah dua tahun Aram, Areha, Luran dan Figan tidak membeli baju baru. Hari itu, nenek mengajak Areha, Luran dan Figan ke pasar di Kelurahan Talang Kelapa. Betapa gembiranya ketiga kakak beradik itu. Mereka mengenakan pakaian terbaik mereka. Namun tetap saja pakaian lusuh. Pakaian mereka dulu tidak terawat karena jarang di cuci saat mereka terlunta-lunta di jalan.


"Ini di coba, Luran." Kata nenek, sambil menyodorkan celana pendek berbahan katun. Hiruk-pikuk pasar di sekitar mereka menjadi pemandangan umum di pasar.


"Kantong plastiknya Nek." Tawar seorang anak perempuan berumur delapan tahunan. Nenek kasihan, dia membeli satu kantong plastik besar.


"Bagaimana Figan, kamu suka baju itu." Tanya nenek, Figan mengiakan dan nenek membayar. Areha sudah membeli baju paling pertama.


"Cocok itu pada Luran, Nek." Kata Areha. Akhirnya semua mendapat baju. Nenek menyisihkan sedikit demi sedikit untung berjualan kue untuk membelikan mereka pakaian. Aram juga nenek belikan dua setel pakaian. Nenek pandai memilih baju dan celana panjang yang pas untuk Aram.


"Dik, es hanya lima ribu." Kata tukang es kacang merah. Figan melihat, dia ingin membeli tapi tidak ada uang.


"Nenek." Panggil Figan sambil menarik baju nenek. Nenek mengerti dan membeli tiga kantong es kacang merah.


...*****...


Sementara itu, di sebuah komplek perumahan di sekitar jalan Soekarno-Hatta. Ada rumah sederhana. Sebuah ruko kecil di depan rumah yang dipenuhi barang manisan. Pagar beton, pintu pagar dari besi dorong. Di sisi pagar banyak ditanam bunga-bunga. Seorang ibu-ibu sedang berbicara pada anak perempuannya di sofa. Dari sofa dia dapat melihat kondisi di halaman dan toko manisan miliknya.


"Salika, kamu semakin nakal sekarang. Pulang sekolah sudah sore menjelang magrib, kau kemana saja. Kau perempuan, harus pandai berkelakuan. Pulang sekolah, langsung pulang ke rumah. Jangan keluyuran, atau main ke rumah orang. Apalagi ke rumah teman laki-laki. Tidak baik." Kata ibu Salika, dia memarahi Salika yang selalu pulang sore entah dari mana.


"Aku cuma bermain di rumah Dewi dan Liwah, Bu. Masak bermain saja tidak boleh." Ujar Salika, sambil memainkan smartphonenya.


"Bukan tidak boleh, kau itu perempuan. Harus tahu diri, bersikap seperti perempuan jangan seperti anak laki-laki." Ujar ibunya.


"Ibu banyak sekali aturan, kayak orang zaman dahulu. Dikekang begini Aku, Aku ini generasi Z, generasi modern. Bukan generasi jadul seperti zaman ibu." Kata Salika keras kepala.


"Ibu tidak mengekang, tapi melindungi kamu dan menyayangi kamu. Generasi yang baik bukan di ukur dari abjad. Tapi dinilai dari etika, dari adab, dari moral. Bukan generasi liar dan keluyuran tidak tahu arah. Generasi yang sadar diri tentang nilai-nilai hidup yang baik." Kata ibu Salika.


"Terserah ibu, Aku hanya bermain biasa-biasa saja." Jawab Salika dan dia bangkit dari sofa, lalu masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Ibu Salika menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskan perlahan. Dia mencoba sabar menghadapi anak gadisnya yang sudah kelas dua belas, SMA Negeri. Ibu Salika khawatir kalau terjadi sesuatu pada anaknya.


"Bibik Rewa, mau beli sabun dan deterjen." Panggil suara dari depan warungnya.


"Iya, sebentar." Jawabnya, lalu dia melangkah keluar.


...*****...


Di sebuah ruangan perusahaan ekspedisi. Tampak Jum dan Lam kembali berhadapan dengan HRD mereka.


"Kalian sudah mendapatkan tiga surat peringatan. Tapi kalian tidak berubah, masih bekerja tidak becus. Kalian sepertinya lebih suka bermain game online daripada bekerja. Makan dari itu, kalian mulai hari ini dipecat. Silahkan bermain game online dan judi online sepuasnya. Itu yang kalian suka, bukan." Ujar HRD marah besar, lalu memberikan dua surat di dalam amplop.


"Pak, jangan pecat kami Pak. Kami akan berubah seratus persen. Kami janji Pak." Kata Lam hampir menangis.


"To, tolong Pak, beri kesempatan sekali lagi. Kami belum bayar kontrakan bulan ini. kasihanilah kami, benar Pak. Demi Allah, kami akan berubah dan menyesal karena lalai bekerja. Kami mengakui kecanduan main game." Ujar Jum dengan air mata berurai.


"Sudah, posisi kalian sudah ada yang menggantikan. Tolong kembalikan semua atribut kantor yang sudah diberikan. Kalau tidak, saya akan meminta polisi menangkap kalian kalau tidak dikembalikan." Ujar HRD tidak mau tahu.


"Pakkkkk." Keduanya berlutut.


"Sudah, ini pelajaran untuk kalian. Aku banyak pekerjaan." Kata HRD.


"Pak tolong pak, sebulan atau dua bulan lagi izinkan bekerja." Lam memohon lagi. HRD menarik nafas dalam-dalam.


"Pak Rama, Pak Huluk, tolong bahwa dua orang ini keluar." Panggil Pak HRD pada dua security kantor. Dua orang tinggal besar, terutama yang dipanggil Huluk. Dia dipanggil Huluk karena kuat dan tinggi besar seperti Huluk di film Star War. Lam dan Jum yang berperawakan kurus sangat mudah mereka tarik keluar. Setelah itu, keduanya pulang ke kontrakan dengan lesu. Menyesal tiada guna lagi, selain merobek surat pemecatan mereka.


...*****...


Riha dan Gapa masuk rumah ibu kontrakan. Keduanya disambut hangat, disuguhi minum jus buah mangga, dan kue pisang bakar.

__ADS_1


"Saya jadi menyewa kontrakan itu. Kedatangan saya mau membayar untuk bulan pertama, sekalian ambil kunci." Kata Riha.


"Oh, iyalah Dik Riha." Ujar Ibu Kontrakan, dia bangkit mengambil kunci kontrakan di dalam laci meja. Di atas meja ada bunga dan sebuah letop.


"Berapa sebulan, Bu." Tanya Riha.


"Cuma empat ratus lima puluh ribu. Kemarin DP seratus ribu." Ujar ibu Kontrakan. Riha kemudian mengeluarkan uang tiga ratus lima puluh ribu. Ibu Kontrakan menerima, menghitung dan membuat kuitansi bukti lunas. Mereka berbincang-bincang ringan sambil menikmati jus buah.


"Siapa saja yang mengontrak Bu." Tanya Gapa.


"Yang paling ujung, dikontrak dua bujang. Bekerja di perusahaan ekspedisi. Sebalah Pak Ruyo dan istrinya Tuyi, di tengah Pak Yugus dan istrinya bernama Walah, samping sini dikontrak Nenek Cik Rumi dan cucu-cucunya." Jelas Ibu pemilik kontrakan.


"Rumah pak RT, sebelah mana." Tanya Riha.


"Di barisan belakang kontrakan, blok H. Nanti ibu temani kalau kesana." Ujar ibu pemilik kontrakan. "Ini cowok Dik Riha ya." Tanya ibu Kontrakan.


"Woooohhh. Bukanlah buk, amit-amit dengan wanita ini. eehhhhhh." Ujar Gapa seakan-akan dia menolak sekali. Tapi tingkahnya lucu membuat Riha tertawa.


"Kak Gapa, sepupu saya Bu." Jelas Riha, dia kemudian memukul lembut Gapa yang senyam-senyum.


"Kapan dek Riha pindah." Tanya ibu pemilik kontrakan.


"Besok Bu, lusa saya sudah mulai masuk kerja di Indomaret di depan sebelum masuk ke kompleks ini." Kata Riha, ibu pemilik kontrakan baru mengerti mengapa Riha menyewa kontrakan miliknya, dekat tempat kerjanya.


...*****...


Salika dan pacarnya duduk di bawah sebatang pohon rindang. Suasana sepi dan sekeliling banyak semak-semak dan ada padang ilalang. Selain itu, ada rawa-rawa banyak kayu gelam. Bekas-bekas orang mencari ikan tampak di sisi tebing rawa-rawa itu.


Sepeda motor terparkir di samping mereka. Keduanya masih memakai seragam sekolah mereka. Dari sana mereka melihat jalan raya yang selalu ramai dilalui kendaraan bermotor.


"Sayang, sepertinya ibu kamu tidak merestui hubungan kita. Ibu kamu juga mengekang kamu. Untuk memisahkan Aku dan kamu." Kata kekasih Salika.


"Sudah Aku katakan berkali-kali, kenapa kau belum yakin sayang. Aku bersumpah." Ujar Dehan meyakinkan. Begitulah keduanya terus berbincang-bincang sampai lupa waktu dan lupa segalanya. Bahkan dosa besar mereka lakukan juga.


...*****...


Sementara itu, Ibu Salika sangat gelisah. Hari sudah petang, lewat pukul lima sore. Matahari hampir terbenam, dengan sinar kuning lembut.


"Sritttt." Sepeda motor berhenti dan terdengar suara bising knalpot racing. Ibu Salika dan tetangga sekitar sangat terganggu dengan knalpot racing. Salika turun dari sepeda motor dan melangkah pulang. Dia berdiri sejenak di sisi jalan. Melambaikan tangan pada Dehan yang mulai melaju dengan kecepatan tinggi.


"Dari mana kau anakku. Kau tidak mau mendengar kata-kata ibu. Apa yang kau perbuat, sampai pulang hampir magrib begini. Mau jadi apa kau ini. Andai ayahmu masih hidup, pasti kau sudah dia pukul." Kata ibunya.


"Ah, ibu. biasa saja, Aku sudah besar. Bukan anak-anak lagi." Kata Salika, dia langsung masuk ke dalam rumah dan masuk kamar lalu menutup dan mengunci pintu kamar.


"Kau dari mana dengan temanmu itu. Apa kau tidak punya teman lain selain teman seperti itu. Apa yang kau lakukan bersama dia. Salika, sadarlah nak, dengarkan ibu. Nanti kau menyesal." Ujar ibu Salika di depan pintu kamar. Sementara Salika diam saja. Dia tidak suka ibunya mengangap rendah Dehan kekasihnya. Benar kata Dehan kalau ibunya tidak suka pada Dehan dan tidak merestui hubungan mereka. Salika marah besar pada ibunya. Baginya cinta Dehan adalah segalanya.


Ibu Salika tiba-tiba sakit pada dada kirinya. Dia berjalan ke sofa sambil berpegangan pada dinding rumah. Dengan susa paya dia akhirnya mendekati sofa. Tapi sebelum sampai tiba-tiba nafasnya menjadi sesak. Lalu tubuhnya jatuh ke lantai perlahan. Sementara Salika menangis, menurutnya ibunya jahat dan tidak sayang padanya. Dia kemudian Videocall dengan kekasihnya curhat tentang perasaan alainya.


...l*****...


Seorang ibu-ibu berumur empat puluhan tahun bersama anak perempuannya masih remaja berjalan menuju warung Ibu Salika.


"Mak, beliin Aku softex ya, seperti besok Aku banjir." Ujar Anak gadisnya.


"Husss, jangan kuat-kuat di jalan ngomong begitu. Bisikkan saja di warung pada ibu apa." Kata si ibu.


"He. he." Terdengar tawa ringan si anak. Dua sepeda motor berlalu, membuat mata keduanya silau. Azan terdengar dari masjid.

__ADS_1


"Sudah isyah, Ayo cepat. Biar shalat Isya tidak terlalu lewat waktu." Kata si ibu, keduanya kemudian menyemberang jalan dan tiba di Toko ibu Salika.


"Yuukkk. Ayukk Rewa. oh, Ayukk." Panggil si ibu. Dia melihat-lihat ke dalam warung.


"Tak ada orang, sepertinya Bu." Kata anaknya.


"Coba panggil dari depan pintu. Mungkin di dapur orangnya." Kata si ibu.


"Iya kayaknya Bu." Kata anaknya, yang sudah membuka smartphonenya.


"Ibu panggil dari pintu, kamu tunggu di sini." Kata si ibu, dia melangkah masuk halaman dan menuju pintu yang terbuka. Beberapa kali dia memanggil tapi tidak ada sahutan. Sementara Salika tidak mendengar karena telinganya tersumbat headset.


"Kemana Ayuk Rewa, sepi tapi toko terbuka." Guman si ibu, dia memutuskan untuk pergi, saat dia akan berbalik. Sekilas dia melihat ujung kaki di samping sofa. Si ibu merasa aneh, apa mungkin dia tertidur pikirnya.


"Ayukk. Ayukk." Panggil si ibu melangkah mendekati. Dia menggoncang tubuh berkali-kali tapi tidak bergerak. Ibu itu panik, dia berlari keluar dan meminta anaknya memanggil warga.


...*****...


Setengah jam berlalu sudah.


"Tok. Tok. Tok." Suara ketukan pintu kamar.


"Apa pula berisik sekali. Mengganggu saja, orang tua yang tidak mengerti dan sayang anaknya." Ujar Salika sambil berbaring dan cemberut. sudah berulang-ulang ketukan di pintu kamar tidak dia pedulikan, sekarang ketukan semakin kuat seakan mau di jebol.


"Aduuu, mau apa lagi ibu tua ini." Ujar Salika menyalahkan ibunya. Dia kesal seratus persen dan melangkah dengan menghentakkan kaki, handphone di tangan dan headset masih menempel di telinganya.


"Kreettt." Pintu terbuka.


"Apa si." Teriak Salika, matanya terkejut dan terbelalak saat banyak kerumunan keluarga.


"Pak RT." Kata mulutnya perlahan.


"Kamu ini, jadi anak kurang ajar sekali. Handphone saja kau pedulikan. Pintu di ketuk tidak di buka-buka. Apa ini hasil kau sekolah selama ini." Kata Pak RT marah dan kesal.


"Ada apa pak RT, kok marah-marah." Ujar Salika merasa tidak bersalah.


"Orang sudah lebih setengah jam mengetuk pintu kamar kamu kuat-kuat. Tapi tidak kau buka-buka." Ujar Pak RT. Semua warga memandangi Salika dengan heran. Beberapa ibu-ibu tampak membawa banyak kain panjang dan sudah menggelar tikar di ruang tengah rumah.


"Terserah Akulah, kan kamar Aku." Jawab Salika merasa tidak bersalah.


"Sudahlah, anak zaman sekarang kurang ajar memang. Lebih penting urusan diri sendiri dari pada urusan keluarga. Kalau kau masih mau bertemu ibu kamu, temui dia di rumah tengah. Besok akan di kebumikan." Kata Pak RT. Bagaikan di sambar petir tubuh Salika termundur beberapa langkah. Dirinya yang merasa sangat hebat dan pandai bersilat lidah tiba-tiba lesu dan lemah. Smartphone terlepas dari tangannya. Dia menjerit berharap semuanya adalah mimpi. Lalu menghambur ke ruang tengah dimana jenazah ibunya terbujur kaku. Ibu-ibu tetangga berada di sekitar menenangkan Salika. Beberapa orang bapak-bapak ada yang membaca Al-Qur'an. Sementara tangisan Salika terdengar pilu sepanjang malam.


...*****...


Sementara itu, di kontrakan Aram suasana hangat dan gembira. Figan dan Luran memakai baju baru dengan gambar Spiderman. Keduanya juga punya mainan mobil kecil yang baru di beli. Nenek bangkit dan melipat sajadahnya. Dia baru selesai shalat isya. Setelah itu, dia duduk di antara mereka. Nenek merasa tenang dan nyaman di sekitar anak-anak itu.


"Besok, nenek akan ke sekolah. Mau bertanya bagaimana caranya agar Areha, Figan dan Luran bisa masuk sekolah." Kata nenek.


"Oh, iya Nek. Apa Aram perlu ikut." Kata Aram.


"Tabungan Areha sudah banyak Nek, bisa membeli perlengkapan sekolah kami bertiga." Ujar Areha. Areha menabung keuntungan jualan kering singkong dan keripik pisangnya.


"Kalau bisa sekolah, untuk biayah Figan dan Luran kita jual sepuluh ekor ayam saja Nek." Saran Aram.


"Iya, benar kamu Aram. Nenek lupa kalau ayam juga sudah ada yang bisa di jual." Ujar nenek.


"Beli baju dan alat-alat mungkin hampir satu juta untuk mereka bertiga. Dulu pakaian sekolah Figan dan Luran di pakai main, jadi rusak, ransel dan sepatu juga." Kata Aram.

__ADS_1


"Kalau Areha tidak usah beli ransel dan sepatu. Masih bagus semua." Kata Areha. Begitulah suasana di kontrakan Aram malam itu. Mereka membahas bagaimana Areha, Luran dan Figan kembali sekolah. Mengukur uang mereka dan pengeluaran bulanan mereka. Tabungan Areha, tabungan nenek dan tabungan Aram di kumpulkan. Ditambah lagi Aram akan menjual sepuluh ekor ayam, untuk membayar kontrakan mereka bulan itu.


...*****...


__ADS_2