
Matahari bersinar cerah pagi itu. Burung-burung berterbangan di pepohonan dan semak-semak hutan. Deru kendaraan terdengar tiada henti di jalan raya. Pagi itu, seperti biasa Aram bersiap untuk mencari barang bekas. Perlu tenaga ekstra untuk kerja menjadi pemulung. Selain sulit mendapatkan jumlah banyak, juga sudah banyak pemulung lainnya.
Setelah makan nasi bubur dan ikan gabus bakar yang dia dapatkan dari mengangkat tajur di rawa-rawa. Aram bersiap-siap, mengecek ban gerobaknya, gancu dan karung plastik dipersiapkan. Semua lengkap dan dia segera melangkah. Sesungguhnya Aram merasa tidak enak badan, perutnya meruap-ruap seperti ingin muntah. Kepala terasa pusing dan pandangan berkunang-kunang. Tapi dia harus mencari barang bekas, mumpung beras masih ada, pikirnya.
"Areha, koyong berangkat cari barang bekas. Kamu jaga adik-adik, jangan main di rawa-rawa dan di jalan raya." Kata Aram, peringatan itu setiap hari dia ucapkan. Aram pun mulai melangkah mendorong gerobak, sambil memijit kening.
"Wuaakkkkkk. Wuaakkkkkk." Tiba-tiba, Aram muntah beberapa kali, semua isi perutnya keluar. Dia duduk berjongkok di sisi gerobak.
"Koyong." Areha mendekati kakaknya, Luran dan Figan juga mendekati.
"Koyong sakit, istirahat saja hari ini. Atau biar Areha dan Luran yang mencari barang bekas." Kata Areha.
"Koyong tak apa-apa. Sudah, mainlah. Aku nak pergi." Kata Aram, saat dia bangkit dan berjalan pandangan matanya berkunang-kunang. Kepala bertambah pusing dan baru lima langkah Aram lemah dan dia duduk kembali. Atas saran Areha dia pun kembali ke rumah karung mereka. Aram istirahat, dia berbaring lemah. Pandangan matanya sayu dan sedih.
"Kopek, nanti Koyong mati." Ujar Luran sambil menangis. Dia ingat ibu mereka yang meninggal karena sakit. Areha dan Figan juga menangis sedih.
"Sudah, Koyong cuma masuk angin. Areha, ambil kaleng dan lampu minyak kita. Kerok belakang Aku." Kata Aram menghibur adik-adiknya. Dia kemudian telungkup agar Areha dapat mengerok belakangnya. Saat Aram telungkup dia memejamkan mata. Air matanya meleleh, dia juga takut kalau dia mati. Bagaimana keadaan adik-adiknya dan siapa yang akan memberi mereka makan.
"Ya Allah, jangan kau ambil nyawaku sebelum adik-adikku besar." Begitulah doa Aram tanpa diketahui tiga adiknya.
Punggung Aram tampak merah setelah di kerok. Tapi rasa pusing dan mulut terasa pahit terus dia rasakan. Aram pun tertidur hingga menjelang malam baru terbangun. Tubuhnya lemah, dia memaksakan diri untuk mengajak adik-adik ke rawa-rawa untuk mandi dan mencuci.
Pada hari kedua, Aram masih sakit dan bertambah parah. Dia sekarang tidak lagi bisa berjalan. Makan tidak bernafsu dan minum tidak mau. Membuat tubuhnya bertambah kurus dan lemah. Areha merawat kakaknya, dia mengkompres kening Aram yang panas. Sekarang Areha yang memasak dan mengajak adik-adik ke rawa-rawa. Aram tidak bisa lagi.
Hari ke tiga dan keempat Aram masih sakit dan bertambah parah. Sepanjang hari dia berbaring dan tertidur. Areha merasa sedih dan khawatir. Tiada henti tangisnya setiap hari. Dia tidak mengerti, bagaimana menolong Aram. Dia tidak bisa menggendong Aram dan dia tidak punya uang. Hanya uang di dalam tabungannya, tapi bagaimana.
"Koyong, Areha buka tabungan saja ya, untuk beli obat koyong." Kata Areha.
"Kau lihat beras kita, Kalau tinggal sedikit baiknya kau beli beras saja, Ha. Kasian Luran dan Figan kalau tak makan. Kakak tak apa-apa, besok lusa akan sembuh." Kata Aram. Areha membuka tabungannya yang berisi uang seribuan dan dua ribuan. Dengan pisau dapur dia merobek tabungan plastiknya. Setelah dihitung isinya hanya empat puluh tiga ribu.
"Koyong, isinya cuma empat puluh tiga ribu." Kata Areha.
"Kau ajak adik-adik beli beras tiga kilo, satu bungkus garam, satu sabun mandi, dan beli air minum dengan galon. Bawak gerobak saja, minta bantuan Luran dan Figan mendorongnya." Kata Aram dengan mata terpejam. Berangkatlah Areha ke luar tembok dengan mendorong gerobak kosong, di dalam ada galon air minum.
Satu jam kemudian, Areha diikuti Luran dan Figan pulang dari belanja. Betapa berat mendorong gerobak itu bagi tenaga kecil bertubuh kurus seperti mereka. Tapi mereka akhirnya sampai dengan apa yang mereka beli.
"Koyong, mau minuman teh gelas." Kata Figan, menawarkan. Aram menggeleng, dan meminta Areha untuk memasak nasi.
Tiga hari berlalu lagi, Aram bertambah parah sakitnya. Dia tidak lagi bicara, hanya diam dan tertidur. Areha menjadi sangat sedih, dia berpikir bagaimana menolong sang Kakak. Teringat dia dengan pemuda yang memberikan ayam pada kakaknya, Kakak AF. Mungkin dia bisa membantu pikir Areha. Mereka tidak tahu namanya, hanya melihat logo AF pada baju merah biru yang dipakainya.
"Luran, Figan, kalian jaga Koyong. Aku nak menunggu kakak AF itu, mungkin dia lewat atau berhenti di tempat bekas orang jualan di pinggir jalan." Ujar Areha.
Luran dan Figan mengangguk, Areha dari pagi hingga sore duduk menunggu dibangunan bekas orang jualan di pinggir jalan. Setiap ada sepeda motor berlalu dia bangkit. Kalau-kalau kakak AF itu yang lewat. Hari kedua juga demikian, bahkan sampai menjelang malam dia menunggu. Namun kakak AF tidak muncul-muncul. Areha terus menangis setiap hari. Membuat matanya bengkak.
"Koyong akan mati, siapa lagi keluarga kami." Kata hati Areha sambil mengis di sana. Bocah baru berumur sepuluh tahun itu, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
"Sebentar lagi beras juga habis, bagaimana kami makan kalau koyong belum sembuh."
"Hu. hu. hu." Suara tangisan Areha di antara deru kendaraan bermotor yang berlalu.
...*****...
Si Nenek.
*
Seorang nenek-nenek berjalan perlahan di bawah terik matahari Sore. Dia menyusuri jalan raya entah mau ke mana. Yang jelas dia berjalan saja. Kalau dilihat dari bayangan panjang sinar matahari waktu menunjukkan sekitar pukul lima sore.
Dari jarak ratusan meter dia melihat hutan hijau yang luas, dengan tanah bidang miring. Di kelilingi tembok tinggi setinggi, dua meter. Beberapa burung terbang berlalu, dedaunan tampak bergoyang diterpa angin.
Dari sana, dia melihat bangunan bekas orang jualan di sisi jalan. Dalam hati si nenek mau berteduh dan istirahat sebentar sambil menunggu waktu shalat magrib.
"Hu. hu. hu. hu." Tangisan anak perempuan terdengar.
"Kakak AF, mengapa tak lewat. Koyong Areha sedang sakit, datanglah Kak." Ujar si anak, tangannya tampak menggores-gores lantai semen dengan potongan ranting kecil.
"Cucu nenek, kenapa menangis di sini." Sapa si nenek saat dia tiba di dalam bangunan itu. Si bocah mendongak ke atas dan melihat seorang nenek-nenek tua yang bijaksana.
"Tidak apa-apa, Nek." Jawab Areha sambil terus mengais. Tangannya terus mencoret-coret lantai.
"Kalau tidak apa-apa kenapa menangis." Tanya si nenek.
"Saya menunggu Kakak AF, tapi sudah tiga hari tidak lewat." Jawab Areha.
"Dia kakak kandungmu, dia kerja apa dan dimana." Tanya si nenek. Areha diam dan menggeleng-geleng kepala. Si nenek-nenek memperhatikan Areha dalam-dalam. Tubuhnya kurus dengan kulit gelap. Pakaian sangat memprihatikan dan sandal jepit yang salah pasangan. Tapi rambutnya dia kuncir dengan rapi.
"Rumah mu di mana, Cucu." Tanya nenek lagi.
"Di sana, jawab Areha." Tangannya menunjuk ke hutan. Sesekali dia melihat ke jalan raya, namun yang dia tunggu tidak pernah ada.
"Ibu dan ayah dimana, di rumah ya." Tanya si nenek.
"Kami tidak lagi punya ibu dan ayah, Nek." Jawab Areha. Jawaban Areha bagaikan petir di telinga si nenek. "Astagfirullah, ucap mulut si nenek tersedat.
"Jadi cucu tinggal dengan siap." Tanya si nenek.
"Saya tinggal sama dua adik dan kakak saya. Tapi kakak sakit sudah lebih dari satu Minggu. Areha takut kakak akan mati juga, seperti ibu." Kata Areha bercampur tangisan pilu. Si nenek tersentuh hatinya bukan alang kepalang. Dia seorang wanita yang telah membesarkan anak-anak. Sangat mengerti dengan keadaan anak perempuan di hadapannya. Timbul niat si nenek untuk menjenguk kakak Areha yang sakit.
"Ayo, coba nenek bantu kakakmu." Tawar si nenek, Areha mengangguk dan mengajak si nenek mengikuti. Nenek merasa risi saat berjalan di antara semak. Tapi dia terus mengikuti Areha dari belakang.
...*****...
NENEK MEMBANTU.
__ADS_1
*
Si Nenek melongok melihat ke dalam tembok dari lobang tembok yang roboh. Tampak tenda berdinding karung plastik beratap terpal di sisi tembok. Ini rumah mereka kata hati si nenek.
"Ya Allah, mengapa keadaan ini kau timpahkan pada anak-anak ini." Kata hati si nenek.
Dia melangkah mengikuti Areha, dan melihat ke dalam rumah karung mereka. Tampak terbaring seorang anak laki-laki berumur dua belas tahunan. Tubuhnya kurus sekali, dan kulit gelap. Tampak terpejam matanya, dan lemah geraknya.
"Apa yang kau rasakan, cucu." Tanya si nenek sambil memegangi kening Aram. Aram menggeliat dan matanya membuka perlahan.
"Umaaakk. Baakkkkk. Aku sakit, maaf tak dapat jaga adik-adik." Kata Aram perlahan dan ada air mata yang mengalir di kelopak matanya. Si nenek matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Koyong. Bangun koyong, sembulah koyong." kata Areha setengah terisak. Nenek melihat keadaan suasana, matahari yang sudah hampir terbenam.
"Di mana rumah bidan di sekitar sini." Pikir si nenek. Dia melihat dua anak laki-laki di dekat kandang ayam. Mereka memasukkan ayam mereka kedalamnya. Dua anak diam memperhatikan si nenek.
Nenek tampak termenung, di kelopak matanya terbayang masa lalu. Tiga anak laki-lakinya juga suka memelihara ayam.
"Leban, cepat masukkan ayamnya, setelah itu kita mandi di sungai." Ujar si Nenek di masa lalu.
"Iya Mak." Ujar Laban kecil, dia kemudian memasukkan ayam-ayam bersama dua adiknya, Zeta dan Barda.
...*****...
NENEK DAN IBU BIDAN.
*
Seorang nenek-nenek menggendong seorang anak di punggungnya. Tampak dia begitu kesusahan dan lelah. Selain tubuhnya yang sudah tua, beban anak itu juga berat untuk ukuran dirinya. Dia berjalan kesana kemarin mencari rumah bidan praktek. Terseok-seok langkah-langkahnya.
"Nak, di mana rumah ibu bidan." Tanya si nenek pada dua orang gadis remaja kembar yang baru pulang dari warung. Hijab mereka yang sama warna membuat wajah mereka yang kembar benar-benar tidak dapat dibedakan, dan bertambah cantik.
"Agak jauh dari sini Nek. Mari kami antar biar nenek tidak nyasar. Jalan kompleks ini banyak simpangannya." Ujar Gadis remaja yang kembar itu. Keduanya kasihan pada si nenek yang ngos-ngosan. Tiba di dekat tembok mereka berbelok ke kiri.
"Bu bidan, ada yang mau berobat." Panggil salah satu cewek kembar. Beberapa saat kemudian, seorang nenek-nenek keluar, sambil menggendong cucunya.
"Oh, iya mari masuk, Bu. Ibu bidan lagi shalat magrib." Kata si nenek-nenek dari dalam rumah. Dia memperhatikan si nenek yang menggendong Aram.
"Kami pulang Nek." Kata si kembar.
"Iya, terimakasih banyak cucu." Jawab si nenek, dua gadis kembar pulang. Si nenek masuk dan langsung di pandu ke ruangannya berobat.
"Tunggu sebentar Bu, anak saya lagi shalat, Gantian." Kata si nenek tadi ternyata ibu dari bidan itu. Setelah itu, si nenek orang tua ibu bidan masuk dan memberi tahu ada pasien.
"Sakit apa cucunya, Nek." Tanya ibu bidan, dia masuk ruangan dan mulai memeriksa tubuh Aram.
"Adek ini pernah berobat ke sini. Bawak adiknya yang sakit." Cerita ibu bidan. Si nenek yang belum tahu hanya mengiakan.
"Aram Bu." Jawab Aram lemah sekali. Ibu bidan meminta dia menelungkup, dan ibu bidan menyuntikkan jarum obat di paha kiri dan kanan. Aram merasa ngeri dan sakit dua jarum menusuk hampir bersamaan. Karena itu, hanya dapat dia rasakan saja sebab tubuhnya lemah luar biasa.
"Obatnya diminum teratur, anti biotik habiskan, dan ini pil vitamin. Semuanya di habiskan." Kata ibu bidan.
Sementara si nenek merasa khawatir, dia tidak banyak uang untuk membayar. Tapi itu terpaksa dia lakukan untuk mengobati Aram.
"Cucu nenek sudah lama sakit ini. Jadi obatnya banyak. Selain itu, cucu nenek kurang gizi. Nanti diperbaiki gizinya, banyak makan sayur dan lauk hewani." Jelas ibu bidan sambil meletakkan kantong obat.
"Iya Bu, semuanya berapa." Tanya si nenek.
"Hanya empat puluh ribu, Nek." Kata ibu bidan diikuti senyum. Si nenek lega, dia pikir biayanya mahal sampai lebih seratus ribu.
...*****...
NENEK PERGI.
*
Keesokan harinya, si nenek duduk di luar rumah karung. Dia banyak mencari informasi tentang empat kakak beradik itu. Dia banyak bercerita dengan Areha, Luran dan Figan. Duduk dibawah rindangnya pepohonan.
"Sudah berapa lama Koyong kalian sakit." Tanya si nenek.
"Mungkin dua Minggu lalu." Jawab Areha. Si nenek menanyakan nama ketiganya, dan nama kedua orang tua. Terus mencari tahu tentang kehidupan mereka. Sehingga Nenek mengetahui semua latar belakang mereka. Nenek tahu kalau mereka orang Sekayu karena panggilan koyong untuk kakak laki-laki dan kopek untuk kakak perempuan.
"Siang nanti nenek akan pergi. Jangan lupa berikan obat pada koyong kalian." Kata si nenek.
"Iya Nek." Jawab Areha tampak lesu.
"Kami panggil nenek apa." Tanya Figan.
"Panggil saja Nenek Cik." Jawab nenek.
"Nenek jangan pergi, tinggallah bersama kami. Kami tidak ada keluarga, jadilah nenek kami." Kata Luran.
Si nenek terdiam dan berpikir keras. Hatinya dipenuhi rasa tidak tega. Dia ingin berbuat sesuatu, tapi harus bagaimana. Tidak mungkin dia tinggal di dalam tenda berdinding karung itu. Tapi dia juga mau kemana, dia tidak punya rencana. Sebentar lagi uangnya juga akan habis. Bagaimana dengan anak-anaknya. Dia tidak punya rumah dan pekerjaan. Kalau bersama anak-anak ini, Akan punya tanggung jawab besar. Atau, inilah jalanku mewujudkan impian almarhum suamiku, pikir nenek.
"Apa muat, ajak nenek tinggal di sini." Tanya si nenek, dia ingin menolak secara halus. Agar anak-anak itu tidak kecewa. Luran dan Figan berlari ke dalam rumah karung.
"Koyong, ajak nenek tinggal di rumah kita." Kata Figan.
"Ajak Koyong." Tambah Luran. Aram mengangguk lemah, dia juga berterimakasih banyak pada si nenek sudah membatu mengobati.
"Kata koyong boleh Nek. Nanti rumah kita di besarkan. Kami buat rumah sendiri, Figan, Kopek dan Koyong juga." Ujar Figan yang polos. Dia memegang tangan si nenek. Matanya tampak berkaca-kaca, memohon. Figan yang paling cepat dekat dengan si nenek.
"Anak-anak ini memerlukan kasih sayang orang tua. Apakah Aku dapat membiarkan anak yatim-piatu ini. Ya Allah mantapkan hati ku." Pikir si nenek serba salah.
__ADS_1
Si nenek teringat masa lalunya. Saat empat anak-anak masih kecil seumuran mereka. Mereka begitu bahagia, mandi bersama, makan bersama dan bermain bersama.
"Dinda, kalau kanda sudah sukses nanti. Kanda mau membikin panti asuhan untuk anak-anak yatim-piatu." Terngiang di telinga Nenek Cik kata-kata suaminya yang bercita-cita untuk merawat anak yatim-piatu. Apakah ini jalan yang dituntun Allah. Apakah ini amanat dari suamiku atas cita-cita dia yang belum terwujud.
"Nek, mengapa melamun." Tanya Areha.
"Ah, tidak." Jawab si nenek. Tapi si nenek belum yakin dengan semua itu. Dia bertolak pada pekerjaan dan tempat, tidak bisa pikirnya. Bagaimana dia merawat empat anak yatim-piatu ini, perang pemikiran terjadi.
Haripun menjelang siang, Nenek Cik bersiap. Dia tidak mungkin tinggal di tenda karung itu. Maka dia pun pamit pada Aram dan adik-adiknya. Areha dan dua adiknya menangis. Tapi Nenek Cik tidak peduli. Dia melangkah pergi dan meninggalkan rumah karung itu. Semua tidak bisa berbuat apa-apa.
"Da-da, Nenek Cik." Ujar Areha, Luran dan Figan berdiri di muara lobang tembok. Dari sana ketiganya melihat kepergian nenek. Berjalan di antara semak-semak menuju jalan raya. Nenek Cik menoleh sekilas, hatinya menjerit. Tapi langkahnya tetap dia kuatkan untuk pergi.
"Alangkah tega dirimu Cik Rumi. Tega!!!." Suara-suara seakan-akan telah dengar di telinganya.
"Dinda, kalau kanda sukses nanti. Kanda mau membangun panti asuhan. Itulah tujuan kanda dan pengabdian kanda pada kehidupan ini, sebagai muslim kanda tidak mau sebatas ibadah ritual saja, harus berbuat sesuatu, harus semangat, dan penuh perjuangan." Suara suami Nenek Cik terdengar diantara deru kendaraan bermotor di jalan raya seakan mengiringi langkahnya.
...*****...
"Koyong, Nenek Cik sudah pergi." Kata Figan, dia berharap Aram dapat menghentikannya.
"Dia memang bukan nenek kita, Figan. Mana ada orang mau tinggal di rumah karung seperti kandang ayam ini. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dia orang baik, telah bersusa paya mengobati koyong. Itu sudah cukup." Kata Aram lemah dan memeluk adik bungsunya.
...*****...
Dua hari berlalu, suasana sepi di tepi hutan pecah oleh teriakan Luran dan Figan bermain. Mereka bermain-main kuda-kuda, kejar mengejar. Aram duduk bersandar di bawah pohon rindang. Alas dibuat dari susunan kayu bulat sebesar tangan orang dewasa. Dianalah ruang bermain mereka. Seakan-akan ruang tamu di sebuah rumah.
Aram meminum obatnya, dan Areha datang membawakan bubur nasi. Aram sudah mulai sembuh walaupun badannya masih lemah. Empat anak yatim-piatu yang malang, berusaha hidup dalam getirnya kehidupan.
"Koyong, ini bubur nasi. Habiskan, biar koyong cepat sembuh." Kata Areha.
"Figan, jangan lari di sana. Banyak pecahan beling, nanti kakimu terluka." Luran memperingatkan adiknya. Figan berhenti dan kembali lalu dia menuju mobil-mobil mainan.
"Koyong, kita main mobil-mobil, buat jembatan panjang." Ajak Figan. Dia mengisyaratkan ranting-ranting pohon untuk pembuatannya.
"Ayo." Jawab Luran. Tanpa mereka sadari, seorang nenek-nenek mengintip mereka dari balik tembok.
"Assalamualaikum, Areha, Luran, Figan, dimana cucu-cucu nenek." Tampak seorang nenek-nenek masuk dari lobang tembok. Dia membawa kantong plastik hitam. Mendengar panggilan itu, Areha, Figan dan Luran terkejut. Mereka tidak percaya dan tidak menyangka si nenek kembali lagi.
"Nenekkkk." Teriak mereka bertiga berlari berhamburan memeluk si nenek. Aram berdiri lemah di bantu tongkat kayu, dan bersandar di batang pohon. Air matanya menetes dan tersenyum gembira. Bukan hanya kedatangan nenek, tapi melihat adik-adiknya gembira seperti itu membuat Aram terharu.
Nenek Cik mengeluarkan oleh-oleh, buah pisang, gorengan, dan makanan ringan. Si nenek juga membeli lima kilo beras, dan bumbu masak, sabun dan pasta gigi beserta sikat gigi. Si nenek meminta mereka untuk makan oleh-oleh, tapi mereka belum memakannya. Lebih sibuk bertanya dan berbincang-bincang serta berada di sekitar Nenek Cik.
Itu menandakan kalau mereka tidak begitu memerlukan makanan. Tapi yang mereka perlukan adalah kasih sayang dari orang tua dimana mereka dapat bersandar dan bergantung.
"Kanda, Aku akan mewujudkan cita-cita kanda. Aku akan berjuang dan berjuang." Kata hati si nenek.
Sejak saat itu, Nenek Cik tinggal bersama mereka. Di rumah karung itu, sekarang ada lima orang tertidur nyenyak.
"Aram, nanti kalau kamu sudah sehat, kita bangun lagi rumah. Nenek bantu ya." Kata si nenek. Aram mengiakan, Areha, Luran dan Figan berjanji juga ikut membantu.
...*****...
Smartphone Pak Hadi berdering pagi itu. Dia melihat kontak masuk, Pak Katara.
"Ada apa pagi-pagi, Ra." Ujar Pak Hadi. Dia kemudian mengenakan celana panjang untuk ke kantor.
"Ini, mau tanya langsung dari kamu, antara percaya dan tidak. Hadi dirimu, atau Hadi lain." Kata Pak Katara.
"Tanya apa, Katara. Biasanya, tidak pernah menelpon urusan pekerjaan sebelum jam kerja." Ujar Pak Hadi belum nyambung.
"Ini bukan urusan kerja."Jawab pak Katara. Dia terus memperhatikan koran di tangannya, sesekali minum kopi.
"Ada apa." Ujar pak Hadi, dia duduk di kursi sofa ruang tengah rumah.
"Ini, saya baca dari media cetak langganan saya. Benar mertua kamu hilang." Tanya Pak Katara.
Mendengar itu, Pak Hadi bukan alang kepalang terkejutnya. Dia tidak pernah mempublikasikan peristiwa hilangnya mertuanya. Itu juga baru kemarin sore dia dan kakak ipar melaporkan ke polisi. Bagaimana bisa pagi ini sudah ada berita.
"Benar sudah masuk media cetak." Tanya Pak Hadi.
"Iya, nanti Aku kirim foto korannya." Ujar Pak Katara. Beberapa saat kemudian foto koran sampai di WhatsApp Pak Hadi. Ada tiga foto, tiga media cetak di kota Palembang.
"Mertua Pengusaha Sukses di Kota Palembang Hilang Tidak Tahu Entah Kemana"
"Di duga ada konflik keluarga, sehingga ibu mereka hilang suda berbulan-bulan baru diketahui sekarang. Anehhhh." Baca Pak Hadi pada judul koran halaman pertama.
"Ibu Tidak Sekolah Dapat Mengurus Banyak Anak. Tapi Anak-Anak Terpelajar dan Kaya Tidak Terurus Satu Ibu. Fenomena Akhir Zaman!!!"
Sumatera Kabar.- Ibu hilang sudah lama, anaknya tidak tahu menahu. Menurut sumber yang tidak dapat disebutkan. Ternyata ibu itu mertua pengusaha sukses di Kota Palembang dan anaknya seorang manajer di sebuah bank ternama. Sungguh ironi dan miris.
Berita SumSel.- Anak-anak kaya pakai mobil mewah tapi tidak terurus satu ibu. Mertua pengusaha kaya itu hilang sudah berbulan-bulan lalu. Diduga ada unsur kesengajaan dari anak-anaknya."
"Aiissss. Tahu apa wartawan-wartawan itu, kurang ajar sekali mereka." Maki Pak Hadi dari telpon. Dadanya membara.
"Ini dari media siber dan cetak. Apero Fublic dan Apero Fublic.com. Aku kirim scrincutnya. dan lingnya." Kata Pak Katara. Pak Hadi membaca berita itu.
"Konflik Keluarga: Orang Tua Jadi Korban. Aneh tapi nyata, orang tua hilang berbulan-bulan tapi anak malah saling menyalakan..." "Bagaimana ini bisa bocor ke publik, memalukan sekali." Pak Hadi tampak begitu kesal dan tersinggung membaca judul-judul berita tentang hilangnya mertuanya. Apalagi mereka menyebut-nyebut gelar sarjana.
"Saya sarankan menutup dahulu akun media sosialmu." Kata Pak Katara. Setelah itu, Pak Katara menutup telepon. Pak Hadi duduk di atas kasur tidurnya. Istrinya, masuk kamar sambil menggendong Gaka yang baru selesai mandi. Pak Hadi memperlihatkan foto-foto dan scrincut berita yang dikirim Pak Katara.
"Ya. Allah." Juhusi menangis dan air mata berurai.
...*****...
__ADS_1