
Ibu Lisam tiba di sebuah bangunan ruko-ruko berjajar di sisi jalan. Puluhan mobil keluar masuk tempat parkiran. Disisi kiri bangunan ruko terdapat indomaret dengan kesibukannya, puluhan pedagang-pedagang makanan kecil. Ada warung nasi padang, galon air, toko pakaian, apotek, laundry, konter HP, bengkel motor, toko bangunan dan kantor unit sebuah bank BUMN ya mengisi setiap pintu ruko.
Ibu Lisam tampak malu mendekati tempat itu. Dia berdiri mematung beberapa saat di sisi jalan. Dengan penuh ragu dia perlahan terus mendekat bangunan ruko. Yang menjadi perhatiannya adalah warung nasi dan tempat isi ulang air minum. Dia melihat seorang pemuda pergi dengan sepeda motor yang penuh galon penuh air.
"Permisi, dik." Ujar ibunya Lisam.
"Iya, ada apa Ayuk." Jawab pedagang galon itu, wajah datar dan hanya menoleh sekilas.
"Boleh Dik, saya meminta air minum setenga botol ini saja." Kata ibunya Lisam malu-malu pada pedagang air minum itu.
"Oh, maaf tidak bisa Yuk. Saya pakai modal beli air. Ini kota, semua harus beli. Berbeda dengan di kampung, apa-apa bisa minta." Ujar pemilik usaha galon. Ibu Lisam terdiam beberapa saat, wajahnya merah karena malu. Seorang anak-anak berumur tiga belasan tahun datang dengan sepeda kecilnya. Di belakang ada kardus berisi es krim buah. Dia melihat ibu Lisam berdiri di depan usaha galon. Entah apa yang dia pikirkan.
"Iya tidak apa." Jawab ibu Lisam, lalu dia melangkah ke arah warung nasi serba sepuluh ribu di samping.
"Pak, boleh minta air minum setengah botol saja." Kata ibunya Lisam.
"Oh, maaf Bu saya untuk jualan. tidak bisa." Jawab pedagang berperut buncit itu. Seorang wanita tampak berwajah masam di depan meja kasir. Sepertinya dia istri si pedagang itu. Ibu Lisam pun pergi setelah mengucapkan terimakasih.
"Kenapa tidak dikasih Ayah." Ujar anak pemilik warung serba sepuluh ribu. Anak perempuan yang masih seragam sekolah dasar itu bertanya.
"Kalau dikasih, nanti dia sering datang. Sudah minta air, nanti minta makan juga. Memang Aku bapaknya apa." Ujar pemilik warung itu.
"Benar om, saya juga berpikiran begitu. Bukannya kita pelit. Kita ini pebisnis, bukan komunitas sosial." Sahut pemilik usaha galon.
Sementara anak-anak penjual es krim memperhatikan ibu Lisam yang sudah pergi dari area ruko-ruko. Dia tidak mendapatkan sedikit air minum. Ibu Lisam sedih sekali dan melangkah pergi ke tempat lain. Tampak botol plastik yang dia bawa masih kosong. Ibu Lisam tidak tahu harus kemana lagi. Tiba-tiba:
"Ibu, ini ambil air minum saya saja." Terdengar suara seorang anak laki-laki. Terdengar bunyi rem sepedanya yang berhenti di samping ibu Lisam. Tampak anak laki-laki yang kuat, wajahnya teduh dan ramah. Tas sekolah masih menempel di punggungnya. Sepertinya dia jualan es di sekolahnya dan sekitarnya.
"Terimakasih Nak." Ujar ibu Lisam dengan mata berkaca-kaca.
"Sama-sama Bu." Ujar si anak yang langsung pergi mengayu sepedanya.
"Anak siapa." Tanya Ibu Lisam.
"Ahmad." Jawabnya sedikit menoleh dan terus mengayuh sepeda dengan cepat, sebagaimana gaya anak-anak biasanya. Dia masih polos tanpa banyak drama.
Ibu Lisam begitu senang mendapatkan air minum satu botol besar. Sepertinya anak itu baru saja membeli di Indomaret. Karena plastiknya ada logonya.
"Ahmad, anak yang baik dan beruntung sekali orang tuanya." Ujar ibunya Lisam.
Ibu Lisam menoleh ke jajaran ruko-ruko tadi sambil berjalan.
"Seritttt."
Dari jalan raya masuk sebuah mobil berwarna hitam, yang kotor. Banyak tanah di body dan bannya. Berhenti diantara warung makan dan usaha galon. Pintu terbuka dan lima orang bertopeng turun sambil membawa senjata api.
"Dorrr."
"Dorrr." Beberapa letusan senjata terdengar. Semua panik dan ketakutan.
"Serahkan uangmu atau mati." Ujar perampok itu sambil mengacungkan pistolnya pada sepasang suami istri pemilik warung nasi serba sepuluh ribu. Dua pekerjaannya ketakutan lari ke dapur, anak dan istri menjerit. Keduanya disandra dan ditodong senjata.
"Diamm. Atau aku tembak mati."" Bentak perampok, pemilik warung nasi ketakutan. Kebetulan juga dia sedang menghitung uang masuk hari itu bersama anak istrinya. Jumlahnya delapan belas juta, tujuh ratus enam puluh ribu. Kalung, cincin, dan gelang emas juga dirampas. Semua uang dimasukkan kedalam kantong plastik hitam, lalu perampok melangkah mundur sambil mengacungkan pistolnya.
...*****...
"Jangan teriak, kalau tidak mau mati." Ancam perampok lain di sebelah, dia berjalan mundur dan masuk mobil. Begitu juga dengan tukang galon. Semua uang masuk hari itu di rampok. Kalung dan gelang istrinya juga di ambil. Ternyata ada Lima pemilik ruko di rampok sekaligus.
"Dorrr." Terdengar tembakan lagi. Ada jeritan dan teriakkan. Pemilik toko bangunan tewas di tembak perampok.
"Koko Asong di tembak." Ujar beberapa orang. tampak seorang perampok berlari keluar toko Koko Asong. Lalu semua perampok masuk ke mobilnya dan pergi dengan cepat. Dari jalanan ibu Lisam merasa aneh mendengar suara tembakan dan orang menjerit-jerit.
"Brummmm. Srittt." Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi memutar bagaikan bulan sabit. Menabrak dua kotak sampah hingga terbanting jauh.
"Brakk." Sepeda motor mamang pentol terbalik dan kua pentol dan pentol tertumpah. Betapa kesalnya mamang pentol itu.
"Ya Allah, ada apa." Ibu Lisam bertanya-tanya, dia melihat suasana panik, mobil menabrak sepeda motor mamang pentol. Tapi dia terus melangkah pergi. Mobil itu melaju kencang ke jalan raya. Melihat itu ibu Lisam buru-buru menepi.
"Srittt. Srittt." Beberapa mobil dan sepeda motor mengerem mendadak karena mobil penjahat menerobos ke jalan raya. Seorang penjual sapu, dan penjual balon yang berjalan kaki berlompatan ke tepi jalan.
"Ahhhh.
"Ouhhhh." Keduanya kesal dan marah-marah pada mobil yang terus melaju kencang. Dagangan mereka berantakan di sisi jalan. Ibu Lisam diam saja sambil berlalu.
"Ada apa Bu." Tanya seorang pengendara sepeda motor pada ibu Lisam. Ibu Lisam menggeleng saja sambil berkata tidak tahu.
...*****...
Sementara itu, di pinggiran jalan di tepi kota Palembang. Ada tanah lapang berumput, dari sana dapat melihat jalan raya sibuk. Di sisi tanah lapang ada rawa-rawa cukup luas. Kemudian ada tembok cukup tinggi membatasi lingkungan sebuah kompleks perumahan.
"Hei kalian semua, Aku peringatkan kalau seluruh area parkir liar di sini adalah ke kuasaanku. Kalau kalian berani menjaga parkiran, tidak menyetor padaku. Kalian akan tahu akibatnya." Kata seorang laki-laki kekar, kulit sawo matang. Berkumis, ada kalung rantai di lehernya beberapa putaran. Ada puluhan laki-laki yang juga bertampang seram.
__ADS_1
"Om, memang semua tempat itu milik om. Kami cuma cari makan." Jawab seorang anak remaja. Di belakang ada puluhan anak-anak laki-laki seumuran dengan dia. Dandanan merek jelas sekali menunjukkan kalau mereka anak jalanan.
"Aku peringatkan kalian semua, jadi jangan menyesal kalau aku berbuat kejam." Ujar si laki-laki, sepertinya dia pemimpin kelompok preman itu. Setelah berkata itu dia berbalik meninggalkan tempat itu. Beberapa teman orang itu menunjuk-nunjuk pada sekelompok anak jalanan itu, lalu pergi.
Sekelompok anak-anak laki-laki remaja itu hanya diam sambil memperhatikan preman-preman itu pergi. Tiba di jalan, para preman masuk ke dalam dua mobil hitam. Lalu meninggalkan tempat itu dengan cepat.
"Bagaimana Jiho, kita tidak bisa menjaga parkiran kalau tidak mau menyetor pada mereka." Kata temannya.
"Persetan dengan preman-preman keparat itu. Kita lakukan saja, seperti biasa. Kalau kita takut, kita tidak makan." Ujar remaja itu.
"Benar Jiho, daripada kita mati kelaparan. Lebih baik kita mati bertarung dengan mereka." Ujar seorang temannya. Setelah itu, semuanya pergi dari tempat itu.
...*****...
Ibu Lisam tiba di dekat Lisam dan Bagit. Kedua kakak beradik itu gembira melihat ibu mereka kembali dengan membawa satu botol besar air putih.
"Ayo minum." Kata ibu Lisam, Bagit mengangguk lalu Lisam membantu adiknya duduk. Terdengar regukan air, sepertinya Bagit sudah haus sekali.
"Darimana kalian dapat gorengan ini." Tanya Ibu Lisam.
"Dikasih kakek-kakek, dia sendiri yang berhenti dan memberikannya." Jelas Lisam, dia memberi tahu kalau dia tidak meminta atau mengemis. Ibunya mengangguk dan mereka makan gorengan bersama. Perut lapar mereka sedikit terganjal.
"Uhukkk. uhukkk." Ibu Lisam batuk-batuk sambil memegangi dadanya yang sesak. Nafasnya megap-megap dan terdengar suara asma.
"Ibu." Ujar Lisam melihat ibunya penuh rasa khawatir.
...*****...
Aram diikuti nenek dan yang lainnya memasuki sebuah kompleks perumahan. Tampak jalan kompleks itu sudah banyak berlobang dan sisi jalan banyak rumput juga ilalang. Suasana cukup ramai dan hampir semua rumah di tempati. Ada juga rumah-rumah yang tertutup dan tidak di urus sama sekali.
Aram merasa iri melihat bangunan yang kosong dan terbengkalai begitu. Halaman yang ditumbuhi rumput liar atau dipenuhi sampah. Ada juga rumah yang bagus tidak dihuni. Hampir setiap blok perumahan ada rumah demikian. Di sita bank bunyi kata-kata tertulis di dinding depan rumah. Sementara dirinya dan keluarganya terlantar. Rumah-rumah subsidi terbengkalai itu bagaikan istana bagi mereka. Tapi, mereka hanya bisa memandangi saja. Berjalan dibawah terik matahari.
"Permisi. Assalamualaikum." Nenek menyapa orang di dalam warung yang menjual sayuran dan barang manisan. Tampak ibu-ibu paru baya dengan gamis dan hijab ungu keluar.
Suaminya tampak sibuk menimbang gula, dibuat ukuran setengah dan kiloan. Ibu itu keluar seraya menjawab salam. Dia melihat ke jalanan kompleks di depan rumahnya dan berdiri berhadapan dengan nenek. Aram memandang ke arah lain. Ibu itu mengamati satu persatu sepintas.
"Ada apa Uwa." Tanya si ibu.
"Bertanya Dik, ada rumah yang mau dikontrakkan, Dik sekitar sini." Tanya nenek, sambil menepuk punggung anak Pak Kino yang tampak mengantuk.
" Maaf Uwa, tidak tahu." Jawab ibu itu singkat dan kembali masuk ke dalam toko. Nenek diam saja, dia tidak tersinggung dengan sikap si ibu yang dingin. Nenek mengajak Salika kembali berjalan diikuti yang lainnya. Perlakuan orang demikian sudah biasa bagi mereka.
...*****...
"Tidak tahu, serombongan begitu. Kayak pengemis, apa pemulung." Jawabnya.
"Apa yang ditanyakan." Tanya si suami lagi.
"Nyari rumah yang mau dikontrakkan." Jawab istrinya lagi, dia kemudian duduk di meja kerja. Lalu mengambil buah apel di dalam keranjang buah lalu makan dengan lahap.
"Oh, di blok D ada rumah mau dikontrakkan." Jawab si suami, dia tampak mengikat kantong plastik gula.
"Ibu juga tahu, tapi sudahlah orang-orang begitu kalau dibaiki akan salah anggap dan memanfaatkan. Ujung-ujungnya nanti dia mau ngutang dan pinjam uang. Sudah pasti tidak akan membayar." Jawabnya, dan kembali makan buah apel merah itu.
Terdengar suara dua anaknya bertengkar. Padahal keduanya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Dua anak rebutan remote televisi dan saling membentak. Si ibu merasa kesal dan berteriak-teriak agar kedua anaknya berhenti. Kedua anaknya juga saling saling menyalahkan satu sama lain. Sang ayah juga ikut membentak-bentak. Seketika rumah itu bagaikan terjadi perang dunia.
...*****...
"Cuuitttt. Cuittt." Suara burung murai batu.
"Turkututtt. Turkututtt." Burung perkutut berbunyi merdu berulang-ulang. Sebuah mobil pribadi lewat di sisi gerobak Aram dan yang mengikutinya. Luran dan Figan tampak kagum dengan mobil-mobil seorang anak yang dikendalikan dengan remote. Ada lima anak-anak seusia mereka sedang bermain mobil remot kontrol.
"Pak, rumah ini dikontrakan ya." Tanya Aram pada seorang bapak-bapak yang sedang memberi burung makan dengan jangkrik. Ada tujuan sangkar burung menggantung di kerangka kanopi rumahnya. Rumah samping kiri terlihat tidak terawat dan ada tulisan dikontrakkan. Sementara tetangga samping kanan si bapak pemelihara burung membuka pagar geser. Berpakaian rapi, celana dasar coklat dan baju kemeja cream. Rambut di potong rapi, dan bersepatu hitam mengkilap.
"Srookkkkk. Durrr." Pintu pagar terbuka lebar.
"Iya Dik. Ada apa." Jawab si bapak, lalu dia bersiul dengan tangan dibunyikan ke arah burung murai batu.
"Dimana pemiliknya, berapa sewanya." Tanya Aram, nenek mendekat, tampak Gera tertidur nyenyak. Salika, Areha, Junka, Deak, Luran dan Figan duduk berlindung pada bayangan rumah di seberang rumah itu.
"Brummm." Terdengar mesin mobil di rumah samping kanan menyalah.
"Pemiliknya adik saya, dia pindah tugas di Kalimantan. Sewanya enam juta satu tahun. Kalau mau cukup dengan saya, karena dia sudah menitipkan kunci untuk mengurusnya." Jelas si bapak hobi memelihara burung. Seorang ibu-ibu muncul dan duduk di sebuah kursi di depan tepat di samping pintu rumah.
"Oh. Saya cari yang bulanan Pak." Kata Aram lesu.
"Begitu, sepertinya belum bisa. Tanggung, soalnya adik bapak ada keperluan. itulah mengapa dia mau menyewakan rumahnya." Jawab si bapak. Aram pamit, dan akan meneruskan mencari rumah yang dapat mereka sewa.
Mobil pemilik rumah di samping keluar pagar. Kebetulan gerobak Aram masih berada di depan rumahnya. Si pemilik mobil tampak kesal dan marah.
"Hei, pemulung goblok. Singkirkan gerobak sampah kamu dari depan rumahku." Katanya kasar dan kuat. Aram segera mendorong gerobak dengan cepat. Aram dan semuanya diam saja sambil berlalu.
__ADS_1
"Jangan kau anggap remeh Aku. Aku bukan orang kelas kalian. Aku ini orang sukses dengan usaha dan kepintaranku. Bikin kesal saja." Ujar laki-laki itu dengan nada penuh kesombongan diri. Walau dia hanya seorang marketing sebuah asuransi saja. Sudah merasa sangat kaya dan pintar sekali. Itulah yang dirasakan orang itu.
"Iya sih, pemulung tidak tahu diri." Ujar seseorang yang berdiri di lorong pintu rumahnya. Mungkin anaknya, keponakannya atau pekerjaan agen asuransi juga.
...*****...
Seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun keluar dari sebuah rumah. Dia duduk di samping teras rumah. Rumah itu tidak terawat baik. Di selokan dan halaman banyak sampah dan puntung rokok berserakan. Ada sepeda motor penuh dengan perabotan. Tampak kasur terikat di jok belakang, di segi tiga motor metik penuh barang di dalam kardus dan karung.
Rumah di samping kanan tampak tidak dihuni, banyak tumbuh ilalang dan semak-semak. Dua rumah di samping kiri tertutup rapat, sepertinya ditingal kerja pemiliknya.
"Cepatlah, lama sekali bersiapnya." Ujar laki-laki itu, matanya merah karena kurang tidur. Dia mengisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan. Seorang wanita tua dan seorang wanita berumur lebih mudah dari si laki-laki keluar. Membawa buntalan pakaian, kardus dan tas jinjing.
" Srittt." Sebuah mobil berhenti di depan rumah.
"Ini, mobil grab sudah tiba." Ujar si laki-laki, tampak si sopir turun dan membuka pintu. Nenek-nenek dan wanita itu menuju mobil sambil membawa barang. Sopir membantu dalam menyusun barang bawaan.
"Jangan terlalu sore, kita perlu beres-beres." Kata si wanita, sepertinya istri laki-laki itu.
"Iya, Aku menyelesaikan merokok dulu." Jawab si laki-laki. Mobil taksi online itu melaju mengikuti mep google. Dua blok rumah berlalu, berpapasan dengan beberapa sepeda motor dan pejalan kaki.
"Pindah kemana Bu." Tanya sopir basah basih pada dua penumpangnya.
"Pindah ke Gandus, agak murah sewanya." Jawab ibu. Si sopir melihat serombongan orang, ada anak-anak mendorong gerobak sampah.
"Tinnn. Tinnn." Si sopir mengklakson, serombongan orang itu menepi. Mereka mengkomentari sekelompok orang itu. Macam-macam pendapat mereka.
...*****...
Sementara itu, Pak Leban keluar dari kantornya. Dia membawa mobilnya entah kemana. Melaju menyusuri jalan raya di tengah kota Palembang yang padat merayap, tapi tidak macet.
"Sudah di mana, Pak?." Ujar suara dari telpon.
"Ini sudah meluncur, posisi di lampu merah simpan Polda." Jawab pak Leban. Pak Leban akan menghadiri acara yasinan rumah baru seorang karyawannya. Tiga hari lalu karyawannya itu pindah.
"Ok, ditunggu. Yang lain sudah datang semua." Kata suara lagi.
"Ok, lampu hijau, Herung." Kata Pak Leban. Lampu hijau menyala, pak Leban memutuskan sambungan telpon dan dia kembali menyetir.
...*****...
Aram, Nenek dan yang lainnya melewati sebuah rumah di blok K perumahan itu. Ada sebuah rumah yang ramai, banyak mobil terparkir dan orang berlalu lalang. Pakain mereka rapi, dan perempuan berkain songket. Dengan terpaksa Aram dan semuanya berlalu di depan rumah itu, pandangan mata orang-orang menyaksikan mereka. Salika merasa malu sekali, sebab dia sudah mengerti arti hidup. Di ujung jalan tidak jauh dari rumah itu ada sebuah mobil berhenti. pintu terbuka, empat laki-laki muda turun hampir bersamaan.
"Herdung, ini rumah baru kamu." Seorang laki-laki turun dari mobil, diikuti tiga laki-laki muda.
"Iya, mari masuk." Jawab Herdung sambil melangkah menyambut mereka. Aram dan yang lain melihat sambil berlalu.
"Pak Leban belum tiba." Tanya si laki-laki itu. Mereka bersalaman satu sama lain. beberapa orang juga menyambut mereka. Pak Herdung mengiakan dan membawa tamunya ke bawah tenda dan duduk di kursi tamu yang tersusun rapi.
...*****...
Aram dan semuanya tiba di sebuah blok lagi di perumahan itu. Sekarang dia menjumpai seorang laki-laki yang sedang duduk merokok. Kursi plastik lapuk tampak menyot di dudukinya.
"Pak, bole bertanya. Ada rumah yang mau di kontrak bulanan tidak, di blok ini." Tanya Aram. Keringatnya bercucuran, gerobak dia parkir disisi jalan. Nenek mendekat, lalu diikuti yang lain.
"Ahh, eehhh." Si laki-laki tampak berpikir, entah apa. "Ada dik, kebetulan. Rumah saya ini mau dikontrakkan. Bulanan boleh, tahunan juga boleh." Jawab laki-laki itu. Dia berdiri, membuang puntung rokok dan dia injak.
"Benar mau disewakan, Pak." Tanya nenek penuh harapan.
"Benar uwa, saya mau pindah ke rumah anak saya. Dia pindah tugas, dan anaknya yang SD tidak ada yang urus." Jawab si laki-laki itu, ramah dan tersenyum.
"Berapa sebulan Pak." Tanya Aram. Junka dan Areha tampak menggoda anak Salika.
"Lima ratus ribu. Kalau satu tahun lima juta saja." Jawab si laki-laki itu.
"Oh, bisa kurang pak, empat ratus ribu saja." Pinta nenek. Si laki-laki itu tampak berpikir sejenak. Seakan-akan berat sekali rasanya.
"Oh, iya sudah. Tidak apa, tapi bulan depan lima ratus ribu sebulannya." Kata si laki-laki.
"Iya sudah tidak apa." Kata nenek, lalu nenek membayar empat ratus ribu rupiah pada si laki-laki itu.
"Ini kunci rumahnya, saya mau ke rumah anak saya. Kalau mau cari saya nanti, hubungi nomor hp ini, saya tinggal di Plaju." Kata si bapak.
"Siapa nana mu, Dik." Tanya Nenek.
"Sobri, Yuk." Jawabnya, diikuti senyuman. Lalu dia memberikan catatan nomor telpon yang ditulis pada bekas sobekan bungkus rokok. Aram menerima dan akan menyimpan. Si laki-laki mendorong sepeda motornya ke jalan. Dia menstarter dan sepeda motor menyalah. Sambil tersenyum dan memberi isyarat, lalu pergi.
Setelah itu Aram, nenek dan yang lainnya masuk ke dalam rumah lalu beristirahat.
"Aduh, capeknya." Keluh Areha dan Junka. Deak berbaring di lantai semen itu. beberapa saat dia tertidur lelap. Semua gembira sekali, dapat beristirahat dengan baik.
"Kita akan tidur nyenyak malam ini." Ujar Luran.
__ADS_1
...*****...