
Sudah biasa di zaman sekarang, kehidupan seseorang menjadi konsumsi publik. Namun sayang sedikit sekali yang mau mengerti dan bersikap bijak. Manusia selalu menilai kehidupan orang sesuka hati mereka dan sesui persepsinya saja. Media sosial, dari facebook, twitter, instagram, youtube akan ramai. Bahkan kadang mengada-ada dan hoax.
...*****...
CANAL YOUTUBE.
*
Pak Hadi begitu kesal dengan bahasan-bahasan media pers, media sosial dan beberapa youtuber. Tanpa sengaja dia menonton bahasan pada sebuah canal youtube yang khusus membahas masalah keluarga, "Family and Days."
Karena Pak Hadi keluarga pengusaha kaya-raya dan terkenal. Maka kehidupan mereka menjadi sorotan publik, dan masyarakat banyak. Hilangnya Nenek Cik Rumi tentu hal yang hangat bagi masyarakat apabila dilihat dari kehidupannya.
"Hello, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu. Selamat siang menjelang sore dari Sabang sampai Merauke. Kita berjumpa lagi dalam fodcas, 'Family and Days.' dalam kesempatan, ini kita membahas tentang hubungan keluarga, anak, menantu dan mertua. Pokoknya tetang keluarga-keluarga. Bersama kita sudah hadir narasumber keren kita ahli psikolog keluarga, Ibu Dokter Harili. Pak Ustad Abdul Shomad yang sangat terkenal dan dua bintang tamu kita sepasang suami istri, Bapak Furuta dan Ibu Daruna." Ujar Host Family and Days.
"Selamat datang Ibu Dokter Harili." Sapa host ramah, acara pun berlangsung. Pak Hadi dan Istrinya menonton dari handphone masing-masing.
Perbincangan fodcas tentang keluarga sangat asik bagi masyarakat. Bahkan baru satu bulan acara itu telah ditonton 4,3 juta orang. Bukan hanya orang di Indonesia, tapi juga mancanegara.
"Dalam kasus keluarga yang masih hangat, kita tahu semua. Dimana nenek CR memiliki menantu pengusaha, anak terdidik, hidup berkecukupan. Ketika, hilangnya ibu mereka yang sudah berbulan-bulan. Tanpa diketahui anak dan menantunya. Tentu dalam hal ini ada hal yang salah. Bagaimana menurut ibu dokter, ada kah suatu permasalahan serius." Tanya host.
"Ya tentu ada, macam-macam problem dalam keluarga itu. Ada karena faktor ekonomi, etika yang tidak baik, kecemburuan pihak keluarga lain, dan faktor pribadi masing-masing. Misalnya menantu yang keras kepala, atau anak yang tidak peka. Mertua suka menasihati dianggap rewel oleh menantu. Anak-menantu berbuat semaunya, tidak menghargai orang tua, dan banyak lagi." Jawab psikolog.
"Dalam kasus CR, anak menantu terdidik, kaya, bahkan menantunya menurutnya data masuk orang terkaya di Kota Palembang. Tapi masih saja orang tua terlantar dan terlunta-lunta, sampai tidur di masjid. Data sisi tv dari hasil penyelidikan polisi." Tanya host.
"Kembali pada etika tadi. Anaknya yang tidak pandai bersikap. Ada juga menantu tidak suka mertua. Mereka menganggap mertuanya sebagai musuh, sebagai teman seteru. Dia tidak menganggap mertua itu seperti ibu. Contoh: Kalau orang tua kandungnya marah, memberi nasihat dia bisa saja. Tapi ketika yang marah dan memberi nasihat pada dia, ibu mertua. Dia melawan, karena dia tidak menghormati. Bahkan dia mencoba mencari alasan untuk membenarkan perbuatan salah itu. dia begini, dia begitu. Kadang sifat pasangan muda suka panas kuping. Kemudian emosi tidak terkontrol, bertengkar terus menerus. Tentu hal demikian membuat orang tua tidak betah dan tersinggung. Padahal anak dan menantunya memang bertengkar murni masalah mereka." Jawab ibu psikolog.
"Kebawa-bawa marahnya itu saat interaksi dengan si mertua." Sahut Ibu Daruna.
"Nah, iya itu salah satunya." Sahut ibu Dokter. Percakapan sangat hangat. Sampai akhirnya nasihat Pak Ustadz di mintai.
"Bagaimana menurut Pak Ustadz, masalah ini." Host mengalihkan pertanyaan.
Semua tamu mendapatkan giliran pertanyaan-pertanyaan.
Dalam percakapan canal YouTube itu, mereka mengupas tuntas tentang keluarga Pak Hadi. Hingga akhirnya Pak Hadi menutup sementara semua akun media sosial miliknya. Serangan netizens yang paling pedas.
*
Komentar Warganet.
"Oh, pengusaha terkaya di Palembang, eh mertua perempuan saja gak terurus. Paling makan berapa sebulan orang tua. Dasar pelit!!!." Ujar @anjung
"Iya sih, mertua bukan urusan mantu, tapi bolehlah sedekah sama mertua. Itu bini anak mertua jadi istri, dipakai seumur hidup. Melahirkan anak-anaknya, harta tidak di bawah mati, Pak." Komentar akun @Barba. Banyak lagi komentar yang pedas lebih dari lima ribu komentar.
"Berkata sesuka hati, dari sudut pandang sendiri." Pak Hadi kesal setengah mati. Adik Pak Hadi lewat, dia baru saja mengambil pesanan makanan dari gofood. Di tangannya menjinjing sebuah kantong plastik berisi makanan.
"Kau tidak kuliah." Tanya Pak Hadi.
"Tidak Kak, Aku dispensasi selama satu Minggu." Jawab adik gadisnya. Pak Hadi menduga kalau adiknya juga menghindari masyarakat. Ternyata benar, adiknya menceritakan bagaimana semua orang bertanya tentang mertua Pak Hadi.
...*****...
JUHUSI MENANGIS.
*
Sementara itu, istri Pak Hadi di dalam kamar sedang merawat Gaka, si anak sulung yang mau tidur. Sambil menemani anaknya memejamkan mata, dia menonton Canal YouTube, acara Family and Days. Juga membuka media sosial lainnya.
"Istrinya juga terlalu manut sama suami. Memang kita wajib patuh sama suami. Tapi urusan orang tua cobalah minta kompromi dengan suami. Toh suami kaya raya begitu, apa sih kurangnya." Ujar akun @Juju.
"Takut diceraikan, biasalah sudah hidup enak. Lupa sama ibu melahirkannya bertaru nyawa." Komentar akun @Tata.
"Anak durhaka, mantu laknat." Ujar akun @Siska.
"Astaghfirullah, tega sekali mereka beranggapan seperti itu. Suamiku sangat baik pada ibu, dan Aku sayang sama ibu." Ujar Juhusi istri Pak Hadi anak bungsu Cik Rumi.
...*****...
KELUARGA ZETA DI BULLY.
*
Zeta, istri dan dua anaknya pergi berbelanja di sebuah gerai perbelanjaan. Banyak warga yang berbelanja, ibu-ibu, bapak-bapak, anak muda dan anak-anak.
"Jangan lupa sambal tomat, Umak." Kata anak sulung Zeta laki-laki. Dia suka makan kerupuk dengan sambal tomat. Panggilan Umak untuk ibu di ajarkan oleh Zeta karena dia ingin menjaga budaya daerah.
"Ess cream." Ujar anak Zeta baru berumur empat tahun. Mereka menuju bank eskrim.
Sementara itu, tiga orang ibu-ibu memperhatikan mereka. Lalu salah satunya berkata.
__ADS_1
"Itu salah satu anak yang tidak mau mengurusi orang tua yang lagi viral itu. Kaya tapi pelit, anak durhaka." Mereka membuka akun facebook masing-masing. Dimana memuat foto-foto anak-anak dan menantu Nenek Cik Rumi.
"Benar sekali." Ujar satunya. Kemudian mereka berjalan mendekat dan pura-pura mencari barang.
"Anak zaman sekarang ini banyak yang durhaka, dibesarkan orang tua malah orang tua diusir." Kata salah satunya dengan suara dikeraskan.
"Yang bahaya juga kalau dapat menantu jahat, mengusir mertua, dan dia berani meracuni mertua. Menantu tidak tahu diri, ya." Kata yang satu lagi.
"Ya, akibat tidak dididik orang tuanya, tidak diajarkan mengaji. Jadi buruk tabiatnya, korban sinetron." Kata ibu yang ketiga. Kata-kata mereka memang di sengaja dikeraskan supaya terdengar oleh Zeta dan istrinya. Istri Zeta menjadi panas dan tersinggung sekali.
"Hey, ibu-ibu tahu apa tentang keluarga kami. Sembarangan saja kalau bicara." Ujar istri Zeta marah.
"Dinda, sudah jangan diladeni, diam saja." Kata Zeta. Zeta tidak ingin mereka menjadi pusat perhatian orang.
"Eh, nyerobot saja, memang kami ngomongin situ. Tersinggung ya." Balas si ibu itu.
"Bener berarti, langsung tersinggung." Ujar teman ibu itu.
"Ayo, kita pergi, mertuanya saja dia usir dan diracuni. Apalagi kita, bisa-bisa dia bunuh." Ujar ibu itu.
"Ayoo, berani sekali sama orang lebih tua." Ujar ibu satu lagi, mereka buru-buru pergi. Semua orang di toko melihat ke istri Zeta dan berbisik-bisik.
"Galak sekali, ya. Pantas mertuanya pergi dari rumah dan menghilang." Ujar orang-orang di sana. Zeta menasihati agar jangan meladeni orang-orang. Lihat semua jadi memperhatikan kita. Manusia cuma bisa komentar tanpa mau pengertian dengan keadaan.
"Aku tidak meracuni ibu dan tidak mengusir ibu. Darimana mereka bisa berkata begitu." Ujar istrinya Zeta mulai menangis.
"Sudah Dinda, biasa saja." Ujar Zeta menenangkan istri.
"Di internet, di sekitar rumah dan dimana saja orang berkata begitu. Aduuuh." Ujar sambil menangis. Segera Zeta mengajak keluarganya pulang.
Ternyata ibu-ibu tadi sudah mengambil foto mereka. Lalu meng-upload di akun media sosial mereka.
"Ibu hilang entah kemana, Anak dan menantu jalan-jalan ke mall." Ujar status ketiga ibu-ibu tadi. Begitu juga saat cekcok sebentar tadi. Ada juga yang mengambil video dan juga diupload ke media sosial. Maka komentar miring pun tentang istri Zeta melambung tinggi.
...*****...
BARDA JUGA DI BULLY.
*
Pak Barda, istri dan dua anaknya pergi ke toko pakaian. Sebuah distro besar yang khusus menjual pakaian anak-anak. Saat mereka sedang berbelanja, banyak pengunjung diam-diam memfoto mereka. Lalu di posting di akun media sosial mereka.
"Belum Bu." Jawab Pak Barda. Mereka pun pergi dan mencari pakaian untuk anak mereka. Dari balik pakaian tergantung semua memperhatikan kuluarga Pak Barda.
"Oh, itu ya anak yang tidak peduli sama ibu." Ujar salah seorang ibu-ibu setelah jauh. Beberapa wanita pun mendekat dan mereka mulai menggosip.
"Menantu yang cantik, tapi galak. Kabarnya ibu mertua ya dia pukul dengan sapu." Ujar yang lain baru bergabung.
"Ada juga yang bilang disiksa. Itulah ibu mertuanya pergi, dan entah kemana." Kata satunya lagi. Foto mereka di upload di akun media sosial masing-masing.
"Iyalah, dipukuli dengan sapu sama dengan disiksa." Temannya meluruskan.
"Ibu hilang, mereka senang-senang belanja." Ujar ibu yang bertanya pertama tadi. Diam-diam mereka memfoto dan mengunggah ke media sosial masing-masing. Beragam juga komentar pedas warganet. Barda dan istrinya segera pulang selesai berbelanja. Mereka risih dengan pandangan mata orang-orang.
"Aduh, foto kita berbelanja tadi sudah tersebar, Kanda" Ujar istri Barda. Saat membaca komentar warganet membuat hati istri Barda teriris. Dia menangis sedih dan begitu terpukul.
Pak Barda dan istrinya sangat kesal dan malu menyadari mereka menjadi objek pembicaraan masyarakat. Hingga mereka menutup akun media sosial mereka. Lalu tidak menerima tamu untuk sementara waktu.
...*****...
DELAPAN BULAN KEMUDIAN.
*
Sudah delapan bulan berlalu dari hilangnya Nenek Cik Rumi. Semua orang pun telah lupa, hanya keluarga dan anak-anak Nenek Cik Rumi yang masih khawatir dan memikirkannya. Berharap sang ibu pulang suatu hari.
Sementara media sosial, youtuber, media massa tidak lagi membahas tentang Nenek Cik Rumi dan keluarganya. Tinggal kolom komentar mereka yang masih dapat dibaca orang-orang.
Aktivitas Pak Hadi, Pak Leban, Zeta dan Barda juga keluarga lain sudah normal seperti biasa. Tidak ada lagi orang bertanya-tanya tentang ibu mereka.
...*****...
Ibu Juhusi pergi ke rumah sakit. Sudah ada tanda-tanda akan melahirkan. Dia mulai mengerang menahan sakit. Saat tiba di rumah sakit bersalin. Ibu Juhusi sudah memasuki tahap, bukaan empat. Mungkin sore atau setelah isya dia akan melahirkan jelas dokter kandungan.
"Iya, ada apa Hadi." Tanya Leban dari telpon.
"Ini Kak, Juhusi akan segera melahirkan. Kakak Zeta dan Kak Barda sudah saya telpon, sudah magrib mereka ke rumah sakit." Kata Pak Hadi memberi tahu kakak iparnya.
Semua keluarga harap-harap cemas, akhirnya Juhusi melahirkan dengan selamat, bayi perempuan.
__ADS_1
*
PAGI.
*
Dua hari kemudian Pak Hadi memberi nama Zalika Tahdia.
"Andai ibu ada, alangkah bahagia dia. Saat melihat cucu perempuannya. Dia pernah bilang kalau dia berharap Aku memiliki anak perempuan juga." Kata istri Pak Hadi, keduanya sedang duduk di teras rumah di pagi hari. Sinar matahari pagi menyinari tubuh bayi yang masih merah itu.
"Zalika, cantiknya anak bunda." Ujar Juhusi, sementara Gaka main bersama kakeknya di lantai atas.
...*****...
MEDIA BARU: APERO FUBLIC.
*
Pagi yang cerah, suasana sejuk dengan sinar matahari yang temaram. Karena banyak awan hitam yang menutupi langit. Hari sepertinya akan turun hujan. Pak Katara sibuk menelepon rekan kerja. Sementara sekretaris dan tim administrasi mempersiapkan ruang meeting yang luas itu. Setelah semua siap, sekretaris melapor pada Pak Katara.
"Pak, ruang meeting siap. Surat kontrak dengan perusahaan Pak Hadi, Pak Dirak, CV. Transport Indonesia, dan PT. Mega Konstruksi Nusantara sudah selesai. Tapi mohon dicek agar tidak ada kesalahan." Ujar sekretaris.
"Media publikasi sudah ada." Tanya Pak Hadi.
"Sudah ada pak. Sesuai petunjuk bapak, media baru yang kami kontrak." Jawab sekretaris.
"Apa nama medianya." Tanya dia sambil meminum kopi asli Pagaralam.
"Apero Fublic, pak. Media baru. Kontrak kita melalui tahapan seperti biasa, iklan banner, liputan khusus, endorse, dan berita selama dua tahun." Jawab sekretaris.
"Baguslah, baru sekali ini aku dengar nama media Apero Fublic. Kalau media yang lama, tidak enak sama Pak Hadi. Dia masih marah dan kesal katanya atas pemberitaan media saat ibu mertua beliau hilang. Sedangkan kita kerja sama dengan dia dalam penggunaan lahan." Jelas Pak Katara.
"Iya Pak, saya mengerti. Tadi semua sudah di hubungi, insyaallah mereka akan hadir pukul sepuluh nanti." Kata sekretaris, pak Hadi mengangguk. Dia kemudian mengecek surat kontrak dan planning mereka dalam membangun kawasan perumahan elit dan menengah.
...*****...
CURHAT AYUK TARA.
*
Ibu mertua Pak Leban datang berkunjung. Tapi Pak Leban sudah berangkat kerja. Tara istri Pak Leban bercerita pada ibunya tentang keluarga dan orang-orang menganggap diri wanita jahat.
"Begitulah hidup, kita yang menjalani orang yang mengomentari. Kalau apa-apa kau masukkan hati. Kau tidak akan bisa hidup di zaman sekarang. Yang perlu kau lakukan adalah memperbaiki diri. Terutama dalam bersikap saat ada mertuamu. Hormati dia, dan jaga sikap agar dia tidak tersinggung. Begitu juga saat ada iparmu yang datang. Tidak salah menjadi orang penuh kesabaran dan suka mengalah. Justru itu membuat kita bertambah mulia di mata Allah dan orang-orang. Mulai sekarang berubah lah, jadilah dewasa. Mertua banyak rewel itu tandanya dia peduli. Karena dia menganggap menantu dan anak cucunya adalah miliknya, yang dia sayang dan dia jaga. Sama seperti kau rewel atas kenakalan anakmu. Biasa saja, dan berubah lah menjadi lebih penyabar. Insyaallah semua akan baik-baik saja. Nanti kau akan mengerti, setelah kau jadi mertua juga. Jangan sampai hukum karma menimpamu." Nasihat ibunya, pada Ayuk Tara.
"Ibu percaya pada kata orang-orang kalau Aku membentak-bentak mertua lalu memberinya nasi basi sehingga dia pergi." Tanya Ayuk Tara pada ibunya sesuai cuitan warganet.
"Tidak percaya. Ibu mendengar semua itu. Itulah hidup di zaman sekarang, media sosial menjadi tempat gosip. itulah sebabnya kenapa ibu ke rumahmu. Kau tahu, Ibu juga di bilang salah mendidik kamu. Padahal ibu tidak pernah salah mendidik kamu, Tara. Sekarang, negara kita sudah seperti satu desa." Kata ibu mertua Pak Leban sambil menarik nafas dalam-dalam.
...*****...
PAK KATARA MEETING.
*
Di ruang meeting di kantor Pak Katara sedang berlangsung rapat tertutup.
"Baik, proyek dimulai bulan depan. Progres pertama adalah membabat hutan. Kedua pengerukan tanah dan proses perataan tanah. Setelah itu, baru kita memulai pembangunan perumahan." Jelas Manager Pak Katara.
"Lokasi ada parkiran untuk alat berat dan mobil." Tanya tim CV. Transport Indonesia. Mereka kontraktor pengolahan lahan.
"Kalau sekarang belum, tapi tinggal di bikin saja." Pak Katara menjawab.
"Buat saja lokasi awal, Pak. Saran saya baiklah kalian ikut survei nanti." Ujar Pak Hadi yang baru berkata setelah lama terdiam.
"Besok Sabtu, lusa Minggu. Berarti, hari senin tim survei dan pemetaan berkerja. Sehingga Minggu depan dapat dimulai pembabatan hutan." Tegas Pak Katara.
"Tim survei dari perusahaan kami siap. Tapi ada baiknya, setiap rekanan mengirimkan orang bergabung dengan tim kami. Agar kalian memahami lokasi." Pak Katara melanjutkan. Semua menjawab setuju dan rapat akan segera berakhir. Sebelum di tutup dipersilahkan untuk yang mau bertanya.
"Bagaimana dari rekan PT. Mega Konstruksi Nusantara." Tanya sekretaris yang menjadi moderator meeting.
"Kami rasa cukup, sesuai dengan kesepakatan. Tinggal menunggu dari rekan CV. Transport Indonesia. Karena kami baru mulai setelah hutan di babat dan tanah di keruk." Ujar Direktur perusahaan itu.
"Dari lawyer sudah Ok." Kembali sekretaris bertanya.
"Ok, IMB, sertifikat dan lainnya siap kami urus. Sesuai prosedur, kita menunggu lahan terbuka untuk mengukur tanah." Jawab Pak Dirak sang pengacara senior itu.
Setelah itu meeting ditutup. Dilanjutkan makan siang di kantor Pak Katara. Tiga hari lagi tim survei akan bekerja. Dilanjutkan pembabatan hutan dan pengerukan tanah.
...*****...
__ADS_1