Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Keripik Areha


__ADS_3

Areha duduk di luar pagar sekolah Junka. Di tangannya menjinjing keripik singkong dan keripik pisang. Hari itu, dia belajar berjualan untuk pertama kalinya. Ada rasa malu dan canggung. Tapi Areha kuatkan dirinya. Karena dia ingin mendapatkan uang untuk membeli peralatan sekolah. Kalau baju sekolah SD, baju dia dulu masih bisa dia pakai.


Areha duduk di sisi pagar, dan malu-malu. Banyak anak-anak sekolah yang melihatnya. Tapi Areha hanya diam, tidak menawarkan dagangannya. Mulutnya sulit dibuka, lidahnya terasa terlipat.


Hari pertama, tidak satupun ada yang membeli. Hari kedua hanya tiga orang membeli keripiknya. itu pun saat mereka pulang sekolah. Hari ketiga ada lima siswa yang membeli keripiknya. Hari keempat dan hari ke tujuh kembali tidak satupun dagangannya laku.


"Areha, bagaimana daganganmu." Tanya nenek di soreh hari. Dia duduk beristirahat dan memijit-mijit kakinya, capek baru pulang dari jualan kue.


"Sudah tiga hari tidak ada satupun orang yang beli, Nek." Kata Areha sedih. Nenek menarik nafas dalam, dan membelai rambut Areha. Rambut itu di kepang rapi. Areha tampak sedih dan baru merasakan betapa sulitnya mencari uang.


"Areha harus sabar ya, kamu harus terus berusaha dan pelajari cara-cara berdagang dengan sendiri. Teruslah berusaha, insyaallah usaha Areha akan sukses." Kata Nenek, membuat Areha terhibur dan kuat.


"Iya Areha, kamu harus ramah pada orang. Tawarkan pada mereka dengan baik. "Keripik singkong pedas, hanya seribu." begitu Areha tawarkan." Kata Aram, menirukan cara jualan, dia berbaring istirahat capek juga baru pulang dari mencari barang bekas.


"Iya Koyong, iya Nenek. Areha akan terus berusaha." Katanya semangat.


"Nah, begitu. Baru cucu nenek." Ujar nenek, Areha tersenyum dan Aram pun demikian.


...*****...


Bel sekolah berbunyi tanda jam istirahat. Junka dan teman-teman keluar kelas. Siswa-siswi berlalu lalang melintasi mereka.


"Kalia mau janjan tidak." Tanya seorang teman Junka.


"Tidak, Aku punya uang dua ribu, mau Aku tabung saja." Jawab Junka. Mereka sepakat untuk tidak jajan hari itu. Kemudian bermain di taman sekolah di dekat pagar. Pohon angsana yang rindang meneduhkan dimana mereka bermain. Beberapa bangku memanjang dipenuhi siswa-siswi duduk dan bermain. Saat duduk Junka melihat seorang anak di luar pagar. Dia berdiri menjinjing dagangannya. Junka merasa kenal dan mendekati pagar sekolah.


"Areha, kamu jualan ya." Tanya Junka.


"Iya Kak." Jawab Areha.


"Sini masuk halaman saja. Tidak apa-apa, banyak yang jualan di sekolah. Sudah lama kau jualan di sini." Tanya Junka.


"Sudah dua Minggu, mungkin." Jawab Areha tidak pasti, kemudian dia pergi ke gapura sekolah dan masuk halaman sekolah.


"Kak Junka." Ujar Areha, Junka bangkit dari duduknya. Menyambut Areha yang datang mendekat. Dia ajak duduk di sebelahnya.


"Kenapa tidak masuk jualannya. Siswa-siswi tidak boleh keluar pekarangan sekolah." Jelas Junka.


"Keripik singkong." Seorang teman Junka berkata.


"Ini keripik pisang." Satunya lagi berkata sambil melihat-lihat.


"Berapa harganya, Dik." Tanya teman Junka.


"Seribu satu, kripik singkong dan keripik pisang." Jawab Areha. Semua tertarik, karena wadah besar harga murah. Anak-anak sekitar juga mendekat dan ikut membeli. Satu demi satu datang. Saat bel masuk tanda jam istirahat berakhir dagangan Areha sudah habis. Bukan main gembiranya Areha, sampai air matanya menetes.


"Areha, kakak masuk dulu ya." Kata Junka dan teman-teman. Areha melambaikan tangan dan mereka membalas. Dalam waktu sepuluh menit halaman sekolah sepi. Guru-guru tampak berjalan di teras sekolah menuju ruang kelas. Areha pulang dengan gembiranya. Dia membeli tiga potong es crim harga dua ribuan. Dia akan makan bersama dua adiknya, Figan dan Luran.


"Enak sekali Kopek, besok beli lagi ya." Ujar Figan. Figan sudah lama sekali tidak makan es crim. Ketiganya begitu gembira.


...*****...


Sementara itu, di kelas Junka dan teman-teman sebangku bercerita. Saat menunggu guru tiba di kelas.


"Tadi adikmu, Junka." Tanya satunya.


"Kenapa dia tidak sekolah." Yang satunya lagi bertanya.


"Sudah selesai sekolah mungkin." Ujar yang lainnya.


"Dia itu tetangga saya, baru pindah. Aku sering bermain dengannya kalau sudah pulang sekolah. Namanya Areha, dia anak yatim-piatu. Dulu dia juga sekolah, sudah kelas lima. Karena ayah dan ibunya meninggal, mereka tidak bisa membayar kontrakan dan diminta pergi sama pemilik kontrakan. Sehingga mereka tidak sekolah lagi." Jawab Junka


"Oh, kasihan ya. Berarti dia kalau terus sekolah sudah kelas enam juga." Ujar temannya.


"Tapi, sepertinya umurnya lebih muda dari kita." Kata yang lain.


"Iya, dia cepat masuk sekolah. Nilai raport bagus-bagus. Dia perlihatkan padaku." Cerita Junka.


Tiba-tiba dua siswa laki-laki yang berdiri di pintu kelas berlari. Semua tahu, pasti wali kelas mereka akan masuk. Jadi mereka semua kembali duduk di bangku masing-masing dengan rapi. Wali kelas masuk kelas, ada ucapan selamat siang, diikuti dengan salam.

__ADS_1


...*****...


Hari sudah sore, nenek pulang dari menjual kue seperti biasa. Badannya capek dan pakaian basah oleh keringat. Dia melepaskan sendal, dan naik teras.


"Uwa, baru pulang dari jualan kue." Ujar istri Paman Ruyo. Dia menyapu lantai dan memukul-mukul lap kaki di pondasi teras.


"Iya, Tuyi. Capek sekali kaki rasanya mau tanggal." Jawab nenek Cik Rumi. Dari kontrak Deak, ibunya keluar menjinjing sampah di dalam kantong plastik.


"Uwa, Deak main dengan Areha, ya." Tanyanya sambil memasang sendal. Nenek memanggil Deak. Ada suara jawaban dari dalam.


"Deak, ada di dalam ya." Panggil nenek, Areha mendengar panggilan dan mengiakan. Sementara ibu Deak melangkah ke dekat kota sampah yang sudah menggunung.


"Deak main di dalam, Walah." Kata nenek. Ibu Deak mengiakan, dia meminta agar Deak pulang sebentar lagi. Nenek masuk ke dalam kontrakan. Dia haus dan akan minum sesegera mungkin.


"Sampah sudah menggunung, tukang sampah jarang datang. Giliran bayar tidak bisa telat." Kata istri Paman Ruyo. Dia merapikan lap kakinya.


"Iya, memang begitu si tukang sampah." jawab bibik Walah. Sementara itu, Jum dan Lam tampak sibuk dengan handphone mereka, keduanya tenggelam dalam permainan hebat, game online. Tanpa menghiraukan dunia sekitar.


...*****...


Seorang gadis berumur delapan belas tahun turun dari bus di terminal Alang-alang Lebar kilometer 12 Kota Palembang. Tas besar dia jinjing, ada ransel di punggungnya. Puluhan penumpang laki-laki perempuan juga turun dari bus. Ojek berdatangan ke sekitar bus menawarkan jasa transportasi.


"Ojek. Ojek." Kata mereka, ojek melayani secara langsung karena biasanya orang yang datang dari daerah belum memiliki aplikasi ojek online.


"Ojek dik." Seorang tukang ojek berumur tiga puluhan tahun menawarkan jasanya.


"Maaf Kak, saya menunggu jemputan. Sebentar lagi kakak sepupu saya datang." Jawabnya. Si tukang ojek mengangguk dan pergi mendekati penumpang lainnya. Ada beberapa penumpang bus sudah pergi dengan tukang ojek pilihan mereka.


"Hallo, Riha dimana." Tanya suara di telpon. Dia mengendara mobil, handset di telinga.


"Posisi di depan terminal, kakak masuk saja, saya di depan pintu keluar kendaraan." Jawab gadis muda dan cantik itu. Tidak berapa lama sebuah mobil Avanza hitam muncul dan berhenti di sisi si gadis. Kaca di buka, dan pintu depan juga di buka. Tampak anak muda bercelana panjang dan baju t-shirt warna ceram oblong. Di bangku belakang ada dua anak, satu wanita satu laki-laki.


"Kakak Riha , selamat datang." Dua anak-anak menyapa sambil melambaikan tangan. Riha tersenyum dan megangkat tasnya masuk kedalam mobil di depan.


"Kakak Gapu, tidak kulia hari ini." Ujar si cewek. Saat mobil sudah melaju dan gadis duduk mantap.


"Kuliah, tapi bolos." Jawab pemuda bernama Gapu.


"Hei, anak kecil jangan sok tahu. Kau pikir Aku korban sinetron." Kata Gapu. Riha tertawa ringan dan berkata.


"Yuzaka, kamu sudah kelas berapa sekarang." Tanya pada anak perempuan dari tadi diam, sibuk dengan buku dongeng.


"Saya sudah kelas enam Kak." Jawab Yuzaka.


"Kalau cerita-cerita sinetron, gadis yang selalu diam itu: tandanya sedang jatuh cinta dan ingat dengan kekasihnya." Ujar adik jahil.


"Ihhhhh, sinetron lagi, sinetron lagi. Cerita sinetron itu bohong." Jawab Areha, dia kemudian memukul-mukul adiknya yang jahil yang terus tertawa. Kemudian dia melompat ke bangku belakang.


"Kak Aram. Kak Aram." Katanya, sehingga Gapu dan Riha ikut tertawa ringan. Sementara Yuzaka hanya mendongkol pada adiknya yang jahil. Dia sangat keregetan pada adiknya.


"Sudah, Hapa. Kasian Areha. Semakin besar, semakin jahil kau ini." Ujar Riha.


"Riha, di mana alamat Indomaret tempat kau bekerja nanti." Tanya Gapa.


"Belum tahu juga Kak. Yang jelas besok Riha datang ke kantornya, untuk verifikasi berkas dan pembekalan. Daftarnya kan dari internet." Jawab Riha.


"Semoga lokasi tempat bekerjamu, ada jangkauan angkot atau Trans Musi. Kalau pakai ojek trus habis gaji sebulan bayar ongkos." Kata Gapa.


"Jadi, kalau kata kakak terbukti, Riha bagaimana dong." Tanya Riha.


"Jalan satu-satunya kau cari kontrakan di sekitar tempat kerja. Makanya belajar bersepeda motor." Kata Gapa, Riha tersenyum dia menyadari kalau dia takut membawa sepeda motor apalagi di kota yang sangat ramai kendaraan bermotor.


"Ya, tak apa kalau begitu." Jawab Riha.


"Bagaimana kabar kakek, nenek, paman dan bibik, di desa." Tanya Gapa.


"Alhamdulillah, baik semua kak." Jawab Riha. Mobil melaju dengan perlahan, menyusuri jalan Kota Palembang. Yuzaka banyak bertanya tentang desa pada Riha. Bagi Yuzaka desa hal menakjubkan, karena dia tumbuh di kota.


...*****...

__ADS_1


Nenek memperhatikan Areha yang sedang memotong tipis-tipis singkong untuk membuat keripik.


"Kamu sudah bikin keripik lagi Areha." Tanya nenek. Dia meletakkan cerek dan cangkir di lantai. Ada tudung nasi dan wadah sendok. Mereka tidak punya lemari makanan atau mejah. Jadi semua perlengkapan di letakkan di atas lantai.


"Iya Nek, Alhamdulillah. Dagangan Areha habis hari lagi ini." Kata Areha gembira.


"Nah, itu namanya rezeki. Usahalah dengan tekun dan sabar. Nanti kamu akan mendapatkan buah dari jerih payahnya kamu." Nasihat Nenek. Deak diam saja, sore itu dia kembali bermain di kontrakan Areha. Deak merasa nyaman di kontrakan mereka yang tenang dan penuh kasih sayang. Dia memperhatikan pisau yang mengiris singkong. Dimata Deak, hal demikian menakjubkan saat melihat irisan tipis singkong.


"Assalamualaikum." Sebuah suara salam dari luar.


"Waalakum salam." Jawab nenek dan Areha, Deak menoleh ke arah pintu. Junka muncul dan masuk ke dalam kontrakan.


"Masuk Jun." Panggil nenek yang mengenali suara. Junka tiba di dapur dan duduk di sisi Areha. Mereka bertiga bercerita dan Deak pendengar setia. Areha menceritakan kalau Junka yang mengajaknya masuk pagar sekolah dan dagangannya habis di beli siswa-siswi.


Hari bertambah sore, Junka kemudian mengajak Deak pulang, karena memang itu tujuannya datang bertamu. Menjelang senja, Figan dan Luran pulang dari bermain dan Aram pulang dari mencari barang bekas.


...*****...


Ibu kontrakan datang ke kontrakan Lam dan Jum malam sekitar pukul delapan. Tanpa di katakan keduanya menyadari maksud kedatangan ibu kontrakan.


"Maaf Bu, besok atau lusa kami bayar kontrakan." Jawab Lam, dia masih pegang handphone meneruskan main game online walau bicara dengan ibu kontrakan yang jauh lebih tua. Dalam hati ibu kontrakan menganggap mereka tidak sopan sekali.


"Benar Bu, uang gajian bulan ini dipinjam saudara saya, dia berobat ke rumah sakit. Sudah kami katakan kalau uang mau kami bayarkan kontrakan." Ujar Jum, memberi alasan.


"Baiklah, kalian sudah lewat sepuluh hari dari tanggal. Jangan menunggak, karena akan dobal bayar bulan depan." Kata ibu kontrakan.


"Iya Bu." Sahut Lam diikuti Jum berkata demikian. Kemudian Ibu kontrakan pulang ke rumahnya.


"Bagaimana ini, Jum. Kita cari keman pinjaman." Tanya Lam.


"Kau si, sudah Aku bilang langsung bayar sewa kontrakan. Kau malah ngajak judi online." Kata Jum menyalahkan Lam. Ternyata jatah sewa kontrakan mereka dimainkan judi online dan kalah.


"Kupikir kita bakal menang, karena menang trus. Pas kita taruhan besar, malah kalah." Jawab Lam.


"Di mana-mana judi memang begitu." Jawab Jum.


"Kita pinjam ke Pak Gugus, mungkin dia bisa membantu." Saran Lam.


"Ahh, pinjam rentenir lagi. Uang beranak begitu. Tambah pengeluaran kita, belum lagi kuota internet." Kata Jum.


"Itulah satu-satunya jalan, kita pinjam saja dua juta. Aku sejuta kau sejuta." Saran Lam. Akhirnya mereka sepakat untuk pinjam uang ke rentenir.


...*****...


Sebuah angkot berhenti di jalan. Membuat mobil di belakang ikut berhenti juga. Seorang gadis muda turun, dan berdiri di sisi jalan. Seorang tukang ojek online menelpon.


"Di mana Dik." Tanya si Abang ojek.


"Saya di sisi jalan di simpan empat, Kak. Jilbab pink, rok hitam dan baju lengan panjang hitam." Jelas si gadis. Tak lama kemudian tukang ojek online tiba.


"Nama Riha." Tanya tukang ojek, tampak kalau Abang ojek masih bujangan. Riha mengangguk dan naik sepeda motor Abang ojek. Mengenakan helm hijau bermerek, Gojek. Lima belas menit kemudian tiba di tujuan Riha.


"Sretttt. Sretttt." Suara seorang wanita sedang menyapu halaman. Sementara mobil dan kendaraan berlalu lalang.


"Assalamualaikum, Uwa." Kata Riha.


"Kamu sudah pulang Riha." Tanya si Uwa.


"Iya Uwa." Jawab Riha agak lesu.


"Kenapa lesu begitu." Tanya Uwa.


"Toko tempat kerja jauh dari pusat kota, jadi Riha harus ngontrak." Kata Riha.


"Iya, gimana lagi, begitulah berkerja. Kamu kan sudah Uwa bilang, kuliah saja, masalah biayah jangan khawatir." Kata Uwa.


"Iya Uwa, Riha mau cari pengalaman kerja." Kata Riha.


"Sudah, masuk kedalam, Yuzaka adikmu sudah pulang dari sekolah. Nanti kalau Uwa pulang dari kerja minta saran dia." Kata si Uwa, dia kemudian melanjutkan menyapu. Dan Riha melangkah perlahan ke dalam rumah.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2