Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Tak Mengakui


__ADS_3

Jalan raya sangat ramai, mobil dan motor berjalan beriringan. Klakson dan deru kendaraan tiada henti. Hiruk pikuk bertambah saat beberapa pengamen jalanan datang dengan lagu dangdut sambil berjoget di depan-depan tokoh.


Salika pulang sekolah, seperti biasa dia naik angkot. Saat masih dekat dengan Dehan. Dia sering diantar Dehan pulang. Hari itu dia berhenti di depan sebuah apotek obat.


"Ini kembalian ongkosnya Dik." Ujar sopir memberikan uang lima belas ribuan. Sopir angkot berkata karena dia memperhatikan Salika yang berdiri agak melamun.


"Oh, iya Pak." Jawab Salika sambil mengambil uang kembalian. Seolah dia tersadar dari sihir. Sekilas Salika memperhatikan angkot itu berjalan kembali. Perlahan, beriringan dengan mobil-mobil yang memenuhi jalan raya.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu, Dik." Sapa Security.


"Saya mau beli obat pak." Jawab Salika.


"Boleh, tapi sebelumnya pakai masker, Adiknya." Kata security ramah dan sopan. Salika mengeluarkan masker dari tasnya. Dia memang memiliki beberapa masker, karena di sekolah masih diminta memakai masker di ruang kelas. Setelah mengenakan masker, security membukakan pintu. Salika masuk ke dalam ruang pembelian obat.


"Ada yang bisa dibantu Adik." Tanya apoteker, seorang perempuan muda berseragam putih-putih.


"Ini Kak, kakak ipar saya minta dibelikan untuk tes kesehatan kalau ibu-ibu mau hamil." Kata Salika. Apoteker tampak bingung sekali, mencerna kata-kata Salika. Bagaimana mengetes kesehatan dari jarak jauh dan membeli alatnya di ruangan obat.


"Kakak ipar adik, demam panas maksudnya." Tanya apoteker.


"Tidak Kak, dia sehat. Tapi katanya kira-kira dia hamil. Jadi mau beli untuk tahu itu." Jelas Salika.


"Oh, mungkin tesfek Yun." Jawab teman apoteker yang mendekat setelah selesai menyusun obat-obatan di meja dibelakang apoteker bernama Yuyun.


"Iya kak, itu maksudnya" Jawab Salika sambil tersenyum.


"Oh tesfek untuk menguji positif apa tidak." Ujarnya mengerti. Salika mengangguk pelan.


"Ada harga lima ribu, harga lima belas ribu, dan harga dua lima satunya." Jelas apoteker Yuyun sambil menunjukkan jenis-jenis dan harga.


"Yang lima ribu satu, yang lima belas ribu satu." Jawab Salika. Apoteker juga mengajarkan cara penggunaan tesfek dan Salika mengerti.


Setelah itu Salika memberikan uang dan apoteker mengemasi tesfek di dalam kantong plastik. Setelah itu, apoteker mengucapkan terimakasih, dan Salika melangkah keluar. Beberapa saat dia menunggu angkot tiba, lalu dia naik dan pulang. Keesokan paginya, Salika mencelupkan tesfek di air seninya. Dia gemetaran dan terkejut sekali. Sesuai ajaran apoteker apabila garis dua merah. Berarti positif hamil. Belum begitu yakin, Salika melakukan kedua kalinya. Hasilnya sama dua garis merah menunjukkan bahwah dia positif hamil. Salika kemudian menangis dan takut sekali.


Selama ini, Salika tidak mengerti kalau dia telah hamil. Sesungguhnya kehamilan Salika sudah sejak beberapa bulan sebelum ibunya meninggal. Dia melakukan itu setiap bertemu dengan Dehan di tempat sepi. Salika mengira kalau dia sakit mag atau masuk angin. Tapi ternyata dia hamil, sekarang kehamilan sudah menginjak delapan bulan. Kehamilan dia tutupi dengan baju longgar dan hijab panjang. Selain itu, tubuh Salika juga berisi dan tinggi. Sehingga kehamilan tidak tampak dan postur tubuhnya tidak berubah.


...*****...


Jum dan Lam sudah seminggu tidak keluar kontrakan. Mereka begitu pusing, karena tidak satupun lamaran kerja mereka diterima. Uang sudah tidak lagi mereka miliki. Hanya beberapa puluh ribu dan dua kilo beras. Kuota paket internet sudah habis sehingga mereka tidak memainkan smartphonenya. Bensin motor juga hampir kering.


"Bagaimana kita, makanan tidak ada, rokok tidak ada, paket internet juga tidak punya. Kita mati sepertinya beberapa hari ke depan." Ujar Jum, sambil menimang handphone miliknya.


"Kita jual handphone saja." Saran Lam.


"Kalau jual handphone, bagaimana kita berkomunikasi dan hidup bertambah seperti mau mati." Jawab Jum.


"Iya juga, tapi bagaimana kita bertahan. Mau kita mencoba kerja di toko bangunan." Saran Lam.


"Malu rasanya kerja jadi kuli begitu." Ujar Jum. Kemudian Jum menguap dan tertidur. Lam bangkit keluar dan duduk di teras. Saat duduk dia melihat banyak ayam Aram yang berkeliaran.


"Krettt. Trakk. Trakk." Riha menutup pintu dan menguncinya. Dia mengenakan baju kerja khas indomaret. Saat melangkah, dia melirik ke Jum. Lalu melangkah naik sepeda motornya, dan langsung berangkat menuju Indomaret tempat dia bekerja.


"Hehhh, berhenti mencari masalah dalam keluarga. Selingkuh, selingkuh. Menudu terus, seenaknya saja." Kata Paman Yugus keras dan terdengar oleh Jum dan Lam.

__ADS_1


"Kau pikir Aku anak kecil." Jawab Bibik Walah sambil menangis.


"Hahhhh." Sergah Paman Yugus, dia kemudian memakai jaket ojek online miliknya. Kemudian dia pergi dengan marah-marah. Matanya tajam melirik kiri kanan. Lalu pergi mendorong sepeda motornya yang kehabisan bensin. Areha sedang duduk-duduk di depan pintu. Dia teringat kalau belum memberi makan ayam. Ada tiga orang ibu-ibu menuju rumah ibu kontrakan entah apa yang mereka lakukan. Kabarnya ibu pemilik kontrakan akan melangsungkan yasinan besok malam.


"Kruuuuuu. Kruuuuuu." Areha muncul dari dalam rumah dan menghamburkan nasi, beras dan jagung makanan ayam. Hampir saja dia lupa memberi makan ayam pagi itu.


Lam melihat dan mendengar suara ayam Aram yang semakin banyak. Besar-besar dan gemuk.


...*****...


Nenek pulang dari menjual kue keliling pukul lima sore. Aram pulang hampir magrib. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah kontrakan mereka. Semua mengumpulkan uang hasil mereka.


"Areha mendapat uang dua ratus ribu bulan ini." Kata Areha menjelaskan hasil keuntungan jualan keripik ubi dan keripik pisangnya.


"Nenek terkumpul uang satu juta selama empat bulan ini." Ujar nenek.


"Uangku terkumpul uang tujuh ratus ribu." Kata Aram. Sementara Figan dan Luran diam memperhatikan, keduanya berharap dikasih uang jajan. Tanpa menunggu lama, nenek memberikan uang sepuluh ribu masing-masing untuk jajan. Bukan main gembira keduanya, tak berapa lama mereka berlari ke warung ibu pemilik kontrakan.


"Aram, bagaimana kalau uang hasil nenek kita belanjakan perlengkapan sekolah Areha, Figan dan Luran. Uang kamu untuk membayar sewa kontrakan dan sisanya untuk belanja satu Minggu. Uang Areha untuk bayar listrik seratus lima puluh ribu untuk bulan ini. Lima puluh ribunya di tabung oleh Areha. Aram dan Areha setuju.


...*****...


Besok siang Nenek, Areha, Luran dan Figan pergi ke pasar. Sementara Aram sudah pergi mencari barang bekas sejak pagi.


"Bagaimana ransel ini, Figan. Kamu suka." Tanya nenek, mereka sedang berbelanja keperluan sekolah. Tampak bermacam-macam jenis ransel. Figan memilih ransel yang dia sukai. Setelah di beli dia langsung ingin memakainya. Menjelang siang mereka selesai dan pulang. Semua perlengkapan sekolah telah lengkap. Tinggal menunggu waktu masuk sekolah saat tahun ajaran baru tinggal sebulan lebih lagi. Saat tiba di kontrakan, mereka melihat mobil Avanza hitam.


"Heiiii, Luran, Figan." Seorang anak laki-laki muncul dari dalam kontrakan Riha. Riha hari itu giliran libur. Dia libur setiap lima hari sekali. Di dalam kontrakan Riha, ada Yuzaka dan ibunya. Mereka datang ke kontrakan Riha memastikan keadaannya, agar tahu tempat kontrakan Riha. Karena mereka keluarga dekat Riha di Kota Palembang.


"Riha, kamu masak sup ayam dan sayur kangkung pedas siang ini ya. Ikan di goreng saja. Yuzaka, bantu kakakmu memasak. Ibu mau bertandang ke rumah pemilik kontrakan." Kata ibu Yuzaka.


"Gapa mau kemana." Panggil ibunya.


"Main." Jawab Gapa kuat-kuat.


"Dari mana Bik." Ibu Yuzaka menyapa nenek yang duduk di teras kecapean berjalan beberapa kilo meter dari pasar. Belanjaan dia letakkan di lantai teras.


"Dari pasar, Dik." Jawab nenek.


"Belanja apa." Tanya ibu Yuzaka dan dia duduk di dekat nenek.


"Untuk cucu sekolah Dik. Buku, tas, macam-macam." Jawab nenek, Areha tersenyum saat dilirik ibu Yuzaka. Mereka bercerita panjang lebar. Ibu Yuzaka menceritakan kalau dia istri kakak dari ayah Riha. Dia menitipkan Riha pada nenek, dan nenek mengiakan. Juga berjanji akan menjaga dan mengawasi Riha. Istri paman Yuro dan Bibik Walah datang bergabung. Sehingga percakapan semakin ramai. Deak dan anak Paman Yuro bermain di halaman.


Setelah membantu Riha memasak, Yuzaka keluar dan duduk di teras. Dia memperhatikan banyak ayam berkeliaran. Seorang pemuda berdiri di teras kontrakan dan meretakkan lehernya, lalu mulutnya menguap. Areha keluar setelah menata belanjaan alat sekolah mereka.


"Adik namanya Areha kan. Adik Aram." Tanya Yuzaka. Saat melihat Areha berdiri di lorong pintu. Areha mengangguk, dan memandang beberapa saat Yuzaka.


"Kakak Yuzaka, ya." Tanya Areha. Keduanya memang sudah kenal sewaktu masih di kontrakan lama. Pernah beberapa kali Yuzaka datang ke kontrakan Areha dulu sewaktu ayah dan ibunya masih hidup. Keduanya lalu berbincang-bincang. Areha menceritakan jalan hidup mereka dari sejak ayahnya meninggal dan mereka diminta pergi oleh ibu pemilik kontrakan mereka dulu. Sehingga mereka hidup terlunta-lunta di jalan. Yuzaka baru mengerti sekarang.


"Dimana Aram." Tanya Yuzaka.


"Koyong mencari barang bekas setiap hari Kak. Dia pulang menjelang magrib biasanya. Kadang juga menjelang shalat Isyah." Jawab Areha.


"Nanti kita main ya, Kakak setiap lima hari akan ke sini." Kata Yuzaka. Areha mengiakan, dia juga menceritakan kalau mereka akan segera sekolah lagi. Keduanya sampai lupa makan bercerita satu sama lain. Diam-diam Yuzaka menjadi bahagia menemukan Aram. Tapi semua rasa itu tidak dia mengerti. Maklumlah dia masih anak-anak.

__ADS_1


...*****...


Perjuangan Salika untuk bertemu dengan Dehan terus dia usahakan. Bahkan sampai beberapa kali dia mendatangi rumah Dehan. Tapi Dehan menghindar, dia meminta adiknya untuk mengatakan kalau dia tidak di rumah. Atau dia pergi diam-diam dari pintu belakang. Sehingga Salika tidak dapat menemuinya.


Akhirnya, Salika dapat menemui Dehan di sekolah saat dia bersama beberapa temannya. Salika meminta teman-teman untuk memberikan waktu sebentar padanya dan Dehan. Dehan tidak bisa lagi mengelak saat temannya mengizinkan.


"Ok broo, kalian bicaralah kami main sebentar. Jangan memalukan kaum laki-laki. Selesaikan masalah jangan lari seperti pengecut." Ujar salah satunya sambil menepuk bahu Dehan. Dehan tidak suka karena dia mau di tinggal bersama Salika. Karena Dehan memang ingin mencampakkan Salika.


"Apa maksudmu Dehan, kau selalu menghindar dariku. Setelah semua ini terjadi." Tanya Salika hampir menangis.


"Aku tidak menghindar, karena ini hidupku dan sesuka diriku. Tidak ada yang bisa melarang Aku untuk bertemu dengan siapapun atau menolak siapapun." Kata Dehan.


"Kau kejam sekali, tidak punya perasaan sedikitpun. Aku menyesal sekali berhubungan denganmu." Ujar Salika.


"Ya sudah, kita tidak perlu berhubungan lagi agar kau tidak menjadi susah." Jawab Dehan.


"Kau bicara seenakmu, benar sekali kata ibuku. Kau memang laki-laki jahat dan yang tidak punya pikiran dan perasaan." Kata Salika.


"Kalau kau sudah bicara, Aku mau pergi dan sepertinya kita tidak perlu bicara lagi." Ujar Dehan, dia ingin pergi karena ingin menghindari Salika. Dia juga takut kalau Wirasi melihat mereka sedang bicara berdua. Karena dia mengaku pada Wirasi kalau sudah putus dengan Salika.


"Dehan, Aku hamil. Kau harus bertanggung jawab." Kata Salika sambil menangis.


"Hey Salika, kita melakukan hanya beberapa kali. Masak kau hamil. Aku tidak menghamilimu, jadi jangan kau meminta pertanggungjawaban padaku. Mulai hari ini jangan kau mencari Aku lagi. Kita sudah putus, dan Aku punya kekasih yang Aku cintai. Jangan memfitnah Aku dan menuduh Aku yang menghamili kamu. Kau pasti suka pacaran sama om-om hidung belang. Karena uang dan nafsu kotor. Ingat, jangan kau coba-coba menemui Aku lagi dan mengganggu Aku lagi. Aku sudah benci padamu dan muak apabila melihat wajahmu." Kata Dehan marah-marah, kemudian dia pergi meninggalkan Salika sendiri di belakang gedung sekolah. Salika terduduk dan menangis pilu. Kali ini dia begitu terpukul dan baru menyadari betapa bodoh dia selama ini. Ditipu dan dipermainkan oleh Dehan. Dia menyerahkan kehormatannya ditukar rayuan dan kata cinta saja. Benarlah kata orang kalau pacaran hanya mendekatkan diri pada jurang perzinahan dan ruginya ditanggung wanita sendiri. Bahkan, banyak wanita hamil diluar nikah. Kadang ada yang dibunuh oleh kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab. Atau melahirkan sendiri lalu anaknya dia buang.


Itulah ibaratnya habis manis sepah dibuang. Dulu Dehan berkata kalau wajah Salika sangat cantik dan tak bosan memandangnya. Sering juga wajah Salika dia cumbui dengan buas. Tapi sekarang dia muak melihat wajah Salika. Itulah yang ditakutkan ibu Salika sebelumnya. Dia sudah tahu sifat laki-laki seperti Dehan. Urakan dan kurang ajar. Sekarang Salika benar-benar menyesali semuanya. Andai dia menuruti nasihat Ibunya. Tentu hal buruk ini tidak dia temui. Ibu adalah segalanya kata hati Salika.


Apa yang dia lakukan sekarang. Perutnya semakin besar. Terasa gerakan-gerakan bayi di dalam perutnya. Berat badannya bertambah. Saat ini masih bisa dia sembunyikan. Dia tutupi dengan hijab besar atau berbaju longgar.


Saat pulang ke rumah, Salika melihat baner besar terpasang di depan pagar rumah.


"Rumah Dijual, Tanpa Perantara. Lalu di bagian bawah tertulis nomor handphone Kakak tertua Salika. Salika benar-benar terjepit dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Saat dia membuka warung manisan peninggalan mending ibunya. Tampak sudah mulai menipis. Sedangkan modal selalu dia belanjakan setiap hari. Tentu tinggal menunggu hari dia tidak punya uang lagi. Kemudian mati kelaparan sendiri.


"Ini hukuman atas dosaku pada ibu. Juga azab untukku yang telah mengecewakan ibu." Kata Salika sambil menangis berbaring di kamar. Air matanya menetes membasahi bantal.


"Tututt." Pesan whatsApp masuk, Salika berharap dari Dehan dan dia meminta maaf lalu akan bertanggung jawab. Tapi:


"Salika, apa kabar." Pesan Houri masuk melalui WhatsApp. Salika tersenyum dan dia baru mengerti kalau menilai laki-laki bukan dari gaya-gaya keren atau istilah urakan atau gaul. Tapi laki-laki yang baik dan memikirkan masa depan, seperti Houri. Pemuda sederhana dan bersahaja.


"Baik Houri. Alhamdulillah." Jawab Salika.


"Kata Sufo kau lagi tidak enak badan. Kamu mau, saya antar ke bidan tidak." Kata Houri.


"Oh, Aku sekarang sudah sembuh Houri. Memang Aku tidak enak badan beberapa hari lalu. Terimakasih kamu sudah perhatian sama Aku." Jawab Salika.


"Biasa saja Salika. Kita teman, kamu jangan sungkan kalau ada yang mau dibantu. Saya ikhlas bukan karena apa-apa." Kata Houri.


"Iya Houri, Aku tahu. Sebelumnya Aku minta maaf ya padamu. Mungkin Aku pernah membuat kamu sedih, marah atau kecewa." Balas Salika, beberapa butir air mata Salika jatuh di layar smartphone miliknya.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Ka. Seandainya kau punya salah, sebelum kau meminta maaf sudah Aku maafkan." Balas Houri. Salika tersenyum menerima balasan Houri. Terdengar azan shalat isyah, dari masjid.


"Terimakasih Houri." Jawab Salika. Houri menyukai Salika, tapi dia tidak mau pacaran. Walau dia bukan lulusan dari pesantren. Tapi Houri menghormati wanita. Namun Salika salah milih jalan. Dia pun menjadi malu pada Houri. Sekarang dia merasa tidak pantas lagi untuk Houri. Dai menganggap dirinya sudah kotor dan berlumuran dosa.


"Salika ayo shalat isyah. Sudah ya, Aku ke masjid dahulu. Assalamualaikum." Pesan terakhir Houri.

__ADS_1


"Iya, Waalakum salam." Balas Salika. Andai Dehan seperti Houri. Kata hati Salika, dia mau shalat. Tapi apakah dia masih boleh shalat pikirnya. Dia telah melakukan dosa besar. Salika pun shalat dan bertaubat, lalu mengirim doa untuk almarhum ayah dan ibunya.


__ADS_2