Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
GRIYA SRIWIJAYA


__ADS_3

DI INFUS.


*


"Bu Bidan, bisa tidak ibu Lisam dirawat Dirumah saja." Pinta nenek, sebab dia khawatir tidak bisa bayar biaya berobat, selain itu mereka juga tidak punya administrasi kependudukan yang lengkap. Ibu Bidan menyarankan agar ibu Lisam dibawah ke rumah sakit. Ibu bidan memahami pemikiran nenek.


"Kalau begitu Ibunya harus di infus, agar nutrisi cepat bertambah dan obatnya cepat bereaksi." Ujar ibu Bidan pada nenek dan Aram. Lisam hanya diam, dia tidak mengerti apa infus. Selama ini, kalau dia sakit paling obat warung atau di urut dan dikerok.


"Kalau demikian baiknya, lakukan Bu." Ujar Nenek, saat nenek menoleh ke arah Aram dia mengangguk. Jauh di dalam hati Nenek dan Aram seberapa mahal pengobatan. Bagaimana mereka membayarnya.


"Ibu asmanya kambu, asam lambungnya sudah parah, dan terkena tipes." Ujar ibu Bidan menjelaskan. Tekanan darah sudah sangat rendah, kurang gizi dan kurang tidur. Itulah penjelasan ibu Bidan selanjutnya.


...*****...


PAK HERUNG LAPOR PAK RW.


*


Smartphone pak RW berdering, dia kemudian mengakat panggilan. Menjawab salam dan terdengar basa-basinya.


"Ini Pak RW, saya mau konfirmasi ini. Soal warga baru yang mengontrak di rumah kakak perempuan saya. Saya rasa ada yang janggal, dan kita tidak boleh abai. Sebelum kompleks perumahan kita ini tercemar namanya dan terjadi hal-hal kotor." Kata Pak Herung.


"Janggal bagaimana, kotor apanya, kau datang ke rumah saja. Biar jelas." Jawab Pak RW, melalui smartphone.


"Aku akan mengusir keluarga pemulung yang lancang itu." Ujar Pak Herung dengan seringai licik, dia masih kesal. Karena pertama Aram pindah, dia jadi kalah argumen di hadapan pak RT. Padahal dia seorang sarjana, seorang karyawan Bank, sudah punya rumah walau masih mencicil. Dia juga punya mobil walau second dan baru selesai cicilan berapa bulan lalu. Masak kalah argumen dengan Aram kecil kerjanya memulung barang bekas dan nenek-nenek tua yang miskin, pikirnya. Sepertinya sifat neofeodalisme menjangkiti paham pemikiran pak Herung. Yaitu paham kesuksesan dan keberhasilan hidup diukur dengan mendapatkan benda-benda dan merasa hebat karena kedudukan. Tidak diukur dengan prestasi dan akhlak.


...*****...


FITNA ANAK NAKAL.


*


"Bummmm. Bummmm." Luran, Figan dan Bagit bermain bersama, menarik mobil-mobilan di jalan kompleks perumahan Griya Sriwijaya. Sedang asik bermain, tiga anak-anak laki-laki mendatangi. Mereka bersepeda berputar mengelilingi ketiganya, sehingga Luran, Bagit dan Figan khawatir. Bagit mengajak keduanya bergeser dan berdiri di sisi jalan dekat pagar yang hanya terhalang parut. Sementara rumah itu tampak tertutup, pemiliknya di luar mungkin. Rumah-rumah disekitar itu juga sepi, sesekali hanya ada sepeda motor pulang pergi.


"Mobilannya dari botol bekas, bannya dari sendal bekas, bajunya juga baju bekas." Ujar seorang anak yang gemuk jahil.


"We, bajunya robek." Seorang anak lagi menujuk baju Bagit yang robek di punggung. Bagit diam dan malu, dia takut dengan anak-anak itu.


"Anak gembel, anak gembel, anak gembel." Tiga anak-anak laki-laki berumur 11 tahunan itu mengendarai sepeda. Kadang sepeda di angkat-angkat sambil terus menjahili Luran, Figan dan Bagit. Mendengar kata-kata itu, ketiganya diam saja.


Ketiga anak-anak bersepeda itu berhenti. Lalu berbisik satu sama lain. Dengan senyum-senyum ketiganya bersepeda agak menjauh. Lalu mengayu dengan kuat ke arah Luran, Figan dan Bagit.


"Huuummmm."


"Brakkk." Anak berkulit putih, dan agak kurus memutar sepedanya. Dia bermaksud menabrak Luran, Figan dan Bagit dari belakang. Tapi Luran segera menarik tangan Figan dan Bagit melompat parit.


Bersamaan dengan itu juga, tiga sepeda akhirnya beradu satu sama lain. Mereka bertiga tidak menyangka kalau ketiganya bisa melompat seperti itu.


Anak berkulit putih agak kurus jatuh ke dalam parit yang berair hitam kotor. Membuat tubuhnya basah dan bauh oleh air itu. Sementara yang gemuk dia terjatuh, dan tertusuk pedal sepeda temannya yang tajam sehingga terluka. Sedangkan yang satunya dia terjatuh telak di jalan membuat benjol besar di kepalanya.


"Plung." Tanpa disadari, anak yang jatuh ke dalam parit smartphonenya jatuh dari saku celana sampingnya. Ketiga anak itu menangis. Sementara Luran, Figan dan Bagit segera pergi dan berlari pulang.


...*****...


NENEK DI SEREMPET MOBIL.


*


Hari Minggu, Nenek masih berdagang. Nenek menggendong keranjang berisi kue dan gorengan. Di atas kepala dia menjunjung tampa plastik lebar berisi kue-kue juga. Sinar matahari masih terik walau sudah lewat pukul dua siang. Jalan di area Kenten Kota Palembang begitu ramai. Nenek berjalan di antara mobil-mobil yang padat merayap. Nenek kemudian menyeberangi jalan di atas anderpas saat lampu merah. Melintasi zebra cross bersama beberapa orang. Sekilas nenek melihat dua badut menari di antara mobil berhenti lampu merah. Nenek kemudian pergi ke seberang, beberapa saat berjalan dia masuk jalan kecil yang cukup ramai.


"Tinnn.Tinnn." Beberapa mobil tidak sabaran berlalu.


"Pommm." Bus Transmusi lewat.


"Putar kiri, kiri." Seorang juru parkir, dia menghentikan laju mobil di jalan dan mobil yang dia pandu membayar parkir padanya. Di jalan itu, ada tikungan ke kiri yang tajam. Tanpa sepengetahuan nenek sebuah mobil melaju kencang. Mobil itu tidak menurunkan kecepatan, terus melaju dan asa sebuah gerobak berhenti di jalan di ujung tikungan tajam itu. Terpaksa mobil itu mengarahkan ke tengah jalan memasuki jalur berlawanan untuk menghindari gerobak. Tapi bersamaan itu dua sepeda motor dari arah berlawanan juga meluncur.


"Sriiittttt." Mobil itu mengerem lalu membuang setir semakin ke kanan. Membuat seorang pejalan kaki melompat. Tapi malang untuk seorang nenek-nenek dengan bakul jualan kuenya. Kepala mobil menyerempet bakul di punggung si nenek dan membuat nenek itu terjungkal. Semua kue dan gorengan tertumpah.


"Ahhhhh." Nenek terhuyung, bakul di tabrak mobil membuat tubuhnya oleh dan miring.


"Brakkk." Suara gorengan tertumpah ke tanah.


"Srutt." Dua sepeda motor mengerem mendadak, sepeda motor keduanya mereka tabrakan ke pagar rumah warga di sisi jalan. Beruntung parit di depan rumah warga itu ditutup dengan terali besi.


"Hei, kau pakai otak tidak. Jalan sempit, tikungan tajam, melaju ngebut." Ujar seorang pengendara. Begitu juga pejalan kaki tadi protes, dia pun membatu nenek bangun.


"Kau ganti dagangan nenek itu. Dasar orang tidak tahu diri." Ujar pengedara sepeda motor satunya. Perlahan mobil dan sepeda motor lainnya mulai memadati sekitar itu.


"Jangan ribut di jalan, macet." Teriak pengedara yang baru tiba.


"Hei, kau yang lihat-lihat." Jawab pengedara mobil. Beberapa warga turun dari kendaraan, meminta mereka segera menepi, agar jalan itu tidak macet.


"Hei, jangan pergi. Ganti dagangan nenek itu." Ujar pengedara motor.


"Kalian tahu, Aku ini anak pejabat dan dua kakak saya polisi. Jadi jangan macam-macam." Ujar sopir mobil itu yang berbadan gemuk, sementara dua wanita di dalam mobil diam saja.


"Apa pun keluaga kau, ganti dagangan nenek itu." Ujar pengendara motor. Nenek tampak mulai berdiri tegak tertatih-tati. Sepertinya kakinya keseleo. Kemudian dua pesepeda motor pergi pergi.


"Tanggung jawab, sebelum kau mendapat hukum karma." Teriak si pesepeda motor tidak mau meladeni sopir egois dan jahat itu.


"Hei Nek, kalau kau tidak mau banyak urusan dengan saya. Jangan macam-macam saya anak pejabat dan keluarga polisi." Ujar supir itu dan dia pun segera pergi. Nenek duduk di sisi jalan. Dia masih meringis menahan sakit kakinya. Lalu merenung melihat semua dagangan tertumpah di sisi jalan raya. Ada juga sebagian jatuh ke parit.


"Enam puluh ribu." Nenek menghitung uangnya. Setengah modal pun belum kembali. Nenek melihat jalanan yang sibuk. Nenek bersabar sekali siang itu. Matahari sudah condong ke barat. Nenek istirahat, sambil menenangkan diri. Tak henti-hentinya dia berdoa agar Allah membantunya.


"Beras dua kilo, dua puluh lima ribu. Habis uangku." Keluh nenek. Nenek merasa kesal dengan sopir mobil itu. Tapi semua sudah terjadi, nenek pasrah dengan yang sudah terjadi.


Di seberang jalan itu, Nenek melihat seorang anak muda berbaju merah biru berlogo AF sedang memfoto bangunan masjid. Masjid itu indah, beratap kubah berwarna keemasan. Dia tampak banyak mencatat, berbincang-bincang dengan Pak Ustadz sekaligus iman masjid.


"Dulunya atapnya tingkat tiga. Sekarang diganti kubah." Jawab si Pak Ustadz.


"Kenapa diganti kubah." Tanya anak muda itu.


"Pertama, sumber kayu sudah habis. Kedua, karena sesuai dengan bangunan beton, dan keinginan jama'ah, biar keren." Jawab si Ustadz. Beberapa saat kemudian si anak muda pamit, sebelum pergi dia bersalaman dan mengucapkan salam.


"Terimakasih banyak infonya, Pak Ustadz." Ujar si pemuda.


"Semoga skripsi kamu cepat selesai, Dik." Doa Pak Ustadz. Si pemuda mengaminkan.


"Izin Ustadz, saya foto masjid dari seberang jalan." Ujar si pemuda, Pak Ustadz mengiakan dan dia masuk masjid.


"Crettt. Crettt." Beberapa foto pemuda itu ambil, dari seberang jalan masjid tampak begitu indah.


"Nek, itu kue dan goreng siap." Tanya si pemuda, dia mengamati ke sekeliling. Nenek sedang membersihkan bakul dan tampa. Lalu Dia mencari kantong plastik untuk wadah kue dan gorengan terhampar di sisi jalan. Sudah ada gorengan dilindas ban sepeda motor. Nenek ingin membersihkannya agar tidak mengotori lingkungan.

__ADS_1


"Gorengan saya, Cucu." Jawab nenek, si pemuda memperhatikan wajah nenek yang lesu. Matanya merah tanda dia tadi menangis. Satu demi satu gorengan itu dia masukkan ke dalam kantong plastik.


"Kenapa tertumpah Nek." Tanya si pemuda.


"Nenek di serempat mobil, sehingga jatuh." Jawab nenek, dia kemudian bangkit dan berjalan dengan kaki pincang menuju kotak sampah tidak jauh dari sana.


"Mobilnya, mereka ganti." Si pemuda bertanya.


"Namanya di kota, cucu. Hal yang mustahil." Sahut nenek.


"Nek, saya pedagang ikan lele, dan peternak bebek. Setiap hari saya membeli makanan bekas dan sisa untuk pakan ternak. Maukah nenek menjual pada saya." Ujar si pemuda.


"Benarkah cucu, kau membeli yang begini." Tanya si nenek tidak percaya. Dia memperhatikan wajah anak muda yang bersih dan berisi. Dalam hati nenek bertanya-tanya, benarkah anak muda itu peternak ikan lele dan bebek. Ranselnya penuh oleh buku-buku, di tangannya juga buku semua.


"Benar Nek, untuk apa saya bohong. Daripada saya ke pasar lebih baik saya beli sekarang." Jawab si pemuda. Lalu si pemuda maju dan mengambil plastik gorengan dan kue yang kotor itu.


"Kalau mau beli setengah harga saja." Ujar nenek. Si pemuda menghitung dan semuya enam puluh ribu rupiah menurutnya. Nenek percaya dengan hitungan, tapi dia merasa masih kurang percaya pada pengakuan si pemuda. Lalu pemuda itu membayar, dan uangnya selembar seratus ribu rupiah.


"Nenek tidak ada kembaliannya." Ujar nenek.


"Oh, besok nenek jualan lagikan. Kembaliannya nenek antar saja ke kontrakan saya di belakang ini. Saya selalu di kontrakan." Jelas pemuda itu. Nenek setuju, dia berjalan pincang untuk pulang.


"Ya Allah, terimakasih atas bantuanmu. Anak muda itu sepertinya bohong, tapi dia anak yang baik. Jika kau izinkan, semoga suatu saat nanti dia menjadi pemimpin di negeri ini. Berilah dia rahmatmu sebanyak-banyaknya, padanya. Aku pikir kami akan kelaparan, Alhamdulillah bisa membeli beras dan berjualan lagi besok." Ujar nenek sambil berjalan pincang. Kembali air mata nenek berkaca-kaca.


"Nek, pulang ke mana." Pemuda tadi muncul lagi, dia memakai motor beat hitam. Gorengan tadi tergantung di sepeda motornya.


"Nenek hanya tahu arah, sebab nenek baru pindah ke sana." Jawab nenek.


"Okelah, nenek tunjuk jalan. Sekalian saya mau mencari data penelitian skripsi saya. Ayo Nek. Skripsi saya membahas arsitektur masjid. Jadi penelitian mendatangi masjid-masjid." Nenek akhirnya setuju dan dia pulang diantar anak muda yang tidak pernah dia kenal dan baru bertemu kali pertama. Entah siapa, nenek berterimakasih sekali karena kakinya masih sakit. Pulang nanti, akan dia urut dan di olesi minyak.


PENGHASUT.


*


Sementara itu:


Sore Minggu, warga Geria Sriwijaya kumpul-kumpul di gardu ronda. Di sisi gardu sebuah lapangan bola voli dan taman bermain anak-anak. Warga berkumpul santai, ada yang bersiap untuk main bola voli, ada yang mangkal ojek online, dan kumpul saja. Tampak Pak Herung di antara warga. Mereka tampak tertawa-tawa bercanda, ngobrol kesana-kemari. Tontonan mereka dua warga yang main catur.


"Kalian tahu tidak, kalau di rumah saudari saya disewa oleh keluarga aneh." Ujar Pak Herung.


"Aneh bagaimana, Herung. Semuanya tidak punya kepala atau tidak makan nasi." Ujar seorang warga. Lalu terdengar tawa-tawa ringan.


"Bukan aneh begitu, seorang nenek-nenek, anak-anak yang kecil seumuran, wanita muda punya anak tiga kecil-kecil. Umurnya paling 17 tahun. Suami tidak pernah muncul, orang tua anak-anak itu juga tidak ada. Eh, ada juga janda yang baru tiba." Ujar Pak Herung.


"Aneh juga, kalau umurnya 17 tahun dan punya anak tiga, berarti di umur 12 tahun hamilnya." Ujar warga lagi.


"Terus apa lagi disana." Ujar lainnya lagi.


"Ada tiga anak perempuan, berumur 12 tahunan." Ujar Pak Herung lagi.


"Jangan-jangan Perdagangan Orang." Celetuk seorang warga.


"Sudah konfirmasi sama pak RT." Ujar yang main catur.


"Belum, sudah hampir sebulan ngontrak di sana. Tapi belum lapor Pak RT." Jelas Pak Herung lagi.


"Kita tanya dahulu, jangan menduga-duga. Sok uzon begitu." Ujar seorang bapak-bapak.


"Aku justru curiga dengan wanita yang punya anak tiga umur baru tujuh belas tahun. Bagaimana kalau anak-anak perempuan itu dijual." Ujar seorang warga lagi.


"Itulah yang saya khawatirkan, Bapak-bapak. Bisa merusak kompleks kita." Sahut Pak Herung menghasut.


"Terus bagaimana, kita tidak boleh membiarkan maksiat." Ujar lawan yang main catur tadi.


"Betul, itulah yang saya maksudkan, Bapak-bapak. Kita harus bertindak, bilah perlu kita usir saja. Sebelum menular ke anak-anak kita, dan kita kena Azab." Kata Pak Herung memanasi.


"Benar."


"Saya setuju."


"Kurang ajar itu nenek-nenek, pasti dia jual anak-anak perempuan itu." Sahut seorang warga.


"Bisa jadi, Pak. Dari mana mereka dapat uang kalau tidak berbuat tidak senonoh." Hasut Pak Herung.


"Ayo, kita datangi saja. Biar mereka tidak berbuat sesuka hati mereka." Sahut seorang warga.


"Ayo.


"Kita memang harus berbuat." Pak Herung terus mengkompori. Semua warga di sekitar itu sepakat untuk mendemo kontrakan Aram. Mereka benar-benar terhasut oleh Pak Herung. Entah apa yang ada di dalam pikiran Pak Herung. Dia begitu tega memfitnah dan mempermainkan kenyataan dan keadaan. Warga terus marah, saat gerombolan mereka lewat warga lain ikut, dari wanita, anak-anak, dan laki-laki dewasa.


...*****...


WARGA DEMO.


*


Warga sudah berada di depan rumah kontrakan dan berkerumun di sekitar. Salika, Junka, Areha, Lisam, berdiri di teras rumah. Sementara ibu Lisam tampak gelisah di pembaringan. Di tangannya masih tertusuk jarum infus. Keadaannya sudah sedikit membaik, mungkin satu Minggu lagi dia akan sehat seperti semula.


Sementara Aram, Figan, Luran, Bagit, si Adik anak Pak Kino berada di halaman rumah. Luran, Figan dan Bagit bermain mobil-mobilan. Sementara Aram memilah barang bekas. Aram merasa Aneh, melihat banyak sekali warga yang datang.


Tiba-tiba:


"Hei, kalian jangan pikir dapat mengelabuhi kami. Kami tahu bagaimana akal busuk kalian. Pekerjaan kalian kotor, jijik dan memalukan." Ujar seorang warga membentak-bentak.


"Betul."


"Benar-benar."


"Sialan sekali, mereka ini."


"Busuk." Begitulah maki-maki warga itu.


"Pergi dari perumahan kami." Bunyi suara-suara warga. Aram, Salika tidak mengerti dengan perkataan warga itu.


"Hei kau, dimana suamimu dan diaman orang tua kalian. Mana!!!, atau kalian semua anak haram dari hubungan terlarang." Ujar Pak Herung. Aram ingat orang itulah adik pemilik rumah yang mereka kontrak. Tapi apa masalahnya pikir Aram.


Sementara Salika, menjadi tersentak mendengar kata-kata anak haram. Air matanya langsung memercik dan dia menangis. Areha langsung memeluk Salika.


"Hei anak kurang ajar, pemulung yang tidak tahu diri. Coba tunjukkan identitas kalian dan mana ibu bapak kalian. Kau pikir kami warga bodoh di sini. Sehingga dengan pura-pura memulung kami tidak tahu kalau kau dan nenekmu itu punya bisnis kotor, menjual anak-anak perempuan dibawah umur." Ujar seorang warga yang tadi main catur di pos ronda. Aram bertambah bingung.


"Ya Allah." Puluhan ibu-ibu terkejut mendengar itu, mereka tidak menyangka. Perbuatan keji sekali pikir mereka semua.


"Inalillahi wa Inna ilaihi Raji'un." Hampir semuanya berkata demikian.

__ADS_1


"Segera pergi secepatnya dari sini, kalau kalian tidak mau kami laporkan ke polisi." Ujar Pak Herung lagi.


"Jangan, laporkan saja ke polisi." Ujar yang lain memberi saran.


"Lapor Pak RT dan Pak RW." Seorang berkata.


"Secepatnya." Lalu seorang warga pergi ke rumah Pak RT dan Pak RW. Pak RT tidak di rumah, hanya Pak RW yang ada.


"Bakkk." Seorang warga membanting balok kayu di halaman. Orang itu bermaksud menakut-nakuti. Membuat Figan, Bagit dan si Adik menangis. Luran memeluk Figan dan Bagit. Sementara si Adik berlari memeluk Junka. Wajah mereka pucat tanda ketakutan.


"Heaaaa. Brakkk." Dua warga maju menerjang gerobak Aram, dan barang bekas yang sudah rapi kembali berantakan. Aram pucat pasih, dia diam saja dan menyingkir.


"Mana nenek bejat kalian itu." Ujar warga itu dengan emosi tinggi.


"Keluar. Keluar." Teriaknya dan diikuti warga yang lain. Sementara Pak Herung tersenyum puas sekali.


"Pasti tidak mau keluar, biasalah orang bejat." Ujar seorang Ibu-ibu.


...*****...


TIGA IBU-IBU EMOSI.


*


Dalam hiruk pikuk itu, tiba-tiba ada tiga Ibu-ibu datang mengendarai satu sepeda motor, bonceng tiga.


"Minggir." Teriak mereka histeris. Warga pun melompat menghidar, untuk sementara kerumunan yang semakin ramai itu bubar.


"Kurang ajar, beraninya kalian membuat anakku terluka." Ujar ibu gemuk itu.


"Kembalikan smartphone anakku. Mana.." Ujar ibu kedua.


"Obati kaki anakku, kalian harus tanggung jawab." Ujar ibu ke tiga.


"Mana orang tua kalian, mana. Keluar." Ujar ibu pertama.


"Mereka anak haram semua Bu. Tidak punya orang tua. Cuma nenek-nenek tukang jual anak perempuan di bawah umur." Ujar Pak Herung pada ketiga ibu itu.


"Adu, benar-benar biadab, ternyata." Sahut ibu itu.


"Ini anaknya, kalian Aku balas." Ibu gemuk itu mau memukuli Luran. Aram melindungi Adiknya, tapi malah dia yang terkena tamparan keras.


"Pakkkkk." Aram terjatuh, wajahnya merah terkena pukulan tangan Ibu-ibu gemuk itu. Yang satunya kemudian juga ingin memukul Luran lagi yang masih di peluk Figan dan Bagit. Salika dan Areha bangkit untuk melindungi Luran. Kedua menghalangi mereka untuk mendekati Luran. Lisam tak tinggal diam dia mendorong ibu satunya.


"Akhhh." Rambut Salika dijambak ibu itu. Sementara Areha di jambak oleh ibu yang kedua. Sementara ibu yang didorong Lisam sekarang membalas dengan menjambak rambut Lisam. Ibu-ibu itu benar-benar emosi sepertinya. Lisam dan Areha menangis, Junka tidak tega. Dia berusaha menolong siapa saja, tapi saat dia mendekat. Kaki ibu gemuk itu menendangnya, sehingga dia terjatu. Semua warga diam menyaksikan saja. Begitu ironi hidup kalau kita miskin dan lemah, tidak banyak yang peduli.


"Aduuuh." Rintihan anak-anak yatim piatu yang malang itu. Deak terbangun dari tidur, dia keluar sambil memanggil Junka. Tepat ketika dia di depan lorong pintu, Junka terjatuh. Deak menjerit dan menangis histeris.


"Cukupppp. Berhentiiiii." Teriakan menggema, seorang nenek-nenek menyeruak di antara orang-orang. Semua terdiam, menoleh ke arah si nenek. Dia berjalan pincang, menggendong bakul dan membawa tampa wadah jualan kue. Wajahnya merah padam menahan amarahnya. Tapi dia seorang nenek yang bijaksana, dan baik. Dia bukan nenek sembarangan dan dia juga pemberani. Semua pun terdiam beberapa saat.


...*****...


AMARAH NENEK MELUAP.


*


Nenek melangkah dengan pincang. Ibu-ibu melepaskan jambakan pada Areha, Salika dan Lisam. Aram masih menahan sakit, bibirnya pecah dan berdarah.


"Nenek." Luran, Figan, Bagit, Lisam, Junka, Areha, Deak, Adik, dan Salika menangis haru ketika melihat nenek. Semuanya berlari memeluk nenek, dan tersedu-sedu. Air mata nenek mengucur dengan derasnya. Lalu dia berbalik menghadap semua.


"Apa masalah kalian bertiga ini, Dik." Tanya nenek pada tiga Ibu-ibu itu.


"Cucu nenek mengambil smartphone anak saya." Ujar seorang ibu.


"Dia juga melukai kaki anak saya sampai harus dijahit." Ujar ibu itu dengan sengit.


"Kaki anakku keseleo, kepalanya benjol besar dan luka lebam-lebam. Cucu nenek sangat jahat, mendorong mereka dari atas sepeda. Hanya karena tidak dikasih pinjam sepeda." Ujar ibu yang ketiga.


"Nenek harus tanggung jawab." Ujar ketiganya, nenek melihat Luran. Luran menggeleng dan nenek tahu dari sorot mata Luran yang jujur. Nenek sudah mengenal mereka, tidak mungkin.


"Kalau bicara begitu pokok masalah kita temukan. Kalian tahu, perbuatan kalian itu bisa membuat kalian di penjara. Menganiaya anak-anak dibawah umur. Termasuk yang merusak gerobak itu." Kata nenek, dia melirik dua warga yang menerjang gerobak sampah Aram tadi. Tiga ibu dan dua warga terkejut dan mulai sadar. Nenek itu bukan nenek sembarangan, dihadapannya untuk berkata kotor saja mereka malu. Semua warga tiba-tiba terkesima, benar sekali pikir mereka. Ini negara hukum.


"Kalian semua, apa masalah kalian. Katakan padaku. Kalian ingin mengusir, silahkan. Mau memukul silahkan pukul Aku. Atau kalian mau berurusan dengan hukum, bukankah semua sama di hadapan hukum. Ayo, mau apa, katakan. Kalian semua sudah berumur, sudah sekolah dan banyak yang sarjana. Orang Islam dan mengerti agama. Begini cara kalian memperlakukan anak-anak yatim-piatu. Heh. Begini.!!! Ayo marah, ayo demo, ayo takut-takuti." Untuk kata terakhir nenek melirik warga yang sok jago memukul tanah dengan balok kayu tadi. Semua tidak dapat berkata-kata lagi, iya apa masalah mereka. Mengapa mereka datang dan membuat masalah pada anak-anak kecil. Bukankah mereka bisa bicara baik-baik. Ternyata mereka telah terhasut dan sebagian besar hanya ikut-ikutan saja.


"Ada apa ini." Tanya seseorang datang diantara warga. Warga mengenali kalau yang datang itu Pak RW. Dia pensiunan anggota TNI.


"Pak RW." Ujar warga semuanya. Nenek memperhatikan laki-laki tua itu. Dia merasa tidak asing. Pak RW juga memperhatikan dengan seksama.


"Kau Tapaw, bukan." Ujar nenek. Beberapa saat Pak RW terdiam dan bayangannya masuk ke tiga puluh tahun lalu. Sebuah sekolah SMP Muhammadiyah di Kota Palembang. Ternyata Pak RW dahulu adik kelas nenek Cik Rumi di sekolah. Tamat SMP Pak RW atau Pak Tapaw masuk kesatuan ABRI atau TNI sekarang. Sehingga mereka tidak pernah bertemu dalam waktu yang sangat lama.


"Ayuk Cik Rumi." Ujar Pak RW. Keduanya bersalaman dan saling menanyakan kabar. Semua warga melihat, dan satu persatu mulai pergi. Nenek mengajak Pak RW masuk, Ibu-ibu tadi, dan beberapa warga. Dua warga yang menendang gerobak Aram bergegas pergi juga. Wajah keduanya pucat, keduanya sadar akan mengganti gerobak Aram yang rusak. Dengan segera pergi kedua berharap dapat terhindar dari tanggung jawab itu. Pak Herung juga buru-buru pergi. Sesampainya di rumah dia mengunci pintu.


...*****...


POKOK MASALAH.


*


Pak RW dan nenek banyak bercerita tentang kehidupan mereka. Tapi nenek belum menceritakan apa-apa tentang Aram, Salika dan semuanya. Nenek tidak mau banyak yang tahu tentang kehidupan Aram dan semuanya terutama tentang Salika dan anaknya.


"Luran, benar kalian mengambil smartphone anak ibu ini." Tanya nenek.


"Tidak Nek, kami hanya main mobilan. Kemudian ada tiga orang seumuran Kopek. Pakai sepeda, ganggu kami. Mereka bersepeda berputar mengelilingi kami. Mereka ingin menabrak kami, kami lompat ke depan pagar orang. Mereka kemudian saling tabrak, dan jatuh. Ada yang jatuh ke parit, dan duanya jatuh ke jalan." Ujar Luran, keterangan yang sangat bertolak belakang.


"Kamu ngarang ya, tidak mungkin." Ujar ibu gemuk mulai emosi. Pak RW menenangkan, dia akan menyelidiki masalah ini. Semua kerugian akan pak RW tanggung kalau ternyata cucu-cucu nenek yang salah. Begitu juga sebaliknya, kalau cucu nenek yang benar Ibu-ibu itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semua setuju dan akan bertemu di masjid malam ini.


"Baiklah kalau begitu." Semua sepakat dan tiga Ibu-ibu pulang.


"Maafkan semua warga saya." Ujar Pak RW. Nenek menjawab tidak apa-apa. Beberapa saat kemudian Pak RW pulang setelah mendengar keterangan Nenek, Luran, Aram dan Salika. Dia meminta Luran menunjukkan lokasi kejadian tadi pagi.


...*****...


KAMERA SISI TV.


*


Pak RW, beberapa warga, Aram, Luran, Figan, Bagit menunjukkan tempat kejadian tadi pagi.


"Di sini Pak. Kami lompat ke sini. Kakak itu jatuh ke dalam ini, dan duanya jatuh di sini." Jelas Luran, tampak ada noda darah dan bekas benda keras jatuh di permukaan jalan.


"Oh, iya sudah. Kalian pulang sekarang." Ujar Pak RW. Aram dan ketiga adiknya pulang. Pak RW dan beberapa warga mengetuk pintu pagar rumah itu. Pak RW juga melihat ada sisi tv di dinding depan.


"Assalamualaikum." Panggil Pak RW, dan terdengar jawaban dari dalam. Kemudian pintu terbuka, muncul seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun. Sepertinya dia baru bangun tidur.

__ADS_1


"Pak Hagu, sedang apa." Tanya pak RW. Lalu pemilik rumah membuka pintu pagar. Mereka masuk dan mengobrol. Istri Pak Hagu mengatakan sirup segar. Awalnya Pak RW dan warga cuma mampir, jadi ngobrol lama. Mereka pun membuka rekaman sisi tv dari pagi sampai sore. Pak RW kemudian membawa rekaman dengan plesdis. Meminta Pak Hagu datang ke masjid malam nanti. Undangan Pak RW pun diumumkan di masjid.


...*****...


__ADS_2