
Tidak ada yang tahu, kalau Nenek Cik Rumi berada di hutan tepi kota bersama Aram dan adik-adiknya. Mereka tidak punya smartphone sehingga tidak tahu tentang viralnya berita kehilangannya. Dia juga tidak kemana-mana, walaupun keluar sekedar mencari angin segar.
Satu Minggu kemudian Aram telah sembuh seperti semula. Dia sudah mulai memancing dan memasang tajur ikan di rawa-rawa bersama Luran. Nenek memasak ikan bakar yang lezat sekali. Dia meminta Aram membelikan bumbu dapur. Seperti sere, laos, daun salam, kunyit, kencur, dan cabai merah satu on, tomat masak dua on. Kemudian si nenek meminta Aram membuat api Dengan kayu bakar. Ikan gabus dan ikan leleh di panggang. Bau harum semerbak membuat Aram dan adik-adiknya meneteskan air liur.
"Sisa tomat, sisa cabai, laos, sere, kencur, kunyit, kita tanam. Agar kita tidak membeli lagi bumbu masak. Nenek membakar beberapa tempat, sehingga tanah menjadi hitam. Di sanalah nenek menanam.
"Nek, kenapa ditanam hanya di tanah yang terbakar." Tanya Areha, menurutnya bisa ditanam di mana saja.
"Tanah hutan yang sudah dibakar akan subur. Kalau tidak dibakar tanaman tidak akan tumbuh subur." Jawab nenek. Mereka akhirnya mengerti.
Aram selama ini tidak terpikirkan untuk menanam. Mereka hanya tahu hanya garam dan penyedap rasa bumbu masakan mereka.
"Aram, kita bangun tempat yang baru. Katamu di sekitar sini banyak rumpun bambu. Kita jadikan bahan-bahan rumah dan anyaman." Kata si nenek sambil makan. Siang itu, mereka makan di bawah pohon beralas tikar. Angin sejuk dan suara burung-burung membuat suasana menjadi indah. Aram dan adik-adiknya sekarang ada yang mengarahkan, menasihati dan membantu.
"Iya Nek, kapan kita mulai." Jawab Aram.
"Mulai sesudah makan ini. Kita bergerak tanpa henti." Kata Nenek Cik.
Sejak siang itu, mereka mulai mengumpulkan alat rumah baru. Menebang pohon untuk kerangka, mengambil bambu untuk di olah. Aram dan nenek memikul bambu dan kayu. Keduanya kelelahan sekali, tapi sangat bersemangat. Bahu keduanya terkelupas karena berat kayu dan bambu. Tapi tidak mereka hiraukan.
"Adu berat sekali." Ujar Figan dan Luran saat keduanya memikul sebatang bambu.
"Kalau terasa berat, berhenti dan istirahat. Kemudian mulai lagi." Nasihat Nenek. Waktu menjelang senja, Areha pun selesai memasak.
"Cukup Aram, kita istirahat dan mulai belajar mengolah bambu untuk dinding." Kata Nenek Cik saat melihat sudah cukup banyak bambu dan kayu yang mereka kumpulkan.
"Areha, ini ada rebung bambu, sudah nenek bersihkan. Kamu potong-potong dan di rebus." Kata Nenek Cik.
"Aram, kamu lihat nenek bagaimana mengolah bambu untuk dinding." Kata Nenek, pertama dia mencacah bambu dengan ujung parang sampai pecah-pecah. Kemudian memukul dengan balok kayu bulat sampai bambu benar-benar pecah-pecah. Setelah pecah nenek membelah dan merentangkan. Lalu membersihkan ruas bambu. Proses terakhir bambu yang telah rata di telungkupkan lalu di tindi dengan sesuatu yang berat. Aram mengerti dan dia mulai mengolah bambu menjadi dinding.
"Ini tidak hanya untuk dinding rumah, tapi bisa juga untuk dinding kandang ayam, atau pagar." Jelas nenek, Aram mendapatkan ilmu yang berharga. Mereka melanjutkan besok di pagi hari.
Satu bulan kemudian rumah mereka jadi. Dinding dan atap rumah mereka dari bambu semuanya. Dua tempat tidur mereka buat dari bambu. Sekarang Areha tidur terpisah dari saudara-saudaranya. Dia sudah mendekati masa pubertas. Jadi Areha tidur bersama nenek. Aram selalu pulang cepat dari mencari barang bekas untuk menyelesaikan bangunan gubuk bambu mereka. Membangun kandang ayam yang sudah bertambah banyak, karena telur telah menetas. Beberapa waktu kemudian sepuluh anak ayam telah besar. Induk ayam akan bertelur lagi.
"Aram, kita tidak mengkin tinggal di sini selamanya. Jadi kita mulai menabung untuk mencari kontrakan. Adik-adikmu juga harus sekolah. Agar masa depan mereka baik. Bila perlu kau juga harus sekolah lagi. Nanti nenek akan membuat anyaman, saat kau mencari barang bekas tawarkan pada warga. Mungkin ada yang mau beli. Nanti, kalau sudah ada kontrakan nenek mau bikin kue atau bikin kerupuk untuk usaha." Kata nenek sambil menyiapkan makan malam. Aram mengiakan dan mereka makan bersama. Aram dan adik-adiknya benar-benar mendapat orang tua baru. Hari demi hari, kasih sayang dan cinta tumbuh di antara mereka, dan menjadi keluarga baru yang bahagia. Aram dan adik-adiknya menganggap nenek seperti nenek kandungan mereka. Begitu juga nenek menganggap mereka seperti cucu kandungnya sendiri.
"Luran, Figan ayo bangun hari sudah siang." Ujar nenek.
...*****...
PERTENGKARAN KAKAK BERADIK.
*
Suatu hari, di rumah Pak Hadi. Berkumpul kakak beradik untuk musyawarah keluarga. Mencari tahu apa penyebab ibu mereka pergi dan berada di mana kiranya.
"Apa masalah kalian sampai Umak tidak tahu kemana. Kalian kakak laki-laki yang memalukan sekali. Satu ibu tidak terurus, sedangkan kalian cukup uang dan punya rumah. Apa begitu pelitnya kalian sampai tidak dapat memberi ibu makan sehingga ibu sudah tua berkeliaran di tengah kota seperti menumpang. Kalian juga ingat sebelum kalian banyak uang. Rumah peninggalan ayah di jual untuk modal hidup kalian. Sekarang ibu terlunta-lunta di luar, kesana-kemari. Tidur di masjid dan di rumah orang. Naik angkot dan naik bus sendiri, naik ojek ke mana-mana. Lantas apa yang membuat kalian begitu tidak peduli sama ibu. Kalian tidak menelpon satu sama lain untuk bertanya dimana ibu berada. Di rumah siapa dan dimana. Handpon kalian lebih sering digunakan melihat media sosial daripada meluangkan waktu beberapa menit untuk saling bertanya di mana, Umak. Kalian memang tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya mengandung dan melahirkan. Kalian juga sarjana yang besar mulut dan merasa hebat sendiri. Sedikit dibanta tersinggung, karena merasa harga diri kalian tinggi. Dasar penganut neofeodalisme buruk. Sekarang Umak di mana, dan kalian anak laki-laki harus bertanggung jawab. Aku tidak mau tahu. Pokoknya." Kata Juhusi memarahi kakak-kakaknya sambil menangis meronta-ronta dan memukul-mukul dinding. Semuanya maklum karena dia sedang marah. Leban, Zeta dan Barda sudah mengerti sifat adik bungsunya itu.
Pak Hadi, Leban, Zeta, Barda, dan istri-istri mereka dan anak-anak mereka. Ada juga kedua mertua Juhusi mendengarkan pertengkaran kakak beradik itu. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Sudah lebih dua bulan polisi menyelidiki kasus hilangnya Nenek Cik Rumi, namun mereka tidak menemukan apa-apa.
Beberapa kali mereka telah musyawarah demikian namun tidak kunjung reda karena saling menyalakan.
"Ibu terakhir dari rumah kakak, kenapa kakak tidak memberi tahu kalau mau ke rumahku." Ujar Barda membelah diri.
"Ibu pergi setelah Aku pergi kerja. Mana Aku tahu." Jawab Leban.
"Jadi, yang bilang dia kerumah Aku siapa." Kata Barda.
"Ibu hari itu pamit katanya mau pulang ke rumahmu, Dik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena ibu mau cepat pergi." Jawab Ayuk Tara istri Leban.
"Kenapa ibu cepat-cepat mau pergi. Ayuk usir atau dibuat tidak betah karena menumpang di rumahmu." Juhusi menyambar sengit.
"Hey, Dik. Jangan begitu, mana mungkin Aku mengusir ibu." Jawab Ayuk Tara dengan nada tinggi juga.
__ADS_1
"Kalau tidak, mengapa dia mau cepat-cepat pergi. Jawab!. Ayo jawab." Sentak Juhusi tak kala sengit. Pertengkaran keduanya terjadi, Hadi dan Leban meminta keduanya berhenti. Juhusi anak bungsu dan paling dekat dengan ibunya. Dia manja dan selalu perhatian dengan ibunya. Tapi dia sudah menikah, jadi mengurusi suami dan anaknya dan tinggal ikut suami. Sementara istri Zeta dan istri Barda diam saja.
...*****...
ORANG BAYARAN.
*
Dua orang laki-laki bayaran Pak Hadi khusus mencari Nenek Cik Rumi berdiri di bangunan bekas orang berjualan di sisi jalan. Mereka berhenti karena hujan turun. Walaupun tidak begitu lebat tapi tetap saja basah kalau tidak berteduh. Beberapa pengendara sepeda motor juga berhenti. Saat itulah dua orang bayaran Pak Hadi bertanya pada warga yang berteduh.
"Pak, pernah berjumpa dengan ibu-ibu tua ini." Tanya laki-laki tinggi besar mengenakan banyak kalung di lehernya. Dia menunjukkan foto nenek-nenek berhijab unguh.
"Tidak pernah, Dik." Jawab bapak yang berprofesi sebagai ojek online.
"Kalau adik, bagaimana." Tanya pada seorang anak muda dan seorang gadis.
"Belum pernah Om." Jawab si pemuda.
"Ini ibu yang di berita dan media sosial itu, Om. Viral sekali kehilangan ibu ini." Kata si cewek.
"Katanya, anaknya kaya-kaya. Apalagi menantunya itu masuk pengusaha sukses dan barisan orang terkaya di Kota Palembang." Ujar seorang warga.
"Kaya, berpendidikan mereka itu. Ibu tua satu tidak terurus. Paling berapa ngasih biaya ibu tua begitu." Sahut yang berteduh lainnya.
Mereka semua membicarakan tentang nenek-nenek yang hilang. Hampir semua warga di Kota Palembang telah mengetahui. Berita viral di media sosial serta menjadi perbincangan publik. Tapi tidak ada yang tahu keberadaannya. Hujan reda, satu demi satu warga meninggalkan bangunan itu. Sekarang tinggal dua orang itu yang masih berdiri di bangunan itu.
"Bagaimana bro, kita mencari kemana lagi." Tanya pada temannya.
"Santai saja, Ham. Capek sudah menyusuri pinggiran kota." Jawab temannya sambil memainkan smartphonenya bernama Ilham.
"Iyalah." Jawabnya sambil melihat-lihat di sekelilingnya.
"Ada hutan lebat juga di sini rupanya." Kata temannya lagi.
"Iyalah, zaman dahulu hampir semua tanah di Kota Palembang hutan lebat." Kata temannya.
"Ya, iyalah. He. he. he." Jawab temannya sambil tertawa ringan.
"Sudah, kita keliling lagi cari mertua Bos." Kata temannya. Kemudian mereka bersiap melaju dengan sepeda motor. Tidak berapa lama di sebuah belokan, yang ada dua gang kecil.
"Srriiitttt." Motor di rem mendadak.
"Hati-hati dek, jangan berhenti sembarangan. Kau ini, sudah tahu jalan belokan, nyelonong saja." Kata yang membawa motor.
"Hei, Om. Sudah tahu jalan sempit. Kenapa juga ngebut. Nabrak anak kecil bagaimana." Seorang ibu-ibu membela anak yang membawa gerobak. Dia berdiri di dekat jemuran di balik pagar rumah.
"Maaf Om, saya lupa jalan berbelok." Jawab anak pemulung berdiri di dekat gerobak. Si ibu-ibu kemudian memanggil si anak. Dia memberikan kardus kulkas baru di beli.
"Ini dek kardus, dan ini plastik-plastik, ada juga kaleng aluminium." Kata si ibu. Dia memberikan kardus dan sekanton plastik besar barang bekas yang dapat dijual. Tampaknya ibu itu akan mengangkat jemuran. Dua orang bermotor pergi tampa berkata lagi. Si anak juga pergi dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada si ibu yang baik hati.
...*****...
KOYONG YAPA YANG PEMARAH.
*
Seorang laki-laki berumur empat puluh lima tahun mengendarai sepeda motor Supra produk Honda. Wanita yang sedikit lebih mudah darinya duduk miring sebagaimana wanita umumnya. Baju gamis maron dan jilbab hijau muda. Ada tas kecil dijinjing. Helm yang mereka pakai sudah cukup tua. Tiba di rumah Pak Hadi, yang pagar tinggi. Satpam baru yang tidak mengenal si laki-laki mencegah masuk.
"Maaf Pak, ada perlu apa." Tanya satpam tidak bersahabat.
"Saya mau kerumah Hadi, mau menempeleng kepala mereka semua yang ada di dalam itu." Kata laki-laki itu dengan penuh emosi dan amara.
"Maaf pak, Pak Hadi tidak di rumah. Silahkan pergi atau saya hubungi polisi." Kata satpam penuh tanggung jawab.
__ADS_1
"Kurang ajar kau ini, buka pintu." Kata laki-laki itu.
"Sabar kanda, bersikaplah biasa-biasa saja." Kata istrinya, tapi tidak dia pedulikan.
"Buka pintu, atau kau Aku tempeleng lebih dulu." Katanya penuh amara meluap.
"Kurang Ajar, kau pikir Aku takut." Jawab satpam dan langsung mencabut pentungan di pinggang. Laki-laki itu mulai akan ngamuk, dia mulai mau menerjang. Dari balik pagar teman satpam datang dari dalam. Dia ternyata mengantarkan makanan pesanan Rere melalui Ojek food.
"Woyyy, berhenti." Dia berteriak lalu menghampiri.
"Ada apa Tagu." Dia memanggil temannya. Satpam yang sudah lama bekerja di rumah Pak Hadi mengenali keduanya.
"Oh, Koyong Yapa, Kopek Nahaya. Maaf dia petugas baru jadi tidak mengenali, koyong dan kopek. Sudah masuklah, Pak Hadi dan keluarga sedang berkumpul." Ujar satpam itu rama. Keduanya masuk dan diantar satpam.
"Kau ini, hampir berkelahi dengan paman istri Pak Hadi." Kata Temannya.
"Dia juga, macam preman pasar saja." Ujar satpam.
"Itu orang Sekayu, hati-hati. Kalau dia marah kau di tusuknya nanti. Kau juga harus tahu, dia itu baru pulang dari penjara karena membacok orang. Bukan preman, tapi begitulah wataknya. Jadi harus dengan kebaikan dan kelembutan menghadapi orang seperti itu." Kata temannya.
"Aku gebuk sampai mati dia, baru tahu rasa." Kata satpam masih kesal.
"Dia itu orang Sekayu, mana dia takut sama mati." Jelas temannya sambil geleng-geleng kepala. "Orang Palembang tak tahu watak orang daerah sendiri." Katanya lirih sambil menarik nafas.
Beberapa saat kemudian terdengar ribut dan orang teriak-teriak marah-marah di dalam rumah Pak Hadi. Teman satpam menoleh rekannya, dan dia hanya mengangkat bahu.
...*****...
DI DALAM RUMAH.
*
"Iya, kalau kalian tidak bisa merawat dan keberatan memberi makan Kopek Cik. Kasih dengan Aku, ini adek kandungnya. Walaupun Aku usaha bengkel kecil. Tapi Aku bisa mengurus banyak orang. Ibu mertua, nenek kalian setelah ayah kalian meninggal, Aku yang mengurusi semua. Bibik kalian yang janda dan anak-anak, Aku yang urus. Kau tahu tiga belas tahun lalu Aku membacok orang. Karena kurang ajar pada bibikmu. Jadi laki-laki harus melindungi dan membela keluarga perempuan kita. Agar kamu punya harga diri. Tidak seperti kalian ini, ibu satu tidak terurus. Sudah sarjana dan istri sekolah semua. Seperti tidak berpendidikan dan orang kurang makan. Kalau istri kalian tidak suka mertua, ceraikan saja. Cari istri yang punya akhlak baik. Jangan cuma mau makan dan uang kalian saja. Istri serakah, nanti kalau sudah hukum karma baru tahu rasa. Lihat anak kalian, itu berarti kalian akan jadi mertua orang juga. Kalian akan tua juga." Paman mereka marah besar. Ngomong sesuka hatinya, semua kena semprot. Istri Barda, istri Leban, dan istri Zeta begitu tersinggung dengan kata-kata itu. Tapi mereka takut dengan sang Paman yang terkenal suka marah dan bengis tapi hatinya baik.
Sementara itu, ayah Pak Hadi dan istrinya diam atas musyawarah anak dan menantu besan mereka. Selama itu juga mereka melihat hanya kemarahan dan saling menyalahkan.
Saat paman mereka berhenti marah-marah. Baru orang tua Pak Hadi mulai berbicara menengahi. Dia memberi nasihat dan saran.
"Leban, Zeta, Barda, Juhusi, dan kalian semua. Ada baiknya kalian merenung dan menyadari apa hikmah dari semua ini. Berhentilah saling menyalakan tidak akan menyelesaikan permasalahan-permasalahan. Mari kita berdoa agar Adinda Cik Rumi selamat dan baik-baik saja. Mulai besok pagi keluar, kita mencari bersama-sama. Hadi juga telah mengirim banyak orang mencari di seluruh kota. Kita juga tunggu kabar dari polisi. Kalian cari ke rumah keluarga di Sekayu. Atau kerumah sahabat-sahabat Adik Cik." Ujar mertua Juhusi yang bijaksana. Mereka pun sepakat untuk mencari Nenek Cik Rumi. Paman yang pemarah juga setuju.
...*****...
KERANGKA WANITA TUA.
*
Siang pukul sepuluh pagi. Pak Hadi dan Juhusi ditemani Gaka dan kakek Gaka pergi ke luar kota. Mereka akan ke suatu tempat, Kampung Halaman Cik Rumi di Sekayu. Baru tiba di Kampung, menjelang Sore dan menginap di salah satu rumah keluarga mereka. Namun mereka tidak mendapat berita baik. Cik Rumi tidak pernah pulang kampung. Keesokan paginya mereka pulang kembali ke Kota Palembang. Tiga jam perjalanan pulang, mereka sekarang telah di sekitar Daerah Serong. Ada markas TNI di sisi jalan. Pak Hadi menyetir dengan sabar mengikuti arus yang lambat.
"Titttt. Titttt." Nada dering handphone terdengar. Dari nama kontak tertulis Pak Polisi.
"Ini dengan Pak Hadi." Tanya suara di telpon.
"Iya benar." Jawab Pak Hadi.
"Ini Pak, ada kabar. Tadi pagi tim kami menemukan jenazah perempuan yang sudah tinggal tulang belulang. Jadi kami meminta pak Hadi dan semua keluarga datang ke rumah sakit Bhayangkara untuk diambil sampel DNA untuk di cocokkan." Kata Polisi. Pak Hadi yang menjawab telepon dengan suara di speaker langsung di dengar oleh Juhusi. Juhusi menjerit dan menangis, lalu tubuhnya rebah di kursi mobil.
"Minggir Hadi." Kata ayah Pak Hadi memintanya menepikan mobil. Gaka terbangun dari tidurnya di pangkuan ibunya yang telah rebah di kursi. Setelah mobil berhenti Pak Hadi pindah ke kursi belakang membantu Juhusi. Sementara sang ayah mengemudikan mobil menggantikan Pak Hadi. Hadi memangku Gaka yang tidak mengerti apa-apa. Lalu membasahi wajah Juhusi dengan air mineral. Beberapa saat kemudian Juhusi sadar, dan menangis pilu sambil memukul-mukul tubuh Hadi.
"Dinda, tenang. Belum tentu itu jenazah ibu. Kita langsung ke RS Bhayangkara. Kanda hendak mengabarkan Kakak Leban dan yang lainnya." Kata Pak Hadi, sementara Juhusi terus menangis.
"Kak, kita ke RS Bhayangkara sekarang. Pihak kepolisian menelpon barusan. Sudah, kami tunggu di sana." Kata Pak Hadi pada Pak Leban. Seketika Pak Leban terduduk di kursinya, dan handphone jatuh dari tangan. Sekretaris dan asistennya melihat itu dan langsung membantu.
Sementara itu Pak Hadi menelepon kakak ipar, Zeta dan Barda. Tidak lupa menelpon sang Paman yang pemarah. Paman menjerit, dia tidak menyangka kakak perempuannya telah tiada. Dia menangis, karena cinta pada kakak perempuannya seperti cintanya pada ibunya.
__ADS_1
"Kopekkkk." Ujar Paman Yapa, dia melepaskan alat bengkel dan duduk menangis di sisi bengkelnya. Dua keneknya merasa aneh melihat dia menangis. Tapi mereka terus bekerja melayani pelanggan mereka.
...*****...