
Seminggu telah berlalu, satria mempersiapkan diri untuk menimang Alisa. Orang tua Satria sibuk mengurusi hantaran, Jeselyn membantu satria untuk memilih cincin pernikahan. Satria membeli cincin itu 3, karena ia juga berniat untuk melamar Tamara nanti.
dor
dor
"Bang udah siap belum?" ucap jeselyn
"bentar"
"ayo nak udah di tunggu calon besan"
"sabar ngapa, ini lagi pake dasi susah bet"
Jeselyn pun memutar bola matanya, karena kelakuan satria. Akhirnya keluarga Satria telah sampai ke rumah Alisa, rombongan keluarga Alisapun berkumpul. Mereka sudah tau tentang rencana poligami antara Alisa, Tamara, dan Satria. awalnya menolak tetapi saat mereka tau satria akan menjadi artis merekapun menyetujuinya.
"assalamualaikum" ucap pak Kardi
"waalaikumusalam" ucap sanak saudara Alisa
"eh jeng Dian, Satria nya mana Bu" ucap Bu Riska menyambut ibu dengan cipika-cipiki
"ini Tamara ya?" tanya Bu riska
"bukan Bu ini ponakan saya, sepupunya satria, Satria lagi sebat dulu di luar, biarin lah biar gak gugup" ujar ibu
"ah, namanya juga anak laki-laki"
"jeng dian, pak Kardi mari masuk, mari cobain kuenya, ini buatan Alisa loh" ucap Bu Riska
"wah calon mantu bikin kue enak banget, nanti klo udh jadi mantu bisa gendut nih hahaha" ujar Bu Dian
"jeng Dian bisa aja"
Satria pun masuk bergabung dengan yang lain, Alisa tak kunjung kelihatan batang hidungnya, ia masih mempersiapkan untuk hari bahagianya.
Alisa keluar menggunakan gaun berwarna putih di hiasi dengan kalung emas dengan bandul dari batu permata, ia jalan menuju satria dengan anggun, satria melihat Alisa tidak percaya bahwa alisa secantik itu. Mata satria tidak kedip saat melihat Alisa.
Tak lama anggota The Exodus datang untuk menghadiri pertunangan satria. para anggota The Exodus terpesona melihat kedua insan tengah bertukar cincin. Alfian melihat jeselyn tengah memperhatikan kedua insan tersebut.
"kamu mau gak kaya gitu"
''aduh bang Al ngagetin aja"
"ya mau lah, cuma belum ada yang Dateng ke rumah aku tuh" sindir Jeselyn
"hehehe, mungkin setelah pernikahan satria nanti"
"janji ya, kalau nggak aku akan menerima laki laki pilihan papa" ujar Jeselyn tanpa melihat Alfian
"aku janji, aku akan mempersiapkan diri untuk meminang mu" ucap Alfian sambil memegang tangan Jeselyn
__ADS_1
"ya aku tunggu maksimal 1 bulan setelah pernikahan bang satria" ucap jeselyn
"iya aku janji, aku akan mempersiapkan mulai dari sekarang" ucap Alfian
Jeselyn melihat raut wajah Alfian nampak ada keseriusan disana. Alfian kembali duduk meninggalkan jeselyn, ia kembali bergabung dengan teman-temannya, sedang jeselyn kedatangan kedua orangtuanya, Alfian terkejut melihat kedua orang tua jeselyn. ia terlihat seperti kolega ayahnya, tetapi ia ragu, barangkali dia hanya mirip.
setelah acara selesai para orang tua mulai berembuk untuk rencana pernikahan anaknya, bapak Kardi selaku tetua meminta agar di percepat, karena takut menimbulkan omongan karena Alisa dan satria sering pulang malam. Padahal mereka mengikuti kompetisi yang sama. jadi satria memutuskan pernikahan akan dilaksanakan tepat pada hari ulang tahun Alisa, yaitu 3 Minggu lagi.
"bagaimana, Bu Riska sebagai orang tua dari alisa" ujar pak Kardi
"saya mengikuti keputusan dari Alisa, karena dia yang akan menikah" ujar Bu Riska
"ya om saya setuju, daripada timbul fitnah yang tidak-tidak"
"alasan kamu timbul fitna atau yang lain" bisik Bu Riska menggoda anaknya
"apasih ibu tuh"
"yaudah kita sudah sepakat untuk menikahkan ananda satria dan alisa tepat pada hari ulang tahun Alisa"
acara ditutup dengan sungkeman kepada orang tua, Alisa berlutut dan menyalami orang tua Satria. Satria pun melakukan hal yang sama ia berlutut dan mencium tangan mertuanya. Bu Riska berbisik kepada satria
"Nak jadilah pengganti ayahnya, dia kehilangan sosok ayahnya yang ia sayangi, ibu paham Riska anak yang kuat, tetapi sebenarnya dia adalah anak yang manja" bisik Bu Riska
"pasti Bu saya akan berusaha untuk membahagiakan Alisa"
"laki laki harus bisa dipegang omongannya" ujar Bu Riska
"ayah aku datang, tebak aku datang sama siapa?, ya ayah betul aku datang dengan calon suamiku, namanya satria, dia anak yang baik, lembut, mempunyai jiwa kepemimpinan, dia juga juara loh yah, dia berhasil mengalahkan ku, menyebalkan bukan, tap tidak apa yang penting aku sudah mengalahkan hatinya" curhat Alisa di depan pusara ayahnya, Alisa tampak menahan air matanya, tetapi ia tak kuasa menahannya.
alisa menyandarkan kepalanya di dada satria, ia merasa nyaman saat di dekapan satria, satria pun mengelus kepala Alisa, setelah itu ia jongkok dan mengusap pusara calon mertuanya.
"pak aku datang untuk meminta izin, menikahkan putri semata wayang bapak, saya akan berusaha untuk membahagiakan anak bapak, dan menjadi pengganti bapak kelak" ujar Satria dengan yakin
merekapun meninggalkan pusara ayahanda dari Alisa. Mereka menyempatkan ke cafe dimana mereka bertemu, mereka makan malam di cafe tersebut, satria tidak terlalu nyaman dengan makanan di cafe, ia terbiasa makan makanan pinggir jalan.
setelah itu mereka pulang, Alisa memberanikan Salim kepada satria, ia harus membiasakan diri untuk nanti. Alisa masuk ke rumah ia disambut oleh Bu Riska.
"aduh yang abis dinner sama calon suami" ejek Bu Riska
"apa sih mamah tuh, aku abis dari makam papah, trus laper makan deh" ujar alisa, sambil membuang diri ke sofa empuk
"ya sama aja keles" ucap Bu Riska
"nak nanti kalau kamu menikah mau tinggal dimana?" ujar Bu Riska
"aku sih ikut satria kemana pergi aja"
"yah mamah sendirian dong"
"sementara aku tinggal disini mah, nempatin kamar kos boleh gak?"
__ADS_1
"mamah sih sok aja satria ya mau gak?"
"nanti aku ngomong sama satria, semisal satria punya rumah juga aku akan main kesini pulang sore" ujar alisa
"iya deh calon istri orang" ejek ibu
"apa sih mah, gerah ah mau mandi"
''ututu anak mamah yang bentar lagi mandi bareng suami'' ejek Bu Riska
"mamah udah ah" pekik Alisa
Alisa dekat sekali dengan Bu Riska, bahkan jika lagi shopping, ia seperti anak kembar, bahkan ada yang bilang dia seperti adiknya. Alisa dan ibunya seperti perangko kemana ia pergi maka Alisa akan ikut kecuali arisan. alisa menolak karena ia suka di kenalkan oleh anak dari teman ibunya.
alisa merasa risih dengan kelakuan teman teman ibu.
Malam hari Alisa mengabarkan Tamara, ia mengabari Tamara bahwa ia sudah di pinang oleh satria, ia juga memberi tahu kalau satria membeli cincin 3 pasang, sontak membuat wajah Tamara memerah.
disisi lain
Tamara di buat gelisah, pasalnya apakah orang tuanya setuju anaknya menikah dengan suami orang lain, ia bingung mengatakan hal tersebut, Tamara meminta bantuan kepada Alisa untuk membantu menjelaskan kepada orang tuanya. Alisa, Alisa bingung apa yang harus dikatakan kepada orang tua Tamara, ia mendapatkan ide.
semisal Alisa adalah istri sah dari satria maka ia juga memiliki hak untuk satria, maka itu akan jadi alasan Alisa untuk menikahkan Tamara dengan satria.
"oke deh nanti kalau orang tua mu ke Indonesia aja, tau sendiri tiket kesana mahal"
"iya deh paling pas aku lulusan nanti"
"oke, aku lagi bikin undangan, abis itu fitting gaun"
"wah kapan nikahannya, nanti aku hadir sebelum hari-h, biar nanti pingit kamu gak sendirian, kita bikin bridal shower sama Clarissa kita nginep di villa kakekku di daerah Majalengka"
"kamu tau hari ulang tahunku?"
"inget"
"kamu pesan 3 hari sebelumnya"
"ah sweet banget hadiah ulang tahunnya"
"hehehe, ini ide dari satria"
"pengertian banget, dari dulu gak berubah"
"yaudah aku mau fitting dulu, bye"
"bye, jangan lupa foto kamu pake gaun sama foto satria pake tuxedonya"
"siap"
bersambung....
__ADS_1