
Seminggu setelah kejadian, kondisi Satria masih belum sadar. Tamara dan Alisa pun masih setia menunggu suaminya pulih, mereka menjaga bergantian Alisa dan Tamara menjaga pagi hingga sore hari, sedangkan kawannya yang akan berjaga malam. Pasca kejadian Alisa masih mengalami trauma, jika melihat orang dengan badan tegap, ia akan pucat dan mengeluarkan keringat. Tamara pun berusaha menyembuhkan trauma Alisa dengan membawa ke psikiater, hari ini Alisa akan menjalani terapi di psikiater.
"Lisa bersiaplah, ayo kita ke psikiater" ucap Tamara
"Ara aku masih takut" lirih Alisa
Dengan bujukan Tamara akhirnya Alisa menyetujuinya, ia bersiap menuju ke psikiater, mereka akan berangkat menggunakan mobil. Setelah sampai mereka langsung masuk ke rumah psikiater, saat masuk Alisa melihat suami dari psikiater itu memiliki badan yang besar seperti binaraga, sontak membuat Alisa menjerit ketakutan. Bu Asri selaku psikiater terkejut dengan teriakan Alisa, suami Bu Asri pun langsung menghindar dari pandangan Alisa.
"Eh kenapa ini?" ucap Bu Asri
"E ini Bu, perkenalkan saya Tamara yang tadi membuat janji" ucap Tamara menyalami Bu Asri
"Oh itu, silakan masuk" ucap Bu Asri
"papah masuk dulu!" teriak Bu Asri kepada suaminya
Mereka pun memapah badan Alisa menuju ke ruangannya. Setelah itu mereka merebahkan badan Alisa di sofa, Bu Asri menunggu Alisa tenang. Alisa masih menangis, dengan sabar Bu Asri menunggunya, Tamara sejak tadi memeluk Alisa dan mengelus punggung Alisa. Setelah lega baru lah Bu Asri memulai terapinya.
"Lisa ceritakan bagaimana kamu bisa seperti ini" ujar Bu Asri
Alisa menceritakan kejadian saat dirinya di culik, Bu Asri dan Tamara menyimak penjelasan dari Alisa.
"awalnya saya setelah bangun tidur, saya hendak keluar menuju ke teras, tak lama preman datang menghampiri saya lalu menarik tangan saya, saya memberontak, setelah itu saya di bius menggunakan sapu tangan. Setelah sadar" Alisa kembali menangis di pelukan Tamara, ia tak dapat melanjutkan kronologinya.
Setelah melakukan hipnoterapi, Alisa merasakan sedikit lega, mereka pun langsung menuju ke rumah sakit. Alisa dan Tamara menggenggam tangan suaminya, mereka sesekali mencium kening satria.
"sayang ayo sadar, aku tidak bisa tidur tanpa kamu" ucap Alisa
"sayang cepatlah sadar, kamu gak mau lihat sepupumu jeselyn ingin dilamar oleh Dika" ucap Tamara memeluk satria
Setelah berbincang dengan Satria, mereka beristirahat di sofa di dekat ranjang, Alisa tidur di sofa sedangkan Tamara ia duduk di dekat ranjang Satria. Siang hari dokterpun datang untuk mengecek keadaan satria, dokter menempelkan stetoskop ke dada satria.
"Bu kesehatan pasien mulai membaik, perbanyak komunikasi agar merangsang saraf pasien" ujar dokter
"baik Bu"
"oke kalau begitu saya pamit, semoga lekas sembuh" ucap dokter meninggalkan ruangan
Tamara masih berusaha untuk berkomunikasi kepada Satria, ia menceritakan tentang masa SMA. Tamara juga menceritakan tentang perjodohannya bersama Steve yang kandas.
__ADS_1
Di dalam mimpinya satria berada di taman yang cukup luas, ia melihat ibu dan anak kecil sedang menghampiri Satria yang sedang duduk di kursi taman.
"Nak boleh ibu duduk disini" ucapnya
"bang tria" ucap anak kecil
Satria melihat adiknya berlari menghampiri dirinya. Ia merenggangkan tangannya untuk berpelukan, anak kecil itu membalas pelukan satria.
"kia Abang kangen" ucap satria meneteskan air mata
"Bu Riska" ucap Satria menyadari bahwa mertuanya hadir di sebelahnya.
"Nak bangun lah, anakku membutuhkan mu" ujar Bu Riska
"Bang bangun lah, kasian calon keponakanku membutuhkan Abang" ucap kia
"Abang tidak yakin dengan hidup abang sendiri, apakah Abang bisa menghidupi keluarga abang" ucap Satria menangis di pelukan kia
"yakinlah bang, Abang adalah superstar, kia yakin dengan Abang" ucapnya
"Mamah yakin sama kamu nak, kamu sudah bekerja keras dari nol. Dulu Alisa sangat mengagumi dirimu hampir setiap hari Alisa bercerita tentang dirimu. Mamah juga mengamati mu sejak dulu saat kamu audisi. bangun lah nak" ujar Bu Riska
"Abang masih kangen sama kamu kia" ucap Satria
"Kia akan selalu ada untuk Abang, jika Abang kangen kia akan hadir untuk Abang" ucap kia
Satria pun berbalik, ia menatap pintu tersebut, kia dan Bu Riska mendorong Satria untuk masuk ke pintu tersebut, alhasil Satria masuk dan dirinya membuka matanya.
Tamara merasa putus asa untuk mengajak berkomunikasi dengan satria, sudah banyak ceria yang ia ceritakan. Tangan satria menggenggam tangan Tamara, Tamara terkejut lalu ia melihat mata suaminya mulai membuka. Tamara langsung memencet tombol untuk memanggil dokter. Alisa bangun dan mendapati suaminya telah membuka mata, ia mengucek matanya dan mencubit tangannya sendiri, ia sadar bahwa dirinya tidak mimpi.
Dokter pun datang, Alisa dan Tamara dipersilahkan untuk keluar. Orang tua Tamara pun datang, mereka awalnya berencana menjenguk menantunya.
"Ara bagaimana keadaan satria?" ucap mommy
"dia sudah sadar mom, dokter sedang memeriksanya" ujar Tamara
"Lisa bagaimana kandungan mu?" ucap mommy
"Alhamdulillah mom sehat" Alisa mencium tangan mommy
__ADS_1
Tak lama dokter pun keluar ia memberi kabar mengenai kondisi Satria.
"Bu pasien telah sadar dari komanya, keadaannya telah membaik, pasien akan di rawat selama tiga hari untuk mengontrol kondisinya. Jika memungkinkan sebelum 3 hari maka pasien bisa pulang" ujar dokter
"dok apa kami bisa menjenguk?" ucap Alisa
"Nanti saat pasien sudah di ruang perawatan, untuk saat ini lebih baik jangan dulu" ucap dokter
"kalau begitu saya permisi" dokter meninggalkan keluarga pasien
Alisa dan Tamara pun makan siang di restoran terdekat. Alisa yang sedari tadi lapar, ia akhirnya makan dengan lahap, begitu pula dengan Tamara ia juga makan dengan lahap karena dirinya belum sarapan.
Setelah makan mereka kembali ke rumah sakit, satria telah dipindahkan ke ruang perawatan. mereka langsung menemui satria yang sedang berbaring lemas.
Alisa dan Tamara memeluk suaminya secara bergantian, rasa rindu setelah seminggu tidak bertemu akhirnya terobati. Satria tersenyum melihat tingkah Istrinya.
"sayang aku haus" ucap Satria dengan nada lemas
Tamara dengan sigap mengambil minum, satria minum menggunakan sedotan. kemudian ia menatap mertuanya yang hadir
"Mommy Daddy maaf merepotkan" ucap satria
"tidak apa-apa nak, kami hanya menjenguk" ucap Daddy
"Cepatlah sembuh Mommy sudah menyiapkan 3 tiket untuk kalian liburan ke Paris" ucap mommy
Mata Tamara berbinar mendengar penuturan dari kedua orangtuanya, ia memahami bahwa mereka sudah menerima kehadiran satria menjadi anggota keluarganya.
Orang tua Tamara pamit karena mereka akan berangkat ke Sidney untuk mengurus perusahaannya disana. Setelah mertuanya pulang, tak lama anggota The Exodus datang, Jeselyn ikut serta untuk menjenguk sepupunya.
"Bang lekas sembuh lah, aku ingin bertunangan dengan bang Dika, aku ingin bang satria hadir jadi kita sepakat untuk mengundurnya" ucap Jeselyn
"Sat cepet sembuh, gua punya obat stamina buat elo" ucap Brian
"Orang lagi sakit masih aja nawarin begituan" Alfian memukul tangan Brian
Para anggota The Exodus bercanda untuk menghibur Satria. setelah itu mereka berpamitan kepada Tamara dan juga Alisa. Setelah mereka pulang Tamara dan Alisa beristirahat di sofa yang sudah di sediakan rumah sakit
bersambung.......
__ADS_1