Kehidupan kedua tuan putri

Kehidupan kedua tuan putri
Episode 10


__ADS_3

Li Qian memacu kudanya kembali ke kediamannya di bingzhou, ia yakin dekret kaisar sudah sampai terlebih dahulu


Sesampainya di kediaman Li, Li Qian sudah disambut oleh pengawal pribadinya, Wei shu


" Selamat datang tuan muda, apa anda baik-baik saja?" sapa Wei shu


" Sangat baik...."jawab Li Qian dengan senyum yang terus terpatri di wajah tampannya


" Tuan besar sudah menunggu anda di aula leluhur tuan muda" ucapan Wei Shu seketika membuat senyum Li Qian pudar


" Apa ayah sudah mengetahuinya Wei shu?"


" Surat resmi dari istana sudah datang tadi siang tuan muda "


" Baiklah....." ucap Li Qian pasrah, ia kemudian berjalan menuju aula leluhur


Sesampainya disana, tongkat kayu Li chanqing langsung menyambut kedatangan Li Qian


" Kau..... dasar kau bocah nakal, ayah memintamu ke istana untuk mewakili bingzhou bukan untuk melecehkan tuan putri agung" murka Li chanqing seraya memukul punggung Li Qian bertubi-tubi


" Aduh......aduh aduh hentikan dulu ayah, aduh hentikan ayah...... tubuhku masih penuh dengan luka" pinta Li Qian dengan wajah memelasnya


" Apa lukamu parah?" tanya Li chanqing, ia baru ingat kalau putranya mungkin mendapatkan hukuman di istana


" Tak masalah ayah, aku putramu.....luka seperti ini bukanlah masalah untukku"


" Li Qian Li Qian...... sepertinya kau berniat membunuh ayahmu ya?


Bagaimana bisa kau terlibat masalah dengan anggota kerajaan " ucap Li chanqing, tangannya kembali mengayunkan tongkat pada tubuh Li Qian, namun Li Qian menghindar


" Jangan pukul lagi ayah, putramu ini akan menikah"


" Ya kau benar, bagaimana dengan pernikahan mu ini?" tanya Li chanqing


" Ya tinggal dilaksanakan saja ayah, bukankah ini kemauan ayah dan ibu sedari dulu?" tanya Li Qian bingung


" Ayah dan ibumu itu memang menginginkan kau menikah, tapi tidak dengan tuan putri agung juga Li Qian......Astaga, kita tak sekaya itu untuk meminang seorang tuan putri


Darimana kita mendapatkan uang Li Qian?"


Li Qian hanya bisa meringis melihat ayahnya yang terlihat frustasi, dia baru sadar betapa jomplang nya statusnya dan tuan putri


" Sepertinya baik tuan putri dan keluarganya bukanlah orang yang memandang hal-hal seperti itu ayah


Dan juga, tuan muda Jiang kemarin mencegah ku untuk menyiapkan mahar terlebih dahulu


Sepertinya tuan putri memiliki keinginan tersendiri untuk pernikahan ini"


" Benarkah.....lalu bagaimana kalau keinginannya tak bisa kita penuhi?"


" Tak perlu berpikir terlalu jauh ayah, besok aku akan ke kediaman Jiang dan menanyakan kejelasannya langsung "


" Baiklah...... semoga saja keinginan tuan putri tak memberatkan kita


Kalau tidak ibumu itu akan mengomeliku sepanjang hari" ucap Li chanqing sambil membayangkan sikap istrinya yang begitu cerewet dan pelit


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Li Qian berangkat ke kediaman Jiang


Dia tak ingin membuat keluarga tuan putri menunggunya


" Sepertinya kau bersemangat sekali untuk menikahi adikku?" sapa Jiang Alv begitu melihat Li Qian masuk kediaman


" Saya memenuhi janji saya untuk datang ke kediaman Jiang, mohon kakak membawa saya menemui paman dan bibi"

__ADS_1


" Kita belum menjadi keluarga, jangan sok dekat padaku " ucap Jiang Alv ketus


"Alv.....bawa tamu ibu masuk, jangan mengganggunya " teriak nyonya Jiang dari dalam kediaman


mau tak mau Jiang Alv membiarkan Li Qian masuk menemui sang ibu


Li Qian pun masuk ke kediaman dan langsung membungkuk dan memberi salam hormat kepada nyonya Jiang


Bangsawan Jiang sendiri adalah bangsawan nomor satu di kerajaan Qing an, mereka diberi gelar bangsawan Zhengguo oleh kaisar pendiri


Namun bangsawan Jiang tak pernah ikut campur masalah politik istana, mereka hanya fokus pada kemiliteran saja


Dan Li Qian sekarang berhadapan dengan nyonya Jiang, sementara tuan rumahnya sedang tak berada di tempat


Li Qian dengar, tuan besar Jiang tengah bertugas di perbatasan barat Qing an


Cukup lama Li Qian membungkuk, namun nyonya Jiang belumlah menjawab salamnya


Terlebih lagi dia malah memutari tubuhnya seakan akan menilai


Untung saja kakak iparnya peka dan mengingatkan ibunya


" Karena terlalu terburu-buru Li Qian tak sempat menyiapkan hadiah yang baik untuk bibi, ini makanan khas bingzhou


Semoga bibi suka" ucap Li Qian, ia memberikan dua kotak besar buah tangannya kepada pelayan nyonya Jiang


" Jauh-jauh ke Jinxi kau hanya membawa makanan ke rumah calon mertuamu...... Astaga baik sekali ya?" sindir Jiang Alv


" Alv...... jangan dengarkan ucapannya Qian, dia hanya sedang cemburu karena kau mengambil adik kesayangannya


Sedari kecil dia sangat menyayangi adiknya itu, walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu pedas "


" Tak masalah bibi, itu sangat bagus sekali


" Kemampuan menyanjungmu cukup bagus, namun entah dengan yang lainnya


Setiap keluarga mempunyai peraturan sendiri, dan itu juga berlaku di keluarga Jiang....


Kau harus mengalahkan ku terlebih dahulu sebelum membawa adikku pergi " tantang Jiang Alv


" Jangan mengada-ada kakak, itu hanya berlaku untuk seorang ayah yang akan melepas putrinya...... daripada mengurus pernikahan ku kenapa kakak tak mencarikan bibi menantu saja, bibi pasti sangat senang " saut Jin Yan yang tiba-tiba datang


" Benar apa yang dikatakan adikmu, cepat carikan ibu menantu


Atau mau ibu Carikan?" tanya nyonya Jiang kepada putranya


Jiang Alv sontak menggelengkan kepalanya dan berlari keluar ruangan menghindari amukan ibunya


Nyonya Jiang hanya bisa menghela nafas pasrah melihat kelakuan putranya


" Karena Li Qian sudah datang, mengobrol lah berdua


karena kalian yang akan menikah, bukan bibi ataupun keluarga Jiang" ucap nyonya Jiang kemudian pergi meninggalkan keduanya


Setelah bibinya pergi, Jin Yan menarik tangan Li Qian untuk mengikutinya


Mereka berjalan menuju ruangan paling belakang di kediaman Jiang


" Aula leluhur?" tanya Li Qian heran


" Hmmm.....makam kedua orangtuaku ada di perbatasan Utara, namun kita tak mungkin pergi kesana saat ini


Jadi kita sembahyang saja disini, kamu harus memberi hormat kepada mendiang orangtuaku " jelas Jin Yan

__ADS_1


Li Qian tersenyum dan mengangguk mengerti, mereka berdua kemudian sembahyang dan berdoa untuk mendiang orangtua tuan putri


Selepas sembahyang, Jin Yan kembali membawa Li Qian menuju taman di kediaman Jiang


" Siapa mereka tuan putri? sepertinya mereka sama kedudukannya dengan Feng Yan dan Feng ran?" tanya Li Qian begitu melihat Luse dan Meng Yao


" Berbicaralah dengan santai Qian, bukankah aku calon istrimu?


Setinggi apapun statusku itu tak akan berarti lagi setelah kita menikah "


" Emm aku masih mencoba membiasakan diri " balas Li Qian


" Mereka berdua adalah pelayan pribadi ku juga, yang kecil itu namanya Luse, dia kutugaskan mengurus usahaku di negara Xuande


Sedangkan satunya lagi Meng Yao, dia kutugaskan untuk menjaga perbatasan Utara "


" Aku akan mengingatnya, Jin Yan..... bisakah aku memanggil mu seperti itu?" tanya Li Qian yang tentu saja diangguki oleh Jin Yan


" Kemarin kak Alv melarangku untuk menyiapkan mahar, itu apa maksudnya?"


" Tradisi di negara Xuande......mahar ditentukan oleh pihak wanita


Dan mempelai wanita boleh meminta apa saja dan harus dituruti oleh mempelai lelakinya " jelas Jin Yan


" Jadi apa yang kau minta? apa aku bisa mengabulkannya" tanya Li Qian was-was


" Tentu saja bisa, aku hanya meminta dua hal saja"


" Apa itu.....?"


" Pertama, aku tau kita akan tinggal di keluarga Li nantinya


Namun aku meminta kediaman khusus untuk kita tempati, tak perlu mewah ataupun besar yang terpenting hanya orang-orang kita yang boleh keluar masuk dalam kediaman"


" Kediaman Li tak terlalu besar, tapi mungkin aku bisa menyediakan nya"


" Maafkan aku, aku tak bermaksud untuk memonopoli kediaman hanya saja......kamu kan tau bagaimana posisi ku di kerajaan ini


Banyak hal Rahasia yang harus kutangani"


" Tak perlu menjelaskan nya Jin Yan, aku mengerti


Lalu apa yang kedua?"


Jin Yan tersenyum manis dibalik cadarnya, dia kemudian mengambil kotak kecil dari kantong pakaiannya dan menaruhnya di hadapan Li Qian


" Perhiasan...... perhiasan siapa ini?" tanya Li Qian bingung


" Ini cincin milik mendiang orangtuaku, di negara Xuande setiap pasangan yang menikah akan memakai benda ini sebagai tanda pengikatnya


Sebelum ayah meninggal, dia memberikan cincin ini padaku dan memintaku untuk meneruskan cinta mereka berdua


Ini hanya cincin perak biasa namun kuharap....."


Ucapan Jin Yan langsung terhenti begitu Li Qian memasangkan cincin ibunya di jari manisnya dan begitu juga dengannya yang menggunakan cincin milik ayah


" Apakah dengan begini kita sudah terikat?" tanya Li Qian, ia mengangkat tangan kami yang masih bertautan


Jin Yan menunduk dan tersenyum malu-malu, untung saja wajahnya tertutupi cadar


Kalau tidak mungkin wajahnya yang memerah akan menjadi bahan tertawaan orang-orang nantinya


Apalagi di sudut sudut taman, keluarga dan pelayan pribadinya tengah mengintip....

__ADS_1


sungguh melakukan.....


__ADS_2