
Ehemm
" Astaga...... kakakmu yang satu itu sepertinya sangat hobi mengganggu ya?" tanya Li Qian dengan senyum kecil di bibirnya
" Emmm pulanglah, beritahu kedua orang tuamu untuk menyiapkan acara penyambutan menantu seperti biasanya saja
Jangan terlalu mewah Qian, aku tak terlalu suka keramaian"
" Tentu..... terimakasih untuk semuanya Jin Yan, aku akan pulang sekarang tapi sebelum itu...."
Cup......
Li Qian membuka cadar Jin Yan dan mengecup bibirnya sekilas, lalu kembali menutupnya
" Sampai jumpa di pernikahan kita...." ucap Li Qian sebelum berlari pergi karena Jiang Alv yang saat itu sudah melotot dan meneriaki nya
Jin Yan sendiri terdiam bagaikan patung, walaupun ini ciuman keduanya bersama Li Qian
Namun saat ini dia tengah sadar betul, tak seperti kejadian ciuman pertama waktu itu
Setelah kembali dari kediaman Jiang, Li Qian langsung mengumpulkan keluarganya di aula utama
Tentu saja tujuannya kali ini adalah untuk membahas pernikahannya
" Bagaimana pendapat tuan putri tentang masalah mahar?
Apakah kau mendapatkan keringanan Qian?" tanya Li chanqing yang sudah tak sabar menunggu
Li Qian mengangguk dan menyeruput tehnya sebelum menjawab
Dia benar benar kelelahan akibat Jiang Alv yang mengajaknya bergulat sebelum pulang tadi
" Emmm tuan putri menggunakan peraturan pernikahan negara Xuande ayah, mahar tak ditentukan oleh keluarga melainkan permintaan dari mempelai wanita itu sendiri" jawab Li Qian
" Apa.....? lalu bagaimana?
Mahar apa yang diminta tuan putri ?
Hayoyo suamiku, bagaimana ini?" tanya nyonya Li secara beruntun
" Ibu tenang saja, tuan putri tak seperti apa yang ibu pikirkan " ucap Li Qian menenangkan ibunya
" Jelaskan semuanya Li Qian, jangan membuat kami bingung "
" Tuan putri hanya meminta dua hal ayah, yang pertama dia meminta tempat sendiri di kediaman Li ini
Dan tak ada yang boleh memasuki nya selain orangku dan orang-orang tuan putri sendiri "
" Kenapa begitu? apa kami sebagai orangtuanya tak boleh masuk kesana?" tanya nyonya Li
" Tentu saja boleh, tapi harus seizin tuan putri
Ayah pasti mengerti maksudku kan?"
" Ya ayah mengerti..... lalu apa yang kedua?"
" Tuan putri hanya memintaku untuk memakai mas kawin mendiang ayah dan ibunya " ucap Li Qian seraya menunjukkan cincin di jari manisnya
" Apa.....? yang benar saja, apa tuan putri tak salah meminta Qian?" tanya nyonya Li tak percaya
" Tak salah ibu, Jin Yan juga berpesan agar mengadakan jamuan biasa saja karena ia tak suka keramaian"
" He cuihua.....tak semua wanita suka uang seperti mu" sindir Li chanqing kepada istrinya
" Kediaman yang mana yang kamu inginkan Qian?
Kediaman utama ini sudah digunakan kami dan adikmu, kediaman timur digunakan paman Gao, miaorong dan juga Lin Li
__ADS_1
Hanya tersisa kediaman timur dan kediaman belakang saja "
Li Qian berpikir sejenak, kalau ia memilih kediaman timur.....itu terlalu ramai dan banyak orang berlalu lalang
Jin Yan pasti tak akan nyaman
Sementara kediaman belakang sangat terpencil dan sudah lama tak ditinggali
" Aku memilih kediaman belakang saja ayah"
" Apa kau yakin? kediaman belakang sangat jauh dari pintu utama
Dan juga kediaman belakang sudah lama tak dihuni"
" Aku yakin ayah, kurasa Jin Yan akan lebih nyaman disana
Tinggal meminta orang untuk membereskannya"
" Baiklah kalau itu maumu, kediaman belakang juga tak terlalu buruk
Tempatnya lebih luas dari kediaman utama dan juga ada lahan kosong di belakang kediaman
Setelah menikah kau bisa mengaturnya dengan tuan putri nanti" ucap Li chanqing akhirnya
Pembicaraan pun kembali berlanjut untuk membahas perihal perjamuan yang akan diadakan nantinya
Singkat cerita hari pernikahan pun tiba, kini rombongan mempelai pria tengah menunggu mempelai wanita di depan kediaman Jiang
Li Qian dengan senyum lebarnya menyambut ucapan selamat dari warga sekitar
Dia sudah tak sabar menunggu calon istrinya keluar dari kediaman
Dan akhirnya yang telah ditunggu-tunggu pun tiba, istrinya keluar dengan digendong oleh Jiang Alv sebagai perwakilan ayahnya
Dengan langkah tegapnya Jiang Alv membawa adiknya menuju kereta pengantin
Membantu adiknya memasuki kereta dengan aman dan diikuti juga oleh keempat pelayannya
" Saat ini Wu jin Yan sudah resmi menjadi istrimu, sebagai seorang kakak yang sangat menyayanginya tentu saja tuntutanku sangat banyak padamu
Tapi hanya dua hal yang ingin kutekankan padamu......
Mungkin semua orang melihat Jin Yan adalah wanita yang kuat dan mandiri namun dibalik itu semua, Jin Yan hanya gadis manja yang sangat butuh sandaran...
Li Qian, terimalah dia apa adanya dan selalu cintai dia sampai kapanpun "
" Kakak tak perlu khawatir, mulai sekarang Jin Yan adalah yang terpenting dalam hidupku
Aku akan menjaganya sampai ajal menjemput "ucap Li Qian yang langsung disambut pelukan hangat dari Jiang Alv
Setelah perpisahan dengan keluarga Jiang, rombongan pernikahan berbalik menuju kediaman Li
Sepanjang jalan di bingzhou, semua warga menyambut rombongan pernikahan
Sampai akhirnya rombongan tiba di kediaman Li
Jin Yan turun dari kereta dengan digendong oleh Li Qian
" Kenapa banyak orang?" tanya Jin Yan seraya menatap sekitar yang penuh dengan warga
" Ayahku seorang gubernur, jadi banyak warga yang berkumpul untuk memberi selamat
Maaf kalau membuatmu tak nyaman"
Walaupun merasa tak nyaman, Jin Yan mencoba tersenyum dan menyelesaikan serentetan acara pernikahan
Menjelang malam, jamuan pernikahan baru selesai
__ADS_1
Li Qian langsung membawa istrinya beserta Wei Shu dan keempat pelayan istrinya menuju kediaman belakang
Untuk saat ini kediaman belakang hanya akan diisi oleh mereka saja, pengawal dan pelayan akan menunggu kedatangan orang tuan putri
Mereka berjalan melewati koridor demi koridor, cukup jauh memang
Sampai akhirnya memasuki satu gerbang
" Maaf Jin Yan, kediaman Li tak terlalu luas jadi hanya ada kediaman belakang saja yang tersisa
Sebenarnya masih ada kediaman timur, letaknya tak jauh dari kediaman utama namun tempatnya terlalu ramai dan banyak orang
Aku takut kamu malah tak nyaman nantinya" jelas Li Qian
" Ini lebih bagus Qian, tempatnya tenang
Tak jauh beda dengan kediaman ku di perbatasan" balas Jin Yan
" Benarkah? kalau seperti itu aku bisa tenang
Di belakang kediaman ada lahan kosong yang sangat luas, kita bisa membangun rumah sesuai keinginan mu nantinya"
" Kalian beristirahatlah...." ucap Jin Yan kepada Wei shu dan keempat pelayannya
Begitu mereka pergi, Jin Yan menarik Li Qian untuk duduk di tepi ranjang
" Ya.....kita akan membangun rumah kita bersama-sama" ucap Jin Yan, tangannya meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya
Hal yang begitu Jin Yan inginkan ketika ia sudah menikah, walaupun samar Jin Yan masih mengingat kebiasaan ibu dan ayahnya dulu
Sementara Li Qian yang mendapatkan perlakuan seperti itu menatapku dengan pandangan tak percaya, namun bisa kulihat wajah dan telinganya yang memerah
" Ini kebiasaan yang diajarkan kedua orang tuaku Qian..... nantinya kamu tak perlu terkejut lagi
Ibu akan mencium punggung tangan ayah sebelum dan sepulangnya ayah bepergian, itu sebagai tanda hormatnya"
" Terimakasih.....aku merasa sangat dihormati saat ini
Ayo kita tidur, hari sudah larut dan kamu pasti sudah lelah"
" Qian......emmm itu emm"
" Aku tau.....aku tak akan melakukannya sebelum kamu siap, lagipula bibi Jiang juga sudah memperingati ku hal ini
Istriku ini masihlah gadis kecil"
" Dan kau memilih gadis kecil ini untuk menjadi istrimu " balas Jin Yan ketus
Li Qian terkekeh geli melihatnya, pasti wajah istrinya akan sangat menggemaskan kalau kesal
" Jin Yan.....apa aku boleh membuka cadarmu?"
Jin Yan tak menjawab ucapan suaminya, sebaliknya ia langsung membuka cadar merah yang tengah ia gunakan
Setelah membuka cadarnya, ia menatap suaminya yang terdiam bagaikan patung
Li Qian sendiri tak tau harus berekspresi seperti apa, dua kali dia melihat wajah asli istrinya
Namun saat ini istrinya tengah mengenakan riasan wajah
Dan itu membuatnya terlihat sangat memukau
Waktu itu istrinya tak mengenakan riasan apapun namun wajahnya sudah terlihat cantik, teramat sangat cantik namun pipi chubby nya membuatnya terlihat imut dan menggemaskan secara bersamaan
Sekarang dengan riasan itu, Jin Yan bak seorang Dewi yang menggoda keimanannya
Perlahan demi perlahan Li Qian mendekatkan wajahnya dan kuraup pipi gembilnya itu bertubi-tubi
__ADS_1
Tak kuperdulikan lagi teriakan protesnya
" Astaga..... padahal dia sudah remaja, kenapa aroma tubuh dan kulitnya lembut seperti bayi" gumam Li Qian di tengah aksinya