
Di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor Gerrad Group, disana terlihat ada Alvin yang sedang makan siang bersama ayah dan calon mertuanya, mereka sedang membicarakan rencana pernikahan Alvin dan Felicia yang akan diselenggarakan kurang dari satu bulan lagi.
Pria itu terlihat sangat bahagia sekali, karena akhirnya Felicia akan segera menjadi miliknya. Tak perlu ditanyakan lagi seberapa besar rasa cinta dia terhadap Felicia, karena rasanya sangat begitu besar, dia tak peduli wanita itu bisa membalas perasaannya atau tidak, toh pada akhirnya Felicia akan menjadi miliknya.
"Om sudah menelepon Felicia, tapi sepertinya dia sangat sibuk." Arsen merasa tidak enak hati karena Felicia tidak turut hadir dalam acara makan siang ini, padahal mereka harus membicarakan hal yang penting tentang rencana pernikahan Felicia dan Alvin.
"Tidak apa-apa, Om. Felicia pasti sangat sibuk sekali. Aku juga baru saja beres dengan pekerjaan aku, makanya aku bisa hadir disini." Alvin memang selalu terlihat seperti pria yang begitu sangat baik dan hangat di depan calon mertuanya itu.
Arsen pun tersenyum dan menatap dengan penuh rasa kagum kepada calon menantunya itu, "Terimakasih atas pengertiannya, Alvin. Kamu selalu bisa mengerti apapun tentang putri om."
"Tentu saja, karena aku sangat mencintai putri om." jawab Alvin dengan mantap.
Robert pun tersenyum kecut melihat interaksi antara putranya dengan calon besannya itu.
__ADS_1
"Oh ya, saya dengar banyak sekali masyarakat yang berharap sampai ramai di media sosial, mereka ingin kamu mencalonkan diri sebagai presiden tahun depan. Saya sangat mendukungmu, Robert. Kamu memang pantas menjadi seorang pemimpin." Arsen sangat mendukung jika seandainya Robert ingin mencalonkan diri menjadi presiden.
Robert pun tertawa kecil mendengar dukungan dari calon besannya itu, "Aku merasa tidak layak menjadi seorang pemimpin, kamu tahu sendiri kan bagaimana latar belakang aku?"
"Aku tahu tentang masa lalu kamu, tapi dengan semua kerja keras yang kamu lakukan, berawal sebagai seorang dokter, kemudian menjadi direktur di rumah sakit. Lalu sekarang menjadi wakil direktur di kantor pusat Gerrad, bahkan kamu sekarang telah menjadi pemegang saham terbesar kedua di Gerrad-3 Group. Kamu seorang pekerja keras, Robert." Arsen merasa bahwa saudara sepupunya itu benar-benar hebat.
Jikalau Arsen tahu tentang Robert yang sesungguhnya, dia tak akan memuji Robert seperti itu. Robert memiliki banyak uang bukan dari hasil kerja kerasnya, melainkan dia menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan uang dengan melakukan bisnis di dunia kegelapan, karena itu dia membutuhkan sebuah perusahaan yang legal.
"Tentu saja aku juga sangat mendukung papa menjadi seorang pemimpin, bagiku papa adalah seorang malaikat yang diciptakan oleh Tuhan untuk menolong banyak orang." Alvin ikut memuji sang ayah, walaupun sebenarnya dia tahu kenyataan yang sebenarnya tentang sang ayah.
Robert terkekeh, dia menepuk-nepuk pundak putranya. Robert ingin menguasai Gerrad Group karena perusahaan itu akan Robert berikan kepada putranya. Sementara dia ingin bisa menjadi pemimpin di negeri ini, tujuannya untuk semakin memperluas dan mempermudah bisnisnya suatu saat nanti, yang ilegal maupun legal.
Alvin melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya, "Sepertinya waktu istirahat akan segera habis, aku harus kembali ke kantor, sekalian aku ingin mengantarkan makanan untuk Felicia." Alvin menunjukkan paper bag yang berisikan makanan, karena tahu Felicia pasti belum sempat makan siang.
__ADS_1
"Felicia pasti sangat merasa sedih karena telah kehilangan teman terdekatnya." sambung Alvin dengan nada lirih.
Arsen menganggukkan kepalanya. "Iya, Alvin. Terimakasih sudah memahami perasaan Felicia." Arsen semakin mengagumi calon menantunya itu, dia merasa keputusannya untuk menjodohkan Felicia dan Alvin adalah sebuah keputusan yang tepat, sehingga dia menolak semua lamaran para pria yang ingin mempersunting putrinya itu.
Robert hanya terkekeh, mungkin sebenarnya dia ingin tertawa keras mendengar perkataan Alvin yang seakan seperti sebuah lelucon untuknya.
Alvin pun segera meninggalkan restoran tersebut sambil membawa paper bag yang berisikan makanan.
"Shhh!" Alvin sedikit meringis merasakan perih di bagian lengan bawahnya, sehingga dia menggulung sedikit lengan panjang jas hitam yang dia kenakan.
Alvin meniupi bekas cakaran seseorang dibagian lengan bawahnya itu, kemudian dia merapikan jasnya kembali, setelah rasa sakit itu sudah terasa mulai berkurang.
"Shittt! wanita sialan." Alvin mengumpat kepada seseorang yang telah mencakar lengannya itu.
__ADS_1