
"Sudah lama tidak bertemu denganmu, ayah!" ucap Gleen sambil menyeringai memandangi Salman, walaupun saat ini Salman memakai masker, dan wajahnya ada bekas luka bakar, tapi dia tidak akan pernah melupakan sedikit saja wajah seorang pria yang telah membunuh ibu angkatnya.
Sehingga terlintas dengan jelas berbagai kenangan di masa lalu ketika Salman sering menyiksanya, Salman telah menciptakan sebuah kenangan buruk untuknya, yang tak akan pernah Gleen lupakan disepanjang hidupnya.
Salman membulatkan mata, betapa terkejutnya dia karena ternyata selingkuhannya Felicia adalah Gleen, anak angkatnya? Padahal dia sendiri tahu bahwa Gleen adalah anak kandungnya Arsen.
Gleen membuang permen karet yang sedari tadi dia kunyah, lalu menatap Salman dengan tatapan penuh kebencian. "Itu adalah untuk terkahir kalinya aku memanggilmu ayah. Karena pria sepertimu tidak pantas untuk ku panggil ayah."
Salman cekikikan, dia merasa semua ini bagaikan lelucon, akhirnya seorang bayi yang harusnya dia bunuh kini telah tumbuh dewasa dan berada di sekitar ayah kandungnya. Kemudian dia membuka masker yang dia pakai, sehingga kini terlihat bagaimana mengerikannya wajah pria itu. "Kau sudah dewasa rupanya."
"Tentu saja, aku harus tumbuh dewasa, karena aku harus mengirimmu ke neraka, Salman."
Dan keduanya pun saling menyerang. Salman berusaha untuk bisa menikam perut Gleen, tapi Gleen dengan cepat menangkis lengannya, sehingga belati tersebut jatuh ke aspal.
Gleen memasang kuda-kudanya, Salman mengepalkan tinjunya lalu segera melayangkan tinju itu ke arah Gleen.
Gleen menangkisnya, dia melayangkan pukulan keras ke wajahnya Salman, membuat Salman jatuh tersungkur ke aspal.
Gleen bergerak mendekat untuk menyerang kembali, tapi Salman segera berdiri dan menendang perut Gleen.
Bugh!
Tendangan keras dari Salman membuat Gleen jatuh tersungkur ke aspal.
__ADS_1
"Shhh!" Gleen sedikit meringis merasakan ngilu pada bagian perutnya. Dia pun segera berdiri, dan menyerang Salman kembali.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Mereka saling menyerang, tapi Salman nampak kewalahan, karena Gleen kini bukan anak kecil lagi yang dulu sering dia siksa, pria itu kini telah jago berkelahi, sehingga Salman terjatuh ke aspal ketika Gleen menendangnya dengan keras.
"Shittt!" Salman mengumpat, dia mengeluarkan belati yang satu lagi dari jaketnya, lalu berlari menyerang Gleen kembali.
Gleen tak gentar sedikitpun, dia selalu menghindar dari belati tersebut yang hampir saja mengenai perutnya, sehingga tanpa sadar belati itu mengenai lengannya.
"Hahaha! Rasakan kau anak keparat!" Salman bergerak mendekat untuk menikam perutnya Gleen.
Gleen dengan sigap menangkis lengannya, dia melayangkan tinjunya ke wajah Salman, lalu menendang lengan Salman, sehingga belati itupun terlepas dari genggaman Salman.
"Arrghh!" Salman meringis merasakan tulang lengannya seakan ada yang patah saat Gleen menendang lengannya dengan sangat keras.
Gleen menendang perut Salman, membuat Salman terjatuh, Gleen tak tinggal diam, dia duduk diatas dada Salman, terus melayangkan banyak pukulan pada wajahnya, dia tersulut emosi membayangkan bagaimana ibu angkatnya harus mati demi melindungi dirinya.
Bugh!
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Sampai Salman sudah tak berdaya lagi, dia telah kalah telak, sehingga dia tak bisa melawan ketika Gleen meraih belati yang ada di dekatnya, sepertinya pria itu ingin membunuhnya.
"Arrrgghh!"
Salman menjerit begitu melihat Gleen mengarahkan belati pada matanya, Salman segera memejamkan kedua matanya.
Jleebb!
Gleen menancapkan belati pada masker yang ada di sebelah wajahnya Salman, rupanya Gleen hanya ingin menakutinya saja.
Salman membuka matanya kembali dengan ketakutan, dia merasakan dadanya sesak, seakan kehabisan nafas, dia pikir malam ini dia akan kehilangan satu matanya.
Tapi...
Bugh!
Sebuah bogem mentah sukses telah membuat Salman tak sadarkan diri.
"Belum saatnya kamu mati, Salman."
__ADS_1