Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 40


__ADS_3

"Hai brother!" sapa Gleen kepada Alvaro dan Danu yang sedang standby di kantor The Darkness. Tadi Gleen menyamar sebagai OB kembali agar bisa masuk dengan bebas ke kantor itu, dan kini dia sudah berganti pakaian.


Felicia butuh makan yang banyak karena nanti malam Gleen akan memberikan kejutan padanya.


"Aku harap masakan ibu dimakan oleh Felicia, walaupun aku tidak yakin dia akan memakannya atau tidak." ucap Danu, walaupun Mira adalah ibu tirinya, tapi dia sudah menganggap Mira seperti ibu kandungnya sendiri.


"Kamu tenang saja, pasti dimakan. Semalam aku melihat Felicia makan cukup banyak masakan ibu kamu itu." jawab Gleen, dia meneguk segelas kopi yang ada di atas meja.


Alvaro terdiam sejenak, dia menjadi teringat dengan gelagat ibu tirinya Danu yang terasa ada yang menjanggal, mengapa semalam Mira terlihat salah tingkah begitu seakan sedang berusaha menahan tangis.


"Apa kamu tidak merasa ada yang aneh sama ibumu semalam, Dan?" tanya Alvaro kepada Danu.


"Aneh bagaimana maksudnya?" tanya Danu, dia tak paham dengan pertanyaan dari Alvaro.


"Ibumu tuh seperti terkejut sekali waktu melihat Felicia sampai menjatuhkan mangkuk yang dia pegang." jawab Alvaro, sebenarnya Alvaro juga tak paham dengan kejanggalan apa yang dia rasakan.


"Begitulah Felicia, dia itu macan betina, makanya banyak yang takut." timpal Gleen sambil terkekeh, maklumlah kebanyakan pria memang sangat sulit memahami dengan apa yang dirasakan oleh wanita, karena pria bukan paranormal. Sementara Alvaro, dia sudah beristri, sehingga dia bisa sedikit memahami perasaan wanita.


"Maksud aku bukan kayak takut, dari raut wajah ibunya Danu itu seperti apa ya..." Alvaro berpikir sejenak, "Seperti dia bukan pertama kalinya melihat Felicia."


Danu tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Alvaro, "Mungkin saja karena Felicia itu sudah terkenal, banyak lah yang tahu siapa itu CEO muda dan cantik di Gerrad Group, makanya ibu kaget, mengapa wanita sekelas Felicia bisa datang ke rumah makan sederhana kami."


Danu berkata lagi, "Tapi biar nanti aku cari tahu kejanggalan apa yang kamu maksud itu, Al. Lebih baik kita bahas dulu tentang Salman, ayah angkatnya Gleen."


Gleen menghela nafas panjang, jika mengingat peristiwa semalam, ingin sekali dia menghajar Salman, tapi semalam dia harus menahan dirinya sendiri karena tidak ingin membahayakan Felicia, dan juga dia tidak ingin rencananya gagal.


Lalu Gleen pun berkata sambil memperlihatkan kalung tengkorak kepada Alvaro dan Danu. "Kecurigaan kita benar, Alvin pasti pelakunya. Ternyata Salman masih menjadi anak buahnya Robert, dan mereka sedang mencari kalung tengkorak ini, aku yakin pasti kalung ini milik Alvin."

__ADS_1


Danu merebut kalung emas tersebut dari tangan Gleen, dia memperhatikan dengan seksama bandol tengkorak tersebut, "Sepertinya bandol ini dibuat khusus oleh seorang Goldsmith, dan hanya dimiliki oleh klan mafia tertentu. Biasanya mereka akan memesan dari Goldsmith di luar negeri."


"Inilah kasus yang paling menjengkelkan, kita sudah tahu jelas siapa pelakunya, tapi kita sama sekali belum memiliki bukti konkret untuk membuktikan kejahatannya." ucap Alvaro dengan nada kesal.


"Masalah kalung ini biar nanti aku meminta bantuan pada mantan bosku, siapa tahu dia memiliki banyak koneksi tentang Goldsmith di penjuru dunia ini." Danu ingin meminta bantuan kepada mantan bosnya yang kini sedang berada di Australia untuk mencari tahu siapa Goldsmith, yang membuat bandol itu, pasti memiliki data para konsumen yang memesan bandol tersebut dan akhirnya akan mengarah pada Robert, untuk dijadikan bukti.


Gleen mempercayakan kalung tersebut kepada Danu, "Baiklah, aku mempercayaimu."


"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang, Gleen?" Alvaro penasaran dengan rencana Gleen selanjutnya.


"Sesuai saran darimu, Al. Mulai malam ini aku akan masuk ke kehidupan Felicia, aku ingin bisa merasakan bagaimana berhadapan secara langsung dengan seseorang yang menganggap aku sudah mati." jawab Gleen dengan tersenyum kecut.


...****************...


Malam ini, di restoran Gerrad Signature, terlihat Felicia yang sedang makan malam bersama ayahnya, Robert, dan juga Alvin.


"Begini Arsen, aku merasa semua persiapan untuk pernikahan Felicia dan Alvin itu sudah beres semua, hanya menunggu hari H saja. Mengapa tidak kita percepat saja? Kita gelar pernikahan mereka di minggu ini?" tanya Robert kepada calon besannya itu.


Arsen sama sekali tidak mempermasalahkannya, justru dia merasa lebih cepat memang lebih baik. "Aku sih setuju-setuju saja, apalagi..."


Felicia memotong perkataan ayahnya, "Apa tidak terlalu cepat? Mengapa harus buru-buru sekali?" Sebenarnya dia memang belum siap sama sekali untuk menikah dengan Alvin, sehingga dia terkejut karena rencana pernikahan dia dan Alvin akan digelar pada minggu ini.


Alvin memegang tangan Felicia yang duduk disampingnya, "Gak apa-apa sayang, malah aku udah gak sabar ingin kamu menjadi istri aku."


Felicia melepaskan tangan Alvin dengan pelan-pelan agar semua yang ada disana tidak curiga bahwa dia merasa jijik tangannya dipegang oleh pria itu.


Pembicaraan mereka terhenti karena mendengar kegaduhan di luar ruangan VVIP yang ada di restoran itu, "Hei mas jangan masuk ke ruangan itu, ruangan itu khusus pemilik restoran ini!"

__ADS_1


Dan kini terdengar seseorang membuka pintu ruangan VVIP di restoran tersebut.


Ceklek!


Felicia tersentak kaget begitu melihat siapa orang yang masuk ke dalam ruangan VVIP itu.


'Gleen? Untuk apa dia datang kesini?'


Robert segera berdiri, dia merasa terganggu dengan keributan yang dilakukan oleh pemuda itu.


"Hei, kau! Untuk apa kamu masuk ke ruangan ini? Ruangan ini adalah ruangan khusus pemilik restoran ini." Robert berkata dengan nada tinggi kepada Gleen.


"Cepat usir dia!" Robert menyuruh empat orang bodyguard untuk mengusir Gleen.


"Baik, Tuan."


Namun, bukannya berhasil, Gleen malah membuat keempat bodyguard itu terkapar di lantai, walaupun dia sempat terkena bogem mentah pada wajah tampannya.


"Arrrgghh!" Keempat bodyguard merintih kesakitan, karena kalah tarung saat berkelahi dengan Gleen.


'Pria ini benar-benar gila? Apa dia begitu tergila-gila padaku sampai melakukan semua ini!' kata hati Felicia. Dia memberikan isyarat dengan kerlingan mata, menyuruh Gleen untuk segera pergi dari restoran itu.


Tapi Gleen berjalan dengan santai sehingga dia berhadapan dengan Robert, dia mengusap darah yang ada sudut bibirnya dengan punggung telapak tangannya, menatap tajam ke arah pria itu


Gleen ingin menjawab pertanyaan dari Robert yang tadi bertanya kepadanya untuk apa dia datang ke ruangan VVIP itu. "Aku datang kesini untuk bertemu dengan calon mertuaku."


Kemudian Gleen berkata di dalam hatinya, 'Akhirnya kita bertemu, Robert!'

__ADS_1


__ADS_2