
Gleen masih tiduran diatas ranjang dengan menyilangkan kedua lengannya dibawah kepala. Dia tersenyum kecut, sebelum dia menyiksa Salman, dia datang terlebih dahulu ke mansion Robert dengan memakai masker dan juga topi agar tidak ada yang mengenalinya, serta memakai pakaian seragam tukang paket.
"Semoga kamu suka dengan hadiah yang aku berikan padamu, Robert." gumam Gleen, dia pun menyeringai puas. Mungkin sudah saatnya dia mulai beraksi untuk balas dendam pada Robert. Dia ingin membuat hidup Robert tidak tenang.
Tok!
Tok!
Tok!
Gleen mendengar suara seseorang mengetuk pintu, dia tebak pasti orang yang datang ke rumahnya adalah pelayan yang ditugaskan oleh Felicia untuk mengantarkan obat padanya.
"Hm, mengapa tidak kamu saja yang datang, Felicia?" gumam Gleen dengan pelan, jika seandainya Felicia yang datang mungkin dia tidak akan membiarkan Felicia pulang begitu saja karena dia butuh obat yang bisa membuat tubuhnya rilex.
Gleen pun segera berdiri, lalu berjalan keluar dari kamar, kemudian dia membuka pintu.
Ceklek!
Gleen membulatkan mata ketika melihat siapa yang datang ke rumahnya, apakah dia sedang bermimpi? Seorang Felicia Gerard datang menemuinya ditengah malam seperti ini.
"Felicia?"
Felicia tak merespon, dia nampak memperhatikan wajah Gleen yang lebam dan juga lengan Gleen yang dibaluti oleh perban. "Gleen, wajah dan lenganmu terluka. Apa ada yang menghajarmu?"
Gleen nampak sumringah karena Felicia begitu perhatian padanya. "Kamu tenang saja, aku sudah terbiasa seperti ini."
__ADS_1
Felicia menarik tangan Gleen menuju kursi sofa, "Jangan geer dulu, kamu terluka pasti gara-gara aku, karena itu aku harus mengobatimu."
"Katakan saja kalau kamu mengkhawatirkan aku, Felicia." goda Gleen sambil tersenyum.
"Sekarang ini aku lagi baik hati, jadi aku tidak akan menginjak kakimu, karena itu diamlah!" Felicia adalah seorang wanita yang sama sekali tidak bisa diajak bercanda, dia begitu dingin dan selalu terlihat elegan, justru itulah daya tariknya.
Felicia membuka perban yang ada di lengan Gleen, dia ingin mengobati luka yang ada pergelangan tangan pria itu.
Gleen mendesis ketika merasakan obat merah menyapa luka sayatan yang ada di lengannya. Sangat terasa perih, namun dia berusaha keras untuk menahannya.
Felicia mengigit bibir bagian bawahnya ketika meneteskan obat merah ke luka sayatan di lengannya Gleen, membuatnya tidak tega melihatnya. "Sebenarnya siapa yang melakukan ini padamu?" Felicia curiga pada ayahnya atau Robert.
"Aku tidak tahu, aku memang punya banyak musuh, tapi kamu tenang saja, aku baik-baik saja."
Gleen tak mungkin menolak, karena dia memang harus menguasai banyak profesi untuk melancarkan penyamarannya. "Lalu bagaimana dengan ayahmu? Apa dia merestui pernikahan kita?"
"Belum, aku akan berusaha untuk membujuk papa. Papa sebenarnya orang yang baik, aku harap kamu tidak mengambil hati terhadap apa yang papa lakukan terhadapmu."
Kini Felicia mengobati luka lebam yang ada di wajahnya Gleen.
"Kamu tenang saja, aku akan menjadi menantu yang baik untuk ayahmu." ucap Gleen.
"Tapi ingat, setelah misi kita selesai, kita harus berpisah, sesuai janjimu." Felicia mencoba untuk memperingatkan Gleen tentang perjanjian yang Gleen ucapkan.
Gleen tak merespon. Dia memandangi Felicia yang sedang mengobati luka di wajahnya, bagaimana bisa ada wanita secantik itu? Bahkan jika dilihat dari dekat pun jauh semakin cantik.
__ADS_1
Felicia bagaikan jelmaan bidadari yang mungkin sedang tersesat di dunia ini.
Felicia nampak grogi begitu menyadari Gleen sedang memandanginya, membuat dia menjadi salah tingkah. "A-aku sudah selesai mengobatimu. Aku tidak ingin kamu terluka, karena bagaimanapun pun sekarang ini kita adalah partner."
Gleen tak merespon, dia masih ingin memandangi wajah cantiknya Felicia yang sangat cantik itu.
Felicia segera berdiri, "Kalau begitu aku harus pulang." Mungkin karena terburu-buru, Felicia tidak menyadari tasnya ketinggalan di kursi sofa.
"Felicia, tasmu ketinggalan!"
Felicia yang sudah berada diambang pintu, dia menghembuskan nafas dengan pelan, mengapa harus ada acara tas ketinggalan segala, padahal dia ingin segera pergi dari rumahnya Gleen.
Felicia segera membalikkan badannya, dia melihat Gleen yang sedang menyodorkan tas padanya, pria itu masih duduk di kursi sofa.
Begitu Felicia meraih tas itu, dia terkejut karena Gleen menariknya, sehingga Felicia terjatuh ke pangkuan pria itu.
"Gleen!" Felicia ingin memberontak.
Gleen memeluk pinggang Felicia dengan erat, "Kamu tidak bisa pulang begitu saja, Felicia. Mungkin hari-hari kemarin aku mengalah, tapi sekarang aku ingin menunjukkan bagaimana kuatnya aku untuk menaklukkanmu."
Felicia menelan saliva, perkataan Gleen membuat tubuh Felicia berdesir, entah apa yang akan dilakukan oleh Gleen kepadanya malam ini.
...****************...
...apakah harus disiapkan es batu?...
__ADS_1