Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 61


__ADS_3

Beberapa hari berlalu...


"Ayah mertua, mau aku buatkan kopi?"


"Ayah mertua, mau aku buatkan teh manis?"


"Ayah mertua, mau aku pijit?"


"Ayah mertua..."


"Ayah mertua..."


Arsen sangat merasa terganggu karena ulah Gleen yang selalu bersikap sok akrab dengannya, walaupun Arsen sering bersikap dingin padanya, akan tetapi pemuda itu masih saja tak menyerah untuk terus mengakrabkan diri dengannya.


Seperti sekarang ini ketika Arsen sedang joging di joging track yang berada di halaman belakang mansion, dia tak sengaja melihat Gleen yang ternyata joging juga disana.


Arsen terburu-buru untuk pergi dari sana untuk menghindari Gleen, akan tetapi kakinya malah kesandung batu kecil, sehingga dia terjengkang di rerumputan.


"Aduhhh...duhhh!" Arsen merasakan pinggangnya encok, sehingga dia merasa kesulitan untuk bangkit.


Gleen terkejut melihatnya, dia segera berlari menghampiri Arsen. "Ayah mertua, mengapa ayah mertua tidur disitu?"


Arsen tak terima disebut tiduran disana. "Kakiku kesandung, bukan tidur disini!" Protes Arsen.


Gleen tersenyum, "Jangan sering marah-marah, ayah mertua. Agar tidak cepat tua."


Arsen tak ingin merespon perkataan Gleen, dia berusaha untuk bangkit, sayangnya pinggangnya keburu encok, membuat dia kesulitan untuk berdiri, mungkin faktor usia dan faktor kecelakaan yang pernah dia alami, membuat tubuhnya gampang lemah.


Arsen sama sekali tidak tahu bahwa selama beberapa hari ini, sambil menunggu hasil tes DNA, Gleen dan kawan-kawannya sedang menyelidiki kasus kecelakaan yang dialami oleh Arsen dan juga istrinya, Gleen yakin kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya adalah ulah Robert.

__ADS_1


Sampai sekarang Robert dan Alvin masih bersikap seperti biasanya, bahkan dia sudah akrab kembali dengan Arsen, dan dia bilang bahwa dia sudah tidak mempermasalahkan kekecewaannya, entah apa yang akan direncanakan oleh Robert ke depannya, yang pasti Gleen harus berhati-hati. Sungguh Gleen tak sabar ingin hasil tes DNA tersebut cepat beres. Dan dia akan memberikan sebuah bom kepada Robert.


Gleen pun berjongkok di depan Arsen, "Naiklah ke punggungku, ayah mertua."


"Tidak usah." Arsen menolak bantuan dari Gleen dengan ketus.


Gleen mendongakkan kepalanya ke atas, memperhatikan langit-langit yang sudah mulai mendung, "Sepertinya akan turun hujan, ayah mertua."


Arsen menghela nafas, semua pengawalnya tumben tidak ada di halaman belakang, sehingga dia terpaksa harus di gendong oleh seorang menantu yang tak harapkan itu.


Gleen memang sedang memanjakan para pengawal dengan banyak makanan sehingga mereka sibuk makan di basecamp.


Gleen pun berdiri sambil menggendong Arsen di punggungnya, rasanya sungguh bahagia karena bisa melakukan hal yang berguna untuk sang ayah. Dia pun mulai berjalan dengan pelan.


Arsen merasakan ada sesuatu yang aneh pada dirinya, rasanya tidak mungkin dia merasa tersentuh begitu saja oleh Gleen hanya karena Gleen menggendong dirinya.


"Dari kecil saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, karena itu saya sangat berterimakasih, walaupun anda tidak menyukai saya, anda masih memperlakukan saya dengan baik. Saya harap hubungan kita kedepannya semakin dekat selayaknya seorang ayah dan anak." lirih Gleen.


Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa semenjak tadi ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik balkon kamar. Dia adalah Felicia.


Felicia menyilangkan kedua tangannya di dada, dia menyipitkan matanya memandangi Gleen yang sedang menggendong sang ayah, "Hhh... selama menikah dia malah cuek padaku, tapi dia gencar mendekati ayahku. Sebenarnya mau dia apa?"


Yang dinikahi siapa, yang diperhatikan dan digoda siapa. Tapi masa dia harus cemburu pada ayahnya sendiri?


...****************...


Felicia merasakan sikap Gleen benar-benar berubah, rasanya dia sangat kesal sekali karena Gleen selalu bersikap dingin padanya, bahkan di kamar pun Gleen memilih untuk tidur di kursi sofa, karena dia takut tak bisa menahan diri dengan pesona Felicia.


Felicia sama sekali tidak tahu bahwa Gleen akhir-akhir ini tak bisa tidur nyenyak, siapa yang tidak tahan berada dalam satu kamar dengan seorang wanita cantik seperti Felicia, apalagi Felicia sering memakai piyama yang begitu seksi, rasanya ingin sekali Gleen menggempur wanita itu, tapi tak bisa dia lakukan, dia harus menunggu hasil tes DNA keluar, sangat berharap Felicia bukanlah saudaranya, sehingga sabun adalah solusinya untuk saat ini.

__ADS_1


"Mengapa sabun di kamar mandi cepat habis?" tanya Felicia yang baru keluar dari kamar.


Gleen yang baru sibuk dengan laptopnya, dia kaget mengapa Felicia tiba-tiba bertanya soal sabun kepadanya, membuatnya menjadi salah tingkah.


"Ma-mana aku tahu." Gleen pura-pura bersikap biasa saja, padahal rahangnya terasa mengeras, dia pun menelan dengan saliva bersusah payah, melihat Felicia yang hanya mengenakan bathrobe saja, terlihat jelas belahan dadanya yang begitu menggoda.


Felicia pun tertawa kecil, dia tak sengaja melihat ke arah sang joni di balik celana Gleen, pasti pria itu sangat terangsang dengan penampilannya.


Gleen mengerti apa yang ada dipikiran Felicia, dia segera berdiri dan dia menyentil jidatnya Felicia, "Jangan berpikir mes-um. Cepat pakai pakaianmu sana!"


"Ish." Felicia sangat kesal sekali, dia mengusap-usap jidatnya.


Mungkin Felicia sebentar lagi akan mengenakan pakaian, Gleen rasa lebih baik dia segera keluar dari kamar. "Aku keluar dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Felicia menghela nafas, dia malah menghalangi langkah Gleen, mengunci pintu kamar, kemudian dia menatap Gleen dengan tatapan penuh kekesalan. "Aku adalah seorang wanita tidak sabaran. Kenapa sikap kamu berubah padaku, sementara sama orang lain dan ayah sikapmu begitu hangat?"


"Sebenarnya aku memang seperti ini." jawab Gleen dengan nada dingin.


"Jadi selama ini kamu menipuku?"


"Ya, pekerjaan aku memang seperti itu, Felicia."


"Lalu bagaimana dengan yang kenangan yang kita lalui selama ini? Bahkan kita pernah tidur bersama dua kali."


"Tidak ada yang istimewa, setelah misi kita selesai, mari kita berpisah." Mungkin seandainya jika Felicia adalah saudara kembarnya dan Arsen adalah ayahnya, Gleen memilih untuk tutup mulut, dia memilih untuk tidak memberitahukan kebenarannya kepada Arsen. Yang penting dia harus memastikan Robert benar-benar ada di neraka.


Felicia mengigit bibir bawahnya, dia benar-benar merasa kesal kepada pria itu. "Tidak ada yang istimewa? Oke, pandanglah wajahku selama 10 menit, jika kamu bisa tahan dengan pesonaku, kamu boleh pergi!" tantang Felicia.


Gleen ingin protes, tapi dia dibuat mematung ketika Felicia tersenyum manis padanya, sebuah senyuman yang belum pernah Gleen lihat sebelumnya. Senyuman wanita itu begitu indah secerah mentari pagi dan paras wajahnya yang semakin terlihat cantik. Siapa yang bisa tahan dengan pesona wanita itu.

__ADS_1


Felicia sengaja mendekatkan jaraknya dengan Gleen, hanya terpaut jarak 10 centimeter saja. "Apa kamu sanggup?"


__ADS_2