Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 46


__ADS_3

Di sebuah ruang bawah tanah, terlihat ada Salman dengan posisi kedua tangannya diikat pada tiang besi tinggi, rupanya Gleen telah menyanderanya.


"Arrrgghh brengsek!"


Salman berusaha untuk memberontak, tak mempedulikan tangannya yang tergores rantai yang mengikat tangannya.


Kemudian dia mendengar suara langkah seseorang, rupanya Gleen datang ke ruang bawah tanah tersebut sambil membawa ikat pinggang.


"Lepaskan aku sialan!" Nafas Salman memburu, seakan dia ingin sekali menghajar pria itu, tapi sayangnya kedua tangannya terikat begitu kuat.


Gleen yakin bahwa Salman mengetahui siapa orang tua kandungnya dan Salman pasti tahu apa alasan Robert ingin membunuhnya, sehingga dia tidak mungkin melenyapkan Salman.


"Apa kau tidak sadar bahwa sebenarnya aku telah menjadikan diriku sendiri sebagai umpan untuk memancing dirimu?" Malam ini Gleen telah menunjukkan sisi dirinya yang lain, dia bisa berlaku kejam kepada siapapun yang sudah berbuat jahat padanya.


"Cepat lepaskan aku, anj*ng!" Emosi Salman meluap-luap, dia menarik-narik rantai, berharap rantai tersebut terputus dari tiang besi. Sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Gleen berjalan ke arah punggung Salman, dia mengayunkan ikat pinggang ke punggung Salman.


Tasss!


"Arrghh!" Salman menggeram kesakitan.


"Katakan padaku, siapa orang tuaku?"


Tasss!


Gleen mengayunkan ikat pinggang dengan keras dia memecut punggung Salman kembali, Salman menggeram kembali, punggungnya benar-benar terasa sangat perih.


"KATAKAN SIAPA KEDUA ORANG TUAKU, BRENGSEK?!!!" Gleen berkata dengan volume yang cukup tinggi, untuk menggertak Salman agar mau mengatakan yang sejujurnya tentang siapa kedua orangtuanya.


Salman malah tertawa, di dalam rintihannya, "Hahaha... sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjawab pertanyaan darimu. Bunuh saja aku, karena apa yang kamu inginkan tidak akan terpenuhi."

__ADS_1


Gleen sangat emosi, sehingga dia kembali mencambuk punggung Salman.


Tasss!


Tasss!


Tasss!


"Tidak seru jika aku harus membunuhmu begitu saja, kamu harus merasakan bagaimana rasanya penyiksaan yang sering kamu lakukan padaku!"


Gleen mencambuk Salman lagi dan lagi.


Tasss!


Tasss!


Tasss!


Nafas Gleen terengah-engah, dia melempar ikat pinggang ke lantai, dia tidak akan berhenti untuk membuat Salman membuka mulutnya. Gleen tak sengaja melihat sebuah kalung yang dipakai oleh Salman, dia menarik kalung tersebut sehingga terputus, Gleen menggenggam sebuah bandol tengkorak yang sangat persis dengan bandol yang dia temukan di rumah Milea.


Ternyata benar dugaannya, kalung tengkorak itu mungkin semacam kalung tanda keanggotaan sebuah klan mafia yang dimiliki oleh Robert.


...****************...


Setelah berada di dalam kamar, Gleen menyimpan bandol tengkorak di dalam laci yang ada sebuah nakas. Dia meringis merasakan sakit pada bagian lengannya, sehingga dia membenarkan perban yang melingkari lengannya.


Drrrrtt!


Drrrrtt!


Drrrrtt!

__ADS_1


Gleen mendengar suara ponselnya bergetar diatas nakas, dia tersenyum ketika melihat siapa orang yang menelponnya, rupanya dia adalah Felicia.


"Hallo, Gleen. Sekarang aku akan menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan obat padamu." ucap Felicia dengan suara yang cukup pelan, dia sedang berjalan mengendap-endap keluar dari kamar, karena tahu kalau jam sebelas malam pasti ayahnya sudah tidur, setelah mengalami sedikit percekcokan dengan ayahnya tadi.


Gleen tak merespon, karena merasakan rasa sakit pada lengannya, "Shhh!"


"Gleen, kamu kenapa?" Felicia mengentikan langkahnya begitu mendengar suara rintihan Gleen.


"Aku tidak..."


Tut... Tut... Tut...


Sayangnya panggilan telepon telah terputus, karena ponsel Gleen lobet.


"Oh sial, aku lupa belum menchargernya." Gleen segera mencharger ponselnya, kemudian dia merebahkan dirinya diatas ranjang, kedua lengannya bersilang dibawah kepala.


"Mengapa tidak dia saja yang mengantarkan obatnya sendiri kesini? Aku pasti tidak membiarkannya pulang begitu saja." Gleen menelan Saliva membayangkan bagaimana dia dan Felicia bercinta di atas ranjang waktu itu. Sebenarnya jika dia mau dia bisa melakukannya dengan wanita lain, tapi dia pun tak tahu mengapa, hanya tubuh wanita itu yang dia inginkan, sangat candu untuknya.


Gleen belum bisa melupakan bagaimana indahnya tubuh Felicia, dengan memiliki lekuk tubuh yang seperti biola, buah melon yang cukup besar, tubuhnya yang putih dan mulus, pokoknya semua yang di diri Felicia dari atas sampai bawah sangat indah. Apalagi ketika merasakan bagaimana benda pusakanya mendapatkan pijatan hangat dan lembut di dalam area inti Felicia.


"Astaga, kenapa susah sekali melupakan kejadian malam itu?" keluh Gleen.


Jangankan untuk mengulang malam panas kembali, hanya bercanda sedikit saja, kaki dan pinggangnya harus menjadi korban keganasan wanita cantik itu.


Sementara itu di mansion, Felicia mencoba untuk menghubungi Gleen beberapa kali, sayangnya ponsel Gleen tidak bisa dihubungi, membuat Felicia khawatir.


"Apa mungkin ayah atau om Robert menyuruh seseorang untuk menghajarnya?" Arsen dan Robert adalah orang berkuasa, mereka mampu untuk melakukannya. Mungkin saat ini Arsen terlihat lemah, padahal dulu dia begitu berwibawa, dan memiliki banyak bodyguard yang selalu siap siaga untuk melindunginya dan menyerang musuh.


Felicia berkata kembali, "Untuk apa juga aku mengkhawatirkannya?"


Felicia berjalan ke arah paviliun untuk menemui seorang pelayan, tapi dia tiba-tiba menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Bagaimana pun juga dia pasti terluka gara-gara aku, apalagi tadi papa menamparnya cukup keras." Felicia membalikkan badannya, dia lebih baik pergi sendiri kesana sebentar, hanya untuk mengantarkan obat padanya. Masalah pelayan dan security, dia bisa membuat mereka bungkam dengan kekuatan uang.


__ADS_2