Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 49


__ADS_3

Robert sangat terkejut ketika melihat apa yang ada di dalam bingkisan itu, rupanya di dalamnya terdapat sepasang pakaian bayi berwarna putih bermotifkan bintang, dia ingat betul pakaian bayi itu sama persis dengan pakaian yang dikenakan oleh anak kandungnya Arsen ketika dia mengantarkan bayi itu kepada Salman, untuk menyuruh Salman membunuhnya.


Mata Robert melotot, dia mencengkeram dengan kuat pakaian bayi tersebut. "Cepat kamu cari tahu siapa kurir yang mengirim bingkisan ini!" titah Robert kepada seorang pelayan disana dengan nada membentak.


"Maaf, Tuan. Wajahnya sama sekali tidak kelihatan, dia memakai masker dan topi." jawab pelayan itu dengan nada ketakutan.


"Brengsek! Apa maksudnya orang itu mengirim pakaian bayi kesini?" Robert semakin emosi sekali. Mengapa pakaian bayi yang telah usang itu bisa ada ditangan orang lain.


"Apa itu pakaian yang digunakan oleh anaknya Om Arsen?" tanya Alvin kepada ayahnya, dia sudah lama mengetahui rahasia besar itu dari sang ayah.


Robert tak menjawab, karena saat ini dia merasa seakan ada seseorang sedang menantang dirinya.


Rima memang menyimpan pakaian bayi tersebut dan memberikannya pada Gleen ketika Gleen masih berusia 10 tahun, dan kini Gleen ingin memberikannya kepada Robert sebagai hadiah.

__ADS_1


"Apa mungkin anak Om Arsen sebenarnya masih hidup?" tanya Alvin kembali, karena sang ayah belum menjawab juga pertanyaan darinya.


"Tidak mungkin, Salman sudah membunuhnya." Robert sangat mempercayai Salman, Salman tidak mungkin berkhianat kepadanya.


Robert kembali mencoba untuk menghubungi Salman, akan tetapi ponselnya masih saja belum aktif. Hal tersebut membuat Robert semakin tersulut emosi.


"Brengsek! Kemana dia? Tidak mungkin Salman kalah oleh pemuda miskin itu." Robert kalau sedang marah sangat menakutkan, dia melempar semua barang yang ada di atas meja, sehingga banyak pecahan kaca berserakan di lantai.


Prang!


Prang!


Prang!

__ADS_1


Alvin masuk ke dalam kamar, dia lebih baik menghubungi calon istrinya itu. Walaupun dia tahu bahwa Felicia bukanlah putri kandungnya Arsen, tapi dia tetap sangat mencintai Felicia, dengan wanita lain baginya hanya untuk main-main saja.


[Felicia, kamu sedang apa? Apa kamu sudah tidur? Aku sangat mencintaimu, Felicia. Karena itu akan bertanggungjawab terhadap bayi yang kamu kandung. Aku akan membesarnya dengan sepenuh hati.]


Kemudian setelah mengirim pesan tersebut, Alvin mengepalkan tangannya sambil menyeringai, "Tapi sayangnya, aku tidak akan pernah membiarkan anak itu hidup, aku akan membunuhnya. Om Arsen pasti akan memilih aku."


Kepada darah dagingnya sendiri saja dia tak mau tanggung jawab, apalagi kepada anak orang lain.


Sebenarnya Arsen belum tidur malam ini, walaupun saat ini dia sedang terbaring di atas kasur sambil menatap foto sang istri yang sedang dia pegang. Seumur hidup dia tak akan pernah melupakan kejadian waktu itu, dimana disaat sang istri yang sangat dia cintai harus meninggal dengan cara yang mengenaskan di depan matanya.


Entah mengapa dia merasa bersalah telah menampar Gleen, membuat dia terus membayangkan wajah pria itu. "Sayang, kenapa aku harus menjadi lemah seperti ini? Tidak mungkin kan aku memilih pria miskin itu untuk menikah dengan putri kita? Diantara semua laki-laki di dunia ini, mengapa harus pria miskin itu yang menjadi kekasihnya Felicia?"


Arsen benar-benar di landa kebingungan, disatu sisi dia ingin Alvin yang menjadi menantunya, akan tetapi bagaimana dengan nasib kandungan yang ada di perut Felicia? Apa dia tega memisahkan seorang bayi dengan ayah kandungnya hanya karena derajat mereka berbeda.

__ADS_1


"Siapa yang harus menikah dengan putriku?" gumam Arsen, rasanya sangat sulit sekali jika dia harus merestui hubungan Felicia dan pemuda miskin itu.


__ADS_2