
Gleen masih membekap mulut Felicia dengan tangan kanannya dengan posisi mereka saling berhadapan, bahkan badan mereka begitu rapat sekali, di belakang pintu kamar tersebut.
Felicia merasa sedikit tegang, karena ternyata ada seseorang juga yang mengincar bukti yang ada dalam di boneka doraemon itu, membuat hatinya dipenuhi dengan tanda tanya. Mungkin dugaan Gleen memang benar bahwa kalung tengkorak itu milik kekasihnya Milea, lalu siapa kekasihnya Milea? Pasti dia adalah seseorang yang dipanggil Tuan oleh pria yang kini sedang menggeledah kamarnya Milea itu.
Sementara Gleen, dia mengepalkan tangan kirinya, dia tahu persis siapa pemilik suara itu, selama tinggal bersama selama 10 tahun, tidak mungkin dia melupakan suara seseorang yang sudah membunuh ibu angkatnya dan menyiksa dirinya hampir tiap hari, begitu mengerikannya dulu ketika dia tinggal bersama Salman.
Ingin sekali Gleen menghajar pria itu, bahkan membunuhnya, tapi dia tidak mungkin melakukannya, karena dia juga harus melindungi Felicia, jangan sampai Salman tahu bahwa dia dan Felicia sudah mendapatkan kalung tengkorak yang mereka cari, karena akan membahayakan nyawa Felicia.
Satu hal yang pasti, kecurigaannya sangat tepat, pasti Alvin lah orang yang sudah membunuh Milea dan juga orang yang menghamili Milea, mungkin kalung tengkorak itu bisa dijadikan bukti, walaupun harus berusaha keras mencari asal usul kalung tersebut.
Gleen memilih diam, karena melawan orang seperti Robert bukan dengan hanya menggunakan otot, tapi dengan menggunakan strategi yang matang. Apalagi Gleen mendengar suara langkah kaki yang lain di rumah tersebut, bisa dipastikan Salman datang tidak sendirian.
Di tengah kegelapan yang mencengkam, di kamar tersebut hanya terdengar suara langkah Salman, membuat Gleen teringat saat dia kecil, dia kejar oleh Salman, dan Gleen bersembunyi di bawah meja makan, saat itu Salman membawa ikat pinggang untuk mencambuk punggungnya Gleen. Rupanya pria itu masih hidup dengan tenang setelah membunuh ibu angkatnya.
Gleen menekan sebuah remote kecil di saku kemejanya.
Wiuw!
Wiuw!
Wiuw!
__ADS_1
Semua yang ada disana kaget saat mendengar suara sirene polisi, suaranya terdengar jelas berada di depan rumah Milea.
"Arrrgghh sial!" Salman segera keluar sambil membawa boneka doraemon yang baru saja dia temukan, dia menekan earpiece untuk memberikan komando kepada sembilan anggota Tengkorak.
"Boneka yang dicari sudah didapatkan. Cepat keluar dari rumah ini, sepertinya ada polisi di depan, kita harus kabur lewat halaman belakang!" titah Salman, kemudian dia segera berlari keluar dari kamar dan turun melewati anak tangga, sehingga semua anggota Tengkorak berhamburan keluar dari sana.
...****************...
Gleen sangat bernafas lega, dia melepaskan tangannya yang dari tadi membekap mulutnya Felicia. Begitu juga Felicia. Namun, Felicia sedikit panik begitu menyadari bahwa di luar sana masih terdengar suara sirene polisi.
"Gleen, bagaimana kalau polisi masuk ke dalam rumah ini?"
Gleen hanya tersenyum tipis, dia segera membuka pintu kamar, berjalan ke arah balkon.
Felicia mengikuti Gleen, ingin menarik lengannya. Tapi dia dibuat terperangah, rupanya di halaman depan rumah Milea sama sekali tidak ada polisi.
"Lho lalu dimana suara sirene itu?" Pandangan Felicia beredar mencari sumber suara.
Gleen berdiri di belakang Felicia, dia memegang wajah Felicia dari belakang, agar pandangannya fokus ke dekat sebuah taman, "Apa kamu lihat ada sebuah kotak berwarna hitam dibawah tanaman bunga?" Gleen pun mengarahkan cahaya senter ke kotak tersebut.
Felicia merasakan tak nyaman karena tubuh mereka begitu menempel dengan posisi Gleen berdiri di belakang, membuat hatinya tak karuan. Lalu dia pun menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku sudah menyimpan sirene buatan disana, hanya untuk berjaga-jaga, karena aku sudah terbiasa dengan situasi seperti ini." jawab Gleen dengan tenang, dia pun menekan remote di saku kemejanya untuk membuat sirine palsu itu berhenti berbunyi.
Felicia akhirnya mengerti mengapa tadi Gleen terlihat sibuk di taman sebelum membobol jendela. Wanita itu segera menjauhkan jaraknya dari Gleen, dia tidak ingin terperangkap oleh sang penipu ulung itu, dia tidak ingin menjadi korban dalam tipu dayanya.
Tim The Darkness memang bisa berkelahi, tapi mereka lebih mengutamakan trik untuk menyerang lawan, mereka ingin membuat target sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang diselidiki, apalagi targetnya sekarang adalah Robert. Karena jika Robert menyadarinya, dia pasti akan melakukan banyak cara untuk menghilangkan bukti dan saksi, dan balik menyerang dengan cara sadis. Begitulah Robert, dia bukanlah musuh yang bisa dianggap remeh.
Sehingga Gleen harus menahan diri untuk tidak menyerang Salman tadi, walaupun tangannya sangat gatal. Justru dengan kehadiran Salman, membuat kecurigaannya semakin yakin bahwa Alvin adalah pelaku pembunuhan itu. Dan dia akan membalas kejahatan mereka cepat atau lambat, dan juga memperlihatkan bagaimana mengerikannya seorang Robert kepada semua orang di negeri ini.
"Lebih baik sekarang kita ke rumahku saja."
Perkataan Gleen membuat Felicia terkejut, membuatnya menelan saliva, mungkin menjadi teringat dengan malam panasnya bersama pria itu. "U-untuk apa?"
Gleen terkekeh gemas, dia menyentil keningnya Felicia, "Untuk membahas pekerjaan lah. Memang mau ngapain? Dasar mes-um! Pasti kamu berpikir ingin berbuat macam-macam padaku lagi ya, hiih!" Gleen pura-pura bergidik ngeri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, seolah-olah dia takut diperkosa.
Felicia tidak terima disebut wanita mes-um, apalagi pria itu berani sekali menyentil keningnya, sehingga dia menginjak kakinya Gleen.
"Arrrgghh!" Gleen meringis kesakitan. Lagi-lagi kakinya selalu saja menjadi korban keganasan Felicia.
Felicia segera melangkahkan kakinya, tanpa merasa berdosa sama sekali atas apa yang telah dia lakukan pada kakinya Gleen, dia memang bukan wanita yang bisa diajak bercanda.
"Hei calon istri, tunggu!" Bukannya kapok, Gleen malah semakin ingin menggoda Felicia. Panggilan itu membuat Felicia menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Felicia harus tahan menghadapi segala godaan yang dilakukan oleh Gleen kepadanya, demi mengungkapkan fakta yang sesungguhnya tentang kematian Milea. Setelah itu, dia ogah berurusan lagi dengan pria yang memiliki keahlian dalam menipu itu.