
Malam ini Danu sedang berada di ruangan kerjanya, dia nampak sedang memikirkan dengan apa yang telah dikatakan oleh Maura, bahwa ibu tirinya terlihat sering melamun semenjak acara makan malam merayakan ulang tahun sang ibu tiri.
Dan Danu juga teringat akan perkataan Alvaro yang mengatakan bahwa ada yang aneh dengan gelagat ibu tirinya setelah bertemu dengan Felicia.
"Sebenarnya ada apa dengan ibu?" Danu sama sekali tak dapat menebaknya.
Danu segera keluar dari ruang kerjanya, dia melihat Maura yang ketiduran di kursi sofa, mungkin dia ketiduran saat sedang menonton televisi.
"Hhh... Dasar bocah, kebiasaan!" Danu mendengus kesal, dia segera menggendong sang adik tiri ke kamarnya.
Danu memang sering melakukannya, mungkin karena Maura merasa menjadi adik bungsu sehingga dia sangat manja sekali.
Danu pun membawa Maura masuk ke dalam kamar, badannya yang ramping sama sekali tidak membuatnya terasa berat jika digendong seperti itu.
Danu pun merebahkan tubuh sang adik di atas ranjang, dia menatap dengan begitu lekat wajahnya Maura sambil duduk di tepi ranjang, lalu dia menjitak kepalanya Maura, "Sampai kapan kamu manja seperti ini, Maura?"
Walaupun Danu mengomel, dia pun tetap tak mungkin membiarkan Maura kedinginan, dia menyelimuti tubuh sang adik yang cantik itu dengan selimut tebal.
Danu segera berdiri, dia tersenyum begitu melihat ada banyak foto-foto yang terpajang di kamar Maura.
Danu bergerak mendekati foto-foto tersebut. Itu adalah kumpulan foto saat dia dan Maura yang masih kecil, remaja, sampai mereka dewasa. Walaupun mereka sering bertengkar, tapi sebenarnya mereka adalah adik kakak yang saling menyayangi. Apalagi Danu selalu melindungi sang adik jika ada pria yang berani menganggunya.
Danu menghela nafas, rupanya adik tiri yang selalu dia jaga kini telah beranjak dewasa, usianya kini sudah menginjak 20 tahun, bukan anak kecil yang sering dia gendong lagi.
__ADS_1
Danu pun keluar dari kamar Maura, dia tak sengaja mendengar suara seseorang yang sedang memblender sesuatu, pasti ibunya sedang memblender bumbu untuk bahan masakan.
Danu pun pergi menghampiri sang ibu di dapur, dia menyimpan satu gelas teh manis hangat di atas meja, "Aku membuatkan teh manis untuk ibu." ucap Danu.
Mira tersenyum, dia menoleh sebentar kepada Danu yang sedang duduk di kursi plastik, "Terimakasih Danu, kamu belum tidur?"
Danu menggelengkan kepala, "Belum ngantuk, Bu. Seharusnya ibu yang tidur, ibu harus banyak istirahat."
Mira sangat merasa beruntung memiliki anak tiri seperti Danu, karena Danu begitu perhatian selayaknya anak kandung padanya, dan dia juga beruntung menikah dengan Wisnu, karena Wisnu adalah sosok suami yang penyayang dan selalu memperlakukannya dengan baik.
"Sebentar lagi selesai, Danu." Mira pun menyeruput teh manis buatan Danu.
Danu terdiam sejenak, dia mencoba untuk merangkai kata tentang apa yang ingin dia tanyakan pada Mira, "Emmm... menurut ibu, Felicia itu wanita seperti apa?"
Mira menyimpan gelas di atas meja kembali dengan tangan sedikit gemetaran.
Danu memperhatikan raut wajahnya Mira yang nampak seakan menahan tangis, membuat hatinya bertanya-tanya, ada hubungan apa antara Felicia dan Mira.
Mira mungkin sudah tak bisa menahan tangisannya, karena menurutnya semua ini terlalu berat untuknya, dia sangat merindukan putri sulungnya itu. "I-ibu ke kamar dulu, pekerjaan ibu sudah beres." pamit Mira.
Danu menganggukkan kepalanya, "Iya, bu."
Setelah Mira pergi, Danu mulai bergumam sendiri, "Sebenarnya ada masalah apa antara ibu dan wanita itu?" Danu belum dapat menerkanya.
__ADS_1
Dulu saat Mira menikah dengan ayahnya, waktu itu Maura masih berumur 2 tahun, sementara dirinya sudah berusia 10 tahun. Dulu Mira mengatakan dia hanya memiliki satu orang putri saja, yaitu Maura. Jadi tidak mungkin Danu tiba-tiba curiga bahwa ibu tirinya memiliki anak yang lain selain Maura. Dan Mira terpaksa berbohong demi keselamatan Felicia.
...****************...
Sementara itu di kediaman Robert, Robert dan Alvin sudah tak sabar ingin mendengarkan kabar baik tentang kematiannya Gleen dari Salman. Karena Salman biasanya tak pernah gagal dalam membunuh seseorang, tapi sayangnya sampai kini ponsel Salman sulit sekali untuk di hubungi.
"Mengapa dia sulit sekali dihubungi?" Robert tidak mungkin percaya jika pemuda yang sudah mengacau balaukan acara makan malamnya dengan keluarga Gerrad mampu mengalahkan seorang pembunuh berdarah dingin seperti Salman.
"Apa mungkin Salman kalah tarung, Pa?" tanya Alvin kepada sang ayah.
"Tidak mungkin, selama ini Salman tak pernah kalah dan tak pernah gagal."
Tak lama kemudian, ada salah satu pelayan datang ke ruang tengah yang ada di mansion tersebut, pelayan itu memberikan sebuah bingkisan untuk Robert. "Maaf, Tuan. Ada bingkisan untuk anda."
Robert mengambil bingkisan berbentuk kotak tersebut dari tangan sang pelayan. "Dari siapa?" tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
"Saya tidak tahu, Tuan. Hanya saja tadi ada tukang paket mengantarkan bingkisan tersebut." jawab pelayan itu.
"Mana ada tukang paket mengantarkan bingkisan malam-malam begini." bentak Alvin kepada pelayan itu.
Robert menjadi tidak enak hati, dia pun segera membuka bingkisan itu.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat apa yang ada di dalam bingkisan tersebut.
__ADS_1