
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Empat menit...
Lima menit...
Padahal baru lima menit Gleen memandangi wajah Felicia, menerima tantangan dari wanita itu, untuk tidak tergoda oleh pesonanya.
Bagaimana bisa dia tidak tergoda dengan pesona seorang Felicia? Wanita yang memiliki paras wajah sang sangat cantik dengan kulit putih, berhidung mancung, mata coklat, dan rambut bergelombang yang selalu dia gerai, ditambah untuk pertama kalinya Felicia tersenyum manis seperti itu kepada Gleen, apalagi penampilannya yang hanya memakai bathrobe saja memperlihatkan belahan dadanya, membuat tubuh Gleen kepanasan.
"Enam menit." Felicia tersenyum memperhatikan Gleen yang wajahnya nampak memerah seakan sedang menahan sesuatu yang menyiksa di dalam tubuhnya. Walaupun pandangannya masih saja dingin. Tapi Felicia tahu pasti Gleen sedang berusaha keras untuk menahan hasratnya.
Felicia pun melangkahkan kakinya sedikit, membuat jarak diantara mereka semakin dekat.
"Tujuh men...mmhhh!" Felicia tak meneruskan perkataannya, ketika Gleen tiba-tiba saja menarik pinggangnya, membuat bibir mereka menempel.
Mata Felicia melotot mendapatkan serangan ciuman yang terkesan sangat mendadak, bahkan Gleen memeluk dengan erat pinggangnya, membuat tubuh mereka menempel, bisa dia rasakan bagaimana kerasnya sang jantan di bawah sana.
Gleen sudah berusaha keras sekuat mungkin untuk menahan diri, tapi dia tak sanggup melakukannya, pesona Felicia sungguh membuatnya lupa diri, dia melu-mat dengan rakus bibir Felicia, meneroboskan lidahnya mengobrak-abrik setiap inci di dalam mulutnya.
Felicia hampir saja kehabisan nafas, Gleen sangat brutal sekali mencium bibirnya, dia tidak ingin mati gara-gara kehabisan nafas, karena itu dia memukul-mukul dada bidang Gleen agar memberikannya waktu untuk bernafas.
Gleen pun melepaskan ciumannya, membuat Felicia sangat bernafas lega, dia menghirup nafas dalam-dalam, akhirnya dia bisa bernafas juga. Namun, Felicia bergidik ngeri melihat tatapan Gleen, seperti bintang buas yang akan siap untuk menerkamnya.
Gleen tak mengucapkan sepatah katapun, dia menghempaskan tubuh Felicia ke atas ranjang yang empuk.
Buukk!
__ADS_1
Membuat Felicia terlentang bebas di atas ranjang tersebut.
"Gleen, aku tahu aku ini sangat cantik dan mempesona, tapi tunggu dulu sebentar.... mmhh!"
Lagi-lagi Felicia tak diberikan kesempatan untuk berbicara, pria itu menindih tubuhnya, mencium bibirnya sangat bernaf-su sekali.
Felicia tak dapat membohongi dirinya sendiri, dia pun sama, sangat merindukan sentuhan Gleen, dia mulai membalas ciuman Gleen. Saling menautkan bibir dan bertukar saliva, bahkan tangan Felicia perlahan-lahan membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Gleen satu persatu, sehingga terlihat dengan jelas bagaimana indahnya tubuh pria itu yang dipenuhi dengan otot-otot kekar.
Gleen ingin membuka bathrobe yang dikenakan oleh Felicia, tapi tiba-tiba saja terlintas dipikirannya bagaimana kalau wanita ini memanglah saudara kembarnya?
Gleen segera melepaskan ciuman, dia pun bangkit. Dia tidak boleh melakukannya sebelum tahu dengan jelas apakah dia dan Felicia saudara atau bukan.
Felicia tidak paham, mengapa Gleen tiba-tiba berhenti mencium bibirnya, dia memandangi Gleen yang sedang mengenakan kembali kemeja yang sempat Felicia lepas.
"Mengapa berhenti? Bukannya kita sudah sah sebagai pasangan suami istri?"
Gleen tak langsung menjawab, dia merapikan kemejanya terlebih dahulu, lalu menjawab Felicia dengan nada ketus, "Aku harus pergi."
Gleen melihat ada sebuah chat di ponselnya dari seorang wanita.
Gleen pun segera menjawab pesan dari wanita itu.
[Oke.]
Gleen memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Felicia.
"Aku mencintaimu, Gleen."
Gleen terkejut mendengarnya, sampai dia menghentikan langkahnya, tapi tetap masih membelakangi Felicia, enggan untuk melihat wajahnya.
Apakah benar Felicia mencintainya? Seorang Felicia yang begitu digilai banyak pria, wanita itu mencintainya?
__ADS_1
Tapi apa yang harus Gleen lakukan sekarang? Justru dia tidak tahu harus menjawab apa dan bereaksi seperti apa, sungguh membuatnya dilema.
Felicia sangat kesal karena Gleen tak merespon pernyataan cintanya, padahal dia telah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan perasaannya itu.
"Aku mencintaimu, bajingan. Apa kamu tidak mendengarnya?" Felicia mengatakannya dengan nada kesal.
Sebenarnya dia lebih kesal pada dirinya sendiri, mengapa dia harus seprontal itu mengungkapkan perasaannya, mungkin karena dia sangat takut tiba-tiba Gleen meninggalkannya.
Gleen memilih untuk tak menganggapi ungkapan cinta dari Felicia, dia pergi begitu saja, walaupun sebenarnya hatinya sakit. Tapi apa yang harus dia ucapkan? Tidak mungkin dia bilang dia juga mencintainya, tidak mungkin juga Gleen menolak cintanya. Dia sangat terpukul sekali dengan kenyataan ini.
Felicia merasa lemas, sampai dia terduduk di pinggiran ranjang dengan tatapan matanya yang kosong.
"Apakah itu artinya dia menolak cintaku?"
Kemudian Felicia berseru dengan kesal. "Gleen bajingan, dia benar-benar mempermainkan aku."
Felicia pun segera menelpon Asisten Ana.
"Ada apa, Nona?" tanya Asisten Ana begitu mengangkat panggilan telepon dari Felicia.
"Katakan padaku, berapa pria yang sudah aku tolak? Kamu punya datanya kan?" Felicia merasa kehilangan harga dirinya karena sudah ditolak oleh Gleen, padahal selama ini banyak sekali pria yang tergila-gila padanya.
Asisten Ana segera mengecek data-data pria yang pernah meminta kepada Asisten Ana untuk mendekatkannya dengan Felicia. "Ada tujuh puluh enam orang, Nona."
Tujuh puluh enam tersebut semuanya pria kaya raya dan dari kalangan pengusaha, tapi bisa-bisa Gleen yang tak memiliki apa-apa, menolak cintanya.
"Apa menurutmu kecantikanku berkurang?" Mungkin siapa tahu Felicia tidak secantik dulu lagi.
"Anda sangat cantik, Nona. Hanya saja..." Asisten Ana nampak takut untuk meneruskan perkataannya.
"Hanya apa?"
__ADS_1
"Nona jarang tersenyum. Nona akan terlihat semakin cantik jika Nona bisa bersikap manis dan sering tersenyum." Asisten Ana berkata dengan hati-hati, "Tapi... gajiku tidak akan dipotong kan, Nona?"
Felicia rasa perkataan Asisten Ana ada benarnya, mungkin saja dia kurang bersikap manis dan jarang tersenyum pada Gleen, sehingga dia sedikit termotivasi oleh saran dari Asisten Ana. "Aku akan menaikkan gajimu."