
"Arrrgghh!"
"Arrrgghh!"
"Arrrgghh!"
Gleen memukul-mukul setir mobil dengan penuh rasa kekesalan, mengapa Felicia harus mengungkapkan perasaannya diwaktu yang tidak tepat. Gleen sama sekali tidak menduga bahwa rasa cinta yang dia rasakan pada wanita itu akan sebesar ini.
Tapi begitulah seorang pria, sesakit apapun itu, walaupun dadanya terasa sesak, dia tak bisa menangis, hal tersebut membuatnya sangat tersiksa karena tak bisa meluapkan apa yang dia rasakan.
Saat ini Gleen sedang berada di dalam mobil, dia menepikan mobilnya sebentar karena tak bisa berkonsentrasi mengendarai mobilnya.
Tapi dia tak boleh berlarut-larut dengan perasaannya, dia harus melupakan sejenak perasaannya pada Felicia, saat ini dia harus berkonsentrasi dengan tujuan awalnya.
Gleen mengendarai mobilnya kembali, kemudian dia pergi menemui seorang wanita, wanita tersebut di duga adalah salah satu wanita malam yang pernah disewa oleh Alvin, sehingga Gleen harus menemuinya.
Gleen menyamar sebagai Erick, menjadi salah satu pria yang memboking wanita bernama Tita itu, sehingga sekarang ini mereka sedang berada di kamar hotel.
Walaupun Gleen merasa risih karena Tita terus saja memeluknya, tapi dia harus bisa membuat wanita itu mabuk.
"Ayolah, kapan kita mulai, Erick sayang? Aku sudah tak tahan ingin segera merasakan bagaimana gagahnya kamu berada di atasku. Kamu sangat tampan sekali." rengek Tita sambil membuka kancing kemeja yang dipakai oleh Gleen.
Ini bukanlah perselingkuhan, karena pekerjaan Gleen memang seperti ini, dia yang selalu melakukan penyamaran, untuk menipu pada target, agar dapat menggali informasi dari mereka.
Gleen menempelkan jari telunjuknya pada bibir wanita itu, hampir saja wanita itu mencium dirinya, membuat dia teringat kembali waktu berciuman dengan Felicia tadi.
__ADS_1
'Felicia, menyingkirlah dari pikiranku sebentar saja.' lirih hati Gleen, agar dia konsentrasi dengan pekerjaannya. Rasanya seakan Felicia sedang mengawasi dirinya.
"Kamu sangat cantik sekali, Tita. Pasti banyak pria yang menyewamu?"
Tita tertawa kecil, "Tentu saja, bahkan mereka tidak puas bermain satu kali denganku. Banyak pria yang menyewa aku lebih dari lima kali, kita bercinta di berbagai tempat. Karena itu ayo lakukan sekarang!" Tita sudah tidak tahan ingin segera bercinta dengan Gleen, sampai dia mengusap-usap paha Gleen.
Gleen berusaha untuk bersikap tenang, kemudian dia menahan tangan Tita karena tangannya semakin nakal, "Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan? Aku ingin menebak siapa saja nama pria yang pernah bercinta denganmu, kalau jawaban aku benar, mari kita langsung bercinta."
Tita sangat kesal karena Gleen malah mengulur-ulur waktu, tapi sebagai seorang wanita malam, dia harus menuruti keinginan kliennya. "Hhhh... ya udah, ayo tebak siapa saja nama pria yang pernah tidur denganku?"
Gleen pura-pura berpikir, kemudian dia menjawab ngasal, "Andi?"
Tita terkekeh, "Salah, aku gak pernah tidur dengan pria bernama Andi."
Gleen menebak kembali, "Boy?"
Kini Gleen baru mulai mengeluarkan jawaban yang sebenarnya, "Alvin?"
Tita yang sedang mabuk, dia sangat bergembira karena tebakan Gleen memang benar bahwa dia pernah tidur dengan seorang pria bernama Alvin. "Hore... jawaban kamu benar, kalau begitu ayo kita mulai."
"Tunggu dulu, aku ingin tahu dulu kamu bercinta dengan pria bernama Alvin dimana saja? Karena aku ingin menjadikannya sebagai inspirasi."
Tita menjawabnya dengan nada memelas, "Alvin Roberto pernah membawa aku mansionnya dua kali, di hotel tiga kali, di dalam mobil satu kali, dan di markas satu kali."
"Markas?" Gleen mengerutkan keningnya, "Markas seperti apa itu?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, karena aku langsung dibawa ke kamar yang ada di markas itu. Hanya saja aku melihat banyak sekali pria berbadan besar disana, aku juga melayani beberapa pria disana. Uuhh... mereka sangat gagah sekali. Tapi kamu lebih mempesona dan lebih menggoda, Erick."
Tidak salah lagi, Markas yang dimaksud Tita adalah Markas Tengkorak.
"Apa kamu masih ingat dimana markas itu?"
"Aku lupa lagi."
Gleen segera merangkul Tita, "Ayolah kamu harus ingat, nanti kita langsung main."
Tita dengan semangat mencoba mengingatnya, dia pun memberitahu Gleen alamat markas tersebut.
Karena Gleen sudah mendapatkan apa yang dia mau, dia pun meninggalkan Tita yang sudah tertidur, Tita mabuk berat sampai dia ketiduran.
Gleen menghela nafas, dia segera bangkit, merapikan kemejanya, dia sama sekali tidak bernaf-su kepada wanita itu, walaupun saat ini dia sedang merasa tersiksa karena harus menahan hasratnya kepada Felicia.
Setelah berada di basemen, Gleen masuk ke dalam mobil, dia ingin memberitahu kedua sahabatnya bahwa dia telah mendapatkan alamat markasnya klan Tengkorak.
Akan tetapi, rupanya Gleen telah mendapatkan pesan terlebih dahulu dari mereka.
Alvaro
[Gleen, hasil tes DNA sudah keluar. Aku tidak mungkin membukanya tanpa seizin darimu.]
Danu
__ADS_1
[Gleen, kita harus bertemu. Aku ingin membicarakan hal penting tentang Felicia.]