Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 33


__ADS_3

Prang!


Mira begitu sangat terkejut saat melihat putri yang selama ini dia rindukan, kini telah berada di rumah makan miliknya. Sehingga mangkuk berisikan soto ayam yang dia bawa terjatuh ke lantai.


Mata Mira berkaca-kaca, baru kali ini dia bisa melihat Felicia dengan jarak yang begitu dekat, biasanya dia selalu memandanginya dari kejauhan. Atau apakah mungkin dia sedang bermimpi, mengapa Felicia tiba-tiba datang ke rumah makannya?


"Ibu tidak apa-apa?"


Perkataan Danu membuat Mira terkejut, Mira segera membungkukan badan untuk membersihkan pecahan kaca, tapi dicegah oleh Danu.


"Sudah, gak apa-apa. Biar sama aku aja." Danu segera membereskan pecahan kaca yang ada disekitar kaki ibu tirinya tersebut, beruntung tidak mengenai kakinya Mira, dan kakinya hanya sedikit terkena cipratan kuahnya.


Mira nampak salah tingkah, dia tidak tahu harus berbuat apa dan harus bersikap bagaimana kepada Felicia. Karena masih teringat jelas ancaman dari Robert, bahwa dia akan membunuh Felicia jika seandainya ada orang yang tahu bahwa Felicia adalah anak kandungnya Mira, sehingga Mira berusaha keras untuk tidak menjatuhkan air matanya.


"Mira, kamu gak apa-apa kan? Kenapa mangkuknya bisa jatuh begitu?" tanya Wisnu, dia begitu mengkhawatirkan istrinya.


"A-aku tidak apa-apa, Mas. Kuah sotonya masih panas, jadi aku gak sengaja menjatuhkannya." Mira mencoba mencari alasan agar tidak ada yang curiga, bahwa sebenarnya dia sangat terkejut ketika melihat Felicia tiba-tiba berada di rumah makan miliknya.


"Ya udah, gak apa-apa, biar nanti Maura yang ambil soto ayam lagi di dapur." ucap Maura, dia sedikit memanyunkan bibirnya melihat sang pujaan hati ternyata sudah punya wanita idaman. Tapi sebelum janur kuning melengkung, dia tidak akan patah hati.

__ADS_1


Maura pun segera pergi ke dapur.


Felicia merasa sangat terharu dengan keharmonisan keluarga mereka, walaupun mereka hidup sederhana tapi sepertinya mereka begitu bahagia, dengan memiliki keluarga yang lengkap.


Sementara Alvaro hanya diam memperhatikan gelagatnya Mira yang nampak aneh, mengapa Mira terlihat salah tingkah begitu. Sampai pelipis wanita itu berkeringat dingin.


"Malam Tante Mira, Om Wisnu. Perkenalkan dia calon istri saya, Felicia Gerard." Gleen memperkenalkan Felicia kepada orang tua sahabatnya itu.


Hal tersebut membuat Felicia memelototinya, mungkin merasa kesal mengapa Gleen harus memperkenalkannya sebagai calon istri.


Mira berusaha keras untuk bersikap biasa saja, dia tersenyum kepada Felicia, jika seandainya Felicia memang benar calon istrinya Gleen, dia sangat setuju, karena dia sudah tahu bagaimana Gleen Fernando, walaupun terlihat urakan, tapi dia tahu Gleen adalah pria yang baik.


Felicia dan Mira saling melemparkan senyuman, posisi mereka bersebrangan hanya terhalang meja makan.


"Iya, sama-sama, tante." jawab Felicia dengan nada sungkan.


Sebagai seorang ibu, Mira pasti hatinya merasakan sakit karena anak kandungnya sendiri harus memanggil dirinya dengan sebutan tante. Tapi wanita itu berusaha kuat untuk tetap tersenyum.


...****************...

__ADS_1


Hari ini adalah hari ulang tahun yang sangat spesial bagi Mira, karena akhirnya dia bisa makan malam bersama Felicia, ingin rasanya dia menangis dan memeluknya, tapi tak mungkin bisa dia lakukan. Sungguh keadaan ini sangat menyiksa untuknya.


Mira hanya bisa sedikit-sedikit memperhatikan Felicia yang tengah menikmati makan malamnya, sungguh tak percaya, akhirnya Felicia bisa memakan masakannya.


Awalnya Felicia sangat ragu untuk memakan masakan Mira, mungkin karena untuk pertama kalinya dia harus memakan makanan sederhana seperti itu, tapi begitu dia mencobanya, ternyata masakan Mira sangat enak, membuatnya sangat menikmati masakan sederhana tersebut.


"Jadi Manda itu gabungan dari Maura dan Danu?" tiba-tiba saja Alvaro bertanya seperti itu kepada Mira.


Maura yang menjawab, "Ya lah gabungan nama aku dan kakakku yang menyebalkan ini." Maura berkata seperti itu sambil memeluk lengannya Danu.


Danu melepaskan pelukan Maura, "Dih jangan peluk-peluk." Danu bersikap seolah-olah alergi dipeluk oleh adik tirinya itu.


"Ih!" Maura pun mencubit lengan sang kakak.


Wisnu hanya tertawa melihat tingkah Danu dan Maura, mereka di rumah memang seperti tom and jerry, ada saja hal yang membuat mereka berdua saling berdebat.


Mira memilih tak menjawab pertanyaan dari Alvaro, mungkin dia sudah tidak bisa membendung air matanya, sehingga dia segera berpamitan untuk pergi ke belakang. "I-ibu ke belakang dulu sebentar." pamitnya kepada Danu dan Maura.


Setelah berada di kamar mandi, Mira menangis sejadi-jadinya, sampai dia memukul-mukul dadanya. Ingin sekali dia mengatakan kepada Felicia 'Ini ibumu, nak.' tapi tak bisa dia lakukan, demi keselamatan Felicia.

__ADS_1


Begitulah seorang ibu, akan melakukan apa saja demi anaknya, sekalipun harus menyakiti dirinya sendiri. Sehingga pantas saja jika seorang ibu dikatakan pembohong nomor satu, karena seorang ibu memilih untuk berbohong dari pada menyakiti anaknya sendiri, dan dia selalu mengatakan baik-baik saja, walaupun hatinya terluka.


"Manda, anakku." Mira menangis tersedu-sedu, sampai dadanya terasa sangat sesak.


__ADS_2