Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)

Kembalinya Sang Pewaris (Gleen Fernando)
Bab 55


__ADS_3

Gleen tersadar dari pingsannya, hal yang pertama dia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Dia menoleh ke sekeliling, dia sadar bahwa dia berada di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit.


"Akhirnya kamu sadar, Gleen." Danu sangat merasa lega melihat sahabatnya akhirnya sadar.


Saat itu Danu datang ke rumahnya Gleen untuk memberitahukan masalah bandol tengkorak yang sudah diselidiki oleh mantan bosnya, akan tetapi dia terkejut ketika melihat kondisi rumahnya Gleen yang berantakan, Danu segera berlari masuk ke dalam rumah, dia melihat tubuh Gleen terkapar di lantai dengan kondisi bersimbah darah, beruntung nyawanya bisa terselamatkan.


Di rumah sakit tersebut juga ada Alvaro, karena Danu langsung menghubungi Alvaro.


"Tidak salah lagi, ini semua pasti perbuatan Robert. Danu bilang Robert memiliki klan mafia bernama Tengkorak. Sepertinya dia memiliki anak buah yang cukup banyak, sama sekali bukan lawan yang mudah." Alvaro terlihat sangat marah sekali, karena Robert telah membuat sahabatnya terluka.


Tapi itu dia, tidak ada bukti yang mengarah langsung pada Robert, bahkan semua CCTV di rumah Gleen telah di rusak.

__ADS_1


Marvin telah berhasil menemukan seorang Goldsmith berasal dari Tiongkok, dan disana ada data siapa saja yang telah memesan bandol berbentuk tengkorak itu, dan pemesan bandol tersebut atas nama Salman dari klan Tengkorak berasal dari Indonesia. Sehingga dia langsung memberitahukan informasi tersebut kepada Danu.


Gleen mengerjapkan matanya begitu teringat dengan Salman, "Lalu bagaimana dengan Salman? Apa dia masih ada di ruang bawah tanah?"


Danu menggelengkan kepalanya, "Sepertinya Robert sudah membawanya pergi."


"Arrrgghh sial!" Gleen langsung terduduk di brankar, dia sangat merasa kesal, padahal banyak hal yang ingin dia ketahui tentang dirinya dari Salman. Dia masih belum percaya, apakah benar bahwa dia adalah anaknya Arsen? Rasanya sangat sakit sekali untuk menerimanya, mungkin karena dia tidak ingin bersaudaraan dengan Felicia.


"Beristirahatlah, Gleen. Kondisi kamu belum pulih." Alvaro mencoba untuk menenangkan Gleen.


Gleen meringis merasakan sakit pada bagian punggung dan kepalanya yang telah dibalut oleh perban, tapi tak dia hiraukan rasa sakit itu. Gleen meraih ponselnya diatas nakas, Danu memang sengaja membawa ponselnya Gleen ke rumah sakit, siapa tahu ada kabar penting.

__ADS_1


Gleen mengerutkan keningnya begitu melihat ada lebih dari sepuluh kali Felicia mencoba untuk menelpon dirinya, dan ada satu pesan masuk disana, yang dikirim oleh Felicia enam jam yang lalu.


Gleen pun membaca pesan tersebut.


[Malam ini papa mengundang kamu untuk makan malam di mansion. Aku harap kamu akan datang untuk menunjukkan keseriusan kamu padaku, demi misi kita.]


Mata Gleen berkaca-kaca, apakah dia harus datang? Rasanya hatinya benar-benar hancur jika ternyata benar bahwa dia dan Felicia adalah saudara, bagaimana bisa dia menikahi saudaranya sendiri, walaupun demi sebuah misi, akan tetapi sejujurnya dia memang memiliki perasaan pada wanita itu. Kenyataan ini membuatnya gila.


Sementara itu di mansion, Felicia nampak tidak tenang, karena satu jam lagi akan diadakan makan malam, sekarang ini Felicia sedang berada di balkon kamar. Felicia sama sekali tidak paham mengapa Gleen mengabaikan pesan darinya, padahal biasanya Gleen selalu bersikap seolah-olah dia sangat tertarik pada Felicia dan sering menggodanya.


"Dia benar-benar seorang penipu, bahkan aku tidak tahu dia sebenarnya memang tertarik padaku atau tidak." Felicia sangat kesal sekali begitu melihat pesan yang dia kirim pada Gleen hanya dibaca saja, sama sekali tidak dibalas.

__ADS_1


Gleen, seorang pria yang selalu bersikap ceria dan selalu menggodanya, Felicia baru menyadari bahwa pria itu sebenarnya begitu misterius, karena Felicia tidak benar-benar mengenali Gleen.


__ADS_2