
Gleen sangat terkejut ketika mendengar suara dentuman mobil dan juga suara tembakan di seberang sana.
"Felicia, kamu tidak apa-apa kan? Apa yang terjadi disana?" tanya Gleen dengan begitu panik.
Namun, Gleen sama sekali tidak mendengar suara Felicia. Bahkan kini sambungan telepon pun terputus.
Nafas Gleen bergemuruh, wajahnya nampak merah padam, dia bagaikan telah kehilangan akal, karena takut terjadi sesuatu kepada Felicia.
"Felicia!"
"Felicia!"
"Hallo, Felicia!"
Gleen segera melacak ponsel milik Felicia, kemudian dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Brrmmm!
Brrmmm!
Brrmmm!
Walaupun hatinya tak karuan, pikirannya kacau balau, tapi dia harus mencoba untuk bisa berkonsentrasi menyetir mobil, dia harus menyelamatkan Felicia. Dia sangat berharap Felicia baik-baik saja.
Gleen telah tiba di lokasi, dia melihat dua buah mobil yang nampak ringsek, mungkin karena telah ditabrak oleh sebuah truk besar.
__ADS_1
Bukan hanya itu, semua bodyguard yang menjaga Felicia sudah mati, sepertinya musuh telah mengirimkan banyak anak buah untuk menyerang mereka, dan menembak mereka.
Gleen keluar dari mobilnya, dia segera berlari ke mobil pribadi milik Felicia, dia sangat terpukul rupanya tidak ada Felicia disana, di dalam mobil tersebut hanya terdapat Asisten Ana dengan kondisi kepalanya terluka parah, akibat benturan yang sangat keras.
Gleen segara mengecek denyut nadi Asisten Ana, rupanya wanita itu masih hidup, sehingga Gleen segera menelepon ambulan. Sementara ponsel milik Felicia tergeletak di jok mobil bagian belakang.
"Hallo, ini sangat darurat sekali, cepat kirim ambulan ke jalan naga merah sekarang ini juga."
Setelah menelpon ambulan, Gleen berusaha keras untuk mengontrol emosinya, agar dia bisa berpikir jernih. Ini semua pasti ulahnya Robert, Robert pasti sudah menculik Felicia.
"Robert bajingan, aku akan membunuhmu!" Gleen mengepalkan tangannya, dia sangat marah sekali sekarang ini.
Tangannya terkepal dengan kuat, pria itu benar-benar dipenuhi dengan amarah yang kian memuncak.
Drrrrtt!
Drrrrtt!
Drrrrtt!
Gleen segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Terdengar suara Robert diseberang sana.
"Kau sudah besar rupanya, bayi kecil." Robert berkata sambil tertawa, seakan sedang meledeknya.
Perkataan Robert membuat Gleen semakin emosi, "Bajingan! Jika kamu berani sedikit saja melukai Felicia, aku akan membunuhmu! Dimana kamu menyembunyikan Felicia?"
__ADS_1
Robert tertawa semakin keras, dia enggan untuk memberitahu Gleen tentang keberadaannya dan Felicia. "Hahaha... Ayo cari keberadaan istrimu itu. Anak buahku saat ini sedang memantaumu. Jika kamu berani menghubungi orang lain apalagi polisi, jangan pernah berharap kamu bisa bertemu dengan wanitamu, aku sudah tak membutuhkannya lagi, dia sudah tak berguna semenjak menikah denganmu. Aku memberikanmu waktu satu jam, jika kamu terlambat satu menit saja, aku akan mengirimkan mayat istrimu sebagai bingkisan."
"Bajingan kamu, Robert. Lepaskan Felicia! Felicia tidak tahu apa-apa dengan masalah ini. Bertarunglah denganku secara jantan!"
Gleen mencoba berpikir dengan keras, dimana Robert menyekap Felicia? Dia tidak boleh datang terlambat.
Apakah mungkin Felicia disekap di markas Tengkorak? Gleen harus segera pergi kesana, tak peduli dia harus masuk ke kandang sang musuh, yang penting dia harus menyelamatkan Felicia.
Robert memang tidak memiliki hati, dia sanggup melakukannya, tak peduli dengan perasaan anaknya yang memohon agar Felicia tidak dibunuh. Yang harus dia lakukan saat ini adalah melenyapkan semua orang yang tahu rahasia besarnya.
Felicia baru sadarkan diri, dia merasakan kepalanya pening, darah segar terus mengalir di pelipisnya, mungkin akibat benturan yang sangat keras waktu kecelakaan tadi, dia terkejut rupanya kaki dan tangannya telah diikat dengan kuat oleh Robert.
Bahkan dia melihat pria itu sedang duduk dihadapannya sambil memegang pistol, sepertinya Robert sedang menelpon seseorang.
Robert melihat ke arah Felicia, dia sengaja meloudspeakerkan panggilan teleponnya bersama Gleen, agar Felicia mendengar percakapan mereka.
"Gleen Fernando, bagaimana rasanya telah menjadi seorang menantu hina dari ayahmu sendiri? Apakah sangat menyenangkan?" Robert berkata seperti itu sambil menyeringai menatap tajam ke arah Felicia.
Felicia membulatkan matanya, dia sangat terkejut mendengar pernyataan yang diucapkan oleh Robert kepada Gleen.
...****************...
...Menuju ending 🙏...
...Semoga ada ide, sehingga bisa rilis novel ini....
__ADS_1