
Lepas dari kandang buaya, masuk ke kandang singa, itulah yang Salman rasakan saat ini. Dan nasibnya jauh lebih buruk dari siksaan yang Gleen lakukan padanya.
"Arrrgghh!"
Salman menjerit kesakitan ketika merasakan punggungnya perih dan seakan sedang terbakar ketika Robert menempel sebuah besi pada punggungnya, sensasi terbakar merambat pada tulang belakangnya.
Pipa besi yang bergagang itu Robert bakar kembali, besi yang awalnya hitam berubah menjadi warna merah, dengan gerakan cepat Robert menempelkannya kembali pada punggung Salman yang kedua tangannya telah dia ikat pada kedua tiang besi.
"Arrrgghh! A-a-ampun, Tuan!" Salman sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang dia rasakan saat ini. Rasa sakit, panas, dan perih telah bercampur menjadi satu dia rasakan di sekujur tubuhnya.
"Ini adalah hukuman untuk orang yang sudah mengkhianati aku. Jadi selama ini anak Arsen masih hidup, heuh?" Robert terlihat sangat murka, karena Salman selama ini telah menipu dirinya.
"Sa-saya... saya janji akan membunuhnya, Tuan." Salman berkata seperti itu sambil meringis kesakitan, hampir seluruh badannya terluka.
Robert merasa curiga pada Gleen, karena pria itu begitu bertemu dengannya, dari tatapannya Gleen seolah menandakan bahwa pria itu sangat membencinya, apalagi Gleen telah menyekap Salman.
Robert mencengkram kerah baju Salman, "Apa mungkin Gleen Fernando adalah anaknya Arsen?"
Salman menganggukan kepalanya, "I-iya, Tuan. Dia adalah anaknya Tuan Arsen. Tolong ampuni saya, saya janji saya akan..."
Salman tak meneruskan perkataannya begitu melihat Alvin berjalan ke arahnya, terlihat pria itu sedang mengayunkan pedang.
Salman terlihat panik dan ketakutan sekali, sehingga dia berteriak-teriak memohon ampun. "A-a-ampuni saya, Tuan Alvin. Jangan bunuh saya. Saya mohon!"
Namun...
Jleeebb!
__ADS_1
"Aaarrrggghhh!"
Alvin menghunuskan pedang tepat pada bagian dada Salman, menembus ke punggungnya, membuat Salman memuntahkan darah dan mati seketika dengan keadaan matanya yang masih melotot.
Robert menepuk-nepuk pundak Alvin, dan melihat wajah sang anak yang telah terkena cipratan darahnya Salman. "Bagus, Alvin. Kamu semakin terlihat hebat sekarang."
"Maafkan aku, Pa. Aku pikir si Gleen akan mati, rupanya dia berhasil di larikan ke rumah sakit oleh seseorang." Alvin merasa gagal telah membunuh Gleen.
"Tidak apa-apa, kita bisa membunuhnya lagi malam ini. Pria itu tidak akan aku biarkan bisa menginjakan kakinya pada mansion Gerrad."
Kemudian Robert bergumam, "Kamu tidak bisa mengalahkan aku, bayi kecil."
...****************...
Dan malam ini pun akhirnya Robert dan Alvin datang ke acara makan malam yang diundang oleh Arsen, Felicia nampak gelisah karena orang yang dia tunggu belum menampakkan hidungnya juga.
"Sudah jam sembilan malam, tapi kekasihmu belum datang, Felicia." Arsen menatap Felicia dengan tatapan penuh rasa kecewa, karena memang dari awal dia tidak bisa menerima Gleen menjadi calon menantunya.
Alvin dan Robert saling memandang sambil tersenyum kecut, walaupun Gleen berniat datang pun, pemuda itu pasti sudah dihalau oleh banyak akan buahnya.
Drrrrtt!
Drrrrtt!
Drrrrtt!
Robert mendengar ponselnya bergetar, rupanya ada sebuah pesan yang dikirim oleh salah satu anak buahnya kepada Robert.
__ADS_1
[Kami sedang mengikuti mobilnya Gleen, kami pastikan dia mati malam ini juga, Tuan.]
Robert pun tersenyum puas. Dalam melenyapkan seseorang baginya adalah hal yang mudah.
Alvin pun segera mengeluarkan kata-kata pujangganya di depan sang calon mertua. "Sudah aku katakan bahwa aku yang paling tulus mencintaimu, Felicia. Bahkan aku rela menjadi ayah dari anak yang kamu kandung itu, meskipun dia bukan anakku. Aku rela melakukan apa saja demi kamu."
Perkataan Alvin membuat Arsen merasa sangat tersentuh. Berbeda dengan Felicia, dia hanya menatap tajam pada Alvin dan mengepalkan tangannya. Rasanya dia sangat mual mendengar perkataan Alvin, jika kecurigaan Gleen benar bahwa Alvin yang membunuh Milea, itu artinya jangankan bertanggungjawab kepada anak orang lain, pada anak kandung sendiri pun dia bunuh. Lagian sebenarnya Felicia sama sekali tidak hamil.
Arsen melirik ke arah jam klasik yang bertengger di dinding, dia rasa lebih baik saatnya harus memberikan keputusan, karena memang dia sebenarnya ingin Alvin yang menjadi menantunya. "Dengan tidak datangnya Gleen, itu sudah membuktikan bahwa pria itu sama sekali tidak bisa bertanggungjawab dan tidak pantas untukmu, Felicia."
"Tapi Pa..."
Arsen tidak ingin mendengarkan protes dari Felicia. "Dari awal, papa sudah yakin bahwa Alvin adalah pria yang tepat untukmu. Karena itu papa..."
Arsen tak meneruskan perkataannya ketika melihat ada seorang pria datang dengan kondisi kepalanya telah berbalut perban, dan wajahnya banyak luka lebam, serta mengenakan pakaian pasien.
Gleen berjalan dengan pelan karena kondisinya belum pulih, matanya berkaca-kaca melihat ke arah Arsen, seorang calon mertua yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Sungguh dunia ini seakan sedang bercanda kepadanya.
"Gleen, apa yang terjadi denganmu?" Felicia sangat terkejut melihat kondisi Gleen.
Apalagi Robert dan Alvin, mereka lebih terkejut, mengapa Gleen bisa ada disini? Lalu mobil siapa yang sedang diikuti oleh anak buahnya?
"Sudah saya bilang, saya akan bertanggungjawab terhadap putri anda, Tuan Arsen. Karena ... karna saya sangat mencintai Felicia. Bahkan saya rela melarikan diri dari rumah sakit demi menunjukkan keseriusan saya." ucap Gleen kepada Arsen. Dia harus memanggil Tuan pada seorang pria yang seharusnya dia panggil ayah.
Dan Gleen merasakan berat untuk melakukan kontak mata dengan Felicia, dia merasakan perasannya tak karuan malam ini. Hal tersebut membuat Felicia merasakan ada yang berbeda dari Gleen, Gleen sama sekali enggan melihat ke arahnya dan tak menanggapi pertanyaan dari wanita itu. Padahal Felicia begitu mengkhawatirkannya.
Jika memang benar Arsen adalah ayahnya, itu artinya diantara dia dan Felicia memang tidak boleh ada cinta, walaupun rasanya sungguh sangat menyakitkan, padahal untuk pertama kalinya Gleen merasakan hatinya bergetar kepada seorang wanita, dan dia selalu bahagia jika bertemu dengan Felicia.
__ADS_1
Justru pria itu memilih menatap Robert dengan tatapan menantang, seolah ingin meledeknya bahwa rencana pembunuhan atas dirinya malam ini gagal.
'Kau pikir hanya kau saja yang bisa mempermainkan hidupku. Aku juga bisa melakukannya, bahkan aku akan membalasnya lebih kejam.' Gleen mengepalkan tangannya.