
Satu hari berlalu...
Pernikahan Gleen dan Felicia pun telah resmi digelar di salah satu hotel yang ada dibawah naungan Gerrard Group. Sebuah pernikahan yang sangat sederhana, Arsen hanya mengundang beberapa orang saja yang telah lama bekerjasama dengan perusahaan Gerrard Group.
Gleen dan Felicia harus terlihat seperti pasangan yang sangat bahagia, mereka terlihat mesra di depan umum, padahal di belakang layar, Gleen tidak bersikap seperti biasanya, dia banyak diam, hal tersebut membuat Felicia sangat kesal, mungkin merasa dipermainkan oleh Gleen. Dulu Gleen begitu ceria dan sering menggodanya, kini pria itu sikapnya begitu dingin dan acuh.
Felicia sama sekali tidak tahu bagaimana tersiksanya perasaan Gleen saat ini, padahal sebenarnya pria itu begitu tergila-gila padanya. Apalagi kondisinya belum pulih seratus persen.
'Awas saja kalau kamu minta hakmu, aku gak akan ngasih.' gumam hati Felicia, dia menatap Gleen yang sedang menyalami para tamu undangan, sementara Arsen berada di samping Felicia.
Robert dan Alvin tidak hadir kesana, hal tersebut membuat para tamu undangan sangat penasaran, padahal dulu Felicia bertunangan dengan Alvin, tapi mengapa sekarang Felicia malah menikah dengan pria lain?
"Kenapa terburu-buru sekali menikahkan Nona Felicia, Tuan Arsen? Bukankah Nona Felicia seharusnya menikah dengan Tuan Alvin?" tanya salah satu tamu undangan kepada Arsen.
Arsen pura-pura tertawa, padahal dia sebenarnya sangat keberatan ditanyai seperti itu. "Sebagai seorang ayah, saya hanya ingin melakukan apa saja demi kebahagiaan putri saya, termasuk dalam masalah pernikahan, saya hanya ingin Felicia memilih sendiri pasangan hidupnya."
Tamu itu pun bertanya kembali kepada Arsen, "Lalu apa pekerjaan menantumu? Mengapa orang tuanya tidak hadir?"
__ADS_1
Arsen memilih untuk diam, dari pada jawaban darinya akan merusak citra keluarganya, karena Gleen sama sekali tidak punya orang tua, dan dia bukan berasal dari keluarga kaya raya, serta pekerjaannya pun cukup berbahaya. Sama sekali tidak ada yang dibanggakan.
Gleen tahu apa yang ada dipikiran Arsen, dia tahu telah membuat ayahnya malu, tapi dia harap sang ayah suatu saat nanti akan berterimakasih padanya dan bilang 'Ayah bangga padamu, nak.'
Sementara Danu dan Alvaro, mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk membawa sampel pada Arsen dan Felicia, sehingga dia mengamankan dua gelas yang telah diminum oleh Arsen dan Felicia di pesta itu. Danu dan Alvaro butuh saliva keduanya untuk dijadikan sampel, sehingga mereka mengamankannya ke dalam plastik berwarna putih dalam keadaan terpisah, dan masing-masing diberikan nama.
"Akhirnya beres juga, aku punya kenalan dokter di rumah sakit punya istriku, biar aku saja yang memberikan sampel itu untuk melakukan tes DNA." Pinta Alvaro, karena mereka sudah memiliki sampel milik Gleen, yang pasti atas bantuan dari Joana proses tes DNA itu tidak akan dipersulit karena istrinya Alvaro adalah pemilik salah satu rumah sakit elit di negeri ini.
"Oke, Al. Aku harap hasilnya akan cepat keluar. Siapa tahu Felicia gak satu darah sama si Gleen, kasihan dia jadi kang galau sekarang." Danu sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Danu berjalan ke luar dari hotel, karena ingin merokok sebentar, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang sangat tak asing buatnya, dia melihat Mira pergi dengan berburu-buru dari sana, seolah-olah takut ketahuan oleh seseorang.
Danu tidak jadi menyalakan api dari korek gasnya, dia membuang sebatang rokok yang telah diapit oleh kedua bibirnya ke tong sampah, "Ibu? Mengapa ibu datang kesini?"
Danu ingin mengejar Mira, sayangnya perempuan itu sudah naik ke dalam taksi.
"Aku yakin dia pasti ibu, tapi untuk apa ibu datang kesini?" Danu merasa yakin dia tidak salah melihat, wanita yang memakai pakaian berwarna abu itu memanglah Mira, ibu tirinya. Apalagi pakaian yang dikenakan oleh Mira sangat tidak asing buat Danu.
__ADS_1
Danu segera menelepon Maura, untuk memastikan apakah yang dia lihat itu ibu tirinya atau bukan.
"Mau apa sih kak? Aku lagi sibuk jaga rumah makan." gerutu Maura ketika mengangkat telepon dari Danu.
Maura memang sudah tahu dari Danu bahwa sang pujaan hati akan menikah hari ini, dia pun harus merelakannya, dan akan mencari pria ganteng yang lainnya untuk dijadikan pujaan hati lagi.
"Apa ibu ada disana?" Danu tidak ingin basa basi, dia langsung bertanya ke bagian inti.
"Gak ada, ibu bilang dia mau pergi ke pasar sebentar, tapi kelihatannya ibu dari pagi seperti melamun gitu, kak. Apa karena banyak tetangga yang pinjam seratus kali ya." celetuk Maura.
Danu menghela nafas, tidak salah lagi perempuan yang tadi Danu lihat adalah ibu tirinya, membuat dia semakin curiga bahwa Mira dan Felicia memiliki sebuah hubungan, entah hubungan apa itu.
Klik!
Danu memutuskan panggilan telepon. Pria itu pun bergumam. "Tidak salah lagi, wanita itu pasti ibu. Tapi ada hubungan apa antara ibu dengan Felicia?" kalau dipikir-pikir Felicia dan Maura terlihat ada kemiripan, walaupun mungkin hanya beberapa persen, tapi memang sama-sama cantik.
Kali ini Danu harus mencari jawabannya sendiri. Dia yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibu tirinya itu.
__ADS_1