kenalpot cinta

kenalpot cinta
BAB 13 Kejatuhan Durian


__ADS_3

Berikut adalah penggambaran mengenai Rendi:


Rendi adalah seorang pemuda yang sangat terampil dan berbakat dalam bidang seni musik. Sejak kecil, dia telah menunjukkan ketertarikannya pada musik dan mulai belajar bermain gitar sejak usia enam tahun. Dalam waktu singkat, dia sudah mampu memainkan beberapa lagu dengan baik dan terus mengembangkan kemampuannya dengan belajar mandiri dan mengikuti les musik.


Sifat Rendi yang gigih dankerja keras menjadi faktor penting dalam kesuksesannya di bidang musik. Dia selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas musik yang dihasilkannya, serta membuka diri terhadap kritik dan saran dari orang lain. Hal ini membuat musik yang dia ciptakan semakin berkualitas dan mampu menarik perhatian orang banyak.


Namun, Rendi juga memiliki sisi lembut dan peduli terhadap orang lain. Dia seringkali terlibat dalam kegiatan sosial dan relawan, serta memanfaatkan keahliannya dalam musik untuk membantu orang yang membutuhkan. Keberhasilannya di bidang musik tidak membuat dia sombong dan tetap merendah hati. Hal ini membuat banyak orang mengagumi dan menghormatinya.


Secara keseluruhan, Rendi adalah contoh sempurna dari seorang pemuda yang berbakat dan berdedikasi dalam bidang yang dia tekuni. Keahliannya dalam musik tidak hanya membuat dia sukses secara pribadi, tetapi juga mampu memberikan dampak positif pada lingkungan dan masyarakat sekitar.



Mbok Sri yang membawa Rendi ke belakang menegur majikannya bahwa ada tamu.


"Nyonya non Fransiska, ada tamu. Namanya Mas Rendi dan Tuan memerintahkan Mas Rendi untuk menemani Nyonya dan non Fransiska ke belakang," ucap Mbok Sri.


"Oh ya, terima kasih. Hai, ganteng sekali, namamu siapa?" tanya Ida, selaku ibu Fransiska.


"Nama saya Rendi, Tante," ucap Rendi.


"Oh, Ren, kamu di sini dengan siapa ini?" tanya Fransiska penasaran. Fransiska melihat ibunya yang penasaran dengan semua ini, hanya beberapa kali memberi kode kepada Fransiska tentang pria di depannya ini. "Mam, ini adiknya teman aku yang aku ceritakan beberapa saat lalu saat berada di kota S," ucap Fransiska.


"Wah, ya, ya, ya, aku jadi lupa. Ayo, mari, silakan duduk dulu. Tante akan menemui papanya Caca dulu ya," ucap Ida sambil berlalu.


"Baik Tante, terima kasih," jawab Rendi sambil menyeruput jus alpukat di depannya.


"Ada apa ya kamu kemari?" tanya Fransiska kepada Rendi.


"Aku juga nggak tahu, Kak. Ini tadi di layar kakakku ada yang namanya Tuan Tio. Dia menelpon terus tiba-tiba aku diajak kemari," jawab Rendi jujur sambil minum jus alpukatnya lagi.


...****************...


Di ruang tamu, Ida melangkah mendekati suaminya.


"Ada apa ini? Kenapa mukanya tegang semua?" tanya Ida yang memang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Gini, Ma. Mama harus mendengarkan perkataanku dengan baik dan tidak boleh memotongnya agar tidak jadi kesalahpahaman," perintah Herlambang kepada istrinya.


"Baik, Pak. Aku akan mendengarkannya dengan baik," jawab Ida.


"Yang di depan kita ini namanya anak Tito. Dia akan menggantikan Haikal sebagai menantu kita karena kalau kita sampai menunda perkawinan Caca, bukan hanya Caca yang susah, tapi perusahaan juga ikut susah," jelas Herlambang kepada istrinya.


"Apa gak sebaiknya tanya dulu ke Caca, Pa?" tanya Ida kepada suaminya karena dia ragu dengan pendapat suaminya tersebut.


"Dia pasti setuju. Tapi kalau kamu mau, kita akan menanyakannya kepada Caca biar dia yang menjawabnya."


"Maaf Tuan, saya menyela. Apa boleh saya saja yang menyampaikannya?" tanya Dito.


"Oke, kalau seperti itu. Yo, ajak Rendi keliling kebun kita yang di belakang," ucap Tyo yang patuh.


Akhirnya, Tyo mengajak Dito ke pinggir kolam. Di situ tampak Rendi sedang bercanda dengan Fransiska. Tyo yang baru datang, mendahului dulu.


"Ehem. Maaf Caca, Ayah menyuruhku untuk mengajak Rendi keliling," ucap Tyo.


Fransiska hanya menganggukkan kepalanya. Dia malah fokus pada laki-laki di dekat Tyo yang tersenyum manis sambil melihat Fransiska.



"Kamu punya masa lalu, aku juga punya. Tapi yang penting sekarang kita bersama dan saling mencintai. Saya menerima kamu apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu." Jawab Dito dengan penuh keyakinan.


Fransiska merasa terharu mendengar jawaban dari Dito. Dia merasa lebih percaya diri untuk menjawab pertanyaan Dito. "Saya juga mencintaimu, Dito. Dan saya siap menjadi pendamping hidupmu, dengan semua kelebihan dan kekurangan yang saya miliki."


Dito tersenyum bahagia. "Terima kasih, Fransiska. Kita akan saling mendukung dan membangun masa depan bersama."


Fransiska juga tersenyum bahagia, merasa bahwa keputusannya untuk menerima Dito adalah keputusan yang tepat. Mereka pun melanjutkan obrolan mereka dengan rasa bahagia dan kebersamaan yang semakin erat.



"Itu semua musibah. Jangan kau salahkan dirimu. Aku sudah ikhlas bila ini takdirku. Sekali lagi aku tanya, apa kau mau menjadi tulang rusukku?" Dito terus mengejar Fransiska dengan pertanyaannya.


"Ya, aku mau menjadi tulang rusukmu," jawab Fransiska dengan mantap.

__ADS_1


"Alhamdulillah," jawab Dito. Beberapa orang yang berada di belakang Fransiska ternyata telah mendengarkan percakapan mereka.


Fransiska merangkul mamanya dan ayahnya, disusul dengan pelukan dari papanya kepada istrinya dan anaknya. Semuanya menangis terharu, sementara Dito tersenyum melihat kejadian tersebut.


...


Di sisi lain, Haikal dipenjara hanya terdiam dan menunggu kedatangan orang tuanya dari Jerman. Tak lama kemudian, nama Haikal dipanggil.


"Dasar anak bodoh! Gara-gara kamu, rencana kita berdua gagal!" Claudia memukuli anaknya. "Ibu harus merubah wajah ibu agar bisa dekat dengan keluarga itu, tapi apa yang kau perbuat?!" Claudia kembali memukulinya.


"Sudahlah, Bu. Aku memang salah. Tolong keluarkan aku dari sini, nanti akan kubalas semuanya setelah keluar," Haikal menggertakkan giginya.


"Kau tahu kan, Kal? Dia adalah orang yang membunuh ayahmu. Dia membuatku menjadi gembel. Untungnya ada papamu sekarang yang tidak tahu apa-apa," Claudia mengingatkan Haikal.


"Gini saja, Ma. Kita hanya diam dan melihat perkembangannya. Aku bisa memerintahkan anak buahku untuk menghabisi mereka. Mama tinggal siapkan saja dananya. Kalau saat ini kita diam dulu, mereka akan hancur karena tidak jadi menikahkan putri satu-satunya. Pasti saham mereka akan anjlok," ucap Haikal dengan penuh percaya diri.


"Oke, kita lihat nanti," ucap Claudia.


...


Setelah pulang dari rumah Herlambang, Rendi sangat gembira karena akhirnya kakak kesayangannya akan menikah. Awalnya, Rendi tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Herlambang di meja makan.


Flashback


Saat makan siang, keluarga Herlambang berkumpul bersama, termasuk Dito dan Rendi.


"Ren, apakah benar bahwa kamu ingin sekolah di sini?" tanya Herlambang untuk mempererat hubungannya dengan keluarga.


"Iya, Om. Saya ingin sekolah di sini, tapi masih bingung di mana," jawab Rendi yang merasa bingung.


"Gini lo, ganteng. Papa sudah bilang ke kakakmu kalau Kakakmu mau menikah dengan anak kami, Fransiska," jelas Ida kepada Rendi.


"Benarkah itu, Kak?" tanya Rendi kepada kakaknya. Dia tidak percaya kalau kakaknya akan menikah, apalagi dengan pemilik perusahaan HE. "Terima kasih, Ma," Rendi memeluk Ida tiba-tiba. Dia menangis karena sudah lama ditinggal oleh kekasihnya.


"Terima kasih, Ya Allah. Engkau kabulkan doa kami," ucap Rendi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2