
Sesampainya di dalam mall tersebut Dito dan Fransiska berpisah. Fransiska ke area food court sedangkan Dito ke tempat timezone.
"Kak."Rendi memanggil kakaknya agar mendekat.
"Hei. gimana sudah lama? kamu tadi ke sini diantar oleh siapa?" Dito selalu cemas dengan adiknya yang satu ini. Dia adalah keluarga satu satunya yng msih hidup. terlebih lagi dengan kesehatan Rendi.
"Kalau begitu ayo kita main sepuasnya. Kakak akan mentraktir apapun yang kau mau." Ucap Dito penuh semangat.
"Ayo kak. Kakak uangnya sudah banyak ya? Nanti belikan aku sepatu dan kemeja ya kak?". Dito memohon pasalnya mereka beli sesuatu jika bertepatan dengan momen tertentu saja.
"Oke. Kita habiskan duit kakak nanti kakak cari yang banyak." Jawab Dito. Di tabungan Dito ada uang sekitar 80juta, Itu semua hasil dari hasil ngojek dan sebagian besar diberi Fransiska. Walau sempat mengembalikannya tapi tetap uang itu dikembaliakan lagi. Bahkan pernah uangnya suruh dibakar.
Sudah hampir 2 jam Fransiska akhirnya nyusul ke tamezone tapi saat itu juga Dito berbincang-bincang dengan seorang cewek yang memakai pakaian serba minim baik kaos maupun roknya. Alhasil membuat panas Fransiska. Tapi Fransiska nunggu momen yang pas untuk mendekati Dito.
"Kak Dito tadinke sini dengan siapa?" Ucap Ulfa sambil menempel-nempelkan tubuhnya ke Dito. Lebih tepatnya menempelkan dadanya yang besar. Sebenarnya Dito sendiri juga risih dengan keberadaan ulfa yang ganjen ini. Dia juga sudah mengibas-ngibaskn tanganya agar tidak menyentuh perempuan itu.
Fransiska akhirnya memisahkan mereka berdua lalu memeluk Dito. "Sayang kamu kemana saja? Aku sudah menunggumu dari tadi." Fransiska berbohong demi Dito agar tidak tergoda oleh wanita lain
Dito yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum saja. "Aku nunggu adikku sayang dia lagi di kamar mandi." Tenang saja aku tidak akan tergoda wanita yang memakai baju sd ini." Jawab Dito.
"Adikmu lama sekali di toilet." Fransiska mulai gak sabar ingin melihat adiknya Dito.
"Iya ya. Sebentar aku lihat dulu." Dito berucap sambil meminta Fransiska agar sabar menantinya di tempat itu. Dito mengecek Rendi di toilet. Ternyata adiknya tergeletak di lantai karena pingsan. Dito langsung berteriak meminta tolong orang sekitar karena orang-orang.
Mendengar teriakan Fransiska ikut masuk. Fransiska lalu meminta tolong Rs HE membawa ambulan. Dan akhirnya Rendi di bawa di rumah sakit itu. Sudah 2 jam tapi belum ada yang keluar. Sedangkan dito Hanya bisa mondar-mandir dengan rasa cemasnya.
__ADS_1
"Tenang dulu Dit. Tadi aku sudah menyurh orang memanggil dokter yang terbaik. Jadi kamu tidak usah khawatir. Duduklah!" Fransiska memberikan isyarat agar duduk di dekatnya.
Dito hanya diam dan menurut pada Fransiska. Tak berapa lama kemudian datanglah paman dan bibi Dito.
"Gimana Dit Rendi?" Wajah bibi tampak pucat, tadi bibinya sudah pingsan mendengar kabar tentang Rendi."
"Masih ditangani dokter Bik. Semoga saja tidak terjadi apa-apa."
Tiba-tiba ruang IGD terbuka. Dokter memberikan kabar Rendi sudah melewati masa kritis tapi kondisinya masih lemas. Fransiska langsung menyuruh dokter itu untuk memberikan kamar VVIP. Sang dokter yang tau kalau Fransiska pemilik RS HE langsung mengiakannya. Bibik Dito langsung memeluk Fansiska.
"Terima kasih Nak. Kami sangat berhutang budi padamu." Bibik Dito berucap sambil menangis.
"Sama-sama Bik." Fransiska menanggapi sambil tersenyum.
Waktu menunjukkan pukul 17.00 Fransiska dan Dito sedang berada di kantin rumah sakit.
"Tidak apa-apa. Habis magrib nanti aku kemebali ke apartemenku. Aku diantar oleh pak Sapri. Dan makanan yang dimasak Bik Jum akan dibawa ke sini. Nanti makan ya!" Fransiska memberi semangat pada Dito dengan cara membelai tangannya.
"Kenapa kamu pedulu padaku? Sedangkan aku slalu menyusahkanmu." Dito tidak memandang Fransiska dengan rasa yang tidak bisa ditebak.
"Kamulah yang slallu membuat aku tersenyum. Ya walau pertemuan kita menyebalkan. Tapi aku bersyukur bisa bertemu denganku. Meski hubungan kita ini tanpa status. Ya inilah yang bisa kulakukan padamu saat ini. Dan jika nanti aku sudah menikah kau akan slalu ada dihatiku. Aku tdak akan melupakanmu" Fransiska berucap smbil meneteskan air mata. Memang ini 0yang terjadi. Hubungan tanpa status yang mereka lakukan nantinya akan membawa luka tersendiri walau sama-sama sadar dengan resikonya.
"hemm. Sebenarnya aku yang harus berterima kasih sama kamu. kamu menjadikan aku sebagai laki-laki tanpa memandang statusku yang seperti ini." Dito sekali lagi tidak bisa berbuat apa-apa.
Fransiska yang tidak mau larut dalam kesedihan akhirnya membahas tentang hal-hal ringan dan sesekali mereka saling beradu argumentasi tetapi hati mereka saling menghangat. Hingga tak terasa Adzan magrib tiba. Dito dan Fransiska akhirnya sholat berjamaah di masjid rumah sakit tersebut.
__ADS_1
***
Di Jerman Ibu Haikal sudah merencanakan sesutu. Kalau sampai anak Herlambang menjadi mantunya hal yang akan dia lakukan adalah menyiksa baik lahir maupun batin. Tetapi Ibu Haikal yang sering dipanggil nyonya Bela sering melihat anak laki-lakinya tersebut main dengan susternya di kantor maupun di apartemen.
"Haikal ingat tugasmu. Kalau rencana kita yang sudah disusun dari dulu gagal akalu yang akan menghukummu menghunakan tanganku sendiri." Ucap mama haikal dari sambungan telpon.
"Tidak akan ma. Lagian 1 bulan lagi kita menikah dan Haikal yakin Fransiska cintanya hanya kepadaku. Haikal sangat yakin karena Fransiaka sangat bucin kepadanya dari dulu. Karena kesehariannya yang repot saja membuat dia jarang bertemu.
"Kali ini aku percaya kepadamu karena anak Herlambang itu dari dulu memabg nempelnya sama kamu. Ya sudah jaga dirimu baik-baik. Setelah kamu menikah kuasai semua harta Herlambang lalu buang mereka semanya."
"Baik ma. Aku mau kerja dulu. Daa Ma jaga dirimu." Akhrinya Haikal menutup panggilan dari mmany.
***
Di tempat Tyo acara tahlilan orang tuanya sudah selesai. Sekarang hanya ada. Tyo, Herlambang, Ida (istri Herlambang), dan Tante Tuti. Tiyo tampak tampan dengan baju koko putih dan kopyahnya. Begitu juga Herlambang walau sudah tua dia tetap tampan dengan Koko warna biru tua. Sedangkan Ida memakai gamis syar'i warna biru
"Gimana Jeng kesehatannya, Apa ada yang dikeluhkan?" Tanya Ida kepada Tuti.
"Oalah Non ya biasa orang seperti saya ini paling-paling hanya darah tinggi. Maklum lah jeng Tyo tidak di sini. Aku sudah kenalkan je beberapa tetangga di sini tetapi gak ada yang dia mau. Padahal aku sudah pengen menimang cucu."Jawab tante Tuti diikuti dengan pelototan mata Tyo yang merasa sungkan dengan orang tua angkatnya.
"Iya jeng nanti saya juga akan kenalkan anak dari teman-temanku. siapa tahu ada yang kepincut." Jawab Ida.
"Ma sudah waktunya kita pamit. Biarkan Tyo dan Bu Tuti Istirahat." Herlambang mengajak istrinya untuk pulang.
"Ya sudah Jeng saya undur diri dulu. Kapan-kapan kita sambing lagi."
__ADS_1
Herlambang akhirnya pulang bersama istrinya.