kenalpot cinta

kenalpot cinta
BAB 17 Jujur


__ADS_3

Siang hari semuanya sudah pulang ke rumah, tak terkecuali pengantin baru. Kakak beradik ini menempati rumah Herlambang Rendi berada di lantai 1 dekat dengan tempat olahraga dan dekat dengan kolam renang. Sedangkan Dito kini berada di dalam kamar Fransiska. Dia ingin membujuk istrinya agar hidup mandiri.


"Sayang satu minggu ini kita di sini tapi seterusnya maukah kamu ikut aku?" Tanya Dito ragu karena dia belum punya rumah sendiri.


"Aku akan ikut kemanapun kamu tinggal." Fransiska mulai sendu.


"Aku tidak akan memaksamu tapi kita akan mandiri jika pisah dengan orang tua dan kamu boleh mengunjungi mereka atau tidur di sini setiap akhir pekan." Dito meyakinkan Fransiska sekali lagi.


"Trus bagaimana dengan pekerjaanku? Apa aku masih boleh bekerja?" Fransiska bertanya kepada suaminya.


"Kalau masalah kerjaan aku tidak akan memaksamu. Tapi kita juga harus profesional saat kerja. Di saat aku masih beljar dengan Kak Tyo berarti aku masih menjadi anak buahmu. Jadi aku akan memanggilmu dengan sebutan Bu."


"Kita sepakat. Dan harus saling memberi kabar jika kemana-mana!


Mereka akhirnya mengakiri dengan kesepakatan tak lama kemudian pintu diketuk.


"Non Tuan besar mengajak makan siang. mereka semua sudh menunggu." Ketuk Mbok Sri. Namanya memang sma dengan nama bibiknya Dito tapi berbeda orang. Yang satu Mbok Sri wati dan yang satu Sri Wulan Sari.


"Iya bik kami akan segera turun." Fransiska menjawab. "Ayo Mas kita turun." Ajak Fransiska sambil menarik Dito agar dia mau berdiri. Tapi apa yang di dapan bukannya dito berdiri malah dia ambruk d menindih badan Dito dan secara tidak sengaja bibir mereka bertemu. Ada rasa sakit karena benturan ada juga rasa berdebar hati karena posisinya sangat tidak baik bagi mereka.


Suara deheman Dito membuat Fransiska berdiri dan langsung menjauh dari tubuh suaminya. "Maaf" Hanya satu kata ini yang keluar dari mulut Fransiska lalu Fransiska meninggalkan kamarnya duluan.


Dito masih mematung. Dia lalu berguling-guling di atas tempat tidur dengan senyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang mabuk cinta "Eh apa benar aku sedang jatuh cinta? Ah. au ah. Yang penting aku mencintai istriku sendiri bukan istri orang." Dito bermonolog lalu dia pergi menyusul Fransiska.


Melihat mereka berlarian membuat papa dan mama Fransiska satu pikiran ya itu mereka belum melakukannya. Lalu keduanya menggelengkan kepalanya menandakan ketidak sukaan. Hal ini membut Rendi penasaran.


"Pa, Ma kalian kenapa? Kompak sekali. Setelah melihat Kak Caca turun kalian menggeleng-gelengkan kepala?" Rendi menjejali dengan berbagai pertanyaan membuat keduanya main mata. Karena mereka juga akan melukai dua hati bila berterus terang.

__ADS_1


"Oh itu nak tadi mama lupa belum ngangkat jemuran." Kata Ida yang nglantur ngasih jawaban.


Sedangkan Herlambang hanya menepuk jidat.


"Apa perlu aku bantu Ma? Mbak-mbak yg ambil baju kotor tadi kemana?"Tanya Rendi sambil menawarkan diri.


"Oh iya,bGak usah nak aku lupa, kalau ada mbak lila anaknya mbok Sri.


"Kapan kalian bulan madu?" Tanya keada pengantin baru.


"Kalau aku terserah mas Dito pa. Soalnya jadwalku yang ngatur kak Tyo sekretaris. Sedang mas Dito masih mau ke kota S untuk survei lapangan. Kemarin sempat ada masalah." Jawab Fransiska


"Kalau saya terseh nyonya bos saja pa." Jawab Dito sambil memarkan giginya karena belum selesai jawab dia langzung dapat cubitan.


"Nanti habis makan Dito ikut ke ruangan papa. Ksmu Fransiska ikut mama.Kamu harus belajar memasak biar suamimu betah di rumah" Titah Herlambang.


"Baik pa." jawab pengantin baru itu kompak.


...****************...


"Silahkan duduk nak. Tenang saja papa tidak akan mengeksekusi kamu." Kata Herlambang yang tahu dengan sikap gugup menantunya.


"Baik Pa. Ada apa ya?" Dito berucap dengan penasaran.


"Ini sebelumnya papa minta maaf pertanyaan papa mungkin akan mengarah pribadi." Herlambang memberikan jeda berucap sambil mencari kalimat yang tepat. "Apa kamu belum melakukan itu semalam?" Tanya Herlambang.


"Maaf pa. kami memang belum melakukannya. Sebab, semalam pas Dito keluar kamar setelah mandi hampir mati kebingungan mencari keberadaan Caca. Tapi setelah saya mencari di luar kamar bagian teras tidak ada akhirnya saya memutuskan untuk mencari diluar kamar tiba-tiba saya melihat Caca duduk di lantai sambil menyembunyikan wajahnya. Dia menangis, katanya bayangan brengsek itu hadir lagi dan mau berbuat tidak senonoh lagi." Dito menjelaskan dengan jujur.

__ADS_1


"Apa perlu dibawa ke skiater? Papa takut nanti kamunya yang gk nyaman." Kata Herlambang yang tahu, karena dia juga laki-laki.


"Untuk sementara tidak usah dulu pa. Saya sekalian mau izin. Biarkan kami hidup berdua. Nanti kami tinggal di Aartemennya Fransiska. Kalau ke kontrakan saya takutnya dia tambah Stres." pinta Dito keada Papanya.


"Baik kalau itu keputusanmu papa ikut. Ya sudah ayo kita ke ruang keluarga biar mama dan istrimu juga tahu maksudmu yang tadi." Kata Herlambang.


...****************...


Suasana pagi hari ini di rumah Herlambang sudah ramai. Para pekerja sudah bekerja sesuai dengan porsinya. Sedangkan yang di dalam rumah Sudah heboh dengan kedatangan Resti di Pagi hari.


"Pagi tante. Rendinya mana tan?"


"Rendi masih siap-siap cantik. Kamu ke sini mau menjemput Rendi?" Tanya Ida memandang keponakannya memakai baju seragam tetapi serba ngepres dan minim. Ida hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dito, Fransiska dan Rendi yang datang secara bersamaan kaget melihat penampilan sekolah anak zaman sekarang.


"Ya ampun Res kamu ini mau sekolah apa mau jadi biduan sih?"tanya Fransiska sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Iih kakak ini gak tau model anak jama sekarang deh. Kak ini sudah biasa di sekolah." Jelas Resti.


"Kalau gitu mulai besok Kak Tyo saya suruh ngecek sragam kalian biar lebih sopan." Fransiska mulai ngomong. Memang ada benarnya untuk jaga-jaga dirinya dari kejahatan yang tidak diinginkan.


Sedangkan yang laki-laki semuanya hanya diam tanpa bicara dan melanjutkan makannya. Setelas selesi merek berpamitan.


Resti belum nyetir mobil sendiri, dia diantar oleh sopirnya. Dia menyuruh Rendi duduk di belakang dengannya. Karena roknya yang pendek sehingga makin jelas paha Resti membuat Rendi merasa tidak nyaman. Akhrinya Rendi memutuskan untuk menitipkan tasnya di pangkuannya.


"Bawakan ini aku capek." Kata Rendi

__ADS_1


Karena Resti tahu penyakit yang diderita Rendi akhirnya dia pasrah. Coba kalau Alfin yang minta sudah perang duni mereka.


Rendi akhirnya tiba di sekolahan barunya. Benar-benar sekolah untuk kaum elit. Di halaman depan ada taman dan beberapa lapangan yang ada di sana. Banyak mobil-mobil keluaran terbaru berjejeran di sana. Tak hanya gedung yang dipakai untuk ruang kelas dan lainnya ada tingkat 9


__ADS_2