
Perjalanan dari darat menuju pulau tersebut memakan waktu sekitar 4 jam, ada yang memanfaatkannya untuk memancing, berjemur ada juga yang berswafoto.
"Sayang apa kamu capek? Dito tanya kepada istrinya yang memejamkan mata di atas kapal. Tempatnya teduh karena terhalang oleh badan kapal.
"Kalau capek tidak tapi cuma pengen bersantai saja. Apa kamu pengen mijit aku?" Fransisca bertanya kepada suaminya."
"Baik Bu Bos, akan saya laksanakan perintahnya anda!" ucap itu kepada sang istri.
berbanding terbalik dengan Ara dan Tyo dia lebih memilih menikmati pemandangan dari dalam kapal sambil menikmati minuman dan makanan yang dihidangkan di cafe tersebut.
"Ini baru namanya hidup." Ara merentangkan tangannya di sofa yang ia sadar. Ara masih menggunakan baju ala cowok.
"Nikmatilah harimu dengan damai." Ucap Tyo sambil memandang ke arah laut.
"Hemm seumur hidup baru ini tidak memikirkan beban."
"Hiduplah bersamaku kamu pasti damai." Tyo mengungkapkan merasaannya.
"Aku malah jadi bebanmu kelak. Ah sudahlah kita jangan ngomong masa depan. Nikmati hari ini." Ara mengalihkan topik lembicaraan.
Mereka akhirnya ngobrol banyak, Tyo menceritakan apa saja yang dia lakukan dalam kesehariannya.
...****************...
Di bagian samping bawah mereka asyik mancing, Tapi yang perempuan asyik membuat konten. lumayan mumpung ada acara liburan gratis.
"Kamu Krasan di sini?". Tanya Bryan yang duduk di dekat Rendi.
__ADS_1
"Kalau ditanya seperti itu aku sebenarnya agak canggung dengan keluarga dari kakak iparku. Tapi mau gimana lagi aku di sini juga harus berobat di rumah sakit yang fasilitasnya canggih dan itu hanya ada di rumah sakit keluarga HE."Ucap Rendi dengan jujur.
"Apa kamu suka dengan Resti? Kelihatannya kalian cukup akrap?" Tanya Alfin menyela pembicaraan Bryan dengan Rendi.
"Tenang saja kawan aku tidak suka cewek agresif seperti Resti. Dia sendiri yang sering menghampiriku. Dan karena aku tidak punya teman aku akhirnya ngikut saja dengan mereka." Rendi nunjuk Resti dengan Dila yang berada di badan sisi kapal yang lainnya.
Alfin menghembuskan nafas lega. "Gue juga gak tahu kenapa gue suka dengan cewek itu. Padahal dia selalu menganggap gue sebagai saudara." Alfin tiba-tiba curhat.
"Alah bilang aj bucin." Bryan menonjok lengan kakaknya sambil meninggikan suaranya.
"Gak papa kali. mungkin dengan seperti itu nanti dia akan merasa bila kamu jauh." ucap Rendi sambil menatap Alfin.
Saat mereka asyik ngobrol tiba-tiba salah satu pancing dari mereka bertiga ternyata bergerak itu pancingmu bergerak-gerak "Cepat-cepat tarik pancingnya." Dan akhirnya Bryan menarik ikan tersebut. Dia kelihatan kualahan karena beberapa kali melakukan tarik ulur.
"Ayo sini aku bantu." Alfin akhirnnya ikut menarik pancing tersebut.
Mendengar ada rame-rame di bawah Fransiska dan Dito akhirnya memutuskan gurun.
"Wih enak nie dibuat ngegril nnti malam." Fransiska mendekat mereka.
"Eh iya Kak, tadi kami juga dapat beberapa cumi dan gurita." Tambah Rendi.
"Baiklah sekarang kita beres-beres dulu 15 menit lagi kita samai. Tu dah kelihatan pulaunya." Dito berucap sambil menunjuk pulau di dean mata.
Akhrinya mereka membubarkan diri.
Karena kapalnya tidak bisa menepi mereka menggunakan perahu boat.
__ADS_1
Mereka tiba di pulau yang mereka inginkan, beberapa anak buah sudah Tyo sudah ada di sana.
"Selamat siang Tuan kami sudah mempersiapkan segala sesuatu yang anda perlukan."
"Bagus. sekarang antar tamu-tamu kita ini ke kamarnya. Dan jangan lupa bawa barang bawaan mereka."
"Siap Tuan." Anak buah mereka yang memakai pakaian serba hitam sekitar 50 orang. Mereka berperan sesuai dengan kemampuannya. Ada juga beberapa wanita yang bertugas sebagai pramusaji. Tetapi pakaian mereka tidak ada yang fulgar. Karena Tyo sudah berpesan agar pereka memakai pakain bawahan minimal pas dengan lututnya dan atasan tidak boleh memperlihatkan dadanya.
"Silakhan semua beristirahat dulu. Nanti kita berkumpul lagi pukul 19.00 malam. Di tepi pantai ini untuk buat api unggun dan akan baka-bakar dari hasil tangkapan kalian."
Ucap Tyo dengan tegas.
Mereka semua tidak mengeluarkan sepatah kata apapun hanya langsung meangguk-anggukkan kepalanya. Karena merasa kelelahan. Tapi tidak dengan Ara dia terus menatap kagum surga diunia di depan matanya tersebut. Dia meneteskan air mata karena ini pertama kali dia pergi ke pantai. Karena semua orang sudah pergi Tyo mendekat dan langsong memeluk Ara. Entah angin apa yang merasuki dirinya Ara langsung sesenggukan di dada Tyo secara tinggi mereka teraut hampir 10 cm.
"Tak apa-apa luapkanlah yang ada di hatimu. Agar kamu terbebas dari semua beban ini." Tyo memeluk sambil mengusap-usap lepala Ara sesekali dan tanpa sengaja pula rambut yang dipakai Ara agak berubah gayanya.
Tyo yang mengetahuinya langsung mengambil beberapa helai rambut tersebut lalu dengan perla rambut itu ditarik al hasil rambut panjang itu langsung terurai. "Kenapa kamu masih pakai ini?" Tyo bertanya dengan otak yang masih penasaran.
"Ara langsung merebutnya "Aku hanya ingin hidup nyaman tanpa ada pandangan mata yang mesum." Ara kembali meneteskan air matanya.
"Tolong izinkan aku menjagamu. Aapun masalahmu akan aku selesaikan dengan baik sesuai harapanmu. baik dengan orang tua maupun sekitar." Tyo kembali lagi meyakinkan Ara.
Ara memilih duduk di atas pasir dengan menatap segala keresahannya dia lalu mulai bercerita kepada Tyo. Ara mulai merasa nyaman dengan keberadaan Tyo di dekatnya. "Saat ini aku dibebani hutang 150 juta dan itu yang membuatku kerja siang malam. Aku juga harus merawat adik tiriku yang ditinggal pergi oleh ibunya. Dia saat ini sudah SMA." Ara menghela nafas lalu menunduk.
Tyo memilih diam, dia duduk di dekat Ara sambil menatap laut yang sama. "Semoga semua ini cepat teratasi." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Tyo.
Hari semakin sore pemandangan semakin indah di mata. Ara lebih memilih memasang lagi wig nya. Karena semuanya ke pantai menikmati sunset yang indah di mata tersebut.
__ADS_1