
Ara kembali duduk di samping Tyo ia sudah menyerahkan salep.
"Ni, tapi hati-hati." Ucap Ara dwngan nada datar
"Sini agak merapat!" Tyo menggeser posisi duduk Ara.
Ara nurut dengan ucapan Tyo. Disaat Tyo mengolesi dahi Ara lalu meniup-niupnya jantung Ara berdebar kencang. "Kenapa diriku seperti terserang penyakit jantung, detak jantungku sangat cepat dan kenapa juga pipiku seperti terbakar?" Ara bermonolog. Dia baru pertama kali merasakan hal seperti ini.
Tyo yang mengetahui pipi putih Ara tiba-tiba berubah jadi merah langsung tersenyum lagi. "Dah yang lainnya ada tidak?" Tyo sedikit berbisik di dekat telinga Ara.
Ara tersenyak "Eh emm sudah-sudah biar saya sendiri yang meneruskan ini semua. Tinggal luka di siku saja aku bisa." Ucap Ara yang salting gara-gara dapat bisikan itu.
Tyo berdiri dan langsung menuju dapur. "Ada apa saja di dapurmu aku lapar?"
"Kosong, sebenarnya tadi aku mau ke pasar malah ada kejadian yang gak mengenakkan seperti ini. Eh iya kenapa kamu ke sini?" Ara penasaran dengan keberadaan Tyo di rumahnya.
"Tadi aku dapat mandat dari Ayah angkatku, kamu harus kuajak ke rumahnya untuk makan malam bersama dan tidak boleh ada penolakan. Kalau kamu menolak nanti anak buah papa yang langsung menjemputmu." Ucap Tiyo yang serius sambil mencuci tangan di wastafel.
"Kalau begitu aku bisanya cuma pasrah." Ucap Ara sambil bebera kali menghembuskan nafas secara kasar
"Ayo kita ke salon dulu lalu kita ke rumah orang tuaku. Aku gak enak kalau datang-datang langsung makan." Ucap Tyo sambil menarik tangan Ara.
__ADS_1
"Oke-oke aku ambil tas dulu, kamu keluar saja dulu nanti aku nyusul."
Tyo pasrah pas dia lalu pergi meninggalkan kosan Ara.
****************
Setelah beberapa saat kemudian Ara dan Tyo pergi ke Mall HE yang terletak di belakang kos Ara. Di sana masih belum terlalu banyak orang jadi Tyo agak leluasa. Mereka tiba di deretan toko fashion dan di sebelah pojok ada salon yang cukup besar di Mall itu. Semua mata tertuju pada mereka. Para manager dan kariawan toko yang dilintasi oleh kedua orang itu terbengong melihatnya. Karena selama ini Tyo sangat dingin dan cuek dengan perempuan.
"Silamat pagi Pak Tyo, Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan salon itu berucap sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Mana bosmu suruh ke sini" Tyo berucap dengan tegas dan tanpa tersenyum.
"Tunggu sebentar, silahkan duduk dulu." Pelayan itu mempersilahkan duduk lalu memanggil bosnya.
Ara awalnya dia merasa cemburu dengan kecantikan gadis itu tapi setelah dia teriak dia merasa ilfil, ternyata dia wanita jadi-jadian.
Sebelum sampai di dekat Tyo dia langsung menyetopnya.
"Stop Don! Di situ saja. aku ingin kau make over gadis ini menjadi lebih feminin." Ucap Tyo dengan entengnya.
"Heh cinta namaku Dena tau." Dengan manjanya Dena berucap kepada Tyo. Lalu dia mengalihkan pandangannya kepada cewek yang berambut panjang tapi agak kusam dan hanya memakai kaos oblong besar warna hulitam, celana jeans serta memakai sandal jepit merk sejuta umat s**l*. "Ini mah gampang, akan aku jadikan wanita ini seperti Cinderella."
__ADS_1
"Oke aku tinggal dulu ke kantor sebentar nanti kalau sudah siap hubungi saya." perintah Tyo
"Siap bos."
"Sini cantik akan aku jadikan kamu queen." Ucap Dena sambil menariknya untuk duduk di kursi eksekusi.
Mulai dari kramas, di-blow, maskeran dll. membutuhkan waktu sekitar 3 jam baru selesai. Kini Tyo sudah menunggu sang pujaan hati dia duduk di kursi panjang sambil menunggu kedatanganya.
"ehgm." Dena berdehem llu dia mengeluarkan sicantik.
Sejenak Tyo berdiam diri dia lalu memulihkan kesadarannya samvil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ayo kita pergi. Kita cari makan setelah itu cari beberapa baju dan oleh-oleh buat Caca."
Ara hanya mengangguk dia tidak punya ide hanya pasrah saja karena tidak tahu.
Setelah melakukan beberapa aktifitasnya Ara dan Tyo akhirnya tiba di rumah Herlambang. Di sana Tyo langsung masuk dalam rumah dan mempersilahkan Ara duduk di ruang tamu tak lama kemudian datang Ida dan Herlambang lalu menyalami Ara.
"Wah cantik sekali pacarmu Yo. Siapa namamu nak." Ida langsung memeluk wanita di depannya itu lalu melepaskannya agar bisa menjawab pertanyaan dari dirinya.
"Selamat sore om tante perkenalkan nama saya Tita Maharani dipanggil Ara." Ucap Ara dengan sopan.
__ADS_1
"Silahkan duduk nak." Setelah Herlambang bersalaman mempersilahkan wanita muda ini duduk.
Setelah mereka beberapa saat berbincang-bincang akhirnya Dito dan Fransiska turun. Fransiska langsung berlari dn memeluk Ara. Sedang yang melihat semua pada teriak hati-hati jangan lari.