
Fransiska kini memakan pentol tersebut di atas motor. Sesekali dia menyuapi sang suami. Suaminya hanya pasrah. Dia ikut senang kalau istrinya tersenyum.
"Yang kita ke kantor ya?" Dito membujuk istrinya. Karena ini sudah keliling dari 30menit yng lalu.
"Oke. Tapi beli rujak dulu ya di dekat kantor ada."
"Ya sayang."
Akhirnya mereka sampai di tukang rujak dekat kantor. Dito menyuruh istrinya duduk di troroar dekat parkiran karena di tempat rujak tersebut tidak ada kursi yang kosong. Dito lalu mendekat edagang itu lalu memesannya
"Pak saya pesan rujak buah 2 cabenya sedikit saja."
"Ya tuan silahkan ambil tempat dulu masih nunggu beberapa pesanan." Ucap tukang rujak dengan ramah.
"Baik Pak." Dito menjawab lalu mencari tempat duduk.
Ketika
"Hai Dit apa kabar?" Tanya Riska kepada Dito. Riska adalah teman satu profesi dengan Dito. Dia memang mempunyai rasa ma Dito.
"Eh Riska maaf aku gak melihat kamu. Gimana kabar kamu?" Dito berucap sambil menutup tabletnya.
"Baik. Kamu semakin ganteng saja kalau pakai baju itu. Auramu makin kelihatan. Sudah sukses ya sekarang?" Riska memuja sambil sesekali meletakkan rambutnya di telinganya. Dia memandangi sang pujaan hati dari atas sampai bawah. Dengan cepana jeans warna gelap kaos putih dan jaket kulit warna hitam pula ditambah sepatu caterpillar warna abu-abu.
"Terima kasih. Tapi jangan membual nanti aku diabetes." Dito berucap lalu tersenyum.
Pemandangan berbeda ditangkap Fransiska dia melihat interaksi itu sangat murka. Dia sesungutan mau ke sana tapi tidak jadi karena hpnya tiba-tiba berbunyi.
Di tempat tukang rujak pun Dito sudah berpamitan karena mendapatkan apa yang dia beli. Sesampainya di parkiran dia mendapati istrinya yang sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Setelah beberapa saat istrinya sudah mematikan hp tersebut.
"Sayang sudah telponnya, Kita langsung ke kantor ya?" Dito mencoba mengajak Fransiska.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali, oh iya lagi nostalgia dengan cewek sok cantik itukan?" Frnsiska beberap kali menekan ucapannya dengan nada yang tinggi.
"Mana ada. Itu Riska teman aku saat ngojek dulu sayang. Dia hanya teman 1 profesi." Ucap Dito menjelaskan kepada istrinya yang marah.
"Aku gak tanya. Aku mau nasi padang saja." Omel Fransiska. Dia sudah tidak berselera makan rujak. Mutnya sudah hilang.
"Latrus ini gimana?" Dito menanyakan nasib rujak ditangannya.
"Tau ah kasih saja ma orang lain."
Dito pun pasrah. Dia akhrinya memberikan rujak itu kepada juru arkir tersebut dan melanjutkan ke rumah makan padangbyang kebetulan juga tak jauh dari kantornya.
"Pegangan yang benar sayang nanti jatuh." Dito memberokan saran ma istrinya. Pasalnya sang istri hanya pegang baju Dito Jaket Dito saja.
Fransiska tidak menggubris dia tetap berpegangan pada jaket sang suami dan secara tiba-tiba sang suami mengerim mendadak membuat badan mereka menyatu dan karena kaget dia juga langsung melingkarkan tangannya ke badan sang suami tanpa ada sepatah kata pun.
Dito tahu kalau istrinya lagi ngambek dia sangat senang karena istrinya cemburu, berarti dia sudah cinta ma dirinya. Setelah sampai Dito akan menggandeng sang istri tapi tanpa di duka sang istr malah sudah masuk duluan tanpa memperdulikan suaminya.
"Mas aku pesan nasi padang lauknya ayam, sedangkan udang, cumi, ikan dan kikil ditaruh di pirng sendiri. Oh iya sambelnya otak sapi dan parunya juga. Jangan lupa sambalnya sebagian taruh di mangkok sendiri."
"Nasinya 2 dan esteh satu." Ucap Fransiska "Kamu minumnya apa mas?" tambahnya
"Sama ma kamu saja." ucap Dito. Dia heran kenapa dia pesan semua menu. "Apa nanti akan habis semuanya itu?" Dito bermonolog dengan dirinya sendiri
"Oke mas itu saja." Fransiska bicara lalu dia pergi mencari tempat duduk yang kosong.
Suaminya hanya diam mengikuti sang istri. Dia tidak ingin menambah masalah jadi lebih baik diam dan menurut.
Beberapa saat kemudian acara makan siangpun selesi. Semua isi yang ada di piring itu habis tanpa sisa. Fransiska semua hanya memakan setengah dan yang setengahnya lagi diauruh mennghabiskan sang suami. Mereka lalubmelanjuutkan ke kantor. Di dalam kantor Fransiska malah memungahkan segala isi perutnya gara-gara mencium bau pengharum ruangan yang terpasang di ruangannya Fransiska memuntahkan segala isi perutnya di toilet
"huak huak"
__ADS_1
"Sayang kamu tidak apa-apa?" Dito sangat khawatir melihat sang istri yang lemah tak berdaya di dekat toilet.
"Badanku lemas. Tolong ganti pengharum ruangan ini aku gak kuat dengan baunya."
" Sekarang kamu tidur saja di kamar nanti aku ganti dan aku pesankan makanan lagi. Kamu mau apa? Tanya sang suami sambil membopong istrinya ke tempat tidur
"Terserah kamu saja aku mau tidur dulu." Ucap Fransiska.
Akhirnya Dito keluar dan meminta tolong Agus untuk membelikn sub ayam dan mengganti pengharum ruangan.
...****************...
Malam pun giba setelah usai makan malam dengan keluarganya Fransiska diberi sebuah kresek hitam oleh mamanya.
"Ca coba besok pagi pas pipis pertama kamu tarus di plastik itu sedikit saja lalu cek dengan 2 alat langsung dengan merk yang berbeda ini. Semoga saja ada hasil yang baik." Ucap mama Ida panjang lebar.
"Ini apa ma?" Tanya Fransiska yang penarasaran dengan isi kantong tersebut.
"Nanti kamu juga tahu. Jangan spai keluapaan bila perlu atur di hpmu." Perintah mma Ida.
"Ya Ma." Fransiska tidak mau membantah orag tuanya dia langsung membawa bungkusn itu di kamar.
Dito yang penasaran dengan yang dibawa istrinya langsung bertanya "Apa itu Cantiknya Mas."
"Aku juga gak tau mas ayo kita lihat saja dulu. Sini duduk di sampingku." Fransiska mengajak suaminya duduk di sofa sebelahnya.
Dito mendekat lalu dia mengecup sitrinya sebelum benar-benar duduk. "Lah itu tespek sayang memang kamu hamil?" Dito terkejut tapi juga dia berbinar melihat benda itu.
"Aku juga gak tahu Mas. Tapi sampai sekarang aku memang belum datang bulan Mas." Fransiska bicara sambil mengingat-ingat terakhir datang bulannya. "Harusnya 2 minggu yang lalu mas." Fransiska baru ingat dengan jadwal haidnya yang ternyata mundur. "Nanti kalau tidak hamil gimana Mas?" Fransiska mulai menunjukkan rasa takut.
"Tenang sayang kalau memang gari 2 ya disyukuri kalau garis satu kita buat lagi." Dito menanggapi hal itu dengan santai bahkan dia menaik turunkan alisnya sehingga istrinya tidak jadi was-was dan malah tertawa terbahak-bahak. "Bagaimana kalau malam ini kita menambah adonan biar kuat jadinya." Ajak Dito kepada istrinya
__ADS_1
"Ayuk tapi aku yang di mimpin ya Mas."
Fransiska mengajukan diri agar dia memimpin percintaan ini. Dito yang diajak seperti itu tambah semangat. Da langsung membopong sang istribke temat tidur