kenalpot cinta

kenalpot cinta
32. Pensi


__ADS_3

"Hati-hati jangan lari" Semua orang berteriak seperti itu. Karena melihat Fransiska yang tersandung, untung Ara dengan sigap langsung membantunya dengan cara menangkap tubuh Fransiska.


"Nak hati-hati ini bukan hanya kamu ada calon anakmu yang kamu bawa." Ucap Ida dengan sangat halus.


"Iya Ca kamu tetap waspada dengan keadaan ini" Ucap Tyo.


"Iya iya maaf aku yang salah terlalu senang karena Ara bisa main kemari." Ucap Fransiska yang masih menggandeng tangan Ara. Dia seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal pergi oleh sahabatnya.


"Oh iya ini hadiah untuk kamu selamat ya. Semoga kamu senang dengan pemberianku yang tak berharga ini." Ucap Ara yang merendahkan diri. Dia tahu diri karena apa yang dia berikan bisa dibeli oleh Fransiska beserta pabriknya.


"Ah gak papa aku suka semua pemberian dari kamu, aku buka ya?" Fransiska berucap smbil mengguncang isi dari kado itu. Dia tidak mendengarkan suara bunyi sesuatu 'berarti isinya bukan benda padat' terkaan Fransika.


Ara tida menjawab dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Fransiska langsung membukanya ternyata isinya daster dengan berbagai model yang kekinian.


"Wah bagus sekali ini enak dipakai saat santai nak. Ibu juga punya tapi motifnya yang versi emak-emak" puji Ida melihat baju yang dipegang anaknya. a


"Aku suka Ara. Terima kasih. Ayuk kita ke belakang dulu. Di sana mbok Sri sudah menyiapkan rujak dan berbagai minuman. sebelum kita makan malam nanti."


Akhirnya para wanita pergi ke belakang sedangkan para laki-laki membahas acara dan beberapa ide seperti syukuran dan pemberian bonus.


...****************...


Berbeda dengan keluarga Herlambang, Claudia sedang sudah 2 minggu lebih batuk-batuk dan sesak. Dia tidak punya uang untuk memeriksakan tubuhnya yang mulai bermasalah. Untungnya dia dirawat oleh seorang wanita muda yang merasa kasihan dengannya. Wanita ini bekerja di rumah sakit HE sebagai perawat di kota K.


"Apa ada keluarga yang bisa dihubungi Buk? Sakit anda kelihatannya semakin kurang sehat." Ucah Bintang sambil mengelus-elus punggung Claudia.

__ADS_1


"Kenapa kamu baik padaku nak? Bahkan kamu gak tahu siapa diriku." tutur Claudia yang menunduk. Dia malu dengan keadaannya sekarang. Mungkin bisa dibilang Claudia sudah taubat karena di tempat Bintang dia mengerjakan segala pekerjaan rumahnya. Dan dia juga sering berinteraksi dengan tetangga dengan baik. Tapi dia tertutup masalah keluarganya, dia tidak mau cerita sama sekali tentang tempat tinggal ataupun kehidupannya di masa lampau. Dia hanya sering bergumam sendiri.


"Buk aku senang ditemani oleh ibuk, aku serasa punya keluarga lagi. Karena sudah 10 tahun orang tuaku meninggal dunia. Tapi keadaan ibuk sudah seperti ini apa tidak ada yang bisa ku hibungi?" Bintang dengan sabar bertanya kepada Claudia


Dan sekali lagi Claudia hanya senyum dan menggelengkan kepalanya menandakan kalau tidak ada orang/keluarga yang daat hubungi.


...****************...


Makan malam pun tiba Fransiska dan keluarganya semua berkumpul di sana tak terkecuai Rendi.


"Ren gimana perisapan pensinya besok?" tanya Tyo sebagai kepala sekolah dan sekaligus sebagai kakak.


"Alhamdulillah sudah beres Kak. Di kelompokku pun sudah 98% siap untuk pentas." Ucap Rendi dengan semangat.


"Bagus kalau begitu."


"Mas, bau nasi ini kok gak enak ya?" Fransiska mengendus-endus nasi yang ada di depannya.


"Enggak sayang ini nasinya baik-baik saja." Dito berucap sambil ikut mengendus-endus nasi yang terhidang di pemimm


"Tapi ini gak enak, aku maunya makan empek-empek mas." Fransiska sudah mulai mengeluarkan keinginannya.


"Iya setelah ini kita makan empek-empek tapi minimal kamu makan cap cay dulu biar badanmu ada vitamin ya ya." Dito dengan sabar meladeni sang istri.


Momen ini dilihat oleh Ara, tak terasa dia mengeluarkan air matanya.


"Kamu gak papa?"Tyo berucap sambil mengusap pipi Ara dengan tisu.

__ADS_1


"Eh maaf sini aku bisa sendiri." Ara meminta tsu itu dari tangan Tyo.


"Kamu sering main-main ke sini ya Ra biar Caca punya teman untuk ngobrol. Soalnya saya juga sibuk untuk akhir2 ini. Saya mau meninjau rumah sakit di kota. Mungkin sekitar 1 bulan." Ida memohon kepada Ara


"Insya Allah tante. Soalnya saya juga kerja." Ara membalas dengan sopan.


"Gini saja kamu berhenti dari pekerjaanmu. Temani anak tante nanti saya akan memberibkamu uang jajan. Bukannya aku merendahkanmu bukan. Ini semua demi kebaikanmu." Ida menambahkan lagi petuah agar Ara mau bekwrja dengan dia.


"Baik lah bu. Tapi besok saya izin dulu ke tempat pwnyucian motor dulu.


"Haree Ara akhirnya mau menemani aku." Fransika bersorak ria dia bahkan dia sampai berlari llu memeluk ara.


Ara juga senang mendapat perlakuan seperti ini. Inilah keluarga yang selama ini Ara cari.


"Terima kasih Ca kamu sudah menganggapku seperti saudara." Ara berucap sambil membalas pelukan Fransiska.


"Ya iyalah secara sebentar lagi kamu kan jadi kakakku." Fransiska keceplosan dia gak sangaja mengumumkan kalau dia Ara akan jadi kakak iparnya


Tyo yang ikut mendengarnya langsung melotot


"Kalau gitu selesai makan kita ke taman beli empek-empek ya!" Fransiska langsung mengalikan omongannya agar Tyo tidak marah.


"Iya, Aku akan ikut dengan kalian iya kan Yo?" Ara memberikan pertanyaan kepada Tyo yang


...****************...


Jam sudah menunjukkan 10 malam Tyo, Dito, Ara dan Fransika sudah keliling taman itu. Di sana banyak sekali yang pedangan tetapi tidak menemukan pedangang empek-empek

__ADS_1


__ADS_2