
Dua minggu telah berlalu perawat yang biasanya merawat Dito sudah pulang gini luka ditu sudah walaupun masih ada bekasnya tetapi sudah bisa untuk aktivitas yang ringan-ringan. sarapan pagi sudah tersedia Mama Ida sudah menyiapkan beberapa menu bersama Mbok Sri.
"Pa apa anak kita belum bangun?" tanya Ida kepada suaminya
"Biarkan saja ma kita makan duluan saja. Siapa tahu mereka semalam nglembur membuatkan cucu untuk kita." ucap Herlambang kepada sang Istri
"Iya pa. Aku juga sudah kepengen menimang cucu. pokoknya pa mereka kalau bisa buat kesebelasan. Biar rumah kita ramai." seru Ida kepada suaminya.
Fransiska yang mendengar dari belakangpun langsung berteriak.
"Apa 11? Ma aku bukan kucing ma. Lagian 1 saja belum dikasih." Fransiska berucap sambil duduk lalu mengambilkan saraan suaminya yang duduk di dekatnya.
"Ya gak papa kan berandai sayang. Kalau kesampaian ya bagus kalau tidak ya berdoa yang terbaik."Ida sudah mulai ceramah pagi.
"Sudah-sudah sarapan dulu. Dit kamu sudah mulai kerja hari ini?" Herlambang vertabya kepada menantunya.
" Iya pa. Kasihan kak Tyo kalau harus mengurus pekerjaanku terus."
" Jangan terlalu dipaksa nak. Kalau sudah merasa gak enak badan lebih baik istirahat saja." Ida msmberikan nasihat kepadabmenantunya
"Baik ma. Oh ya ma Rendi sudah berangkat? Katanya mau bareng ma aku." Tanya Dito karena tidak melihat adiknya sarapan bersama.
"Rendi berangkat tadi jam 6 katanya mau ada kerja bakti buat pensi." Terang Ida kepada menantunya.
Dito hanya mengangguk. Kemudian secara tiba-tiba pahanya dikejutkan oleh sang istri membuat Dito tersentak.
__ADS_1
"Heh ada apa?" Tanya Rendi yang sedikit kesal pasalnya makanan yang tinggal sesuap harus berantakan.
"Ca jangan seperti itu. Gak baik.". Seru Herlambang kepada sang anak kesayangan.
"Iya Pa maaf." Fransiska yang mendapat perkataan dengan nada tinggi tiba-tiba dia meneteskan air mata.
"Sayang aku tidak memarahi kamu, aku hanya terkejut tadi. Dah jangan menangis."
Dito berjongkok di dekat tempat duduk istrinya.
Kedua orang tuanya melihat hanya saling berpandang-pandngan, Idan memberikan isyarat kepada suaminya menutup mulut dengan 1 jari.
"Habisnya kamu lupa. Akukan mau makan pentol di dekat taman itu sambil naik motor." Fransiska bilang sambil sesenggukan.
Dito langsung menepuk jidatnya, dia benar-benar lupa kalau mau mengajak istrinya naik motor. "Iya sayang biar dipanasi dulu motornya sama pak sapri ya." Dito dengan sabar menanggapi istrinya.
Setelah mereka selesa makan semuanya mulai berangkat bekerja. Ida diantar oleh Herlambang mengunjungi rumah sakit pusat. Sedangkan Dito dan Fransiska menaiki motor GPnya.
"Sayang mau jeliling kemana lagi? Jam segini belum ada yang jual pentol." Dito sudah mengelilingi 2 kali taman kota dan tidak hanya itu dia juga mengelilingi alon-alon.
"Aku juga gak tahu tapi aku pengen banget makan pentol." Fransiska masih merengek bak bayi yang ingin susu.
"Gini saja kita ke kontrakan dulu. Nanti sekitar jam sepuluh biasanya tetangga abang yang ngontrak dekat rumah mulai jualan." Usul Dito kepada istrinya.
"Oke kalau begitu ke sana sekarang saja." ucap Fransiska.
__ADS_1
Akhrinya mereka berdua ke kontrakan Dito yang terdahulu. Butuh waktu sekitar 30 menit dari kota, tapi karena macet banyak yang mau beraktifitas pagi akhirnya sekitar 1 jam perjalanan baru sampai ke kontrakan tersebut. Agus yang mas sudah diberikan info kalau mau ke kontrakan langsung bebenah. Yang awalnya seperti kapal pecah sekarang dah rapi. Bahkan pengharum ruanganpun kini sudah memancarkan aroma yang segar. Agus sudh menanti kedatangan bosnya. Ya agus menjadi tangan kanan Dito. Bahkan penampilan dia sekarang seperti bos depkoleptor. (Wkwkwkwkwk)
"Selamat datang di singgah sana hamba Bos besarku." Kaki Agus menyilang dan sedikit di tekuk badannya merendah dan tangannya mempersilahkan kedua orang yang dianggap penting di hidupnya itu masuk ke rumah.
"Gus nanti kalau sudah sampai ke kantor kirim beberapa email yang sudah saya wa ke kamu tadi. Dan kalau kamu memang kesulitan ada sinta yang akan menerangkannya." Ucap Dito sambil menggandeng istrinya.
"Siap bos. Kalau begitu saya permisi dulu" Agus hormat lalu izin untuk langsung ke kantor.
Dito hanya menganggukkan kepalanya. Lalu dia memersilahkan istrinya istrahat dibkamarnya. Kamar Dito memang tidak disewakan karena biar bisa mengenang masalalu saat susah. Dia juga sudah membeli kontrakan tersebut.
"Sayang kapan pentolnya siap?" Fransiska mulai lagi.
"Iya sayang nanti kalau sudah matang kata Agus nanti dikirm ke sini sayang." Ucap Dito sambil membelai rambut istrinya. Tanpa di duga Fransiska langsung mengecup bibir Dito.
Dito yang mendapatkan serangan dadakan sejenak diam. Dan tak lama kemudian gantian dia yang melumati bibir sang istri. Ketika panas-panasnya ******* dan tangan sudah mulai meraba ke gunung milik istrinya tiba-tiba Agus berdehem.
"Ehm. eee maaf bos mengganggu. Ini saya mau mengambil file yang tertinggal tapi karena ada siaran langsung jadi saya lebih baik nonton dulu bos." ucap Agus smbil cengengesan karena melihat adegan yang sungguh sayang untuk dilewatkan.
Sedangkan Fransiska yang malu dia tidak berani menoleh. Dia malah membenamkan wajahnya ke dada usaminya. Dito lalu meraba bantal yang terletak di belakangnya lalu menipuk temannya yang tak tau diri itu. Bisa-bisanya melihat adegan itu. Ya bisa dibilang maklum karena pintunya tidak di tutup.
Agus yang mendapatkan perlakuan itu langsung mengeluarkan jurus seribu bayangan. Lari kocar kacir seperti maling yang kepergok masa.
"Maaf sayang aktivitas kita diganggu oleh tuyul sayu itu." Dito membelai lalu mengecup ubun-ubun istrinya. Sang istri memang masih di dadanya.
"Iih sayang bisa-bisanya kepergok seperti itu. Akukan jadi malu." Fransiska memukul mukul dada bidang sang suami. Untungnya mereka belum sampai lepas baju. kalau sudah apadikata. mereka pasti akan malu seumur hidup jika bertemu dengan Agus.
__ADS_1
Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu ternyata aabng yang jualan pentol itu membawakan pesanan sang istri. Dia membeli 200rb yang 10rbu langsung diberi kuah sambal dan kecap. Yang lainnya nantinya akan dimasukkan ke freezer. Tak perlu berpikir panjang Fransiska langsung mengajak suaminya keliling kota smbil makan pentol.