
Pagi hari keluarga Herlambang sudah bangun. Setelah melakukan sholat subuh berjamaan bersama baik majikan maupun pembantu semua jadi satu. Tidak ada yang namanya kasta kalau urusan dengan yang Maha Esa.
"Gimana Ca sudah kamu pakai semalam?" Ida sangat penasaran dia ingin menjadi orang pertama yang menanyai anaknya.
"Emmm sudah ma." Raut wajah Fransiska tiba-tiba meredup dia sedikit tiba-tiba meneteskan air mata.
"Sudah gak papa. Berusaha lagi nanti dikasih sama Allah." Ucap Ida menenangkan hati anaknya.
"Tapi itu garis dua ma." Fransiska menunduk dan agak memelankan suaranya.
"Apa" Ida langsung berteriak. Dia alalu memeluk anaknya sambil menangis sambil berucap. "Terima kasih Ya Allah engkau Maha Kaya." Ida memeluk lagi anaknya lalu dia beralih Pa pa kita mau punya cucu pa kita mau punya cucu." Ida memeluk herlambang dengan rasa syukur.
"Yang benar Dit?" Herlambang bertany kepada sang menantunya karena dia belum percaya 100%.
"Dito ikut meneteskan air mata sambil memeluk sang istri. Iya pa doakan kami bisa mengemban amanah ini. Aamiin.
"Aamiin" Semua yang ada di situ serempak mengamini ucapan Dito.
"Bik Sri tolong siapkan nasi kuning. Kita makan nasi kuning pagi ini. Dan untuk pak Sapri sehabis ini ikut saya ke pasar tradisional untuk untuk membeli beberapa ikan dan lauk yang lain.
"Baik Nya." Baik Sapri maupun mbok Sri dengan kompak
Semua ada heboh mendengar keluarga majikannya menyambut calon cucu yang ada di perut mamanya. Herlambang langsung menelpon anak laki-lakinya
"Assalamualaikum Nak, Minggu depan kita adakan syukuran di panti asuhan. Dan beri semua pegawai berlabel HE 1 kali gaji." Ucap Herlambang yang tak kalah heboh
"Memang ada apa pa kok heboh sekali." Tanya Tyo di sebrang sana
"Adikmu Caca sedang mengandung. Kamu akan menjadi Om." Herlambang menjelaskan dwngan sangat lantang.
__ADS_1
"Alhamdulillah akhirnya semoga bayinya bisa selamat sampai lahir." Tyo ikut mendoakan calon keponakannya.
"Aamiin. Nanti malam kamu ke sini. Kita makan malam bersama. Dan ajak teman perempuanmu itu." Perintah herlambang yang sekaligus ingin mengenal perempuan yang disukai anak laki-lakinya tersebut.
"Lah pa. Memang aku punya pacar aku tidak punya Yah." Tyo menyangkalnya.
"Kalau tidak kamu bawa biar anak buah papa yang jemput. Pacaran atau tidak bawa dia kesini. Dah aku tutup dulu. Assalamu'alaikum" perintah Herlambang tidak bisa diganggu gugat.
Tyo belum menjawab salam sudah dimatikan hpnya.
...****************...
Di sebrang sana pagi-pagi dia sudah berdebat dengan ayahnya. Ayahnya mengetahui kos Ara. Dan sesuai dengan dugaan Ara pasti ayahnya masih belum sembuh.
"Untuk apa anda kemari?" Tanya Ara kepada ayahnya.
"Anak tak tau diri. Aku ini Bapak kamu." Ucap bapaknya sambil meletakkan tangannya di pinggang dan memakai nada yang keras.
"Heh anak tak tau diuntung gue sudah membesarkan mu. Inikah balasanmu?" Ucap ayahnya yang masih tidak mau mengalah.
"Anda membesarkan saya dengan hasil uang ngamen saya. Anda bisa makan dan judi gara-gara uang saya juga. Sekarang anda bilang saya lupa dengan anda? Wah apa anda tidak punya cermin di rumah? Ups rumah saja anda juga gak punya bagaimana bisa ngaca? Ara terlihat meremehkan bapaknya.
"Dasar bocah sialan sini kamu kemarikan uangmu aku sudah gak tahan." Bapak ara menyerwt putrinya ke teras kontrakannya.
Sedangkan Ara yang diperlakukan seperti itu dia melawan tanpa sengaja sikut dan dahinya terkena dinding.
Dari kejauan Tyo melihat semuanya ia kemudian menolong Ara. "Kamu gak papa?" Tiyo membantu Ara yang terdusuk di lantai.
"Wah siapa ini. Apa ini calon mantuku?" Bapak Ara mengembangkan senyumnya. Dia sangat senang melihat laki-laki di depannya mengenakan jaket warna biru dongker dengan dalaman warna putih
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa Ara?" Tyo berucap sambil membantu pujaan hatinya berdiri. "Aa yang anda lakukan dengan wanitaku?" Tyo berteriak sambil menggam kuat tangannya ia sangat ingin memukul orangbyang ada di depannya.
"Heh bocah tengil jangan ikut campur. Sini serahkan uangmu akan aku berikan ke kamu." Bapaknya Ara dengan entengnya berucap seperti itu. Dia tidak tahu malu. Padahal dia sudah menjadi kerumunan banyak orang di kompek tersebut. Karena suara keras mereka membuat orang yang lewat akhirnya berhenti dan menonton pertunjuk gratis.
"Ini saya beri kartu atm isinya cukup untuk hidupmu sampai kamu mati. Tapi ingat segera kau pergi dari sini dan jangan pernah muncul di kota ini. Kalau tidak kamu akan tanggung sendiri akibatnya. Dan 1 hal lagi kartu ini hanya bisa ditarik 200ribu per bari." Tyo menyerahkan sebuah kartu atm kepada bapak Ara."
"Lumayan, bisa untuk bertahan hidup." Bapak Ara membolak balikkan kartu tersebut.
"Silahkan ikut dengan anak buahku dia akan menunjukkan tempat tinggalmu. Aku harap kau juga suka tinggal di sana." Tyo menyuruh bapak Ara dan anak buahnya untuk segera pergi ke tempat itu.
Ara hanya diam saja dia masih tidak percaha dengan kedatangan bapaknya yang mengacau dan terlebih lagi disaksikan oleh Tyo.
"Maafkan kekacauan ini. Aku akan membala s semua yang kauberikan hari ini. Oh ya ayo masuk dulu." Ara berucap samb menunduk. Ketika ia mau melangkah tapi ternyata kakinya tersandung oleh kaki yang satunya alhasil ia tersungkur.
Belum sampai terjatuh tubuh Ara sudah ketarik ke belakang oleh Tyo "Hati-hati Ra." Tyo berucap masih sambil memeluk pujaan hatinya.
Ara yang dapat perlakuanseperti itu seketika dia mematung. Yang dia dengar hanyalah detak jantung Tyo yang berdebar kencang. Sesaat setelah dia sadar dia langsung membenarkan baju dan rambutnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri untung orang-orang tadi audah bubar." Ayo masuk! Gak enak jika jadi tontonan orang saja." Ara berucap sambil berlalu menuju ke dalam kosannya.
Tyo mengikuti arahan Ara. Dia langsung duduk di ruang tamu tersebut. Tyo lalu mengamati isi kosan Ara. Ternyata di situ hanya ada 1 ruang tamu yang menyatu dengan ruang TV dan dapur lalu 1 kamar. dan 1 kamar kecil kelihatannya itu kamar mandi.
Setelah beberapa saat Ara menaruh teh dan biskuit di toples kecil. "Silahkan di cicipi. Maaf ini yang ada hanya seperti ini." Ucap Ara sambil duduk di dekat Tyo. Ya memang sofa di rumah ini hanya ada 1 dan meja juga 1.
"Apa kamu punya salep? Sini aku olesin biar nanti tidak jadi lebam." perintah Tyo yang melihat luka di Ara.
"Gak usah nanti aku bisa sendiri" tolak Ara.
"Kalau tidak mau ambil biar aku yang ambil. Aku akan masuk ke kamarmu dan mencari sendiri." Tyo mulai memaksa
"Oke-oke akan aku ambil. Kamu duduk saja di sini. Jangan kemana-mana." Perintah Ara
__ADS_1
Tyo hanya senyum-senyum melihat tingkah pujaan hatinya yang manyun.