
Tepat 3 minggu Dito di rawat di rumah sakit HE, Dito sudah merasa jenuh dia ingin pulang.
"Sayang ayo pulang." Rengek Dito kepada istrinya.
"Mas, Kamu belum sembuh total. Ini saja kadang masih mengeluarkan air." Fransiska ngomel sambil menunjuk pada luka yang ada di dada suaminya.
"Tapi aku bosan. Aku gak nyaman di sini. Kita ke apartemen atau ke rumah mamah saja gimana?" Pinta Dito kepada istrinya.
"Hemm karena kamu memaksa kita pulang hari ini tapi harus ada perawat yang jaga dan aku gak mau perawatnya perempuan." Fransiska memberikan persyaratan itu dengan maksud agar tubuh suaminya tidak dijamah oleh perempuan lain.
Dito tersenyum dan hanya mengangguk-angguk dia tahu maksud ucapan istrinya itu.
"Aku telpon Kak Tyo dulu biar dia urus semuanya." Fransiska berucap sambil mengeluarkan hpnya. Fransiska menelpon kakaknya dan memberi tahu kalau menambah satu suster.
Tyo di sebrang sana hanya mendengarkan dan hanya membalas 1 ucapan. "ya" Tidak ada yang lain karena semakin dia membalas ucapan adiknya maka permintaannya akan semakin aneh-aneh. Dan setelah menutup telponnya dia langsung menghubungi seseorang agar seger terlaksana ucapan Fransiska tersebut.
...****************...
Jam istrahat sudah tiba Rendi keluar bersama Alfin dan Bryan menuju kantin. Sedangkan Resti dan dila langsung menuju mading melihat pengunguman tentang lomba teater antar kelas.
"Wah kira-kira peran apa ya yang kita dapatkan nanti?" Tanya Dila kepada Resti, Kalau aku maunya jadi putri tidur, nanti Rendi datang dengakuda putih menghampiriku lalu dia menciumku agar aku bisa bangun." Resti berucap sambil membayangkan betapa indahnya bila hal itu terjadi.
"Halah mimpi terus gak bosan?" Ucap Vita kepada Resti, Vita adalah saingan Resti. Setiap Resti punya apa saja pasti Vita juga punya. Kecuali pertemanan. Walau Resti
cerewet tapi dia tidak jahat seperti Vita.
__ADS_1
"Syirik saja mak lampir." Jawab Resti langsung pergi menuju ke kantin bersama Dila.
Sedang Vita yang belum merasa puas mencari gara-gara bilang. "Awas kamu ya. Aku tidak biarkan perhatian Alfin selalu tertuju kepadamu. Aku akan membuat malu Kamu." Ucap dia dalam hati sambil memelototkan matanya dengan mulut yang komat-kamit.
Lira sebagai teman Vita hanya bisa pasrah.
...****************...
Di satu sisi sudah genap 1 bulan Haikal berada di penjara. Sidang perdana akan dilaksanakan 3 hari lagi. Beberapa saksi yang nantinya akan berada di persidangan akan hadirkan tak terkecuali Fransiska da keluarganya. Surat undangannyapun sudah berada di rumah Herlambang. Dan sejak kejadian ibunya kabur Haikal tidak ada yang menjenguk. semua orang seakan menjauh dari nama Haikal. Karena mereka tahu kalau berurusan dengan keluarga sultan ini pasti akan sulit hidupnya. Haikan kini hanya bisa tersuduk lemas. Beberapa hari yang lalu dia baru tahu kalau ibunya ditetapkan sebagai buronan. Itupun tahunya dari sobekan koran untuk pembungkus nasi goreng dari donatur yang ikhlas memberi setiap hari jumat.
"Aku harus bagaimana Ma? Kamu di mana? Aku sedah bosan hidup di sini." Ucap Haikal sampai meneteskn air mata. "Aku tidk mau membusuk di sini." Haikal beberapa kali mengisap mukanya dengan kasar.
...****************...
"Alhamdulillah kamu sudah boleh pulang nak."Ucap Herambang sambil mendekat ke kursi roda di tempat menantunya duduk.
Ya Dito saat ini duduk di kursi roda. Tadi sudah dibantu dia perawat yang bertugas memah Dito saat akan naik turun kursi roda.
"Terima kasih yah. Ini saja kalau Dito tidak ngotot pengen pulang istriku tidak memperbolehkan aku pulang. Padahal aku sudah bosan." Ucap Dito sambil memasang wajah yang memelas.
"Tapikan Mas kamu memang belum sembuh bener. Jangan ngeyel kalau dikasih tahu." Ucah Fransiska yang agak meninggikan ucapannya sambil melotot melihat sang suami.
"Sudah sudah kita masuk saja dulu. Jangsn ribut di sini. Gak enak di dengar sama tetangga." Ucap Ida yang agak nyleneh di dengar di telinga Rendi.
"Mana ada tetangga yang bisa mendengar orang rumah saja dikelilingi tembok cina." Rendi hanya bisa berucap di dalam hati.
__ADS_1
"Oh ya Pa kenalin ini dua perawat yang akan membantu merawat Mas Dito untuk beberapa hari ini yang putih tinggi ini namanya Rizal dan yang hitam manis ini namanya Sinto.
Akhirnya mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Mereka berdua sangat yang Rizal berasal dari Kota S dan yang Sinto dari kota K. Setelah mereka saling menyapa Herlambang menyuruh anak, menantu dan 2 perawat itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Dito dan kamu Ca sementara di kamar bawah saja dulu. Dekat kamarnya Rendi. Biar nanti mbok Sri menyuruh anaknya menurunkan beberapa keperluan kalian. Istirahat saja dulu nnti kalau sudah makan malam kita berkumpul di meja makan." Perintah Herlambang kepada anak dan mantunya.
Mereka berdua hanya mengangguk
"Mbok bantu kakak2 ini untuk menempati kamar di pafiliun belakang yang dekat danau. Biarkan mereka istirahat dulu." Ida menyuruh mbok Sri melihat anaknya yang datang dengan 2 perawat.
"Baik Nyah. Mari mas saya bantu." Ucap mbok Sri kepada 2 perawatnya.
"Terimakasi pak. Kami permisi dulu." Ucap salah satu perawat dan yang satunya tersenyum sambil membungkukkan badannya.
"Tidak usah sungkan-sungkan nanti kalau kamu menginginkn sesuatu bilang ke saya."
Ucap mbok Sri sambil mengantarkan ke2 tamunya ke pafiliun belakang.
Kedua perawat itu hanya sentum dan mengangguk. Mereka berdua sedang asyik menikmti kediaman Herlambang yang megah dan sangat indah. Mereka serasa di surga.
Setelah sampai di pafiliun tersebut mbok Sri mempersilahkan 2 perawat itu masuk dan meninggalkan mereka berdua agar istirahat.
"Wah beruntung ya kita bisa ke rumah bu bos." Ucap Sinto sambil melihat-lihat ornamen yang terpampang nyata pafiliun tersebut.
"Alhamdulillah kita bisa di sini. Semangat buat kita berdua." Rizal saling menguatkan agar betah di rumah gedongan ini.
__ADS_1