kenalpot cinta

kenalpot cinta
BAB. 19 Apa boleh mengulanginya?


__ADS_3

Sudah satu minggu pernikahan antara Fransiska dan Dito berlalu tetapi mereka tidk kunjung bulan madu. Fransiska masih enggan disentuh walau mereka sudah sering tidur bersama. Oleh karena itu orang tua Fransiska memberi saran kepada putrinya untuk mengunjungi pulau pribadi milik keluarganya.


"Ca bagaimana kalau sabtu depan kamu dan Dito berlibur di pulau pribadi milik kita? Di sana pemandanganya indah loo." ucap Herlambang kepada anaknya.


"Tapi ya aku masih trauma tapi pa aku masih trauma dengan tempat yang baru." ujar Fransiska sambil menunduk.


Dito hanya bisa mengelus punggung istrinya. Dia tahu apa yang dirasakan istrinya. Sebab ia pernah melihat sekali istrinya menangis ketika di depan cermin.


"Iya ca coba ajak Rendi dan Tyo. Anggap saja liburan bersama." Tambah Ida


"Gimana sayang? Kelihatannya bagus usul mama itu." Dito membujuk istrinya agar tidak stres. Dengan rutinitas ataupun dengan bayang-bayang bajingan itu.


"Oke deh ma aku mau. Semoga ini jadi awal yang baik."


"Aamiin" jawab semua orang di situ.


****************


Berbeda dengan Resti yang saat ini lagi nongkrong dengan si kembar Alfin dan Bryan dan Dila. Awalnya dia sebal mendengar suara telpolponnya yang berdering tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah. Dan dia menyuruh teman-temannya untuk berdiam sebentar


"Husssttt heh diam semua! pujaan hatiku nelpon kalian jangan berisik." Rerti menyuruh kawan-kawannya sambil memberi kode untuk diam. Lalu langsung mengeluarkan suara termanisnya.


"Halo Waalaikumsalam ganteng ku. Ada apa malam-malam telpon?"


Resti berucap sambil senyum-senyum. Teman-teman melihatnya serasa ingin muntah. Tapi berbeda dengan Alfin. Dadanya serasa sesak disaat wanita yang dia cintai lebih memilih bercara mesra dengan laki-laki lain.


"…"


"Oh tidak. memang ada apa?"


"…''


Resti mendengarkan Rendi berbicara "Sabtu besok pas kita mulai libur sekolah?"


"…"


"Ya aku gak ada jadwal kita mau kemana?" Resti Kembali diam

__ADS_1


"Benarkah kamu ingin mengajakku camping? oke aku tunggu waalaikumsalam." Resti menutup telponnya lalu, dia berloncatan sambil teriak-teriak seperti orang gila sambil menceritakan tentang ajakan Rendi untuk camping.


Flashback


Rendi dimintain tolong oleh Mama angkatnya untuk menelpon Resti. Karena Mamanya beranggapan Rendi dekat dengan Resti. Setelah sampai di dalam kamarnya Rendi mondar-mandir mencari ide bagaimana cara ngomong kepada Resti tentang rencana camping


"Ahh" Rendi menjabak rambutnya "buset deh aku jadi bingung sendiri bagaimana ya cara ngomongnya?" Rendi permonolog Dia terlihat sangat frustasi karena yang ditelepon adalah orang yang paling ia hindari karena dia tahu kalau Resti sangat mengidolakannya dah gue telepon saja perkara kalau ada masalah nanti urusan belakang. Rendi mengambil hp-nya lalu menelpon Resti


"Assalamualaikum" Rendi


"Halo Waalaikumsalam ganteng ku. Ada apa malam-malam telpon?" ajawab Resti di sebrang sana.


"Apakah aku mengganggumu?" Rendi berucap dengan hati-hati


"Oh tidak. Ada apa?" Resti bertanya


"Emm Apa.. apa kamu sabtu besok ada jadwal?" Rendi berbicara dengan suara yang ragu


"Sabtu besok pas kita mulai libur sekolah?


"Ya aku gak ada jadwal, kita mau kemana?"


"Kalau tidak ada aku akan mengajakmu camping."


Resti Kembali diam Sejenak dia berpikir


"Apa benar kamu akan mengajakku camping?"


"Ya." Jawab Rendi singkat.


"Yasudah aku tutup dulu assalamualaikum." "Huuf" Rendi bernafas lega. "ini rasanya melebihi konser di atas panggung." Dia bermonolog.


...****************...


Berbeda dengan Rendi Di kamar pengantin baru Dua sejoli ini berada di teras kamarnya. mereka berbincang-bincang. Karena merasa haus Fransiska akan masuk sebentar ke dalam ambil air tapi tanpa sengaja dia terpeleset plastik yang tiba-tiba ada di situ, mungkin karena tertiup angin. Dia gk siap akhrinya terjengkang. Dito yang melihatnya bermaksud ingin menolong tapi naas dia malah menindih tubuh istrinya. Tubuh mereka menyatu dan tanpa di duga bibir mereka ikut menyatu. Dito tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia menyesap bibir ranum sang istri. Perlahan tapi pasti, ciuman itu jadi semakin menggairahkan. Awalnya Fransiska takut. tapi karena ada gejala yang berbeda ketika disentuh oleh sang suami akhirnya dia pasrah. Baik Fransiska maupun Dito melakukannya pertama kali jadi mereka merasakan debar jantung yang berpacu satu sama lain.


"Miong..." Tiba-tiba mereka berdua kaget dan melepas satu sama lain. Dito Berdiri dan melihat istrinya yang tersenyum tersipu malu.

__ADS_1


"Ayo kita masuk. Sudah malam." Ajak Dito sambil membantu istrinya bangun. Dito memapah istrinya ke atas tempat tidur.


Fransiska menurut Dia masih berdebar dwngan kejadian tadi. Sentuhan suaminya ternyata membuat area sensitifnya berdenyut.


Sama dengan Feansiska pisangnya Dito sudah menjadi pisang ambon.


"Apa boleh aku mengulanginya?" Dito bertanya kepada Fransiska. Dengan suara yang parau. Mungkin ini yang di bilang kedapatan durian runguh. Rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dito memulai dengan mencium bibir sang istri tak berapa lama piyama yang dipakai bergambar bunga-bunga itu hilang entah kemana. Terpampang nyata di depan mata, gundukan yang pernah Dito lihat tapi belum pernah dirasakan. Dito mulai melepas bra yang berwarna merah itu, dia memainkan gundukan itu dengan satu tangan dan mulutnya mulai melakukan ciuman panas terhadap sang istri.


Fransiska terengah-engah ketika sang suami melumati bibirnya dan mengapsen semua gigi dengan lidah. Fransiska mulai mengeluarkan suara ******* ketika Dito mengecup mulai dari lereh lalu hinggap ke dadanya. "Aahhh..."


Dito memainkan Squishy dengan sangat berimama sesekali sambil memutar-mutar puncak dada istrinya.


"Yang bolehkah malam ini?"


Fransiska tidak menjawab dia hanya mengangguk. Dia memasrahkan dirinya kepada suami. Fransiska pasrah dengan segalanya. Karena mama Ida pernah bilang kalau suami tidak dilayani apalagi dalam hal ranjang maka akan mencari yang bisa memuaskannya. Hal ini memaksa dia berfikir keras. Dia tidak ingin suaminya berpaling kepada perempuan lain.


Dito sudah telanjng begitu juga dengan sang istri.


"Maaf sayang ini agak sakit" Dito berucap sambil mengecul kening istrinya sebelum menyatukan pisangnya dengan apem sang istri.


"eggh. ..." Dito mengulang hingga tiga kali baru bisa masuk sampai dalam.


"Aw..." Fransiska membekap mulutnya. Apemnya Diteobos pisang ambon hingga dalam.


Dito diam sebentar dia mengatur nafas sambil merasakan jepitan sang istri. Setelah agak merenggang Dia perlahan mulai mengatur tempo dengan irama yang khas.


"ah...aah ...ah" Fransiska mendesah setiap pisang itu masuk sampai mentok.


"Sayang enak kan?" Dito tanya tentang servis yang diberikan suami kepada istriny tercinta."


"Enak sa....say...yang."Fransiska menjawab dengan merasakan sodokan sang suami.


Tak berapa lama mereka melepaskan hasratnya secara bersamaan.


"Terima kasih sayang. Sudah berkorban demi aku."


Mereka akhirnya istrarat bersama akan tetapi Dito menjelang agi tambah dua kali.

__ADS_1


__ADS_2