
Alfin menggebrak menggebrak pintu wc tersebut di sana sudah ada Resti yang tergeletak lemas dia pingsan Alfin lalu memanggil namanya "Res Res bangun Res bangun." Ucap Alfin sambil sesekali melihat nadi pergelangan maupun lehernya. Dia juga ngecek nafasnya
Resti tidak menyahut walaupun sudah ditepuk-tepuk pipinya beberapa kali, tapi dia tetap pingsan melihat hal itu Rendy langsung berinisiatif memanggil ambulans.
Tak jauh beda dengan Resti Dila pun bernasib sama dia juga sudah lemas karena memiliki riwayat sesak nafas dia pingsan sambil membawa inhaler. Alfin membopong Resti sedangkan Dila membopong Dila. Rendi yang punya riwayat jantung hanya bisa mengikutinya dari belakang. Dia mengarahkan untuk dibawa ke teras depan. Karena ambulan akan segera datang. Rendi juga menghubungi Kak Tyo agar menelusuri siapa dalang dibalik kejadian ini. Setelah beberaa saat abulan datang mereka berdua dibawa ke rumah sakit HE terdekat.
"Kamu ikut aku saja Ren biar Alfin yanv ikut ambulan." Usul Bryan kepada Rendi.
"Ya gak papa aku ikut kamu saja. Lagian jemputanku belum datang." Ucap Rendi
Akhirnya mereka dibantu pihak guru yang kebetulan masih di situ ikut membantu.
...****************...
Sedang di rumah Fransiska terlihat pendiam. Fito yang melihatnya ingin sekali menghibur tapi dia sendiri masih lemah. Hanya bisa merayu dengan ucapan. Dibantu perawatnya Dito masuk ke kamar Fransiska.
Setelah itu perawat itu prgi.
"Sayang apa ada sesuatu?" Tanya Dito yang duduk di sebelah Fransiska sambil membelai rambut sang istri. Dito takut dengan keadaan istrinya yang kembli seperti dulu lagi. Dia dari tadi hnya diam. "Ayolah Cantikku kamu pengen sesuatu atau mau apa gitu bilang saja nanti akan aku usahakan untukmu." Dito masih berusaha merayu sang isrti agar tidak diam membisu.
"Mas aku mau sesuatu tapi jangan ditertawakan. Entah mengapa aku mau itu."
Fransiska berucap dengan sangan pelan tapi sedikit manja.
Tanpa aba-aba pikiran Dito sudah menjuru ke hal yang ngeres/sedikit agak porno. wkwkkwkwk." Yang aku masih sakit. Maaf aku gak bisa." Dito membekap pisangnya yang masih seperti pisang ulin.
Fransiska tahu maksud suaminya langsung mencubit pahanya. " Heh pikiran jangan kotor. Aku mau makan sambil naik motor keliling-keliling naik motor kamu." Fransiska cemberut.
Sedangkan yang diajak bicara langsung tertawa sambil menahan rasa sakit.
"wkwkwkwkwk Sayang, kamu ini aneh-aneh saja seperti orang nyidam. Kalau sekarang aku belum bisa. Gimana kalau ngajak Rendi atau Kakak Tyo?" Usul Dito kepada sang istri.
__ADS_1
"Aku maunya kamu! Bukan yang lain. Nanti rasanya akan berbeda." Fransiska sedikit meninghikan suaranya.
"Iya sayang tunggu 1 minggu lagi ya. Nanti aku kan mengabulkan segala keinginanmu. Jangan cemberut dong. Nanti bebekku ini gak cantik lagi." Dito berusaha menghibur sang istrinya agar tetap ceria.
...****************...
Lain halnya dengan di rumah sakit. Semua sudah siuman dan diletakkan dikamar VVIP yang berbeda. Di kamar Resti ada Alfin dan Bryan.
"Gimana keadaanmu Res, sudah baikan?" Alfin tanya ke Resti setelah membuka matanya.
"Alhamdulillah aku sudah mendingan. Apa kamu yang membawaku ke sini?" Tanya Resti masih dengan keadaan yang lemah.
"Maaf aku terlambat." ucap Alfin sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, terima masih." Resti berucap sambil menetaskan air mata.
"Jangan menangis ada aku." Alfin membasuh air matanya menggunakan tisu. "Tadi aku sudh menghubungi mamamu tapi orang tuamu masih datang besok."
"Dah lah kita berdoa sja yang terbaik. Masih ada kami yang slalu menemanimu." Alfin memberikan semangat kepada pujaan hatinya. Walau cintanya tak berbalas tapi rasa ini selalu ada di hati.
Kali ini Bryan tidak berucap apa-apa dia diam dn hanya sesekali mengangguk-angguk ketika duduk di sofa. Dia tidak mau merusak momen indah saudaranya. Sesekali dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
...****************...
Di kamar berbeda orang tua Dila sudah datang. Rendi sudah menjelaskan kronologinya kepada orang tuanya tersebut.
"Terima kasih banyak nak. Kami berhutang budi kepada kalian semua." Ucap ayah Dila kepada Rendi.
"Gak papa pak sesama temn kita harus saling membantu." Rendi berucap secara sopan.
"Kami juga sudah mendapatkan rekaman cctv. Besok pelakunya beserta orang tua akan di panggil ke sekolahan. Saya harap besok bapak juga datang ke sekolahan." Ucap pak Jodi guru yang mengantar anak-anak ke rumah sakit.
__ADS_1
"Terima kasih pak" Balas ayah Dila sambil menjabat tangan kepada guru Dila
"Sama-sama kalau begitu kami permisi dulu sudah malam." Pak Jodi meminta izin untuk pulang.
Akhirnya Pak Jodi dan Rendi keluar mamar pasien. Tadi juga sudah berpamitan dengan si kembar jadi pak Jodi dan rendi tidak mampir lagi ke kamar Resti.
"Nak kamu di jemput?" Tanya pak Jodi kepada Rendi.
"Iya Pak. Pak Sapri sudah di depan." Rendi menjawab pertanyaan dari Pak Jodi.
"Gimana sakitmu apa masih sering kambuh?"
"Tidak pak. Saya rutin meminum obatnya ada saya juga masih sering kontrol ke dokter."
Mereka terus melakukan perbincangan tanpa sengaja mereka sudah sampai di parkiran.
"Itu pak Pak. Pak Sapri sudah menunggu saya permisi dulu." Rendi berucap sambil meminta salim kepada pak Jodi.
Pak Jodipun mengulurkan tanganya dan sambil berkata "Hati-hati di jalan."
Rendi menganggukkan kepalanya lalu prgi meninggalkab Pak Jodi begitu juga dengan pak Jodi dia memutuskan untuk pulang.
...****************...
Di kota M Claudia hidup sebagai gelandangan dia memakai baju yang lusuh dan kumel. Mukanyapun sudah tidak glowing lagi.
"Awas Kalu Herlambang Kau akan mati di tanganku." ucap Claudia bermonolog. Dia sangat membenci keluarga Herlambang sampai ketulang. Padahal kalau dikaji ulang yang salah sebenarnya suami Claudia sendiri. Mengapa dia harus korupsi.
"Aku harus mencari cara agar bisa kembali ke ibu kota.".
Ya Claudia sangat ambisius. Segala cara memang dilakukan agar dirinya bisa kaya. Bahkan dia juga yang menyuruh suaminya untuk korupsi agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya yang glamor tersebut. Claudia bahkan rela tidur dengan beberapa orang berduit demi menyambung hidupnya ketika ditinggal mati oleh suaminya.
__ADS_1