
"Marco! Salah satu menuju ke arahmu!” peringatan datang dari Haruhiro.
"Aku tahu! Kau tidak perlu memberitahu aku!” balasan datang dengan cepat dari Marco.
Barto dan Udin ditempatkan di depan, sementara Vina dan Alice bertarung dari jarak jauh. Salah satu dari tiga Goblin yang Barto dan Udin lawan telah menyelinap melewati mereka, lantas menyerang ke arah Vina dan Alice. Marco adalah orang yang paling dekat dengan salah satu Goblin yang menerobos. Meskipun ia dan Haruhiro
mendukung lini depan dengan berada satu langkah di belakang Barto, mereka juga punya tugas lain untuk melindungi dua gadis yang menyerang dari kejauhan. Marco bergerak untuk mencegat monster itu.
Meskipun terkadang Marco merusak formasi dengan lari ke sana-kemari dan melakukan berbagai hal semaunya
sendiri, kerja sama tim mereka telah meningkat dalam waktu tiga belas hari semenjak mereka pertama kali datang ke Damroww dan mulai berburu Goblin. Dan hari ini, Marco bisa bekerjasama tanpa protes dengan anggota Party lainnya.
Marco meneriakkan skillnya, "[ANGER THRUST]!", dan melancarkan serangan. Marco mendorong pedangnya pada Goblin dengan menggunakan skill yang baru dipelajari, tetapi jangkauannya terlalu jauh. Tentu saja, serangannya meleset jauh.
"Aku luput?! Di pasti bukan Goblin biasa!” Marco berpendapat.
"Tentu saja itu adalah Goblin normal!" Haruhiro membentaknya sembari bertukar tatapan dengan Udin.
Barto dan Udin pasti bisa menahan dua lawan sendirian, sehingga Haruhiro bergegas menyelinap tepat di
belakang Goblin yang menyerang Marco dengan menggunakan pedang berkarat miliknya.
"Sialan!" Marco melihat Haruhiro, sembari membelokkan serangan si Goblin.
Berhenti menatapku! Pikir Haruhiro sembari memutuskan titik mana yang harus ditargetkan.
Tidak hanya Marco yang belajar teknik bertarung baru. Semua anggota Party yang kembali dari Guild
mereka masing-masing, telah belajar skill baru. Namun, mereka semua masih pada tahapan mempelajari teknik tersebut secara teori, dan tak seorang pun berani menerapkannya pada pertarungan sebenarnya. Tapi tanpa keberanian untuk mencoba menggunakan skill itu dalam pertempuran, mereka tidak akan pernah menguasainya.
Karena ia telah membayar sejumlah uang untuk belajar teknik baru, maka Haruhiro bertekad untuk menggunakannya secara aktual.
Mudah diucapkan, namun sulit dilakukan. Entah kenapa, si Goblin terus memusatkan perhatian pada Haruhiro, monster itu pun mengayunkan pedangnya pada Haruhiro secara sembrono untuk menghentikan setiap serangan mendadak yang akan dilancarkan olehnya. Haruhiro kesulitan menemukan celah. Jika Marco bisa mengalihkan perhatian monster itu ... tapi tampaknya orang seperti dia tak bisa diharapkan. Marco bukanlah tipe petarung yang bisa melawan musuh secara langsung, dan begitupun dengan Haruhiro.
Mereka berdua takut menghadapi musuh secara langsung, dan lebih memilih untuk menyerang dari belakang, atau setidaknya dari samping. Itulah sebabnya, baik Haruhiro maupun Marco selalu mengepung si Goblin, dan mencoba untuk menyerang dari belakang. Tentu saja si Goblin tidak ingin ada seseorang yang berada di belakangnya, sehingga ia berputar-putar terus, dan pergerakan selanjutnya tidak bisa diprediksi.
"Seseorang…. lakukan sesuatu!" Vina menarik Kukri dan melompat ke arah Goblin.
Terkejut, Goblin berhenti bergerak beberapa saat, dan Vina mengayunkan Kukrinya dalam pola silang.
"[CROSS CUT]!"
Goblin menjerit dan mundur dengan cepat. Dia mendapati luka dangkal dari bahu sampai ke dada. Sekarang, dia kembali ke arah Haruhiro.
Sekarang! Bahkan saat ia memikirkan itu, tubuhnya sudah bergerak. Dalam sekejap, ia mendekati Goblin itu
dan mendorongkan belatinya pada punggung si monster [BACKSTAB]. Kulit Goblin cukup lembut, jadi belati Haruhiro terbenam empat inci ke dalam tubuhnya. Haruhiro menariknya kembali dan mundur, lantas si Goblin mulai terhuyung-huyung.
Goblin batuk darah, dan tampaknya dia bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. Lalu tiba-tiba dia terjatuh, namun masih hidup. Bahkan dalam keadaan seperti itu, dia masih bersikeras untuk melawan.
"Huh?" Haruhiro menatap Goblin yang sudah roboh. Dan Goblin itu pun balas menatap dirinya.”Apakah aku ... menusuknya pada titik yang fatal? Atau salah titik?”
"Aku harus membunuhnya!" Marco melompat ke arah Goblin dan memangkas leher si monster dengan pedang nya.”YESSS! Aku dapatkan Vice-ku!”
Vina menyempitkan alisnya.”Vina berpikir bahwa Dark Knights benar-benar biadab.”
"Aku bukan biadab! Aku hanya memiliki kekejam yang terhormat! Kami, para Dark Knights memberikan
persembahan pada Dewa Skulheill. Kelihatannya kami memang tidak manusiawi dan tidak punya perasaan. Namun kami berdarah ksatria dan tak pernah mencucurkan air mata."
"Oom rel eckt," Alice melantunkan sembari menggambar huruf elemental yang terbang di udara dengan tongkatnya.”Vel dasbor!"
Mage menggunakan kekuatan makhluk sihir yang disebut Elemental, dan bayangan Elemental yang baru saja
dipanggil oleh Alice berpenampilan seperti rumput laut hitam dan keriting. Itu adalah sihir mantra [SHADOW ECHO], dan sihir itu terbang ke depan sembari mengeluarkan suara VOOOSHH yang aneh.
Alice bisa memilih untuk belajar Alev, yaitu sihir api, Kanon, yaitu sihir es, atau bahkan Pfatlz, yaitu sihir petir. Tapi dia malah memilih Das, yaitu sihir bayangan. Haruhiro memiliki perasaan bahwa mungkin saja Alice sedikit mengungkapkan kepribadian aslinya.
Elemental bayangan menghantam tengkuk Goblin yang masih saja bertarung melawan Udin. Namun, itu
tidak hanya mempengaruhi kepalanya, melainkan seluruh tubuh monster itu mulai bergetar.
"Gah! Gah!”Goblin itu menjerit dengan suara aneh.
[SHADOW ECHO] bukanlah sihir yang membakar, membekukan, atau menyengat, melainkan memberikan kerusakan melalui gelombang berfrekuensi tinggi. Udin memang hebat, dia melanjutkan serangan Alice dengan memberikan pukulan menggunakan tongkatnya, kemudian menendang Goblin sampai roboh.
"[HATRED’S CUT]!" Marco dengan kejam menyerang Goblin yang sudah roboh.
Menyerang musuh yang sudah roboh adalah keahlian "khusus" yang dimiliki oleh Marco. Secara logika, dia bahkan tidak perlu menjadi seorang Dark Knight jika kemampuannya hanya seperti itu. Pedang Marco memangkas udara dan tidak mengenai musuhnya. Sabetannya dibelokkan setelah mengenai sisi kepala Goblin yang bertulang keras.
Marco pun kesal.
"SIALAN!! Kamu pikir kamu siapa?! Ambil ini! Dan ini! Dan ini!” Marco berteriak sembari memukul lagi dan lagi.
Sementara Marco “menyalahgunakan” Goblin yang sekarat, Barto masih bertarung melawan satu Goblin yang tersisa. Mereka harus menyelesaikannya, tapi tampaknya Haruhiro tidak perlu membantu. Goblin menyerang dengan liar, menjerit, dan menebas Barto dengan pisaunya yang berkarat. Barto meng-intersep serangannya dengan sempurna, dan menggunakan pedang raksasa untuk menangkis pisau berkarat itu. Pergerakan Goblin pun terhenti.
Barto berada di atas angin. Dia memiliki kekuatan yang cukup besar, dan dia telah belajar teknik tingkat lanjut. Sembari mendengus, Barto menangkis pisau Goblin dengan sabetan pedangnya sendiri, kemudian dia menggunakannya untuk memotong wajah Goblin, [SPIRAL SLASH]. Barto tidak memiliki kecepatan, tapi ia cukup gesit. Goblin meringis dan mundur ke belakang.
Haruhiro berteriak untuk memberikan semangat, "Majulah, Barto!" Dan Barto pun melangkah maju, kemudian dia memangkas secara diagonal dengan segenap kekuatannya, seraya berteriak.”MAKASIH!!"
Teknik Barto ini [RAGE CLEAVE] adalah skill paling dasar yang diajarkan untuk para Warrior selama pelatihan pada Guild Warrior. Itu tampak seperti suatu jurus yang bisa mudah dikuasai hanya dengan menonton saja, tapi sangat sulit untuk mengenai musuh dengan menggunakan skill itu. Alasan mengapa Barto berteriak "MAKASIH" bila menggunakan [RAGE CLEAVE] adalah, dia ingin mengucapkan "terima kasih karena kau sudah membiarkan aku untuk membunuhmu”.
Namun di balik kata yang terkesan penuh kasih sayang tersebut, tersimpan kekuatan pembunuh yang besar.
Pedang raksasa Barto memotong Goblin dari bagian atas bahu sampai ke tengah dada. Dia memutar pedangnya dan Goblin itu terangkat ke udara, dalam keadaan masih tertusuk. Kemudian, dengan tenaga kasar, Barto melemparkannya jauh-jauh. Goblin pun terbang ketika Barto mencabut pedangnya.
Marco berlari ke arah Goblin itu, dan meneriakkan jeritan kemenangan yang memekakkan telinga. Kemudian, dia mulai “membajak” Goblin dengan menggunakan pedang panjangnya. Vina tidak hanya berpikir bahwa tindakan Marco adalah brutal, namun juga benar-benar biadab. Dan ketika ia selesai memotong tubuh Goblin, dia menggunakan pisau untuk memotong salah satu telinganya yang runcing.
"Tiga Vice berturut-turut!" Dia tertawa dengan gembira.”Total semuanya adalah 11, dan itu bisa mengupgrade kekuatan iblisku! Aku bisa merasakannya, dan aku bisa memanggilnya untuk membisikkan sesuatu di telinga musuh, sehingga perhatian mereka teralihkan! Keren!”
"Apa maksudmu, 'Aku bisa merasakannya?" Haruhiro mendesah.”Jadi kau hanya bisa merasakannya? Sepertinya Demon milik Dark Knight tidak berguna pada kenyataan.”
"Hei! Aku mendengar itu, Haruhiro!”Marco balik menyembur. ”Jangan menghina Zodiak milikku! Aku akan menyuhurnya untuk mengutuk dirimu!”
Rupanya "Zodiak" adalah nama yang Marco berikan pada Demon miliknya. Atau apakah itu memang nama aslinya? Atau mungkin itu adalah nama hewan peliharaan? Haruhiro tidak tahu, tapi itu tidak masalah. Itu tidak mengubah fakta bahwa sepertinya makhluk itu tak banyak berguna
"Bagaimanapun juga, aku benar. Kau bahkan tidak bisa memanggil makhluk itu ketika siang hari, " kata Haruhiro.
"Bodoh! Setelah aku mengumpulkan 11 Vice, maka level Demon akan naik! Sekarang aku bisa memanggilnya saat matahari terbenam dan terbit!”
"Kita sudah kembali ke Atalante ketika matahari terbenam, dan tak seorang pun bangun ketika matahari terbit… maka tetap saja makhluk itu tak berguna."
"Betul. Tapi… " Vina bergabung dengan percakapan itu sembari menggembungkan pipinya. Tatapan matanya berkata bahwa dia sedang jengkel. Namun ekspresi wajahnya sulit untuk dibaca. ”Karena tuannya adalah orang *****, maka dia lebih baik sepertiitu.”
"Aku bukan tuannya! Demon tidak seperti hewan peliharaan! Ini semacam aku dikuasai oleh Demon. Bagaimanapun, dia adalah Demon!”
"Jadi itu berarti," kata Alice sambil tertawa lembut dan menghindari tatapan Marco, "sebelum kau menggunakannya untuk mengutuk Haruhiro…. Kau lah yang terlebih dahulu kena kutukan.”
"Ya, aku kira itu benar. Tunggu dulu …… APA?! Serius?! Zodiak, apakah itu benar? Jawaban aku, Zodiak! Oh, ini masih siang, jadi dia tidak akan mendengarkan kataku…"
"Kerja bagus, semuanya," kata Udin sembari menatap mereka dengan senyuman. ”Apakah ada yang terluka? Sepertinya tidak ada… tapi aku akan menyembuhkan siapapun yang terluka. Jika semuanya baik-baik saja, ayo kita lihat apa isi kantong Goblin kali ini.”
"Aku! Aku… Aku…. Aku! Aku akan melakukannya! Biarkan aku melakukannya!” Marco langsung menawarkan diri. Di dalam tiga kantong Goblin itu adalah tujuh perak, dua batu yang tampaknya berharga, tiga taring dan tulang yang tidak yakin bisa dijual ataukah tidak, dan beberapa potong sampah yang tak punya harga. Terlepas dari berapa harga yang akan ditawarkan untuk batu itu, berarti mereka telah mendapatkan sekitar sepuluh perak, atau setidaknya delapan perak.
Mereka telah meninggalkan Atalante pada jam tujuh pagi, tiba di Damroww sekitar pukul delapan, dan sekarang sudah lewat tengah hari. Mereka melanjutkan dengan mengubur mayat Goblin di dalam lubang yang dangkal, kemudian istirahat makan siang tak jauh dari tempat itu. Bekal makan siang mereka adalah roti, daging kering, dan
sejenisnya. Mereka menempatkannya pada ransel atau tas. Istirahat makan siang adalah saat-saat yang menyenangkan bagi mereka.
"Harus bersyukur." Vina memotong beberapa lembaran daging kering yang telah dia kemas, dan menempatkannya pada tanah. Sembari menutup mata dan menepuk tangannya, Vina pun berdoa. ”Terima kasih, Eldritch. Berikut adalah persembahan dari kami karena engkau selalu memberikan perlindungan.”
"Apakah berdoa dan memberikan persembahan sebelum makan…" Haruhiro bertanya sambil menggigit roti, "adalah sesuatu yang diperlukan oleh Guild Hunter?” Dia membelinya dari toko Tattan Bakery yang terletak di luar Nishimachi. Roti itu keras seperti batu, tapi murah dan terasa cukup nikmat.
"Ya," Vina membuka matanya dan berbalik untuk menatap Haruhiro. ”Dewi Putih Eldritch adalah serigala raksasa, dan hubungan buruk antara dirinya dengan Dewa Hitam Rigel, yang juga merupakan serigala raksasa. Kita bisa berburu dengan aman, ini semua berkat perlindungan Eldritch.”
"Dengan kata lain, para Hunters menyembah dia, ‘kan?" Kata Haruhiro. "Dewi Eldritch. Apakah tidak masalah bagimu, jika kau harus berdoa pada suatu eksistensi yang sangat minim informasi tentangnya?”
"Tidak apa-apa," Vina tertawa.”Eldritch berjiwa besar, menurutku dia tidak akan marah hanya karena hal seperti itu ... Toh juga tidak ada yang membuatnya marah.”
"Aku pikir ..." Alice memegang semacam kue donat di tangannya. ”Dewi Eldritch memahami perasaan Vina. Atau setidaknya, aku percaya begitu ...”
Udin mengambil minum dari labu kulit, dan mengangguk untuk menyetujuinya. ”Tentu, perkataan memang penting, tapi yang lebih penting adalah perasaan di balik perkataan tersebut. Ketika kami, para Priest, menggunakan sihir cahaya, mantra tidak bekerja jika kami melafalkan mantra yang salah, tapi itu tidak mirip seperti doa Vina pada
Dewi Eldritch.”
"Vina penuh dengan perasaan," kata Vina sembari membuka lengannya lebar-lebar. ”Ketika Vina tidur di malam hari, Eldritch datang pada di mimpi Vina. Vina bertanya apakah ia bisa menunggangi Eldritch, dan Eldritch mengatakan bisa! Vina naik ke punggungnya, dan Eldritch berlari begitu cepat! Itu sungguh luar biasa!"
"Jadi," kata Marco sambil mengerutkan kening dan mengunyah lembaran daging dengan suara berisik, "di mana bagian lucunya? Aku mendengar cerita kalian dari tadi untuk menemukan bagiannya yang lucu, jadi di mana bagian lucu itu? Jika kamu belum menyiapkan leluconnya dengan baik, maka aku bersumpah akan memukulmu!”
"Lelucon?" Vina berkedip dan memiringkan kepalanya.”Tidak ada bagiannya yang lucu.”
"Apa !?" Marco mengacungkan jari telunjuknya dengan lebay.”Bodoh! Apa bagusnya bercerita panjang-lebar tanpa lelucon?! Apa yang akan kau lakukan jika aku tenggelam dalam kekecewaan?”
"Memangnya kenapa?" Kata Alice dengan suara kecil.”Jika kau tenggelam…. Ya mati saja.”
"Hei!" Marco menunjukkan jarinya pada Alice.”Hei! Hei! aku mendengar itu! Aku mendengar apa yang kau katakan, Alice! Kau ingin aku mati, kan!”
"Aku hanya mengatakan. Memangnya kenapa kalau kau tenggelam?”
"Jika kau ingin aku mati, katakana saja dengan sopan! Kau sungguh buruk! Kau adalah manusia terburuk yang pernah aku temui! Paling buruk dari yang terburuk di dalam sejarah!”
"Ndak usah dipikirin, Alice," kata Vina sembari memeluk Alice dan menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. ”Kau tidak perlu mendengarkan omongan si makhluk rendahan ini. Alice tidak melakukan kesalahan apa pun. Makhluk rendahan ini adalah orang jahat. Dia begitu rendah, dan bahkan tidak bisa disebut manusia, ampun deh.”
"Aku masih manusia!"
"Seorang manusia berambut berantakan?" Kata Haruhiro seraya membela para gadis, "Ya, rambut berantakan ..." kemudian Marco memelototi Haruhiro setelah dia sadar bahwa sedang disindir.
"Rambut berantakan tidak ada hubungannya dengan ini semua!" Kata Marco sembari menarik-narik rambutnya. ”Bahkan, orang berambut berantakan adalah orang yang baik! Orang-orang yang tidak berambut berantakan tidak bisa disebut manusia!”
"Kalau begitu ..." Barto menelan roti seukuran kepalan tangan.”Tidak apa-apa jika aku bukan manusia."
"Vina juga," kata Vina.
"Aku juga," tambah Alice.
"Sama." Haruhiro setuju.
"Tunggu," kata Udin dengan ekspresi hampir serius.”Mari kita berpikir tentang hal ini secara rasional. Apakah rambut berantakan benar-benar masalah? Aku tidak berpikir itu adalah masalah. Sama sekali tidak ada yang salah dengan rambut berantakan dan juga si pemilik rambut tersebut. Bahkan, rambut berantakan mungkin adalah
korban di sini ...”
"Huh?" Marco menarik rambutnya.”Korban? Rambutku? Apakah itu berarti bahwa aku adalah si tersangka ?! Dan apakah itu berarti rambut berantakan akan menjadi hal yang buruk!?”
"Marco, aku hanya bercanda."
"Terkutuk kau Udin! Kau selalu menyeringai ketika mengatakan segala sesuatu, sehingga aku tidak bisa menebak apakah kau sedang serius ataukah tidak! Kau adalah seorang penghianat bertopeng tebal!”
"D-Dia tidak begitu kok!" Alice tiba-tiba berdiri dengan wajahnya yang memerah. Dia tampak begitu marah sampai-sampai terlihat uap yang melayang dari kepalanya. ”Udin bukan penghianat! Tarik kembali ucapanmu!”
Marco tersentak.”H-hei, meskipun begitu, aku ada benarnya, kan? Aku kan juga punya hak untuk mengejek orang lain."
"Tarik kembali ucapanmu!" Tuntut Alice.
"Baik! Aku paham. Aku akan menarik kembali ucapanku. Udin bukanlah penghianat. Dan dia tak pernah pakai topeng tebal. Dia adalah orang yang berjiwa putih. Begitupun dengan badannya. Badannya sangat putih. Aku melihat badannya setiap kali mandi bersamanya. Putih sekali. Sangaaaat putih. Bahkan terlalu putih untuk seukuran pria. Para wanita sekalipun akan iri ketika melihatnya”
"Putih ..." Alice bergoyang bolak-balik.”Badan Udin…. putih ...”
"Lebih putih daripada seorang gadis, ya," Udin mengangkat jubah Priest-nya dan juga kemeja di balik jubah tersebut.”Menurutku tidak begitu. Haruhiro, apakah badanku memang seputih itu?”
"Er, yahhh ..." Haruhiro melihat Alice dan Udin secara bergantian, berkali-kali.
Memang perutnya putih, tapi kulit Alice lebih indah. Tapi bukan itu masalahnya. Haruhiro memang sudah mencurigai hal ini. Namun sekarang dia semakin yakin bahwa Alice menyukai Udin. Apakah Udin tidak menyadarinya? Jika demikian, Haruhiro merasa kasihan padanya. Namun, ia juga memiliki perasaan bahwa sebenarnya Udin menyadari akan hal ini.
"Aku kira tubuhmu cukup putih, ahhh sekarang aku baru sadar. Ya, sangat putih. Dan kulitmu juga sangat halus, " kata Haruhiro.
"Kulit…. halus ..." Sepertinya Alice bisa pingsan setiap saat.”Kulit ... halus ..."
"Alice ... apakah kau baik-baik saja?" Vina berpindah tempat untuk mendukung tubuh Alice yang goyah.”Kau tidak boleh berfantasi terlalu dalam. Lebih baik kau berfantasi sesekali saja. Alice? Alice?”
Alice menghela napas berat, kemudian bersandar pada Vina, dengan gerakan linglung.
Ups, pikir Haruhiro. Mungkin aku berlebihan ... Tapi pada saat itu, dia menyadari betapa menarik dan manis gadis yang bernama Alice itu.
Marco mengejek dengan jijik dan mengabaikan mereka. Dia mulai makan bekalnya, sembari memancarkan aura muak. Apakah mungkin Marco cemburu karena dia juga menyukai Alice? Dan Alice tampaknya tertarik pada Udin, jadi Marco marah karena hal itu?
Jika memang demikian, Marco harus memikirkan kembali banyak hal. Selama ini dia tidak melakukan suatu hal
pun yang bisa membuat para gadis tertarik padanya. Bahkan, segala sesuatu yang dia lakukan hanya membuat gadis-gadis semakin membenci dirinya.
"Kita benar-benar sudah menjadi tim yang baik," bisik Udin.
"Oh?" Jawab Haruhiro.
"Kita bisa membunuh tiga Goblin sekaligus tanpa masalah, dan sekarang tak seorang pun terluka. itu berarti kita mengalahkan mereka dengan mudah. Vina semakin piawai dalam menggunakan Kukri dari busur. Sebenarnya, dia memang sudah baik dalam menggunakan kedua jenis senjata tersebut. Jika kita berencana dengan hati-hati kita mungkin bisa membunuh empat Goblin sekaligus.”
"Aku paham ..." Haruhiro memikirkan hal itu sejenak.
__ADS_1
Barto dan Udin bisa membunuh satu Goblin masing-masing. Sementara dia sendiri, Marco, dan Vina akan menangani dua Goblin lainnya. Alice bisa segera melumpuhkan seekor Goblin dengan skill [SHADOW ECHO]. Jika yang lainnya bisa membunuh lawan-lawannya dengan cepat, maka Goblin yang sudah dilumpuhkan oleh sihir Alice pasti bisa dihabisi dengan mudah.
"Ya, kita mungkin dapat menangani empat Goblin sekaligus," Haruhiro setuju. "Barto sangat diperlukan oleh kita. Dia begitu besar, sehingga eksistensinya saja sudah mengintimidasi lawan. Dia juga bisa menggunakan pedang raksasanya dengan akurasi yang baik, sehingga ketika ia mengayunkan itu, pukulan telak akan mendarat pada lawan.”
"Aku pikir juga begitu," kata Haruhiro.”Permainan pedang Barto cukup mahir."
Barto menelan kepalan roti lainnya.”B-benarkah? Aku tidak mengerti, tapi sepertinya aku suka melakukan pekerjaan yang membutuhkan presisi dan akurasi.”
"Itu tidak sesuai denganmu!" Marco meledak marah tanpa alasan yang jelas, sehingga membuat Barto gentar. ”Atau setidaknya itulah yang aku pikirkan."
Haruhiro melotot ringan pada Marco. ”Barto cukup bagus. Setidaknya, dia tidak seburuk pria berambut berantakan sembrono yang kata-katanya selalu menyakiti orang lain."
"Oh?" Marco balas. ”Apakah kau sedang membicarakan aku? Kamu tahu bahwa nama panggilanku adalah “Mesin Tornado Akurat”, kan?”
Vina yang masih menepuk-nepuk kepala Alice untuk menenangkannya, mengintip Marco dengan tatapan dingin.”Vina yakin bahwa tak pernah sekalipun orang lain menyebutnya dengan julukan seperti itu."
"Marco sangatkah menakjubkan " ekspresi serius Udin menunjukkan bahwa kali ini dia tidak bercanda.”Dia selalu menyerang, menyerang, dan menyerang dengan sekuat tenaga. Dia tidak pernah takut akan kegagalan, jadi dia mungkin akan menguasai skill lebih cepat daripada siapa pun. Semuanya, termasuk aku sendiri, kita cenderung
menghindari risiko. Jika bukan karena Marco, kita tidak akan pernah memulai suatu serangan pun.”
"Apakah begitu?" Ekspresi Marco menampakkan keraguan.”Kalau begitu, julukanku sekarang adalah Mesin Tornado Penyerang?”
"Terus Mesin Tornado Akuratnya dikemanakan?" Haruhiro mengatakan itu untuk mengoreksinya.
"Dan Alice ..." Udin berhenti. Sepertinya Udin harus berhati-hati ketika hendak menilai Alice, karena perasaan gadis itu sangat rapuh. ”Alice memiliki pemahaman yang baik tentang jangkauan yang lebih besar. Efek mantra Das adalah membingungkan atau menyengat musuh, dan juga mendukung tim dalam suatu pertempuran. Dia memilih
untuk belajar sihir bayangan, agar dia dapat membantu kita dalam keadaan darurat. Benar kan, Alice?”
Alice tampak terpesona sejenak, kemudian dia terdiam tapi mengangguk. Haruhiro pun berpikir bahwa sifat Alice memang seperti itu. Gadis itu lebih suka memilih mantra Das yang lebih khusus, daripada mantra umum seperti api, es, atau petir yang mudah dipahami. Mungkin itu tidak begitu cocok dengan dirinya, namun Alice tidak pernah memilih sesuatu hanya karena dia menyukainya. Dia memilih sesuatu berdasarkan apa yang paling dibutuhkan oleh semua anggota Party.
Aku idiot. Pikir Haruhiro. Aku benar-benar tidak tahu sama sekali.
Selanjutnya, Udin mengalihkan pandangannya kepada Vina.”Vina sangat berani. Mungkin dia lah yang paling pemberani di antara kita semua. Sebagai penyembuh, aku terkadang berharap bahwa dia lebih berhati-hati. Tetapi jika ada bahaya, Vina tidak akan pikir panjang untuk membantu.”
"Begitukah?" Vina menunjuk pada dirinya sendiri. Ekspresinya melunak. ”Vina memang tidak begitu takut ketika bertempur sih, namun selama ini tak seorang pun menyebut Vina sebagai pemberani. Mungkin kau benar. Maaf karena Vina tidak pandai memainkan busur, walaupun Vina adalah seorang Hunter.”
"Setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing, dan hal yang tidak bisa dilakukannya dengan baik," kata Udin pada dirinya sendiri. ”Mungkin kelemahan itu akan menjadi titik fatal bagi kita, tapi kita adalah tim. Kita saling menutupi kelemahan satu sama lain.”
"Benar," Vina mengangguk beberapa kali. ”Sangat benar. Mulai sekarang, yang terpentil adalah tidak merugikan tim, dan Vina akan melakukan yang terbaik untuk itu.”
Marco mengejek.”Terpentil? Maksudmu terpenting? Cobalah mengucapkan segala sesuatu dengan benar. Terpentil tidak punya makna.”
Vina langsung menutupi dada dengan tangannya. ”Vina bertanya-tanya, bagaimana rasanya memiliki dada yang pas. Itu pasti berbeda dengan milik Vina yang sekarang ini.”
Lebih baik segera menghentikan percakapan ini, sehingga Haruhiro pun menyela, "Mungkin punyamu adalah tipe KW II."
Vina memandang Haruhiro, dengan ekspresi yang benar-benar serius. "Haru, apakah kau benar-benar berpikir begitu?"
"Err ... mungkin saja. Siapa tahu?"
"Apa yang kau maksud dengan dada KW II? Apakah itu terlihat imut?”
"D-D.. ..." Barto mulai berkata. Perhatian semua orang tiba-tiba tertuju padanya. Keringat tiba-tiba mulai bercucuran pada dahinya, dan ia mengusapnya dengan satu tangan.”U-uh ... Sudahlah. Sungguh, lupakan."
"Sekarang aku semakin penasaran," kata Alice sembari terus menatap Barto.
Barto mengalihkan pandangannya ke tanah dan setelah beberapa saat, akhirnya dia berkata, "M-maaf."
Dengan permintaan maafnya, maka tidak ada lagi yang menatapnya ... sebenarnya apa sih yang ingin dia katakan? Alice bukan satu-satunya orang yang penasaran.
Obrolan berlangsung selama beberapa saat sampai mereka selesai makan siang. Kemudian pencarian Goblin di sore hari pun dimulai. Namun, Haruhiro menyadari sesuatu yang aneh. Udin sudah banyak memuji orang lain, tapi dia tidak mengatakan sepatah kata pun tentang Haruhiro. Mungkin saja Udin kebetulan lupa padanya. Atau mungkin memang dia tidak layak mendapatkan pujian.
Apakah Udin merendahkan Haruhiro? Meskipun mereka sering berbicara, apakah Udin hanya memandang dirinya
sebagai seseorang yang ingin menghidupkan suasana? Itu adalah pemikiran yang menyedihkan. Tapi bukan berarti Haruhiro sanggup mendekati Udin sekarang juga, lantas bertanya secara blak-blakan "Hey, bagaimana denganku?"
Mengharapkan pujian dari orang lain adalah suatu hal yang menyedihkan.
Lupakan saja, katanya pada dirinya sendiri.
Mungkin Udin hanya lupa, atau mungkin ketika Udin hendak memujinya, topik pembicaraan telah berubah tanpa sengaja, sehingga dia lebih memilih untuk melanjutkan pembicaraan. Pasti penyebabnya adalah salah satu dari kedua hal tersebut, dan begitulah asumsi Haruhiro. Dengan berpikiran positif seperti itu, hati kecil Haruhiro merasa
sedikti (sangat sedikit) lebih baik.
Konsentrasi. Dia harus berkonsentrasi pada tugas yang tengah dijalaninya.
Haruhiro mengangkat tangan, sebagai sinyal bagi tim untuk berhenti sejenak. "Ada sesuatu di sana ..."
Pengintai adalah yang terdepan, sehingga semua anggota Party dengan cepat bersembunyi. Dan seperti biasa, Haruhiro harus maju ke depan sendirian. Terkadang, Marco masih bersedia menemani Haruhiro untuk maju ke depan, tapi sejujurnya, lebih baik jika dia tidak mengandalkan pria itu.
Tentu saja, ia sebisa mungkin tidak membuat suara ketika bergerak. Tapi begitu ia punya cukup uang, ia ingin belajar skill Thief [STEALTH WALK]. Pasti ada semacam trik untuk bisa bergerak secara diam-diam, dan dia ingin mempelajari itu. Dia ingin Master Barbara mengajarinya.
Ada Goblin yang berada pada reruntuhan bangunan dua lantai terbuat dari batu. Sebagian balkon lantai dua sudah roboh, dan sebagian dinding di lantai pertama juga telah runtuh. Namun pada sisa-sisa balkon itu terdapat Goblin berarmor dengan pedang yang terikat pada punggungnya. Goblin lainnya sedang duduk di lantai pertama. Badannya cukup besar untuk seukuran Goblin.
Ukuran tubuh Goblin normal adalah setinggi anak manusia, adapun Goblin yang agak besar berukuran 4 kaki. Setiap Goblin yang mencapai tinggi lebih dari 4,5 kaki dianggap sebagai raksasa. Meskipun begitu, Goblin yang sedang duduk di lantai pertama itu tampak berbesa. Sulit untuk mengetahui dari jarak ini, tetapi tampaknya dia lebih
besar daripada Goblin yang berada pada sisa-sisa lantai dua.
[1 kaki = 30,48 cm, maka 4 kaki = 122 cm.]
Ini adalah pertama kalinya Haruhiro melihat Goblin seperti itu, dan dia juga tidak melihat dengan jelas jenis senjata yang dibawa oleh mereka. Yang jelas, mereka mengenakan armor pada tubuhnya. Haruhiro terus mengintai daerah di sekitar bangunan, tapi tidak ada Goblin lain di sekelilingnya. Jadi, Haruhiro berkesimpulan bahwa lawan mereka kali ini hanyalah Goblin berarmor dan Goblin raksasa. Dia pun kembali ke tempat yang lainnya berada.
"Kabar buruk," lapornya.”Hanya ada dua, tapi salah satunya sangat besar. Tingginya hampir sama seperti kita.”
Mata Udin sedikit melebar. ”Dia adalah Hobgoblin. Yaitu, suatu spesies Goblin lain, tetapi lebih besar dan lebih kuat daripada Goblin pada umumnya. Mereka cukup buas tetapi tidak begitu cerdas. Terkadang, Goblin lain menggunakannya sebagai pelayan.”
Marco menjilat bibirnya.”Jika dia memiliki pelayan, maka dia pasti cukup kaya. Artinya, dia pasti membawa sejumlah barang berharga.”
Haruhiro menggaruk dagunya dengan ujung jari. ”Mungkin saja benar. Dia mengenakan armor, dan Hobgoblin itu juga mengenakan armor serta helm. Tampaknya helm itu terlalu besar jika kita kenakan di kepala.”
Barto mendesah keras. Bagi Warrior, yaitu profesi yang mengharuskan dia mengadapi musuh secara langsung, alat pelindung adalah peralatan terpenting. Namun, harga armor sangatlah mahal. Mereka tidak mampu memberli armor jenis baru, sehingga satu-satunya pilihan adalah mendapatkan armor yang ukurannya pas dengan badannya, dan sangat langka. Atau pergi ke Blacksmith untuk menyesuaikan ukuran armor bekas. Oleh karena itu, baik mereka maupun Barto sampai saat ini hanyalah mengenakan alat pelindung bekas yang disediakan oleh Guild mereka
masing-masing.
"Dua Goblin." Udin menurunkan pandangannya ke bawah sambil berpikir.
Mata Vina mengarah pada langit sembari berkata, "Jika hanya dua, Vina pikir kita bisa menghabisi mereka dengan mudah.”
"Jika aku bisa menyegel salah satunya dengan sihirku…." kata Alice sembari membenarkan cengkraman pada tongkat, "…..pasti tidak akan sulit setelahnya."
"Vina juga akan mencoba untuk menyerang dengan busur. Walaupun Vina sering luput, panah Vina pasti akan menarik perhatian si Goblin .”
Udin melirik setiap anggota Party secara bergiliran. Mungkin ini karena Udin telah memuji mereka, tapi yang jelas, semangat mereka sedang membara dan semua anggota Party ingin ambil bagian pada perburuan kali ini. Ketegangan di udara lebih tebal daripada biasanya. Mungkin hanya Haruhiro yang tidak terlalu semangat karena dia tidak dipuji oleh Udin, namun dia tidak ingin merusak suasana.
"Ayo lakukan."
Suatu rencana pertempuran dibuat dengan cepat. Haruhiro, Vina, dan Alice akan menyerang duluan dari kejauhan. Setelah musuh menyadari bahwa mereka diserang, Barto dan Udin akan mengambil posisi di lini depan. Sementara Barto menangani Hobgoblin itu, Udin akan meladeni Goblin berarmor. Haruhiro, Marco, dan Vina akan menekankan serangan dari sisi, sementara Alice mendukung mereka dengan sihir jarak jauh.
Seluruh anggota tim membentuk lingkaran sembari saling berhadapan, dan menumpuk tangan mereka di tengah.
"Fight!" Udin meneriakkannya dengan suara rendah, dan anggota Party lainnya menanggapi secara serentak "Segalanya atau tidak sama sekali!" dengan suara pelan.
Mereka telah memulai ritual pra pertarungan kecil beberapa waktu lalu, tapi dalam hati Haruhiro, dia selalu merasa bahwa itu adalah ritual yang aneh. ”Mengapa harus berkata 'Fight!’ dan ‘Segalanya atau tidak sama sekali'?” Pikirnya dengan keras.
Alice memiringkan kepalanya ke satu sisi. ”Aku tidak tahu ... tapi entah kenapa, aku tidak asing dengan seruan macam itu.”
"Vina punya yang perasaan yang sama," kata Vina. ”Tapi Vina tidak tahu kenapa. Aneh ya."
Haruhiro memimpin Vina dan Alice untuk menuju bangunan bertingkat dua. Udin, Barto, dan Marco mengikuti pada jarak sekitar dua puluh kaki dibelakang. Panah Vina memiliki jangkauan yang lebih panjang, tetapi sihir Alice hanya berjangkauan 30 kaki. Apakah mereka bisa mendekati Goblin dalam radius 30 kaki tanpa terdeteksi?
Itu tidak akan mudah, atau bahkan mustahil, karena bangunan itu dipagari oleh puing-puing dinding yang agaknya masih cukup kokoh. Ada ruang terbuka berjarak sekitar 50 kaki antara dinding dan bangunan itu sendiri. Ketika mereka menyeberangi dinding, Goblin pasti akan memperhatikan mereka.
Haruhiro mendekat Alice. Aroma manis yang samar mengisi hidungnya. Bibir Haruhiro yang berada dekat dengan telinga Alice pun membisikkan sesuatu, "Alice, kau memakai parfum?"
"Hah? Apa yang kau bicarakan?” Kata Alice.
"Err, sudahlah. Maaf. Ini agak jauh, tapi dapatkan sihirmu mengenai Goblin dari sini?”
"Aku tidak cukup yakin ... tapi aku akan mencoba."
Alice menekankan tangan ke dadanya, dan berusaha menarik napas dengan tenang. Vina mencabut satu anak
panah dari tempatnya, dan melengkungkan busur dalam posisi siap. Tak satu pun dari Goblin tersebut melihat kearah mereka. Vina dan Alice secara bersamaan maju setengah langkah ke depan untuk meninggalkan dinding penghalang, dan Alice menggambar suatu huruf elemental terbang dengan menggunakan tongkatnya.
"Oom rel eckt vel dasbor!"
Suatu Elemental bayangan yang bentuknya seperti bola keriting hitam meledak dari ujung tongkatnya, dengan suara VOOOSSH yang keras! Pada saat yang sama, Vina melepaskan anak panahnya. Panah itu terbang di atas kepala Goblin berarmor, membuat dia terkejut, kemudian sihir Elemental itu mengenai Hobgoblin pada lengan bagian kiri. Hobgoblin mendengus, sembari seluruh tubuhnya mulai gemetar.
Goblin berarmor berbalik, kemudian melihat ke arah mereka.
"Mereka telah melihat kita!" Teriak Haruhiro.
"Ayo kita serang!" Udin memberikan perintah.
Hobgoblin mengambil suatu pentingan berduri besar yang tergeletak di dekat kakinya, dan mulai bangkit dengan gerakan sempoyongan. Mantra [SHADOW ECHO] telah bekerja dengan baik. Goblin berarmor itu juga memegang sesuatu. Benda apakah itu? Semacam senjata? Benda itu berbentuk lurus, dan dilengkapi oleh semacam miniatur busur pada ujungnya. Dan Goblin berarmor membidikkan benda itu secara langsung pada Haruhiro dan yang lainnya.
Haruhiro dengan cepat menyambar bahu Vina dan Alice, kemudian membuka mulutnya untuk memperingatkan
mereka agar kembali berlindung pada dinding. Tapi sebelum kata-kata itu keluar, panah meluncur ke arah mereka. Vina dan Alice jatuh ke belakang karena ditarik oleh Haruhiro. Dia mendengus dan mundur dengan cepat.
Kemudian, terasa suatu nyeri. Lengan kanannya. Suatu anak panah. Entah kapan itu terjadi, namun suatu
anak panah sudah tertancap pada lengan kanannya. Rasanya sakit. Sakit, sakit, SAKIIIIIT SEKALI. Dia membungkuk, berjongkok, dan mengerang. Tak peduli bergerak ataupun terdiam, rasa sakit itu terus menyengat dengan intens. Rasa sakit itu hampir tidak bisa membuatnya bernapas.
Alice terkaget saat melihatnya.
"Haru!" Vina menempatkan tangan pada punggungnya dengan lembut.
Haruhiro mengerang kesakitan. Jangan sentuh aku. Jangan sentuh aku. Karena rasa sakit ini begitu buruk. Apakah dia akan mati? Dia akan mati, kan? Kematian. Tidak mungkin. Dia tidak ingin mati. Tapi rasa sakit ini….. SAKIT. Bantu aku ... siapapun ... ini sungguh buruk. Dia tidak akan tahan.
"Haruhiro!"
Itu adalah suara Udin. Udin datang padanya. Dan tanpa peringatan apapun, ia menarik panah keluar dari lengan Haruhiro. Ketika panah tercabut, Haruhiro merasakan segumpal daging ikut tercongkel. Darah mengalir dari luka yang cukup lebar dan dalam. Udin, aku akan mati. Kau akan membunuhku agar aku tidak membebani tim ini, lakukan saja itu...
Tapi Udin tidak memperhatikan karena ia segera membentuk heksagram dengan tangannya dan mulai melantunkan mantra, "Oh, cahaya, di bawah perlindungan Dewa Luminous ... [CURE].”
Cahaya yang tercurahkan dari tangan Udin mulai membalut luka Haruhiro. Meskipun dia sedang disembuhkan,
rasa sakit sama sekali belum memudar. Haruhiro tersentak dan tersentak dan tersentak lagi. Rasa sakit itu begitu buruk, sampai-sampai dia kesulitan bernapas.
Akhirnya, rasa sakit mulai mereda. Dia akhirnya bisa bernapas secara normal, namun dia masih ragu-ragu menyentuh tangan kanannya. Lengannya terendam dalam darah, namun sudah tidak sakit lagi seperti tadi.
"Udin!" Itu adalah panggilan dari Marco. ”Cepat! Aku tidak bisa terus menahannya!”
"Apakah kau akan baik-baik saja?!" Udin berteriak pada Haruhiro, dan Haruhiro mulai mengangguk. Tapi Udin sudah bergerak menjauh ketika dia melakukan itu.
Oh, benar. Sementara Udin sedang menyembuhkan Haruhiro, yang lainnya masih bertarung. Haruhiro melirik
bangunan dan melihat Barto sedang bertarung melawan Hobgoblin, sementara Marco dan Vina berjibaku melawan Goblin berarmor. Apakah Udin berniat pergi untuk mendukung Marco dan Vina? Alice memukul Hobgoblin dengan menggunakan mantra [MAGIC MISSILE], tapi sihir itu hampir tidak mempengaruhinya.
Haruhiro kembali panik. Jika Udin bergabung dengan Marco dan Vina, mereka mungkin bisa mengatasi si Goblin berarmor. Tapi mereka juga harus melakukan sesuatu pada Hobgoblin.
"Bertahanlah, Bartp!" Teriak Haruhiro dengan semangat, sementara dia bersiap menuju bagian belakang Hobgoblin itu.
Hobgoblin pasti hanya terfokus pada Barto, karena dia sama sekali tidak memperhatikan kedatangan Haruhiro. Jika itu terjadi, maka seharusnya Haruhiro bisa dengan mudah melayangkan [BACKSTAB] pada musuhnya. Tapi entah mengapa, ia kesulitan mendekati monster itu, sehingga skill-nya tidak bisa diaktifkan. Hobgoblin itu sedikit lebih tinggi daripada Haruhiro, tapi dia tidak setinggi Barto. Lagipula perawakan Barto jauh lebih lebar.
Pentung berduri itu terbuat dari kayu, tapi itu cukup berat dan tebal. Jika terkena hantaman benda itu, bahkan armor baja milik Barto pun akan penyok. Terlebih lagi, armor baja yang Hobgoblin kenakan semakin menambah masalah. Tidak hanya bagian badan yang dilindungi oleh armor, melainkan juga kaki dan kepala. Dengan kata lain, hampir
tidak ada tempat bagi Haruhiro untuk menancapkan belatinya. Seluruh tubuh si Goblin ditutupi oleh armor.
“MAKASIH!!" Barto meneriakkan seruan Warrior sembari menggunakan skill [RAGE CLEAVE].
Haruhiro hampir saja berteriak untuk menyemangati Barto, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Pedang raksasa Barto membentur bahu kiri Goblin, tapi pukulan itu tidak membuatnya gentar. Bahkan lawannya tidak melancarkan serangan balik yang cepat. Lantas si Goblin mengayunkan pentungnya, dan Barto hampir tidak
sanggup membelokkan serangan itu. Tidak, sebenarnya Barto tidak membelokkan serangan itu. Pukulan itulah yang menyebabkan dia tersandung mundur. Kuda-kudanya kacau. Ini cukup buruk. Barto akan segera roboh.
Haruhiro menabrakkan dirinya sendiri pada punggung Hobgoblin. Dia berusaha menjegal lawannya, sembari menyodorkan belatinya secara bersamaan. Pisau itu menghasilkan suara bising yang memekakkan telinga ketika menggores logam. Tidak ada gunanya. Senjatanya tidak bisa menembus armor. Namun apapun itu, Haruhiro untuk sementara waktu berhasil mengalihkan perhatian si Hobgoblin. Dan sekarang Hobgoblin tersebut mengayunkan pentungnya ke arah Haruhiro. Dia melompat, dan nyaris saja terkena hantaman benda tumpul itu.
Namun, ini buruk. Dia takut. Dia merasa seperti semua organ internalnya rontok. Dia merasa seolah-olah setengah nyawanya sudah dicabut oleh malaikat kematian. Dia mundur tanpa sadar.
"A-Aku tidak bisa melakukan ini ..." bisiknya pada diri sendiri.
"Oom rel eckt vel dasbor!" Alice kembali melantunkan mantra. Elemental bayangan menghantam sisi Hobgoblin, dan dia terguncang dengan hebatnya.
Barto mengayunkan pedang raksasanya pada kepala Hobgoblin yang gemetaran dan tidak bergerak. Percikan api
terbang ketika pedang berbenturan dengan helm, dan membuatnya melengkung ke dalam. Si monster pun terhuyung-huyung.
"Sekarang!" Teriak Haruhiro sembari bergegas melaju ke arah lawannya dengan jegalan.
Hobgoblin memang menakutkan, tetapi jika mereka bisa merobohkannya ke tanah ... Namun, sebelum Haruhiro bisa bangkit, Udin pun meneriakkan namanya. ”Haruhiro, sebelah sini! Marco sedang ...!”
"Apa?!" Haruhiro melihat bahwa Marco telah roboh, dan darah merembes dari lehernya. ”Dia mendapat sayatan di leher!?"
Sementara Udin menyembuhkan luka Marco, Vina terpaksa menghadapi Goblin berarmor 1 vs 1. Goblin itu mengayunkan pedangnya pada Vina, dan terus menyudutkannya. Ini buruk. Haruhiro terpaksa menghadapi Goblin itu, dan menyela di antara si monster dan Vina.
__ADS_1
"Oy, Gob…..! Sebelah sini!"
Haruhiro berusaha mengalihkan perhatiannya, namun fokus Goblin berarmor tidak sepenuhnya tercurahkan padanya. Kini, dia dan Vina harus menghadapi Goblin berarmor. Tidak mungkin, sebenarnya kondisi Haruhiro belum pulih sepenuhnya, dan itu berarti tidak mungkin baginya menghadapi monster itu walaupun mendapatkan dukungan dari Vina. Goblin berarmor mengayunkan pedang yang panjangnya hampir sama seperti punya Marco. Dia menghindari serangannya. Menahan, menangkis, dan menghindar… hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.
Goblin ini berbeda dari Goblin lain yang selama ini dia hadapi. Dia cepat, lincah, dan Haruhiro punya perasaan bahwa makhluk ini sudah berlatih menggunakan senjatanya dengan baik, karena dia memainkan pedangnya dengan cukup tangkas. Haruhiro hanya bertahan dengan mengandalkan belati, dan jika dia melakukan satu saja kesalahan maka, dia sendiri pun tak tahu apa yang akan terjadi.
Apakah Barto baik-baik saja sendirian? Haruhiro khawatir, tapi dia tidak diberi kesempatan sedetik pun untuk mengalihkan tatapannya dari si Goblin berarmor.
"[SWEEPING SLASH]!" Vina menyerang Goblin berarmor dari belakang.
Itu adalah skill serangan dengan menggunakan Kukri, tapi Goblin telah membaca pergerakannya. Monster itu
memutar tubuhnya untuk menangkis serangan Vina, kemudian membalas dengan tangkisan yang menyebabkan Kukri milik Vina lepas dari genggamannya. Goblin berarmor bersiap untuk menghabisi Vina dengan sabetan terakhir.
"Aku tidak akan membiarkanmu!" Haruhiro melemparkan tubuhnya sendiri untuk menerkamnya, namun si Goblin juga sudah menduga serangan itu.
Sabetan pedangnya pun berubah ke arah Haruhiro. Tidak mungkin! Haruhiro berpikir demikian. Dia masih sempat mengayunkan belatinya untuk menangkis sabetan pedang itu, tapi ia tidak bisa sepenuhnya menghentikan laju pedang itu. Pedang Goblin menggesek dan meluncur pada tepi belati milik Haruhiro, dan terdengar suara desingan keras. Bahkan [CROSS GURAD] sekalipun tidak bisa menghentikan itu.
Pedang Goblin sedikit terbenam pada lengan kanannya, sehingga lagi-lagi membuatnya berteriak karena sengatan rasa sakit. Belati Haruhiro lepas dari tangannya. Goblin bergerak, dan memberikan serangan terakhir. Aku akan terpotong, pikir Haruhiro.
"[ANGER THRUST]!" Itu adalah serangan dari Marco. Serangan pamungkas Goblin berarmor meleset tipis dari targetnya.
Marco telah melompat dari samping, dan menyodorkan ujung pedangnya pada Goblin. Monster itu merunduk, dan
berhasil menghindari serangan Marco. Hanya jeda beberapa saat, monster itu pun melancarkan serangan balasan. Marco mundur ke belakang dan ke samping.
"Sial! Behentilah bergerak, dasar goblin kaya!” Marco mengumpat.
Wajah Marco pucat dan ia berkeringat deras. Luka telah sembuh, tapi darah yang sudah mengucur tidak bisa
dikembalikan. Meskipun begitu, dia berhasil menyelamatkan Haruhiro. Dua kali Haruhiro hampir kehilangan nyawanya hari ini. Lengannya terluka parah. Pedang Goblin telah memotong dengan luka yang dalam. Rasa sakit menyebabkan dia tidak sanggup memindahkan lengan kanannya, sehingga ia memaksakan diri untuk mengambil belati dengan tangan kirinya.
"Haruhiro!" Udin datang dan segera menyiapkan mantra sihir cahaya.”O cahaya, di bawah perlindungan Dewa Luminous ... [CURE].”
Haruhiro mengertakkan gigi melawan rasa sakit. Ketika lukanya sembuh, dia langsung mengamati daerah
sekitar. Barto, entah bagaimana caranya, berhasil bertahan dari semua serangan Hobgoblin dengan susah payah. Kakinya mulai goyah. Alice berjongkok, sepertinya dia kelelahan karena terlalu banyak menggunakan sihir. Mereka tidak mungkin lagi mengharapkan bantuan darinya.
Haruhiro memiliki perasaan bahwa meskipun Marco adalah orang yang ceroboh, dia mungkin bisa menahan Goblin berarmor lebih lama. Ternyata lengan Vina juga tergores, dan darah mengucur deras dari lukanya.
"Selesai," kata Udin. Haruhiro menyentuh lengannya untuk memeriksa bahwa lukanya sudah sembuh. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Vina.
"Vina! Ke sini! Udin akan menyembuhkanmu!” Teriak Haruhiro.
"Vina ndak papa!" terdengar jawaban darinya.”Vina masih bisa lanjut!"
"Haruhiro, gantikan posisinya! Vina, ke sini lah!” Udin memaksa.
Namun, ketika hendak bertukar posisi, pikiran Haruhiro dipenuhi ketidakpastian. Dia menyadari bahwa napas Udin sedikit terengah-engah. Apakah ia telah menggunakan sihirnya terlalu banyak? Kelas Haruhiro adalah Thief, jadi dia tidak tahu tentang aturan sihir. Dia kebingungan harus mengikuti siapa. Apakah dia harus menuruti kata hatinya
sendiri, ataukah perintah Udin. Tentu saja dia lebih percaya pada Udin daripada dirinya sendiri. Tidak masalah. Semuanya pasti baik-baik saja. Seharusnya tidak ada keraguan di dalam hatinya.
Haruhiro bertukar posisi dengan Vina. Dia ingin memberikan tekanan pada Goblin berarmor, tapi keragu-raguan membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Jika ia menyerang, ia takut akan menerima serangan balasan. Apakah Marco berpikir sama dengannya? Goblin itu terlalu terampil. Tidak ada lubang pada pertahanannya yang bisa ditembus.
Goblin juga mengenakan helm di kepalanya. Itu adalah Goblin yang tidak hanya dilengkapi armor, melainkan juga helm. Tidak mungkin. Walaupun Haruhiro bisa mendaratkan pukulan dengan belatinya, itu hanya akan dipentalkan oleh armor tersebut. Hal yang sama akan terjadi pada pedang Marco. Bagaimana dengan pedang raksasa milik Barto? Tapi Barto masih direpotkan oleh serangan Hobgoblin jadi ia tidak bisa menangani 2 lawan sekaligus.
Skak mat, Haruhiro tiba-tiba berpikir demikian. Mereka telah terpojok. Mereka tidak bisa memenangkan pertarungan kali ini. Tidak mungkin mereka bisa menang kali ini. Tapi dia sudah tahu akan hal itu. Dia sudah menyadari bahwa dirinya kalah telak, bahkan sebelum pertempuran ini berlangsung. Apa yang akan terjadi jika mereka kalah? Apa yang akan terjadi jika mereka dikalahkan? Apakah mereka akan mati? Akankah mereka semua mati?
Haruhiro melirik Udin, yang hampir menyelesaikan penyembuhan luka Vina. Setelah selesai, mereka berdua mendekat pada sisi Haruhiro.
"Haruhiro, bantu Barto!" kata Udin, dan Haruhiro mengangguk secara refleks.
Dia tidak yakin apakah meninggalkan mereka berdua adalah ide bagus, tapi Barto benar-benar perlu bantuan. Haruhiro bergerak untuk mengambil posisi pada pertarungan melawan Hobgoblin.
Kemudian terjadilah sesuatu. Hobgoblin meneriakkan pekikan yang mengerikan, sembari mengayunkan pentung berduri pada Barto. Dia menggerakkan pedang raksasanya untuk memblokir, tapi ia tidak bisa menghentikan serangan Hobgoblin sepenuhnya. Hobgoblin menyerang lagi, lagi, dan terus menghujani serangan pada Barto. Pentung itu hanya terbuat dari kayu, tetapi senjata itu sama sekali tidak pecah. Barto, yang tampaknya mulai kelelahan, meraih pedangnya dengan kedua tangan. Dia mencengkram gagang dan ujung pedang untuk memblokir hantaman Hobgoblin. Serangan itu sungguh luar biasa, dan dia terpaksa berlutut untuk mempertahankan
tubuhnya agar tidak roboh. Darah mengalir pada kepalanya karena salah satu duri menembus sisi kepalanya.
Hobgoblin menendang Barto sampai jatuh ke tanah, dan dia pun memberikan pukulan terakhir. Jika Haruhiro
membiarkan hal itu terjadi, maka ... ini sangatlah buruk. Sangatlah buruk. Haruhiro mengabaikan keraguannya untuk bertahan, dan langsung menyerang punggung Hobgoblin. Dia mentargetkan lengan monster itu, tapi tampaknya itu tidak mungkin.
Haruhiro berhasil menunggangi monster itu, namun Hobgoblin meronta-ronta untuk menjatuhkan dirinya. Monster itu mengeluarkan lolongan panjang penuh kemarahan.
"Teruskan, Haruhiro! Terus mengganggunya!” Udin berteriak sambil menyembuhkan Barto.
Tidak mungkin. Tidak mungkin bagi Haruhiro untuk terus bertahan lebih lama lagi. Hobgoblin menyikut rusuknya dengan begitu keras, sehingga Haruhiro hampir kehilangan kesadaran. Ini buruk. Jika dia pingsan, maka semuanya akan berakhir. Jika dia terlempar, maka dia akan mati. Dia pasti akan mati.
Inilah saat ketika sesuatu yang benar-benar menakutkan terjadi. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, tapi ia yakin bahwa tubuhnya terlempar dan punggungnya menghantam tanah. Hobgoblin menendangnya sebelum dia bisa bangun, sehingga membuatnya semakin tersemat pada tanah. Dia tidak bisa bernapas.
"B-Ban ...." Dia serak. Bantu aku ... Dia tidak tahu siapakah yang datang untuk membantu. Namun seseorang benar-benar mendekat ke arahnya.
Itu adalah Udin. Dia mendaratkan skill [SMASH] di kepala Hobgoblin dengan menggunakan tongkat pendeknya. Hobgoblin memiliki helm untuk melindungi kepalanya dari hantaman, namun, sepertinya teknik Udin sudah cukup untuk memberinya gegar otak ringan.
"Cepat!" Teriak Udin. ”Haruhiro, bangun! Lari! Semuanya, lari!"
Ya, pikir Haruhiro sambil melompat untuk berdiri. Lari, benar juga. Mereka tidak punya pilihan selain melarikan diri. Dia berbalik untuk pergi, kemudian tiba-tiba berhenti. "Bagaimana denganmu?!"
Udin berusaha untuk mundur bahkan ketika ia terus menyerang Hobgoblin.”Tentu saja aku akan menyusul! Cepatlah, dan lari terlebih dahulu!”
Barto, yang luka kepalanya baru saja sembuh, memusatkan pandangannya pada Goblin berarmor, lantas dia berteriak, “MAKASIH!" Dia menyerangnya dengan skill [RAGE CLEAVE]. Dia meleset, tapi itu berhasil membuat Goblin berarmor ragu-ragu untuk menyerang.
Marco dan Vina berbalik untuk melarikan diri, dan Alice juga sudah melarikan diri. Goblin berarmor menjerit dan menyabet punggung Barto dengan pedangnya, tetapi berkat armornya, Barto tidak menderita luka apapun. Haruhiro berada tepat di belakang mereka, dan dia berbalik untuk melihat Udin seraya terus berlari.
"Udin, semuanya sudah lari!" Teriaknya.”Cepatlah menyusul!"
"Aku tahu!" Jawab Udin, sembari dia melompat ke belakang dan memberikan Hobgoblin dua serangan beruntun pada dada.
Hobgoblin tersendat dan Udin dengan cepat berbalik, lantas berlari. Goblin berarmor menyarungkan pedang yang sejak tadi dia gunakan, kemudian menarik keluar senjatanya yang lain. Mereka belum keluar dari bahaya. Haruhiro berkosentrasi untuk terus lari ke depan. Saat itu, Goblin berarmor melontarkan sesuatu pada mereka. Benda itu berputar-putar di udara, sebelum akhirnya mengenai Udin tepat di punggung.
Suatu desahan terdengar dari mulut Udin, dan sepertinya dia kesulitan lari.
"Udin!" Teriak Haruhiro.
Udin langsung menjawab walaupun dia kesusahan mengembalikan keseimbangannya. ”Aku baik-baik saja!"
Kakinya terlihat masih kokoh, mungkin itu hanyalah cidera ringan. Hobgoblin dan Goblin berarmor terus mengejar di belakang. Mereka harus terus berlari. Terus berlari. Untung saja mereka sudah membuat peta. Sekarang sangatlah terasa bahwa pengetahuan tentang tata letak kota Damroww sungguh berguna. Mereka tidak tersesat ketika mereka terus melarikan diri. Mereka juga mampu menghindari daerah-daerah yang sering dilewati oleh Goblin lainnya.
Haruhiro dan yang lainnya terus berlari. Mereka berlari bahkan dengan pernapasan yang terengah-engah, dan
kelelahan terus membebani langkah mereka. Seakan-akan nyawa mereka tidak bertahan lebih lama. Mereka terus berlari sampai tidak lagi melihat para pengejar. Dan yang pertama-tama berhenti berlari adalah Udin.
Tidak, sebenarnya dia tidak menghentikan larinya. Lebih tepatnya, dia roboh ke tanah.
"U-Diiinn……" Haruhiro mencoba memanggil nama Udin, tapi tidak sepatah katapun keluar dari tenggorokannya.
Punggungnya. Punggung Udin. Sesuatu mencuat dari punggungnya. Suatu benda yang memiliki mata pisau. Itu
adalah pisau yang melengkung. Itu tampak seperti pisau lempar. Tak satupun dari anggota Party itu bisa mengucapkan kata-kata. Semuanya menatapnya, tapi tak sepatah katapun terucap dari mulut mereka. Senyap. Apa yang bisa mereka katakan?
Udin terengah-engah, sembari berusaha untuk berdiri. Namun dia tidak bisa. Yang bisa dia lakukan hanyalah berguling. ”Aku kira ... tidak masalah…. jika …. kalian …. pergi ... duluan ...”
"Udin!" Haruhiro berlutut di sisi Udin. Apakah tidak apa-apa jika dia menyentuhnya? Apakah tidak masalah? Dia tidak tahu. ”Udin ...lukamu ... sihir penyembuhan! Gunakan sihir penyembuhan untuk menyembuhkan lukanmu sendiri ...”
"B-benar." Tangan kanannya bergerak untuk menyentuh dahinya, tapi langsung jatuh lemas kembali ke tanah, seolah-olah setiap energinya sudah mengering. ”Sihirku ... aku tidak bisa ... menggunakannya ..."
"Jangan bicara!" Teriak Marco.”Tenang saja, jangan mencoba untuk berbicara! Apa yang akan kita lakukan?” Ia memohon pada yang lainnya.
Alice terhuyung ke sisi Udin, kemudian berlutut pada tanah di dekat Haruhiro. Dia mengulurkan tangannya, dan
ketika jari-jemarinya yang gemetaran menyentuh pisau yang tertancap di punggung Udin, gadis itu langsung menarik tangannya kembali. Ekspresi yang tak bisa diungkapkan tampak pada wajahnya.
Wajah Udin juga demikian. Tidak hanya putih, namun sangat pucat. Tubuh Barto berhenti bergerak dan kaku seperti batu, dia seperti patung besar.
"A-apa ..." Vina mengaduk-aduk rambutnya sehingga semakin kusut. ”Apa yang harus kita lakukan?"
"Apa ... apa maksudnya ..." Haruhiro merasa seperti dadanya tercabik-cabik.
Apa yang harus mereka lakukan? Berpikir! Apa yang bisa mereka lakukan? Pasti ada suatu cara! Mereka tidak bisa hanya duduk berpangku tangan di sana! Udin, tolong katakan pada kami ... Mohon ... Beritahu kami apa yang harus kami lakukan ... Udin .... Tapi pernapasan Udin semakin rendah dan lemah.
"K-kau akan baik-baik saja," kata Haruhiro.”Kamu akan baik-baik saja, jadi bertahan di sini ... Bertahanlah, oke?”
Udin memandang Haruhiro.”... Haru ... hiro ..."
"Ada apa? Udin, ada apa?”
"Aku ... aku ... maaf ..."
"Apa? Mengapa? Untuk apa?"
"Aku ... tidak bisa ... semuanya ... Haru ... hiro ... tolong ..."
"Tolong? Tolong apa? Kau ingin aku melakukan apa? Tidak…. tidak, jangan mengatakan hal-hal seperti itu, Udin ...”
"Aku ... tidak bisa melihat ... Apakah ... semuanya ... ada di sini?"
"Ya! Kami semua di sini! Udin, semuanya ada di sini, jadi jangan pergi!"
Udin tampaknya menghembuskan napas dalam-dalam, seolah sedang mendesah.
"Tidak! Jangan pergi! Udin! Kau tidak boleh pergi! Jangan pergi, Udin! Kumohon ... jangan pergi ...”
Dia menghirup, kemudian menghembuskan napas lagi. Dan pada saat itu, matanya tampak berkilau seakan-akan berubah menjadi kaca.
Alice menempatkan tangan di dadanya.”Jantungnya berhenti ..."
"Napas bantuan! Beri dia napas bantuan!” Marco berteriak pada Haruhiro yang dianggapnya memiliki wawasan lebih baik daripada dirinya.
Mereka mulai napas bantuan, seolah-olah itu akan menyelesaikan segalanya. Semuanya berbicara secara bersamaan tentang apa yang harus dilakukan. Mereka menarik pisau dan menelentangkan pria itu, kemudian memberinya napas bantuan dari mulut-ke-mulut.
Menit berlalu, puluhan menit berlalu, bahkan mungkin lebih dari satu jam berlalu ketika mereka mencoba untuk menyelamatkan nyawanya.
"T-Tidakkah s-seharusnya…. kita berhenti saja?" Barto tampak seperti akan menangis. ”Kasihan Udin ... Kita tidak perlu melakukan itu lagi padanya …"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?!" Haruhiro membentak dengan amarah, sebelum akhirnya ketenangannya kembali. Ia melanjutkan bicara dengan nada lembut.
"Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa meninggalkan dia sendirian di sini. Kita tidak bisa meninggalkan Udin begitu saja di sini.”
"Sihir." Alice mendongak. Matanya bengkak dan merah. ”Mungkin ada cara untuk menyelamatkannya dengan sihir. Sihir cahaya bisa menyembuhkannya.”
"Itu benar," kata Vina sembari mengangguk dengan penuh semangat.”Alice benar. Sihir pasti bekerja padanya. Pasti bekerja. Kita bisa membawanya pada Guild Priest, dan kuil mereka.”
"Kuil Dewa Luminous?" Alice menyeka air mata dari pipi dengan menggunakan punggung tangannya.”Aku harus pergi ke sana? Kau menyuruh hamba Dewa Kegelapan Skulheill untuk pergi ke wilayah musuh?”
Barto mengangkat Udin dalam pelukannya.”Aku akan membawanya."
"Ayo kita pergi," kata Haruhiro seraya memberikan anggukan.
Marco dan juga Haruhiro menawarkan pada Barto untuk menggendong Udin secara bergiliran, tapi Udin menolak. Dia ingin menggendong Udin sendirian dari ujung utara Atalante, sampai menuju Kuil Dewa Luminous. Saat mereka menginjakkan kaki di dalam kuil, mereka dihentikan oleh sekelompok pria yang berpakaian identik seperti Udin.
Salah satu dari mereka tampaknya mengenali Udin. Sepertinya namanya adalah Master Honnen. Master sendiri yang datang untuk menemui mereka. Tubuhnya cukup tegap dan perkasa, dan dia lebih mirip Warrior ketimbang Priest.
Hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah, "Apa yang telah terjadi?"
Suaranya cukup khas, itu mengingatkan Haruhiro bahwa Udin pernah menceritakan tentang Masternya yang begitu tegas, dan suaranya memekakkan telinga. Memori-memori yang pernah dia alami bersama Udin keluar begitu saja pada pikirannya, dan dia tidak tahan lagi. Dia berlutut di hadapan Master Honnen.
"Silahkan! Tolong bantu Udin! Aku akan melakukan apa pun….. apa pun yang kau inginkan! Kumohon selamatkan dirinya!” Haruhiro memohon.
"Anak Bodoh!" Suara Master Honnen menggelegar. ”Bahkan Dewa Cahaya Luminous yang bersinar terang tidak bisa menghidupkan orang mati! Udin, kau *****! Padahal kau adalah anak mudah yang memiliki bakat langka dan menjanjikan. Kami mendidikmu dengan harapan yang tinggi, dan mengajarkan padamu sihir penyembuhan terbaik, namun kau telah menyia-nyiakan nyawamu sendiri!”
"KAU SIALAN!" Marco dengan lancang maju untuk mencengkram kerah Master Honnen.
Vina menghentikannya sembari menyela, "Tidak, tidak!"
Marco urung melawan dia, mungkin karena ia melihat aliran air mata deras pada pipi Master Honnen. Alice hanya bisa jatuh terpaku pada lantai kuil yang dingin Barto masih berdiri sembari membeku. Meskipun begitu, ia masih merangkul Udin dalam pelukannya.
"Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan untuknya adalah…" walaupun air matanya masih bercucuran, Master Honnen berbicara dengan suara sekeras batu, "menguburnya dengan layak. Di perbatasan ini, orang-orang mati yang tidak dikubur dengan benar akan menerima kutukan Wright King dan menjadi salah satu hambanya.
Biasanya, transformasi menjadi zombie akan memerlukan waktu selama 5 hari. Namun, beberapa orang hanya memerlukan waktu 3 hari untuk bernasib sama.”
Entah kenapa, Haruhiro tiba-tiba ingin tertawa, meskipun ia tahu bahwa ini bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa.”Jadi, kau ingin mengkremasi dia?” tanya Haruhiro.
"Ya. Kau harus meletakkannya pada Krematorium di mana kita bisa membakar tubuhnya. Tempatnya terletak di luar Atalante. Untuk mencegah kutukan, setelah tubuhnya dimurnikan oleh api, abunya akan dimakamkan di bagian atas bukit."
"Satu hal lagi," kata Haruhiro, "jika aku boleh bertanya."
"Tanya apa?"
"Apakah itu memerlukan uang?"
"Aku akan membayarnya jika kau tidak punya uang."
"Tidak" Haruhiro mendesah. Itu adalah desahan yang sangat dalam beserta amukan amarah. Dia tak tahu harus marah pada siapa. Apakah dia harus marah pada dirinya sendiri yang tidak berguna dan bodoh? "Kami akan membayarnya. Bukannya kami tidak punya uang. Walaupun kami tidak punya cukup uang, entah bagaimana
caranya, kami akan memikirkan jalan keluarnya. Udin lebih dari sekedar teman bagiku kami adalah rekan satu tim, dan dia juga merupakan pendamping yang berharga. Kami banyak berhutang padanya.”
__ADS_1