
Wanita itu bernama
Leelya. Leelya Sturm. Dia adalah seorang petinggi elf dari keluarga bangsawan
Sturm Sang Tujuh Pedang. Selain itu, dia adalah pewaris keluarga, pewaris
keturunan, namun dia tidak pernah memikirkan garis keturunan sebagai bangsawan.
Paling-paling, wanita itu mengakui bahwa Keluarga Sturm dulunya hebat, tapi dia
sekarang menganggap hal itu hanya sebagai bayangan kejayaan. Tidak hanya
Keluarga Sturm yang statis, masyarakat elf secara keseluruhan telah mengalami
stagnasi pada bayang-bayang masa lalu. Mereka telah menjadi lemah, tidak
efektif, dan mengalami kemunduran dalam berbagai aspek.
Leelya adalah seorang
anak yang loyal, dan dipuji sebagai reinkarnasi dari Varyag Sang Pedang Suci.
Banyak orang telah mengharapkan masa depan yang cerah padanya semenjak dia
kecil, namun dia sendiri tidak bisa memahami masa depan seperti apa yang bakal terjadi
padanya. Jadi, meskipun dia tahu bahwa keputusannya ini akan penuh dengan
resiko dan cobaan, dia tetap saja memutuskan bahwa meninggalkan Kagemori adalah
jalan yang benar.
Dia akan menyaksikan
dunia luar dengan matanya sendiri, dan memperluas pengetahuan. Itulah
tujuannya, tidak ada yang lain, sehingga dia meninggalkan tanah airnya.
“Souma.”
Ketika dia memanggil
namanya, pria itu berhenti memainkan alat makannya yang bernama “sumpit”, dan
menatapnya. Ekspresi wajah pria itu tetap tidak berubah. Ekspresinya yang datar
membuat si gadis elf kesulitan untuk memahami pikirannya, namun dia tahu bahwa
pria itu memanglah seseorang yang sulit ditelaah pemikirannya. Dia juga bisa
melihat bahwa suasana hati pria itu sedikit masam.
Souma, sebagai seorang pria
yang memahami teknologi, dia telah memahat pohon dengan tangannya sendiri untuk
membuat sumpit yang ia sedang gunakan sekarang. Selain si gadis elf, kelompok
Souma beranggotakan seorang Paladin besar dengan kulit sedikit gelap bernama
Kemuri, Necromancer bernama Pingo, golem yang tampak seperti anak kecil bernama
Zenmai (dia adalah makhluk yang dihidupkan oleh Pingo), dan mantan Thief yang
kini berganti kelas menjadi Shaman bernama Shima (dia jarang muncul, dan lebih
suka tidur di bawah bintang-bintang).
Kemuri adalah tipe orang
yang bisa tidur di mana saja, selama dia menyukai tempat tersebut, sementara
Pingo adalah kebalikannya, dia hampir tidak pernah terlihat tidur. Pingo yang
selalu didampingi oleh Zenmai, benar-benar kurang tidur. Shima, meskipun
penampilannya elegan dan anggun, namun gadis itu tidak pernah keberatan kalau
dia harus tidur di atas hamparan rumput sekalipun.
Leelya, lahir dan
dibesarkan di kota Elf Arnott, dia hampir tidak tahu tentang apa yang harus
dikerjakannya pada Party tersebut, namun kini dia sudah terbiasa. Mereka saat
ini berkumpul di bawah langit berbintang, sembari duduk di sekitar api unggun
dengan cara mereka sendiri. Lantas mereka makan atau beristirahat. Leelya
dengan halus menyisir rambut berwarna keperakan miliknya, sedangkan Souma lagi
makan.
Tak peduli daging kering
ataukah buah, Souma tidak pernah pilih-pilih makanan, dan dia memasukkan
semuanya ke mulut dengan menggunakan sumpit buatannya sendiri. Sepertinya,
begitulah kebiasaan pria itu, dan Leelya tidak pernah mempermasalahkan hal
tersebut.
“Kau memegang sumpit dengan tangan kiri.”
Setelah mendengar itu, Souma menurunkan tatapannya, dan matanya melebar sedikit.
“Kamu benar. Mungkin karena makanan ini tidak menimbulkan selera bagiku,” dia menjawab.
“Mungkin kau benar,” Leelya setuju.
“Aku bertanya-tanya
mengapa,” kata Souma, sembari memiringkan kepalanya sedikit ke sisi karena
bingung. Ia pun mengalihkan sumpit ke tangan kanannya.
Ia sama sekali tidak
paham mengapa dia selalu saja menggunakan tangan kirinya, namun itu karena ia
memang seorang yang bertangan kidal. Dan jika dia sendiri tidak pernah
menyadarinya, lantas bagaimana bisa Leelya mengetahui hal sepele itu?
“Dan juga,” Leelya
menambahkan dan menunjukkan titik tepat di bawah bibirnya sendiri. “Ada sesuatu
__ADS_1
di wajahmu.”
Untuk sesaat, ekspresi
Souma tampak seperti mau berteriak, Tidak mungkin! Dia mengayunkan tangannya
untuk menyeka titik tersebut beberapa kali.
“Tidak, tidak ada kok ...” katanya.
“Aku tahu,” kata Leelya dengan ekspresi kosong. “Itu hanyalah lelucon.”
“Hahahaaa,” Shima tertawa sembari dia bersandar dengan sikunya, dan menguap.
Pingo, duduk di atas lutut Zenmai dan menatap bintang-bintang, dan dia pun juga tertawa diam-diam. Kemuri mendengkur, sedang tidur nyenyak.
Souma menurunkan
tatapannya, sudut-sudut mulutnya melengkung sedikit ke bawah, tampaknya dia
sedang cemberut. Ekspresi Leelya melunak. Souma langsung saja duduk dengan
posisi tegak, dan menenangkan ekspresinya sekali lagi. Seseorang bisa memahami
bahwa dia adalah pria berkepribadian menarik.
Tiga hari yang lalu,
Leelya dan yang lainnya telah memasuki daerah bekas Kerajaan Ishmael, yaitu
tempatnya para Undead. Itu adalah tanah yang dipenuhi kejahatan, dan kekejaman,
di mana para Undead rela menyerahkan diri untuk dirombak ulang agar semakin
kuat dengan bentuk yang lebih mengerikan. Bahkan kelompok Souma yang terkenal
akan kekuatannya tidak boleh bertindak ceroboh di sini. Meskipun begitu, sehari
sebelumnya mereka telah bertindak ceroboh.
Souma, seperti biasanya,
ia mengembangkan skill katana kelas Samurai pada musuh yang menyerbu ke
arahnya. Undead tidak bisa mendekat tanpa segera ditebas. Teknik dan
kelincahannya adalah yang terunggul. Namun, Leelya, adalah master penari pedang
yang juga telah berlatih tiada henti-hentinya, dia tidak ingin mempermalukan
reputasinya sebagai si jenius yang tak tertandingi, namun kali ini dia
merasakan suatu hal yang aneh.
Hari ini, Souma terasa
berbeda. Gerakan pedangnya kurang cepat, kakinya terkesan lebih berat, dan gerakan
sentuhannya terlihat lebih lambat. Bagi Leelya, tampaknya pria itu sedang
bertarung sembari menahan cidera pergelangan kaki. Namun jika dia terluka, hal
yang paling mudah untuk mengatasinya adalah meminta Kemuri menyembuhkannya.
Shima, yaitu seseorang
yang telah mengubah kelasnya dari Thief menjadi Shaman, hampir tidak melihat
dirinya memang memiliki bakat alami, namun dia juga berlatih keras sembari
tertidur, dan dalam waktu singkat, ia telah menguasai teknik elf rahasia dan
juga sanggup menggunakan skill Enam Mantra. Dia bukanlah manusia pertama yang
menjadi Shaman, tapi dia adalah satu-satunya yang menerima aklimasi pada Enam
Mantra. Dan ia mampu menyembuhkan luka apapun secara instan.
Ketika pertarungan usai,
Leelya mendekati Souma secara langsung. “Kecerobohan dan ketidakanggunan,
agaknya kurang pantas bagimu. Jika kau terluka atau merasa tidak sehat, mungkin
akan lebih bijaksana untuk meminta Shima memeriksanya.”
Souma berpikir beberapa saat untuk membalasnya, “Aku juga berpikir ada yang aneh padaku hari ini ...”
Dia melepas pelindung
kakinya, dan akhirnya masalah itupun terlihat jelas. Sepatu botnya berada pada
kaki yang salah. Sederhananya, dia mengenakan sepatu kiri pada kaki kanan, dan
begitupun sebaliknya.
“Jadi ini sebabnya,” kata Souma.
Tentu saja itu sebabnya.
Tapi apa yang membuat dia melakukan kesalahan sepele seperti ini? Ketika Leelya
bertanya, Souma memiringkan kepalanya sedikit ke samping dan bergumam, “Tidak
tahu,” dan Leelya bertanya-tanya apakah dia hanya perlu menganggapnya sebagai
keteledoran yang jarang terjadi. Namun Souma memang cenderung melakukan
kesalahan pada hal-hal sepele seperti ini.
Souma adalah pria yang
aneh, pikir Leelya. Dia berilmu dan cerdas, tidak lebay jika mengatakan bahwa
keahlian berpedangnya berada pada tingkatan tertinggi. Dia tidak ceroboh atau
kikuk. Leelya mengakui bahwa Souma adalah orang yang bisa diandalakn, meskipun
begitu Leelya sendiri bukanlah tipe orang yang perlu bergantung pada orang
lain. Kepemimpinan Souma begitu sempurna, dia memiliki penilaian yang luar
biasa, dan rasa tanggung jawab yang tinggi, seakan-akan sifat seperti itu
adalah bawaannya sejak lahir.
Bahkan jikalau Souma
berada pada alam liar sendirian, dia pasti masih bisa bertahan hidup. Namun,
__ADS_1
ada sesuatu yang kurang padanya. Sudah cukup lama Leelya menjadi rekannya, tapi
dia tidak tahu kekurangan seperti apa yang ada pada diri Souma. Dari waktu ke
waktu, ia selalu melakukan suatu hal tak terduga yang akan membuat Leelya
benar-benar terkejut. Leelya tidak pernah menemukan sosok seperti Souma pada
bangsa Elf, sehingga gadis itupun sedikit tertarik padanya. Ya…. sedikit
tertarik…. sedikit sekali tertarik…. tidak lebih dari itu… sungguh.
Souma segera berbaring di
tanah. Kemuri masih tertidur lelap, dan Shima siap untuk mengikutinya. Pingo
dan Zenmai tetap waspada sepanjang malam, meskipun tak seorang pun meminta
mereka untuk melakukan itu. Akhirnya, Leelya pun merasakan kantuk. Dia tidak
memerlukan persiapan ranselnya digunakan sebagai bantal, mantelnya digunakan
sebagai selimut. Namun, dia tidak tertidur semudah itu.
Masih berbaring dengan
mata tertutup, banyak hal mulai mengapung ke dalam pikiran. Beberapa memori dia
abaikan begitu saja, namun ada juga beberapa memori yang ingin dia bayangkan
kembali, sembari menunggu kesadarannya menuju alam mimpi. Seraya waktu teruk
berlalu, sesekali dia membuka tipis kelopak matanya untuk mengintip Souma dari
balik api unggun. Pria itu sedang berbaring menghadap ke atas, lengannya dia
selipkan di bawah kepala untuk membentuk semacam bantal, dengan menyangga satu
lutut. Apakah dia sudah tertidur?
Si gadis elf tidak tahu.
Jika sesuatu terjadi, Pingo akan membunyikan alarm, dan pasti Souma akan segera
terbangun dengan sigap. Sepertinya dia terbiasa tidur sambil bersiaga. Souma
rebah ke samping, sambil bergumam “Nn ...” dengan suara erangan rendah, dan
sekarang pria itu menghadap ke arah si gadis elf. Karena sedikit kaget, Leelya
langsung menutup matanya lagi.
Leelya tidak melihatnya
dengan sengaja, dan dia pun tidak percaya sedang melakukan ini. Tapi wajah
Souma masih menghadap ke arahnya, mungkin dia sudah tertidur. Leelya mendesah
pelan, dan membuka matanya sedikit lagi.
Dia menghadap tatapan
Souma. Ternyata si pria tidak sedang tidur, dia malah melihat langsung ke wajah
si gadis elf. Leelya terbujur kaku. Haruskah dia membuat semacam alasan? Tidak,
ia sama sekali tidak melakukan hal yang salah. Souma lah yang terlebih dahulu
menatapnya, kebetulan saja tatapan mata mereka bertemu. Dia tidak perlu
menjelaskan apapun padanya. Souma sama sekali tidak berhak mendapatkan
penjelasan apapun dari Leelya. Souma lah yang bersalah ... atau mungkin kurang
tepat jika disebut kesalahan, tapi ... mungkin lebih tepat jika disebut
tanggung jawab.
Dan Souma lah yang harus
bertanggung jawab. Akan merepotkan baginya jika dia gagal. Kalau begitu, Leelya
harus segera memalingkan mukanya dari hadapan Souma. Dia tidak sanggup lagi
menahan tatapan mata itu. Cukup sudah ... sangat memalukan saling lihat dengan
cara seperti ini. Namun mengapa ia tidak sanggup memalingkan tatapannya?
Sebelum ia bisa menemukan
jawabannya, Souma pun memejamkan mata dan berpaling, sehingga ia berbaring
menghadap ke atas lagi. Leelya menyadarinya beberapa saat kemudian. Sebetulnya,
Souma tidak melihat ke arahnya. Pria itu bahkan sudah tertidur. Ternyata, Souma
adalah orang yang memiliki kemampuan tertidur sembari tetap membuka matanya,
dan kebetulan saja dia rebahan ke samping sehingga tatapan matanya mengarah
pada wajah Leelya. Hanya itu yang terjadi, tidak lebih.
Tidak lebih, namun, Souma mulai menggumamkan sesuatu lagi. “N ... Nnn ...”
Leelya pikir dia
mendengar suatu nama yang dipanggil oleh pria itu. Mungkin itu hanya
imajinasinya. Karena tidak tahan lagi, si gadis elf pun meringkuk sembari
merasakan tusukan rasa sakit di dadanya. Perasaan macam apa yang melukai
hatinya ini? Apa yang menyebabkan rasa sakit ini? Dia tidak tahu. Dia sungguh
tidak tahu.
“Aku tidak tahu,” bisiknya pada dirinya sendiri.
Leelya berharap mengenal
dunia luar agar memperluas pengetahuan, wawasan, dan kekuatan emosional untuk
tetap tabah, juga terus bersemangat. Dia tidak mengatakan hal ini kepada siapa
pun, tapi Leelya yakin bahwa ras elf yang sekarang sedang mengalami penurunan.
Mereka harus dikembalikan pada masa-masa jayanya.
Dia berada di sini untuk
__ADS_1
mewujudkan tujuan itu. Memang, dia mengakui bahwa ia memiliki sedikit
ketertarikan pada Souma. Namun, itu hanya ketertarikan minor, tak lebih.