KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Bonus - High Elf


__ADS_3

Wanita itu bernama


Leelya. Leelya Sturm. Dia adalah seorang petinggi elf dari keluarga bangsawan


Sturm Sang Tujuh Pedang. Selain itu, dia adalah pewaris keluarga, pewaris


keturunan, namun dia tidak pernah memikirkan garis keturunan sebagai bangsawan.


Paling-paling, wanita itu mengakui bahwa Keluarga Sturm dulunya hebat, tapi dia


sekarang menganggap hal itu hanya sebagai bayangan kejayaan. Tidak hanya


Keluarga Sturm yang statis, masyarakat elf secara keseluruhan telah mengalami


stagnasi pada bayang-bayang masa lalu. Mereka telah menjadi lemah, tidak


efektif, dan mengalami kemunduran dalam berbagai aspek.


Leelya adalah seorang


anak yang loyal, dan dipuji sebagai reinkarnasi dari Varyag Sang Pedang Suci.


Banyak orang telah mengharapkan masa depan yang cerah padanya semenjak dia


kecil, namun dia sendiri tidak bisa memahami masa depan seperti apa yang bakal terjadi


padanya. Jadi, meskipun dia tahu bahwa keputusannya ini akan penuh dengan


resiko dan cobaan, dia tetap saja memutuskan bahwa meninggalkan Kagemori adalah


jalan yang benar.


Dia akan menyaksikan


dunia luar dengan matanya sendiri, dan memperluas pengetahuan. Itulah


tujuannya, tidak ada yang lain, sehingga dia meninggalkan tanah airnya.


“Souma.”


Ketika dia memanggil


namanya, pria itu berhenti memainkan alat makannya yang bernama “sumpit”, dan


menatapnya. Ekspresi wajah pria itu tetap tidak berubah. Ekspresinya yang datar


membuat si gadis elf kesulitan untuk memahami pikirannya, namun dia tahu bahwa


pria itu memanglah seseorang yang sulit ditelaah pemikirannya. Dia juga bisa


melihat bahwa suasana hati pria itu sedikit masam.


Souma, sebagai seorang pria


yang memahami teknologi, dia telah memahat pohon dengan tangannya sendiri untuk


membuat sumpit yang ia sedang gunakan sekarang. Selain si gadis elf, kelompok


Souma beranggotakan seorang Paladin besar dengan kulit sedikit gelap bernama


Kemuri, Necromancer bernama Pingo, golem yang tampak seperti anak kecil bernama


Zenmai (dia adalah makhluk yang dihidupkan oleh Pingo), dan mantan Thief yang


kini berganti kelas menjadi Shaman bernama Shima (dia jarang muncul, dan lebih


suka tidur di bawah bintang-bintang).


Kemuri adalah tipe orang


yang bisa tidur di mana saja, selama dia menyukai tempat tersebut, sementara


Pingo adalah kebalikannya, dia hampir tidak pernah terlihat tidur. Pingo yang


selalu didampingi oleh Zenmai, benar-benar kurang tidur. Shima, meskipun


penampilannya elegan dan anggun, namun gadis itu tidak pernah keberatan kalau


dia harus tidur di atas hamparan rumput sekalipun.


Leelya, lahir dan


dibesarkan di kota Elf Arnott, dia hampir tidak tahu tentang apa yang harus


dikerjakannya pada Party tersebut, namun kini dia sudah terbiasa. Mereka saat


ini berkumpul di bawah langit berbintang, sembari duduk di sekitar api unggun


dengan cara mereka sendiri. Lantas mereka makan atau beristirahat. Leelya


dengan halus menyisir rambut berwarna keperakan miliknya, sedangkan Souma lagi


makan.


Tak peduli daging kering


ataukah buah, Souma tidak pernah pilih-pilih makanan, dan dia memasukkan


semuanya ke mulut dengan menggunakan sumpit buatannya sendiri. Sepertinya,


begitulah kebiasaan pria itu, dan Leelya tidak pernah mempermasalahkan hal


tersebut.


“Kau memegang sumpit dengan tangan kiri.”


Setelah mendengar itu, Souma menurunkan tatapannya, dan matanya melebar sedikit.


“Kamu benar. Mungkin karena makanan ini tidak menimbulkan selera bagiku,” dia menjawab.


“Mungkin kau benar,” Leelya setuju.


“Aku bertanya-tanya


mengapa,” kata Souma, sembari memiringkan kepalanya sedikit ke sisi karena


bingung. Ia pun mengalihkan sumpit ke tangan kanannya.


Ia sama sekali tidak


paham mengapa dia selalu saja menggunakan tangan kirinya, namun itu karena ia


memang seorang yang bertangan kidal. Dan jika dia sendiri tidak pernah


menyadarinya, lantas bagaimana bisa Leelya mengetahui hal sepele itu?


“Dan juga,” Leelya


menambahkan dan menunjukkan titik tepat di bawah bibirnya sendiri. “Ada sesuatu

__ADS_1


di wajahmu.”


Untuk sesaat, ekspresi


Souma tampak seperti mau berteriak, Tidak mungkin! Dia mengayunkan tangannya


untuk menyeka titik tersebut beberapa kali.


“Tidak, tidak ada kok ...” katanya.


“Aku tahu,” kata Leelya dengan ekspresi kosong. “Itu hanyalah lelucon.”


“Hahahaaa,” Shima tertawa sembari dia bersandar dengan sikunya, dan menguap.


Pingo, duduk di atas lutut Zenmai dan menatap bintang-bintang, dan dia pun juga tertawa diam-diam. Kemuri mendengkur, sedang tidur nyenyak.


Souma menurunkan


tatapannya, sudut-sudut mulutnya melengkung sedikit ke bawah, tampaknya dia


sedang cemberut. Ekspresi Leelya melunak. Souma langsung saja duduk dengan


posisi tegak, dan menenangkan ekspresinya sekali lagi. Seseorang bisa memahami


bahwa dia adalah pria berkepribadian menarik.


Tiga hari yang lalu,


Leelya dan yang lainnya telah memasuki daerah bekas Kerajaan Ishmael, yaitu


tempatnya para Undead. Itu adalah tanah yang dipenuhi kejahatan, dan kekejaman,


di mana para Undead rela menyerahkan diri untuk dirombak ulang agar semakin


kuat dengan bentuk yang lebih mengerikan. Bahkan kelompok Souma yang terkenal


akan kekuatannya tidak boleh bertindak ceroboh di sini. Meskipun begitu, sehari


sebelumnya mereka telah bertindak ceroboh.


Souma, seperti biasanya,


ia mengembangkan skill katana kelas Samurai pada musuh yang menyerbu ke


arahnya. Undead tidak bisa mendekat tanpa segera ditebas. Teknik dan


kelincahannya adalah yang terunggul. Namun, Leelya, adalah master penari pedang


yang juga telah berlatih tiada henti-hentinya, dia tidak ingin mempermalukan


reputasinya sebagai si jenius yang tak tertandingi, namun kali ini dia


merasakan suatu hal yang aneh.


Hari ini, Souma terasa


berbeda. Gerakan pedangnya kurang cepat, kakinya terkesan lebih berat, dan gerakan


sentuhannya terlihat lebih lambat. Bagi Leelya, tampaknya pria itu sedang


bertarung sembari menahan cidera pergelangan kaki. Namun jika dia terluka, hal


yang paling mudah untuk mengatasinya adalah meminta Kemuri menyembuhkannya.


Shima, yaitu seseorang


yang telah mengubah kelasnya dari Thief menjadi Shaman, hampir tidak melihat


dirinya memang memiliki bakat alami, namun dia juga berlatih keras sembari


tertidur, dan dalam waktu singkat, ia telah menguasai teknik elf rahasia dan


juga sanggup menggunakan skill Enam Mantra. Dia bukanlah manusia pertama yang


menjadi Shaman, tapi dia adalah satu-satunya yang menerima aklimasi pada Enam


Mantra. Dan ia mampu menyembuhkan luka apapun secara instan.


Ketika pertarungan usai,


Leelya mendekati Souma secara langsung. “Kecerobohan dan ketidakanggunan,


agaknya kurang pantas bagimu. Jika kau terluka atau merasa tidak sehat, mungkin


akan lebih bijaksana untuk meminta Shima memeriksanya.”


Souma berpikir beberapa saat untuk membalasnya, “Aku juga berpikir ada yang aneh padaku hari ini ...”


Dia melepas pelindung


kakinya, dan akhirnya masalah itupun terlihat jelas. Sepatu botnya berada pada


kaki yang salah. Sederhananya, dia mengenakan sepatu kiri pada kaki kanan, dan


begitupun sebaliknya.


“Jadi ini sebabnya,” kata Souma.


Tentu saja itu sebabnya.


Tapi apa yang membuat dia melakukan kesalahan sepele seperti ini? Ketika Leelya


bertanya, Souma memiringkan kepalanya sedikit ke samping dan bergumam, “Tidak


tahu,” dan Leelya bertanya-tanya apakah dia hanya perlu menganggapnya sebagai


keteledoran yang jarang terjadi. Namun Souma memang cenderung melakukan


kesalahan pada hal-hal sepele seperti ini.


Souma adalah pria yang


aneh, pikir Leelya. Dia berilmu dan cerdas, tidak lebay jika mengatakan bahwa


keahlian berpedangnya berada pada tingkatan tertinggi. Dia tidak ceroboh atau


kikuk. Leelya mengakui bahwa Souma adalah orang yang bisa diandalakn, meskipun


begitu Leelya sendiri bukanlah tipe orang yang perlu bergantung pada orang


lain. Kepemimpinan Souma begitu sempurna, dia memiliki penilaian yang luar


biasa, dan rasa tanggung jawab yang tinggi, seakan-akan sifat seperti itu


adalah bawaannya sejak lahir.


Bahkan jikalau Souma


berada pada alam liar sendirian, dia pasti masih bisa bertahan hidup. Namun,

__ADS_1


ada sesuatu yang kurang padanya. Sudah cukup lama Leelya menjadi rekannya, tapi


dia tidak tahu kekurangan seperti apa yang ada pada diri Souma. Dari waktu ke


waktu, ia selalu melakukan suatu hal tak terduga yang akan membuat Leelya


benar-benar terkejut. Leelya tidak pernah menemukan sosok seperti Souma pada


bangsa Elf, sehingga gadis itupun sedikit tertarik padanya. Ya…. sedikit


tertarik…. sedikit sekali tertarik…. tidak lebih dari itu… sungguh.


Souma segera berbaring di


tanah. Kemuri masih tertidur lelap, dan Shima siap untuk mengikutinya. Pingo


dan Zenmai tetap waspada sepanjang malam, meskipun tak seorang pun meminta


mereka untuk melakukan itu. Akhirnya, Leelya pun merasakan kantuk. Dia tidak


memerlukan persiapan ranselnya digunakan sebagai bantal, mantelnya digunakan


sebagai selimut. Namun, dia tidak tertidur semudah itu.


Masih berbaring dengan


mata tertutup, banyak hal mulai mengapung ke dalam pikiran. Beberapa memori dia


abaikan begitu saja, namun ada juga beberapa memori yang ingin dia bayangkan


kembali, sembari menunggu kesadarannya menuju alam mimpi. Seraya waktu teruk


berlalu, sesekali dia membuka tipis kelopak matanya untuk mengintip Souma dari


balik api unggun. Pria itu sedang berbaring menghadap ke atas, lengannya dia


selipkan di bawah kepala untuk membentuk semacam bantal, dengan menyangga satu


lutut. Apakah dia sudah tertidur?


Si gadis elf tidak tahu.


Jika sesuatu terjadi, Pingo akan membunyikan alarm, dan pasti Souma akan segera


terbangun dengan sigap. Sepertinya dia terbiasa tidur sambil bersiaga. Souma


rebah ke samping, sambil bergumam “Nn ...” dengan suara erangan rendah, dan


sekarang pria itu menghadap ke arah si gadis elf. Karena sedikit kaget, Leelya


langsung menutup matanya lagi.


Leelya tidak melihatnya


dengan sengaja, dan dia pun tidak percaya sedang melakukan ini. Tapi wajah


Souma masih menghadap ke arahnya, mungkin dia sudah tertidur. Leelya mendesah


pelan, dan membuka matanya sedikit lagi.


Dia menghadap tatapan


Souma. Ternyata si pria tidak sedang tidur, dia malah melihat langsung ke wajah


si gadis elf. Leelya terbujur kaku. Haruskah dia membuat semacam alasan? Tidak,


ia sama sekali tidak melakukan hal yang salah. Souma lah yang terlebih dahulu


menatapnya, kebetulan saja tatapan mata mereka bertemu. Dia tidak perlu


menjelaskan apapun padanya. Souma sama sekali tidak berhak mendapatkan


penjelasan apapun dari Leelya. Souma lah yang bersalah ... atau mungkin kurang


tepat jika disebut kesalahan, tapi ... mungkin lebih tepat jika disebut


tanggung jawab.


Dan Souma lah yang harus


bertanggung jawab. Akan merepotkan baginya jika dia gagal. Kalau begitu, Leelya


harus segera memalingkan mukanya dari hadapan Souma. Dia tidak sanggup lagi


menahan tatapan mata itu. Cukup sudah ... sangat memalukan saling lihat dengan


cara seperti ini. Namun mengapa ia tidak sanggup memalingkan tatapannya?


Sebelum ia bisa menemukan


jawabannya, Souma pun memejamkan mata dan berpaling, sehingga ia berbaring


menghadap ke atas lagi. Leelya menyadarinya beberapa saat kemudian. Sebetulnya,


Souma tidak melihat ke arahnya. Pria itu bahkan sudah tertidur. Ternyata, Souma


adalah orang yang memiliki kemampuan tertidur sembari tetap membuka matanya,


dan kebetulan saja dia rebahan ke samping sehingga tatapan matanya mengarah


pada wajah Leelya. Hanya itu yang terjadi, tidak lebih.


Tidak lebih, namun, Souma mulai menggumamkan sesuatu lagi. “N ... Nnn ...”


Leelya pikir dia


mendengar suatu nama yang dipanggil oleh pria itu. Mungkin itu hanya


imajinasinya. Karena tidak tahan lagi, si gadis elf pun meringkuk sembari


merasakan tusukan rasa sakit di dadanya. Perasaan macam apa yang melukai


hatinya ini? Apa yang menyebabkan rasa sakit ini? Dia tidak tahu. Dia sungguh


tidak tahu.


“Aku tidak tahu,” bisiknya pada dirinya sendiri.


Leelya berharap mengenal


dunia luar agar memperluas pengetahuan, wawasan, dan kekuatan emosional untuk


tetap tabah, juga terus bersemangat. Dia tidak mengatakan hal ini kepada siapa


pun, tapi Leelya yakin bahwa ras elf yang sekarang sedang mengalami penurunan.


Mereka harus dikembalikan pada masa-masa jayanya.


Dia berada di sini untuk

__ADS_1


mewujudkan tujuan itu. Memang, dia mengakui bahwa ia memiliki sedikit


ketertarikan pada Souma. Namun, itu hanya ketertarikan minor, tak lebih.


__ADS_2