
Vina meringkuk, dan bersembunyi di balik batang pohon tebal. Haruhiro mendekatinya dengan perlahan sehingga suara langkahnya tidak terdengar, kemudian dia menepuk bahu Vina. Gadis itu berbalik dan berusaha menahan keterkejutannya.
"Apa yang sudah kau temukan?" Haruhiro bertanya dengan suara rendah.
Vina mengangguk dan membuat semacam gerakan dengan tangan dan jari-jarinya. Apakah dia sedang mengisyaratkan sesuatu? Tetapi sepertinya Haruhiro tidak memahaminya, jadi dia mengintip untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ada sesuatu.
Waktunya adalah setelah tengah hari, tepatnya pada hari kedua mereka bekerja sebagai anggota pelatihan Red
MooN. Mereka telah kembali ke hutan dan menemukan sumber mata air yang mengeluarkan gelembung-gelembung. Di situlah tempatnya.
Wujudnya kurus dan tingginya seperti anak manusia. Kulitnya keriput, sedikit berwarna kekuningan, dan tertutupi lumpur. Bercak rambut yang menyerupai rumput laut tumbuh di kepala dan telinga yang runcing. Punggungnya menghadap ke arah Haruhiro, sehingga dia tidak bisa melihat mukanya. Makhluk itu tidak mengenakan pakaian,
tapi di lehernya tergantung semacam tali.
Makhluk itu adalah Goblin lumpur. Dia merangkak dan membuat suara yang aneh seperti seseorang yang sedang
menyeruput minuman. Sepertinya, dia sedang minum di mata air tersebut.
Haruhiro mengambil napas dalam-dalam, sehingga ia tidak membuat kegaduhan. Dia melihat ke belakang.
Empat rekan lainnya, yaitu Udin, Marco, Alice, dan Barto berada pada posisi yang sedikit lebih jauh. Kepala mereka menjulur keluar, sementara sebagian tubuh mereka bersembunyi di balik pohon. Mereka semua memperhatikan Haruhiro.
Haruhiro mengangguk. Yang lain juga mengangguk untuk menanggapinya. Mereka akhirnya menemukannya. Mereka akan berhasil. Mereka harus berhasil. Tidak ada pilihan selain meraih keberhasilan. Bagaimana cara Haruhiro akan memberikan sinyal pada mereka? Mereka tampaknya belum siap melakukan serangan. Apakah ini benar-benar merupakan saat yang tepat? Dia mengangkat tangan kanannya setinggi-tingginya.
Ia gugup. Setiap detik berlalu, dia malah semakin gugup. Ini buruk. Tetap tenang. Ayo kita lakukan. Ayo kita selesaikan ini.
Dia mengayunkan tangannya turun dan, dengan berteriak, Marco menyerbu keluar terlebih dahulu. Idiot! Haruhiro ingin sekali meneriakkan itu, namun dia telan dalam-dalam kata tersebut. Karena kaget, Goblin lumpur berbalik untuk melihat kearah Haruhiro dan Vina.
"D-Dia melarikan diri ?!" kata Haruhiro.
Goblin lumpur berlari ke kanan. Vina menembakkan panah ke arah itu. Dia meleset, tapi panahnya menghujan tanah tepat di depan kaki Goblin tersebut. Dia menjerit terkejut dan tersendat.
"Bagus, Vina!" Kata Haruhiro sambil menghunus belati, lantas dia langsung saja berlari untuk memburu Goblin itu. Beberapa saat lalu, dia mengejek Marco dengan sebutan idiot, namun sekarang dia melakukan hal yang sama dengannya. Haruhiro punya perasaan bahwa ini bukanlah serangan yang biasanya dilakukan oleh seorang Thief, tapi ah sudahlah. Ini pasti berhasil. Dia tidak bisa membiarkan Goblin itu pergi.
Goblin lumpur. Disingkat Golup. Sejak lahir, mereka tak pernah sekalipun mandi. Matanya kusam dan jelek, giginya hitam, lidahnya berwarna keunguan, dan wajahnya seperti seorang penyihir tua. Goblin ini tidak mengenakan apa-apa selain semacam tali yang tergantung di lehernya. Dengan kata lain, dia telanjang bulat. Golup menatap lurus ke arah Haruhiro dan menjerit. Dia tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi makhluk itu menyerbu langsung ke arahnya. Apakah dia serius? Apakah Goblin itu benar-benar berniat melawan mereka? Bukankah 6 vs 1? Mungkin makhluk itu tidak memahami betapa kecilnya peluang menang yang dia miliki. Bidik pergelangan tangannya. Haruhiro menyabet pergelangan tangan Golup dengan belatinya [HIT].
Golup itu menjerit dan melompat ke belakang secara diagonal, dan dia tercebur ke dalam mata air. Apakah Haruhiro luput? Tidak, darah berwarna merah kehitaman mengucur dari luka dangkal di tangan kiri si Goblin. Belati Haruhiro baru saja menyerempet pergelangan tangan makhluk itu. Namun Golup masih hidup, dan dia melompat dari kubangan mata air, dan menyerbu tepat ke arah Haruhiro.
Dia datang? Dia benar-benar datang? TIDAK MUNGKIN. Mengapa dia melakukan hal bodoh dengan menyerang ke arahku? pikir Haruhiro, sembari dia meneriakkan raungan pelan.
Haruhiro dengan cepat mengelak ke kiri, dan entah bagaimana, dia berhasil menghindari serangan Golup tersebut.
"[HATRED’S CUT]!" Marco melompat ke arah Goblin, sembari mengayunkan pedangnya secara agresif, tapi tanpa kontrol yang jelas. Wajar saja dia luput, tergelincir, dan jatuh di belakang .
Golup meraung, dan mulai menyerang Marco tanpa pikir panjang. Sementara Marco masih pada posisi roboh. Udin
memukulnya tepat di bahu dengan tongkatnya, sehingga menyebabkan serangan makhluk itu meleset tipis. Goblin menjerit lagi dan melompat mundur.
"M-malik em…." Alice mulai melantunkan mantra sembari menggambar huruf elemental yang mengapung di
udara dengan tongkatnya, tapi Marco menyela. ”KAU MELAKUKANNYA LAGI DENGAN MATA TERTUTUP!” Teriaknya.
Alice kembali meringkuk.”M-maaf!"
"Barto, serang langsung dari depan!" Kata Udin dengan kasar sambil menunjukkan jarinya pada Golup. ”Semuanya, kepung dia! Jangan biarkankan dia lolos!”
Barto mendengus. Karena terbebani oleh armor yang berat, dia menyerbu ke arah musuhnya dengan lambat.
Setelah musuhnya berada dalam jangkauan, ia menunjukkan ujung pedang raksasa miliknya pada Golup.
"S-Sepertinya tidak ada pilihan lain!" Marco bergumam, bangun dan bergerak ke kanan Golup itu.
Udin bertahan di sebelah kiri. Haruhiro dan Vina, sembari menghunuskan Kukrinya, mengambil posisi di belakang Goblin. Alice kini membuka matanya lebar-lebar dan menunjukkan tongkatnya secara langsung ke arah Golup yang berada jauh di depan.
Goblin lumpur melihat sekeliling dengan panik, dia berusaha bergerak tapi akhirnya dia menyadari bahwa dirinya sudah terkepung dari segala arah. Lantas dia mengeluarkan pekikan yang menusuk-nusuk telinga. Tampaknya dia putus asa karena meskipun dia ingin pergi, tapi tidak ada celah sedikit pun untuk lolos. Ini semua berjalan persis
seperti rencana Udin.
"Barto! Sudutkan dia!” Marco mengacungkan tongkatnya ke arah makhluk itu. ”Tekan dia!"
Barto meneriakkan erangan dan mulai mengayunkan pedang raksasanya, sekali, dua kali, sampai tiga kali. Goblin dengan gesit mengelak dari semua tebasan Barto, tapi sementara dia sibuk menghindari Barto, Marco mulai menusuk dengan pedangnya. Golup meraih cabang pohon dan melemparkannya pada Marco.
"Wah!" Marco melangkah mundur dan nyaris gagal menangkis itu dengan menggunakan pangkal pedangnya.
Formasi pengepungan mereka pun bocor. Golup mencoba untuk menyelinap melalui celah yang ditinggalkan oleh Marco, tapi Udin mengacungkan tongkatnya. Dia masih belum menyerah untuk mengepung si Golup. Golup yang menjerit kesakitan ketika tongkat Udin menghujam bahunya.
Sebagai balasan, di mulai menyerang Udin, sembari meneriakkan pekikan mengerikan yang membuat tulang Haruhiro bergemeletak. Bahkan Udin pun mundur sedikit. Mengapa mereka ketakutan, padahal jumlah mereka jauh lebih banyak? Goblin lumpur itu putus asa. Dia tidak ingin dibunuh. Sebagai makhluk hidup, dia tidak ingin hanya berdiam diri lantas terbunuh. Setidaknya, dia ingin membunuh lawannya sebanyak mungkin sebelum nyawanya sendiri dihabisi oleh musuh. Sepertinya si Goblin sudah membulatkan tekad untuk mebunuh beberapa rekan Haruhiro.
__ADS_1
"Kalian semua!" Marco menjilat bibirnya beberapa kali. ”Sekarang bukan waktunya untuk ketakutan! Membunuh atau dibunuh! Aku akan membunuhnya dan mendapatkan Vice!”
"Jangan gegabah!" Udin memperingatkan Marco sembari ia mendaratkan pukulan lainnya pada Goblin dengan menggunakan tongkat pendek miliknya. Kali ini, kepala Goblin terkena dengan telak. Tanpa memedulikan darah yang muncrat, makhluk itu melotot ke arah Udin dan mengayunkan kedua tangan padanya.
"Dia cukup keras kepala," Vina berbisik dengan suara sedikit gemetar.
Astaga, pikir Haruhiro. Meskipun darah mengalir deras dari kepalanya, tampaknya dia masih baik-baik saja.
Barto mengayunkan pedang raksasanya tiga kali secara berturut-turut. Golup mulai mundur, namun tentu
saja itu berarti bahwa Golup tersebut semakin mendekati Vina dan Haruhiro yang mengepungnya dari sisi belakang.
"Inilah kesempatan kita, Haru!" Dan bahkan Vina tidak menyebut nama Haruhiro dengan lengkap, sehingg Haruhiro pun bertanya-tanya ... sejak kapan gadis itu memanggilnya dengan sebutan "Haru"? Tapi bukan saatnya untuk memusingkan perihal nama, karena inilah kesempatan yang tidak datang dua kali.
Ketika Haruhiro mendekat dengan belatinya, Golup membalikkan badan untuk menatapnya. Entah bagaimana,
Haruhiro berhasil mengatasi rasa takut di dalam dirinya, kemudian dia tebas monster itu. Salah satu tebasan benar-benar mendarat telak pada Golup. Dia tahu bahwa serangannya berhasil karena belatinya menghantam sesuatu yang keras. Benda keras itu adalah lengan kanan Golup, tepatnya antara siku dan pergelangan tangan. Ia menarik belatinya kembali sambil terkejut.
Walaupun dia masih amatiran, ini adalah pertama kalinya dia benar-benar memotong lawan dengan menggunakan senajatanya sendiri. Perasaan itu benar-benar membuat dia sedikit sakit.
Darah berceceran ketika Golup terhuyung-huyung hendak roboh namun lagi-lagi dia masih bisa membalas dan
balik menyerang manusia di sekitarnya. Ini adalah pertarungan 6 vs 1. Dan si Golup benar-benar dikepung oleh satu tim bersenjata yang bisa menyerang dari segala penjuru. Tapi tak satupun dari mereka bisa bergerak. Napas setiap anggota Party terasa berat. Bahkan Barto (meskipun dia sedang mengenakan armor berat dan memegang pedang raksasa) tidak bisa banyak bergerak.
Ada apa dengan kami? Haruhiro mencoba menenangkan napasnya. Mengapa perburuan ini tidak berlangsung
dengan lancer meskipun kami hanya melawan satu makhluk saja? Apakah Golup adalah lawan yang kuat?
Atau apakah mereka terlalu lemah? Apakah mereka benar-benar mampu melakukan ini? Tidak, sepertinya mereka tidak akan sanggup melakukan ini.
Kalau dipikir-pikir secara rasional, tentu saja mereka tidak mungkin menang. Haruhiro tidak cocok untuk bertempur. Bahkan tak seorang pun pada Party itu memiliki pengalaman bertarung sebelumnya. Ini semua salah. Semua ini tak terbayangkan. Mengapa ia lakukan ini? Bukankah akan lebih baik untuk berhenti?
Apa yang akan mereka lakukan jika berhenti sekarang? Apa yang akan terjadi pada mereka?
"Tidak ada yang mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan mudah!" Teriak Udin.”Ini adalah pertarungan sampai mati! Kita bahkan Goblin lumpur semuanya bertarung untuk mempertahankan hidup masing-masing! Hasilnya akan menentukan siapa yang layak hidup atau mati! Tak satu makhluk pun di dunia ini bersedia mati!”
"Malik-em-paluk!" Suatu bola cahaya melesat keluar dari ujung tongkat Alice, kemudian terbang di antara Barto dan Marco. Serangan sihir itu pun akhirnya menghantam Golup tepat di wajahnya.
"GARGGG!" Dia menjerit.
"Sekarang!" Udin memerintahkan semuanya untuk menusuk Golup secara bersamaan.
Marco mengayunkan pedang sambil berteriak. Pedangnya sedikit terbenam pada lengan kanan Golup. ”Gah! Aku
Barto mengangkat pedangnya di atas kepala, lantas mengayunkannya turun dengan segenap kekuatan. Dia langsung mentargetkan kepala Goblin. Kekuatan sabetan pedang Barto tampaknya sudah cukup untuk membelah tengkorak Goblin menjadi dua atau tiga bagian.
Sudah berakhir.
"YESSS!" Marco mengangkat tinjunya ke langit.
Haruhiro mulai menghembuskan napas lega, kemudian menghirup udara dengan keras.
Namun…. Lagi –lagi.
Goblin yang seharusnya sudah mati, kini merangkak, kemudian berlari sekencang mungkin.
"Tidak mungkin ..." kata Vina dengan tercengang.
Pasti ada suatu kesalahan, pikir Haruhiro. Pasti ada kesalahan, tentu saja ada kesalahan. Golup itu melarikan diri, mungkin dia sengaja membuat lawannya berpikir bahwa dirinya sudah mati, kemudian memanfaatkan saat ketika lawannya lengah untuk meloloskan diri.
Bahkan Udin pun tampak tertegun sejenak, tapi kemudian dia dengan tangkas menjegal kaki Goblin dengan tongkatnya. Haruhiro terkejut ketika Golup melompat dengan gesit untuk menghindari serangan dari Udin. Dan makhluk itu menyerang lurus ke arahnya. Apakah dia mencoba untuk menyelinap dan melewatinya?
"Tak mungkin kubiarkan kau lolos!!" Haruhiro coba mengulangi serangan Udin dengan menjegal kaki Golup, dan kali ini berhasil. Monster itu tersandung dan jatuh jungkir balik.
Barto bergerak, dan bersiap-siap untuk menyerang dengan pedangnya, namun sesorang menyelanya. ”Barto,
minggir!" Teriak Marco.”Aku akan menyelesaikannya!"
Haruhiro secara tidak sengaja mengalihkan pandangannya. Ada suara memuakkan dan kemudian terdengar tawa Marco. ”Lihatlah aku Dewa Skulheill! Dark Knightmu telah mencabut nyawa musuhnya dengan tangannya sendiri, dan aku akan mempersembahkan tubuh monster ini sebagai Vice pada altar Guild! Telinganya cukup besar ... Jika ditambah dengan cakar, maka semuanya akan sempurna ... Oyoyoy!”
Haruhiro melihat ke arah Marco, di mana terdapat Golup yang sudah roboh. Seharusnya monster itu sudah mati.
Namun dia terkejut pada apa yang dilihatnya.
Alice sedikit terengah-engah, dan tampaknya dia hendak menangis.
"Dia…. masih belum mati ..." kata Vina dengan lembut. Dia meletakkan kedua tangannya dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Tampaknya dia sedang berdoa.
Haruhiro sedikti ragu-ragu sebelum akhirnya akal sehatnya kembali. ”Tidak, dia memang belum mati
__ADS_1
..."
"Kita harus segera menghabisinya," kata Udin sembari mengangkat tongkat di atas kepalanya. ”Jika tidak kita hanya akan memperpanjang penderitaanya."
Haruhiro tidak ingin melihat pemandangan tragis ini, akan tetapi dia tak mau melewatkan saat-saat genting ini sedetik pun. Udin memberikan serangan terakhir pada Goblin itu dengan kejam dan akurat, dan kali ini dia memastikan bahwa lawannya benar-benar berhenti bernapas. Lantas Udin membentuk semacam heksagram, dan tampak dia mengucapkan beberapa kata perpisahan pada lawannya. Namun Haruhiro tak mendengar apapun. Mungkin Udin masih tidak percaya bahwa menghabisi nyawa suatu makhluk adalah pekerjaan halal baginya.
"U-Udin!" Marco menunjukkan jari padanya.”Kau Sialan! Kau mencuri mangsaku! Aku bilang, aku harus mengumpulkan Vices!”
Udin memaksa tersenyum kemudian menggaruk kepalanya.”Maaf. Aku tidak tahu."
"Maaf tidak menyelesaikan masalah!"
"Meski begitu, aku sungguh tidak bermaksud melakukan ini."
"Nggak bisa! Aku ingin ini semua diulang! KEMBALIKAN SEMUANYA PADAKU! Bagaimana? KITA TIDAK BISA
MENGULANGNYA!” Keluh Marco. ”Perayaan Vice pertamaku ... LENYAP.” Dia meratapi nasibnya dengan terjerembab di tanah dan menghentak-hentak dengan tinjunya.
Kemudian Marco mengatakan, "Ah…. sudahlah."
Haruhiro berkedip.”Sudah ikhlas?"
"Yang sudah terjadi, biarlah berlalu" kata Marco, lantas dia bangun dan berjongkok di dekat jasad Golup. ”Ew, ini kotor. Jadi, gantungan di lehernya ini adalah hadiah kita? Apa ini?"
Haruhiro berjongkok di samping Marco. Dia berusaha untuk tidak melihat tubuh monster yang berada tepat di hadapannya, melainkan dia fokus pada tali di leher Goblin itu. "Benda apa ini?"
Tali tipis dilingkarkan untuk menggantung beberapa benda kecil. Salah satu dari benda-benda itu tampak seperti semacam taring hewan, yang sudah dilubangi. Benda lainnya cukup kotor tapi ... memang, itu adalah semacam koin.
"Sekeping perak?" Haruhiro menduga.”Meskipun sudah dilubangi ..."
"Bagus!" Marco mengulurkan tangan untuk menarik tali itu, lalu dia dengan cepat menarik tangannya lagi. ”Haruhiro, bersihkan itu. Benda itu terlalu kotor, aku tidak sudi menyentuhnya”
"Baik." Haruhiro memotong tali dengan belatinya, kemudian dia melepas taring dan koin. Koin itu sudah rusak, namun itu benar-benar sekeping perak. ”Aku ingin tahu apakah kita bisa menjual ini ... Bagaimana bisa mereka membuat lubang pada benda sekeras ini?”
"Apapun itu," kata Udin sembari meletakkan tangan pada bahu Haruhiro, "Ini adalah kemenangan pertama kita."
"Dan ini semua berkat diriku!" Jika Marco membusungkan dadanya lebih tinggi, maka dia akan jatuh ke belakang.
"Benar." kata Vina dengan nada dingin.
Marco menjulurkan lidah padanya.”Jadi kau masih memiliki dendam padaku, hanya karena aku pernah memanggilmu dengan sebutan dada rata. Dasar keras kepala.”
"Keras kepala tidak ada hubungannya dengan ukuran dada Vina!” teriak Yume.
"Terserah! Kalau memang tidak ada hubungannya, ya lupakan saja! Aku beritahu kau, semakin keras kepala seorang gadis, maka ukuran dadanya akan semakin kecil. Itu sudah takdir!”
"Tak peduli besar atau kecil. dada vina tetaplah imut!"
"DADA RATA RATA RATA! Hello Nona Dada Rata, selamat tinggal Nona Dada Rata! DADA RATA!”
Wajah Vina berubah merah terang dan pipinya menggembung bagaikan ikan buntal. Dia menarik anak panah dan
membidikkannya pada Marco. ”Vina akan menembakmu dan Vina punya perasaan bahwa kali ini tidak akan meleset ...”
"T-tunggu! Maafkan aku! Maafkan aku!” Marco memutar tubuhnya beberapa kali, dan bersujud di tanah.”Aku akan berhenti! Aku akan menghentikannya, jadi maafkan aku!”
"Vina tidak mendengar kata 'mohon'. Yang ingin Vina dengarkan adalah aku mohon dengan sepenuh hati, wahai Tuan Putri Vina yang bijaksana!”
"T-Tuan Putri Vina! Tolong berilah aku pengampunan. Aku akan melakukan apapun yang kau minta!”
"Tidak, Vina tidak yakin." Pipi Vina masih menggembung, tapi tiba-tiba dia menurunkan panahnya dan membungkuk sedikit. Dia mengarahkan dagunya pada sumber air panas.”Kalau kau memang ingin minta maaf, loncatlah ke sana."
"A-pa……?"
"Sumber air panas. Loncatlah ke sana. Setelah kau lakukan itu, barulah Vina mau memaafkanmu.”
"I-Idiot…. Apa sih yang kau pikir…"
Vina mengangkat busurnya lagi.”Baik. Kalau begitu, Vina akan menembakmu.”
"Aku akan dengan senang hati melompat."
"Hati-hati ya." Haruhiro menepuk bahu Marco.
"Hati-hati ya." kata Udin kepadanya sambil menyeringai.
"Aku sudah tahu, idiot ..." Marco bergumam.
Ketika ia siap untuk melompat ke dalam kolam, Alice berbisik, "Dia benar-benar melakukannya."
__ADS_1
Haruhiro menangkap apa yang dikatakan oleh Alice, tapi Marco sudah melompat di udara, sehingga Marco mungkin tidak mendengarnya sama sekali.
"D-Dia pasti akan masuk angin nanti," kata Barto.