
“Wah! Wah-wah-wah!
Apa-apaan?!” Marco menggerutu dibalik helmnya, punggungnya menekan keras ke sebuah dinding rapuh.
Marco tidak sendirian. Haruhiro dan yang lain juga menjaga dirinya tetap sejajar dengan tembok, untuk berusaha menyembunyikan diri mereka.
“Ada yang tahu apa yang terjadi di sini?” Haruhiro menengok ke samping, menatap ke arah Lusi.
Lusi memberikan sedikit gelengan. “Aku juga tidak tahu.”
“Di sana ada banyak sekali gobbi,” bisik Vina.
Barto mendengus yang menandakan bahwa dia mengerti. Sekujur tubuhnya bergetar saat mencoba untuk meringkukkan tubuhnya sekecil-kecilnya.
Alice menutup matanya dan terlihat sedang berdoa, tongkatnya ia pegang erat di dadanya.
“...Kita tidak bisa, kita tidak bisa... tidak mungkin kita bisa...”
Alice benar. Jika ada satu kalimat yang bisa menggambarkan keadaan saat ini, adalah “Kita tidak bisa.”
Mereka berada di Kota Tua Damroww yang sama seperti biasanya, tapi kali ini bukan goblin berpencar yang mereka temui, tapi kerumunan Goblin yang tersusun rapi dalam kelompok. Sesuatu terasa berbeda sesaat mereka tiba di sini, tidak, bahkan sebelum mereka datang, semuanya terasa berbeda.
Tempat ini penuh dengan goblin. Mereka bergerombol sangat banyak, dan mereka terlihat telah tersusun dalam suatu kelompok. Mungkin mereka juga berpatroli seperti biasa.
“Patroli...” bisik Haruhiro, menggertakkan giginya.
Apakah ini mungkin? Apa ini benar-benar terjadi? Para goblin sekarang bergerombol dan ini sangat berbeda dari yang Haruhiro dan lainnya buru tiap harinya. Untuk pemula, mereka punya perlengkapan yang bagus. Dan jikalau goblin biasanya terlihat malas dan bosan, yang satu ini terlihat aktif dan siaga.
Haruhiro mengira mereka mungkin berasal dari Pusat Kota Damroww. Goblin yang berada di Pusat Kota terkadang datang ke Kota Tua, tapi goblin-goblin itu selalu terlilhat... marah. Serta, murung. Bahkan hobgoblin dan tuannya yang berarmor piringan ketakutan di hadapan mereka.
Tapi para goblin yang berkumpul di sini sangat bersemangat dan bergairah. Mereka kelihatannya berada di sini untuk suatu alasan. Haruhiro tidak terkejut jika mereka ada di sini karena sebuah perintah.
“Hmm,” keluh Marco. Itulah dia, mencoba untuk terlihat keren atau semacamnya. Tapi dia tidak keren sama sekali. “Sepertinya kita keterusan. Kita membuat diri kita menjadi pusat perhatian di sini...”
Tidak ada yang mau memberikannya respons yang menyenangkan, termasuk Haruhiro. Dia tidak punya energi untuk dihabiskan pada hal sepele semacam itu. Tapi kini terlalu berbahaya untuk berburu di sini. Walaupun mereka telah jauh-jauh datang ke sini, mereka kini berhadapan dengan prospek yang mengecewakan, yaitu kembali ke Atalante tanpa hasil sepeser pun.
Sudah tidak ada harapan lain. Dengan keadaan yang mereka hadapi saat ini, tidak ada pilihan selain kembali. Kecuali... saat dia memikirkannya, Haruhiro menyadari bahwa dia melihat situasi saat ini sebagai suatu kesempatan untuk mengubah jalur mereka. Mungkin Haruhiro terpaksa untuk mengambil keputusan ini, atau mungkin telah terbawa oleh aliran pikirannya, tapi ini masihlah sebuah kesempatan yang bagus.
“Hai semuanya,” Haruhiro membuka percakapan. “Bagaimana kalau kita mencoba memeriksa Tambang Siren? Mungkin sedikit menyimpang dari jalur, tapi tempat itu masih satu arah. Kita tinggal berjalan mengitari Damroww dan terus berjalan ke Barat Daya.”
Marco kegirangan. Vina, Alice, Barto, dan Lusi tidak menolak keputusannya, jadi mereka langsung berangkat. Tambang Siren... Tempat itu sekitar dua setengah mil jauhnya di sebelah Barat Daya Damroww, tapi karena Haruhiro dan yang lain belum pernah pergi ke sana, perjalanan memakan waktu hampir dua jam walaupun mereka mengambil jalur yang paling cepat.
Tempat itu terlihat sama seperti gunung biasa. Dahulu kala, ketika Kerajaan manusia Aravakia masih menguasai daerah depan, mereka mengeluarkan banyak biaya untuk membangun tambang ini. Setelah itu, saat Wright King dan sekutunya memukul mundur manusia dari area itu, faksi Kobold Boshuu mengambil alih dan menetap di sana. Saat ini, Tambang Siren dikuasai sepenuhnya oleh para kobold.
Party Haruhiro bisa melihat jalan menuju ke tambang dari kaki gunung. Pintu masuknya berbentuk persegi dan seperti-lorong, dan di setiap sisinya dibangun dengan bongkahan kayu. Haruhiro dan kawan-kawannya berjalan mengikuti sungai kecil yang mengalir dari gunung dan menemui seekor beruang yang berjalan dengan santai.
Haruhiro ragu beruang itu akan menyerang mereka, binatang liar biasanya berhati-hati karena terkadang mereka cukup pengecut. Lagi pula, tidak ada yang ingin mencoba peruntungan, jadi mereka menjaga jarak cukup jauh dengan beruang itu.
Mereka melanjutkan naik ke atas gunung, mengikuti jejak binatang ke sebuah area perhutanan. Agak masuk sedikit, mereka melihat dua makhluk berbulu, humanoid dengan kepala seperti anjing. Masing-masing berpakaian ringan, memakai armor, dan bersenjatakan pedang berkarat.
[Humanoid adalah makhluk yang memiliki penampilan atau ciri menyerupai manusia, tetapi bukan manusia.]
Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kesulitan. Tentu saja bukan kedua makhluk itu, yang muncul dari bayang-bayang pepohonan terlihat tenang. Jelas terlihat mereka tidak mengira akan menemui seseorang di sini. Makhluk itu dan Party Haruhiro saling bertatap-tatapan, keduanya terdiam untuk beberapa detik.
“Kobold!” seru Lusi.
Terkejut, tanpa sadar Haruhiro mengeluarkan teriakan dan secara insting merangkak ke belakang.
“Barto, ayo!” ucap Marco, mengayunkan pedangnya ke arah kobold yang berada di kanan.
“I-iya!” Barto, yang reaksinya sedikit tertinggal dari Marco, mendekat ke kobold di sebelah kirinya.
Haruhiro menepuk dadanya, kholem! Tidak. Tunggu. Bukan kholem, kalem! Tenanglah! Kampret. Dia sama sekali tidak tenang.
“Alice, Lusi, tetaplah di belakang untuk saat ini!” Haruhiro memerintah. “Vina, ayo bantu Marco dan Barto!”
Vina menjawab dengan sesuatu yang tak bisa Haruhiro mengerti, tapi dia tetap mengikuti di belakangnya, sehingga menempatkan diri mereka di posisi depan. Sampai sekarang, Marco menyerang membabi buta ke arah kobold itu, melesatkan tiap serangannya dengan sebuah teriakkan.
__ADS_1
Barto menggerutu kesusahan saat dia mengangkat dan mengayunkan pedang raksasa di atas kepala, tapi dia sama sekali tak bisa mengenai kobold incarannya.
“Vina, bantu Barto!” ucap Haruhiro.
“Siap!”
Haruhiro terfokus pada punggung kobold yang Marco hadapi. Rencananya adalah untuk mengakhiri hidup salah satu kobold itu dengan cepat, dan melompat ke kobold satunya lalu membunuhnya hingga benar-benar mati.
“Apa-apaan?” Haruhiro menggerutu.
Apa yang terjadi? Apakah kobold memang musuh yang tangguh? Kuat dan cepat? Entah kenapa, Haruhiro tak bisa berada di belakangnya. Matanya tak bisa mengikuti pergerakannya, membuatnya sulit untuk mengantisipasi gerakan sang lawan.
“Sial!” jerit Marco. “Haruhiro, apa yang kau lakukan?”
Marco benar-benar tertekan oleh kobold itu, tapi dia tidak dalam posisi menyerang. Jika iya, dia pasti bakalan langsung terpukul mundur. Kobold itu terus menyerang sedangkan Marco menahannya, tidak bisa melancarkan serangan balik.
“Marco! Jangan banyak bergerak!” seru Haruhiro.
“Diam! Aku punya urusan untukku selesaikan sendiri!”
“Tapi kalau dia tetap bergerak seperti itu, aku tidak bisa...!”
“Emang aku peduli! Wah!”
Kobold itu tiba-tiba mengambil langkah maju dan beradu pedang dengan Marco. Keduanya telah berhenti bergerak. Ini adalah saatnya atau tidak sama sekali.
“[BACKSTAB!]”
Pisau belati Haruhiro terlihat seperti akan mengenai punggung kobold itu, tapi tidak. Pisaunya terpental ke samping. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? Itu adalah ulah koboldnya, dia melompat ke samping dan menggunakan ekornya untuk menepis pisau belati itu. Sungguh mengecewakan.
“Kau benar-benar nggak guna, Haruhiro!” seru Marco.
Mungkin tak ada hubungannya dengan seberapa kuat atau lemahnya mereka. Masalahnya adalah Haruhiro dan yang lainnya tak tahu apa-apa tentang para kobold. Bagaimana para kobold itu menyerang? Bagaimana cara mereka bertahan? Bagaimana reaksi mereka seharusnya jika kobold itu seperti ini atau seperti itu? Seperti apa reaksi para kobold jika mereka menekan serangannya? Tidak ada satupun yang tahu.
“Andaikan saja mereka itu goblin, kita sudah … !” seseorang menjerit.
Kita pasti sudah terbiasa dengan goblin, tak ada yang lainnya... dia mengaku.
“[SMASH!]” tanpa dikira, Lusi melangkah maju ke pertarungan.
Dia melesatkan sebuah pukulan keras dengan tongkatnya ke arah kobold yang dihadapi oleh Barto dan Vina. Kobold itu kesakitan dan melompat mundur dalam satu lompatan kuat. Mereka setengah mengaum, setengah menggonggong ke arah Haruhiro dan Party-nya.
“Mereka adalah kobold kecil! Seharusnya mereka bukanlah lawan yang tangguh!” ucap Lusi, mengetuk ujung bawah tongkatnya ke tanah dengan sebuah ketukan keras. “Jika kalian tetap tenang, maka kita pasti bisa menang!”
Wah. Lusi. Sungguh keren... Tapi sekarang bukanlah saatnya untuk duduk mengaguminya!
Haruhiro bertukar pandangan dengan Marco. Hal ini agak mengganggunya, berpikir kalau Marco dan dirinya bisa saling memahami satu sama lain tanpa sepatah kata pun, tapi mereka tetaplah rekan seperjuangan. Ketika bertarung berdampingan, terlihat seperti mereka bisa mengerti apa yang lainnya pikirkan.
Perhatikan baik-baik... dia berkata pada dirinya sendiri. Fokus!
Musuhnya adalah seekor kobold, bukan seekor goblin. Seekor makhluk yang belum diketahui, tapi hanya karena mereka kurang informasi, bukan berarti Haruhiro dan kawannya tidak bisa menghadapi mereka. Seperti yang Lusi katakan mereka bukanlah lawan yang tangguh.
“Oom rel ecktveldash!” Alice merapalkan mantra [SHADOW ECHO], dan wush! Sebuah gelombang, bayangan elemental hitam melesat ke arah kobold yang mendekat ke arah Barto dan Vina.
Kobold itu berlutut, sekujur tubuhnya bergetar tak terkontrol.
“Barto, sekarang!” seru Vina.
Barto berlari menuju kobold yang tersihir. Haruhiro merasa dia bisa menyerahkan kobold itu, dan fokus ke lawannya. Marco berada di posisi menyerang, meneriakkan tiap serangan. Tak seperti sebelumnya, dia tak lagi mengayunkan pedang panjangnya secara acak-acakan lagi, kini ia memperhatikan dengan seksama pergerakan musuhnya.
Saat kobold itu melompat ke kanan, Marco mengikutinya. Saat ia ke kiri, begitu juga Marco. Dia tak bisa langsung mengikuti pergerakannya, tapi dia tak membiarkan kobold itu mendominasinya lagi. Tidak pula ia terjebak dalam posisi bertahan, kini dia bisa melancarkan beberapa serangan begitupun seterusnya.
Oleh karena itu, perhatian kobold itu kini benar-benar tertuju kepada Marco. Sekarang Haruhiro bisa dengan sempurna memposisikan dirinya di belakang kobold itu. Jangan teralihkan oleh ekornya! Dia berkata pada dirinya sendiri. Itu hanyalah sebuah ekor, ayolah!
Tubuh goblin mirip seorang manusia, tapi tubuh kobold lebih mirip seperti seekor binatang. Mereka punya kaki yang berotot, dan mereka bisa melompat, dengan kaki tersebut layaknya sebuah pegas. Haruhiro juga merasa bahwa mereka lebih cepat daripada goblin. Namun, ketika Haruhiro bergerak, kecepatan refleks mereka masihlah setara dengan para goblin, itu terjadi karena mereka terlalu terbiasa berhadapan dengan monster-monster pendek itu.
Tubuh seekor kobold juga tak selentur tubuh goblin. Saat ia memperhatikan dengan seksama, Haruhiro menyadarinya saat seekor kobold menengok, tubuh bagian atasnya tetap tegak dan kaku. Para kobold juga memegang pedang mereka dengan cara yang berbeda. Goblin menggunakan seluruh tubuhnya saat mengayunkan pedangnya, tapi para kobold hanya menggunakan lengan mereka. Mereka bergantung pada fleksibilitas dari lengan tersebut, sepertinya persendian di pundak mereka hanya bisa menjangkau jarak tertentu.
__ADS_1
Tapi hanya karena mereka sungguh berbeda, bukan berarti kobold adalah lawan yang unggul. Party Haruhiro saat ini bisa mengalahkan lima goblin sekaligus. Dua kobold bukanlah apa-apa.
Kita bisa melakukannya. Tidak ada alasan kita tak bisa memenangkannya.
Dan itu bukanlah kalimat yang hanya berisikan kepercayaan diri. Itu adalah sebuah kesimpulan melalui pengamatan dan pengalaman terdahulu.
Tadi, hanya melihat Marco dan kobold itu bertarung telah menarik seluruh perhatiannnya. Tapi sekarang, dia bisa melihat semuanya dan memiliki pengetahuan umum bagaimana mereka bergerak dan apa yang mereka lakukan. Seakan-akan, dia telah meluaskan jangkauan pandangannya.
Ini luar biasa... pikir Haruhiro. Sungguh luar biasa melihat apa yang terjadi ketika kau bisa menenangkan diri dan percaya bahwa kau bisa memenangkannya.
“MA... KASIH!” Barto melepaskan segenap tenaganya dibalik ayunan diagonal [RAGE CLEAVE]-nya dan segera membelah kobold itu.
Tidak mungkin ada lagi kobold yang masih bertahan itu ragu-ragu setelah melihat kawannya dikalahkan seperti itu... Haruhiro mengira-ngira.
Dia benar. Untuk sejenak, kobold yang tersisa tak lagi memperhatikan belakangnya. Haruhiro mengambil nafas dalam, menahannya, dan meluncurkan dirinya ke punggung kobold itu. Tapi dia tidak langsung menabrak kobold itu. [BACKSTAB]. Dia melesatkan pisau belatinya melalui celah di deretan armor, menusuk dalam ke tubuh kobold itu.
Kobold itu melepaskan sedikit teriakkan, sedikit menjerit. Haruhiro segera melompat menjauh darinya.
“Baiklah!” Marco melangkah, pedang panjangnya sudah siap sedia. “[ANGER THRUST!]”
Marco meluncurkan pedang panjangnya ke dalam tenggorokan kobold itu. Dia berhasil. Kobold itu mati dan setelah itu, benar-benar terjatuh ke tanah.
Haruhiro melepaskan nafas yang telah ia tahan. “...Kita menang.”
“DAN SEMUA ITU KARENA AKU!” Dan Marco mengangkat, lalu memutar pedangnya, menyombongkan diri.
“Tidak bukan kau,” ucap Vina, jijik. “Itu semua karena Lusi. Saat dia ngasih tahu kalau kita harus tetap tenang, kalau tak ada alasan kita tak bisa menang... Itu sungguh menakjubkan! Bulu kudukku merinding dan sesuatu seperti membara dalam diriku.”
“He-Hentikan,” Lusi berkata sambil menundukkan kepalanya ke bawah, wajahnya memerah karena malu. “Aku minta maaf, aku berkata terlalu banyak. Tidak seharusnya aku...”
“Jangan berkata seperti itu!” Alice berbicara dengan nada yang tak biasa. “Itu bukan... kurasa kamu seharusnya tidak meminta maaf.”
“Se-setuju,” Barto mengangguk pelan. “Aku merasa lebih berani setelah mendengarnya.”
“Kalian sungguh menyedihkan!” ejek Marco.
Bagaimana bisa Marco tetap bersikap sombong dan sok berani? Haruhiro sungguh tak mengerti... mungkin karena Marco adalah seorang idiot.
Marco tidak menyerah, “Kalian semua hanya berkata kalau tak ada seorang pun yang mengungkapkan kata-kata ajaib itu, Barto tetap menjadi pengecut dan Vina tak bisa menggerakkan bokongnya? *** lah kalian semua!”
Haruhiro mengabaikannya, malahan berjalan menuju ke mayat kobold tadi. Dia berlutut dengan satu lutut. “Senjata dan armornya terlihat tak berguna, tapi mereka terlihat punya sesuatu di hidung... sepertinya itu terbuat dari taring hewan atau semacamnya.”
“Itu adalah sebuah jimat,” dia menjelaskan. “Semua kobold, paling tidak punya satu.”
“Sungguh?” balas Haruhiro. “Kayaknya tidak menghasilkan uang yang banyak.”
“Kobold yang tinggal di tingkat pertama dari tambang ini adalah yang terlemah pada himpunan para kobold. Mereka mengenakan pakaian seadanya dan hampir tidak mendapat pangan yang cukup. Kita, anggota Red MooN biasa menyebutnya ‘kobold kecil’.”
“Bagaimana dengan yang bukan kobold kecil? Jimat mereka lebih berharga?”
“Ya. Jimat mereka terbuat dari batu mulia dan logam. Tapi terkadang kobold kecil juga mengambil uang-uang manusia, seperti perunggu dan perak, dan mereka juga menggunakannya untuk dibuat jimat.”
“Aku mengerti. Jadi ini seperti harta karun. Kadang kita mungkin akan menemukan seekor kobold kecil yang membawa perak atau semacamnya...”
Lusi telah mengatakan cukup banyak. Bukan hanya informasinya... fakta sebenarnya yang ia katakan kepadanya membuat Haruhiro sedikit senang.
“Terserah. Tinggal ambil saja, terus ayo pergi,” keluh Marco. Dia merobek jimat itu dari hidung mayat kobold, sehingga membuatnya mendapatkan tatapan tak menyenangkan dari Haruhiro. “Apa? Kau ada masalah?”
“...Tidak.”
Bahkan jika mereka mendapatkan hadiah yang sepantasnya, mereka mendapatkannya dari tubuh musuh yang telah mereka kalahkan, Haruhiro berharap Marco bisa lebih... Lalu Haruhiro menyadari sesuatu di mata kobold, Haruhiro dan kawan-kawannya adalah para penjajah. Apa yang mereka lakukan saat ini tidak lain hanyalah suatu pembantaian. Tidak ada nilai baik diambil dari apa yang telah mereka lakukan.
Tidak peduli mereka menjarah barang dari mayat secara pelan-pelan, atau mencabutnya secara langsung, hasil akhirnya sama saja. Itu tidak merubah apa yang telah mereka lakukan. Tapi melihat Marco saat ini membuat Haruhiro sadar betapa berbedanya mereka secara moral. Pemahamannya sulit untuk dipertahankan.
Marco mungkin saja tidak memikirkan hal-hal semacam ini, tapi Haruhiro berniat tidak akan bertindak sama sepertinya, bahkan dengan risiko dianggap munafik. Jadi Haruhiro mencabut jimat sebuah anting-anting terbuat dari polesan tanduk binatang atau semacamnya dengan lembut, Haruhiro melakukannya dengan selembut mungkin untuk menghindari membuat luka tambahan di tubuh kobold itu.
Dia tidak punya niatan untuk merubah pola pikirnya. Tidak peduli jika itu adalah musuh atau bahkan seekor binatang. Makhluk yang mati, sudah semestinya mendapatkan kehormatan.
__ADS_1
Haruhiro kembali berdiri. “Ayo. Ke Tambang Siren.”