KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 15 - Kebangkitan Dark Knight yang Jatuh


__ADS_3

Merintih kesakitan, Marco memeluk pedang panjangnya dengan tangan kanan sembari terus menekan luka di lengan kirinya.


“Owww...” Kata tersebut keluar dari mulutnya saat dia mencoba mengayunkan tangan kirin. Tidak! Seharusnya dia tetap benar-benar diam.


Dia tersembunyi, seperti biasa, di dalam sebuah kandang ****-cacing... lebih tepatnya lagi, sebenarnya dia tersembunyi di balik tumpukan kerumunan ****-cacing. Atau lebih tepatnya lagi, ****-cacing itulah yang menyembunyikannya. Mereka berkerumun di satu sudut kadang, Marco berada di tengah-tengah kerumunan tersebut, mencoba untuk menjaga nafasnya tetap tenang dan sunyi. Dia sendirian. Sungguh benar-benar sendirian.


Bahkan Zodiak tak lagi bersamanya, karena batas waktu dari mantra Dark Knight [DARK INVITATION] telah habis. Setan hanya bisa dipanggil dalam durasi tiga puluh menit sebelum akhirnya mereka kembali lagi ke tempatnya, yaitu di kaki Dewa Skulheill dan Marco kini tak lagi punya kekuatan mental untuk memanggilnya lagi. Ejekan setan itu sungguh menyisakan rasa gundah bagi Marco.


Bahkan seseorang sehebat Tuan Marco begitu kelelahan sampai hampir mati setelah melakukan pelarian yang elegan dan panjang. Dari apa yang terlihat, setidaknya di pandangannya, ada empat ekor kobold. Dia juga terluka di sekujur tubuhnya, luka di tangan kirinya sangat dalam hingga ia tak bisa lagi menggerakkannya. Luka tersebut juga terasa sangat sakit sehingga Marco tak lagi bisa merasakan rasa nyeri dari luka-luka lainnya. Dia bahkan tak ingin melihat luka-lukanya atau memikirkan tentang betapa banyak ia sudah kehilangan darah.


Seluruh lengannya bergetar dan, dalam setiap getaran, darah mengucur deras dari lukanya. Dia tak menyadari bahwa dia mulai bernafas dengan pelan.


“Aku akan menangis ~” dia berbicara pada dirinya sendiri dengan nada terindah yang bisa ia buat, tapi bahkan melakukan hal tersebut tak menghiburnya sama sekali.


Mmm... Lusi. Gak, Lusi terlalu cantik, imajinasinya tak bisa membayangkan sesuatu yang cocok. Tidak, jika ada, itu adalah Alice. Karena dadanya sangat besar. Ya. Raksasa. Vina juga tidak buruk. Dadanya tidak besar tapi tak apalah. Lagian, tampang polosnya sungguh tipe Marco. Ya.


Hmm... tapi bagaimanapun, dia masih belum puas. Semua itu... sungguh terlalu nyata. Mereka adalah rekan seperjuangannya dan mereka selalu bersama siang maupun malam. Dulunya. Sekarang tidak lagi. Memikirkan semua itu membuatnya sedikit depresi.


Tapi terserah, tak apa... mereka takkan datang. Tentu saja mereka takkan datang. Secara logika, mereka tidak akan datang. Tidak ada alasan untuk mereka, dan Marco juga tak mengharapkannya... benar? Dia harus bisa keluar dari sini sendirian. Apakah Marco bisa melakukannya?


Belum lama tadi, dia cukup percaya diri bahwa dirinya bisa keluar dari sana. Dia tak pernah meragukannya. Hingga titik darah terakhir, dia masih mempercayainya. Tapi sekarang... dia tak tahu. Lengannya terluka. Lukanya sungguh parah. Jika terus seperti ini, dia takkan bisa lagi menggunakannya. Dan bukan hanya itu. Berlari atau kegiatan fisik lainnya membuat lukanya terbuka, membuat Marco merintih keras dan sempoyongan.


Semua upaya untuk menutup lukanya juga gagal.


Tak bisa melakukannya. Tidak bisa pergi lebih jauh lagi. Tidak ada jalan keluar lagi untukku... TIDAK! Marco ingin menjauhkan dirinya dari pemikiran-pemikiran orang lemah tersebut. Daripada memikirkan hal yang tak bisa ia lakukan, dia ingin fokus hanya kepada hal-hal yang bisa ia lakukan.

__ADS_1


Mengapa semuanya berubah menjadi seperti ini? Karena dia ingin terlihat keren. Kau duluan, dia katakan hal itu pada Barto. Marco berharap dia tak melakukannya. Tapi dia benar-benar melakukannya. Mengapa Marco melakukan hal itu? Mungkin karena dia ingin mencoba melakukannya sekali-kali? Karena itu adalah kalimat keren yang ingin ia katakan walau hanya sekali? Apakah benar itu alasannya?


Tidak. Bukan itu.


Aku hanya ingin diterima. Melakukan sesuatu seperti mengorbankan diri, atau sebuah kalimat seperti itu, mungkin akan membuat yang lain percaya bahwa dirinya menakjubkan. Ya, ada sedikit hal tersebut juga. Aku adalah aku. Yang lain adalah yang lain. Aku tak peduli dengan apa yang lainnya pikirkan tentangku, semuanya hanyalah


kebohongan.


Tentu saja dia ingin kawannya agar berpikir positif padanya, jika mungkin. Dia ingin disukai. Dia ingin yang lainnya percaya kepadanya. Dan bukannya Marco tak tahu bagaimana caranya agar yang lainnya menyukainya. Tentu saja dengan melakukannya kan. benar? Bertingkah layaknya orang baik. Membantu orang lain, menghargai orang lain dan sebagainya. Bahkan juga mengatakan sesuatu yang baik di saat yang tepat jika dia cukup pintar.


Heh. Itu seperti Udin. Bukan aku, Marco bukanlah Udin dan dia bahkan tak bisa meniru Udin. Dan kini sudah terlambat untuk mencobanya. Tak ada satupun yang menganggap dirinya baik, tak ada yang menyukainya. Dan tentu saja tak ada satupun yang peduli kepadanya.


Akan tetapi, setidaknya dia senang dengan hal itu. Sesuatu seperti “Barto, kau duluan,”. Jika kawan-kawannya berhasil kabur karena hal itu, maka mungkin mereka akan sangat berterima kasih karenanya. Mungkin mereka akan berkata, “Terima kasih, Marco, kau menyelamatkan kami.” dalam beberapa saat yang lalu, dia sungguh sangat


keren.


“Akankah kalian sedikit lebih memikirkan tentangku sesekali?” Marco berbisik dan saat dia berbisik, babi-cacing yang mengelilinginya mulai ribut dan mendekat ke mukanya dengan penuh semangat.


“Hey! Tidak! Yang kumaksud bukan kalian! Maksudku timku, bukan kau jelek!”


Seketika saat Marco sedang berada dalam mood yang sentimental, ****-cacing tersebut mengacaukan segalanya. Mungkin saja itu adalah hal yang bagus. Tapi jika dia akan mati di sini, dia sungguh tak ingin mati dengan di kerubungi ****-cacing hingga mati. Dia ingin mati dengan cara yang lebih keren. Seperti mati dalam pertarungan.


“...apakah mereka menyerah?”


Pengecut, Marco menyeringai lebar. Mungkin dia akhirnya benar-benar bisa keluar dari sini. Dia mencoba mengayunkan pedang panjangnya hanya dengan menggunakan tangan kanan dan walau gerakan tersebut menyebabkan luka di tangan kirinya terbuka, sakitnya masih bisa ia tahan.

__ADS_1


“Tidak mungkin aku akan mati semudah itu, sekarang itulah apa yang kupikir...”


Pikiran itu muncul di benaknya saat dia berjalan lagi, sambil bersenandung. Apakah mereka benar-benar meninggalkanku di bawah sini? Ya, kelompoknya hanyalah sekumpulan orang lemah, tapi pada dasarnya, bukan orang jahat. Mungkin mereka membenci Marco, tapi mereka semua adalah rekan seperjuangan dan rekan seperjuangan tidak mungkin meninggalkan kawannya dengan mudah, kan? Marco punya prasangka bahwa rekan


sesungguhnya tidak mungkin melakukan hal seperti itu pada kawannya tak peduli seberapa besar mereka menginginkannya.


Mungkin, hanya kemungkinan, mereka benar-benar mencari Marco. Itu bukanlah hal yang perlu ditanyakan.


“Kuharap kalian masih ada di sini...” Marco mengeluh. Karena kalian adalah orang-orang lemah. Bukan berarti bagus kalau kalian membahayakan diri kalian untukku. Melakukan hal seperti itu sungguh layak untuk pria jantan sepertiku.


Jika yang lain mati karena mereka kembali untuk mencari Marco...


“Sungguh tidak lucu.” Memikirkan hal tersebut membuat Marco merinding. Dia terkejut dengan sendirinya. Tidak mungkin. Sungguh tidak mungkin. Marco sungguh tak ingin meragukan mereka seperti itu. Tidak mungkin. Hentikan itu. Jika suaranya bisa mencapai yang lain dari kejauhan di mana mereka berada sekarang, dia mungkin akan berkata pada mereka untuk tak memikirkan tentang dirinya dan tinggal pergi saja dari tambang ini secepat mungkin. Mungkin bukan langsung kembali ke Atalante, tapi untuk menunggu di sekitar pintu keluar atau sekitarnya.


“Ugh.” Marco menggerutu saat sebuah sakit yang dalam terasa di luka di tangannya saat dia bersandar ke pagar kayu. Walau dia tak apa-apa. Dia tak apa-apa.


Sepasang kobold muncul dari belokan di depan. Mereka tak melihat Marco sekarang tapi cepat atau lambat mereka pasti akan menemukannya. Marco tak punya pilihan lain selain untuk mengambil langkah pertama. Keputusan telah dibuat, Marco mengambil kuda-kuda. Dia tak bisa lari dengan benar karena tangannya yang terluka, jadi dia menyeret kakinya di tanah dan mendekati kobold itu.


Mereka menengok ke arahnya dan saat itu juga, Marco melangkah maju, menggunakan [ANGER THRUST]. Tapi itu tak sama seperti [ANGER THRUST] yang biasa ia gunakan. Itu adalah [ANGER THRUST] versi dua [ANGER THRUST SUNYI]. Pedang panjang Marco menusuk tepat ke tengah tenggorokan kobold itu. Kobold itu meronta-ronta, tapi suara tenggorokannya yang terluka membuatnya tak bisa bersuara.


Selanjutnya, Marco mengayunkan pedangnya rendah, menyabet kaki kobold yang satunya dari bawah. Saat kobold itu terjatuh, Marco menginjakkan kakinya keras di kepala kobold itu, dengan cepat membuatnya tak bisa bergerak. Marco berlutut ke bawah, tangannya sakit tak tertahankan. Semakin dia mencoba menahannya, bagaimanapun,


sakitnya terlihat menjadi lebih reda.


Setelah dia selesai mengumpulkan jimat dari tubuh mayat mereka, Marco mengangguk dengan paksa.

__ADS_1


“Aku akan membunuh mereka semua, sekaligus.”


__ADS_2