
Mereka telah mencapai
tingkatan ketiga dan baru saja mau menghela nafas ketika seekor petua dan
bawahannya muncul, kemudian menyerang mereka secara tiba-tiba. Pertarungannya
langsung berubah menjadi kacau.
Haruhiro menggerutu
sembari dia terus-terusan melakukan [SWAT], [SWAT], [SWAT] dan berhasil
menangkis serangan Kobold A. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Itulah
apa yang terjadi kalau dia bertarung berhadap-hadapan dengan musuh. Dan karena
dia harus memfokuskan perhatiannya kepada pergerakan tangan kobold dan
senjatanya, dia tak tahu apa yang terjadi dengan yang lainnya.
Apakah semuanya baik-baik
saja? Bagaimana dengan mereka? Dia cemas, tapi tak bisa beralih sedetik pun
untuk memikirkannya. Waktu. Dia harus mengulur waktu, bahkan walau sebentar
saja, dengan menjaga perhatian musuhnya kepadanya. Kemampuan Barto saat ini
pasti bisa membuatnya mengalahkan satu petua sendirian. Vina tak takut akan
pertarungan, jadi dia pasti sanggup menahan Kobold B sendirian.
Haruhiro juga punya Lusi
dan Alice yang bisa membantunya. Kalau Haruhiro bisa benar-benar mendominasi
Kobold A, pasti ada kesempatan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia mungkin
tak bisa membunuhnya sendirian, tapi paling tidak dia bisa membuatnya tetap
sibuk.
Kobold A mengaum dan
tiba-tiba berbalik darinya. Sial! Dengan melihat pergerakan ekornya, Haruhiro
tahu dia berada dalam masalah. Kobold A berputar, mengayunkan pedang, lengannya
menjulur panjang. Haruhiro sadar bahwa tak mungkin dia bisa menangkis sebuah
serangan seperti itu, tapi tubuhnya bergerak melancarkan [SWAT] karena refleks.
Kapan pun dia diserang,
[SWAT] pun datang. Dia telah berlebihan menggunakan teknik itu, hingga membentuk
suatu kebiasaan buruk. Semuanya berubah menjadi hal yang ia takutkan.
“Argh!” Haruhiro
menggerutu saat pedang kobold itu menghancurkan, melewati belatinya, dan
menghempaskan dirinya. Kobold A menekannya, sembari mengaum gila.
Haruhiro tak punya waktu
untuk menangkis, jadi dia hanya menghindar. Menghindari pergerakan sia-sia tak
pernah terlintas di pikirannya, malahan, dia mengerahkan semua yang ia punya
untuk menggerakkan tubuhnya menghindar. Dia tahu bahwa pergerakannya sungguh
tidak efisien, dan berharap dia bisa menenangkan dirinya sendiri sembari
bertarung dengan benar. Tapi dia tak bisa. Dia panik.
Haruhiro tahu dirinya
megap-megap saat pedang kobold itu menusuk ke lengan kirinya, sedikit di atas
siku. Tak apa... hanya sebuah goresan... dia mengatakannya pada dirinya
sendiri. Tapi darah yang mengucur dari lukanya semakin banyak. Dan itu sakit.
Sialan?! Kobold, beri aku waktu istirahat, boleh? Aku memohon dengan baik-baik!
Mengapa dia memohon? Haruhiro sungguh bodoh.
Bahkan kalau Haruhiro
memohon baik-baik, kobold itu mungkin tak peduli. Kobold A mungkin akan
menjawabnya, “jangan pikir aku bodoh”. Kobold itu mengaum lagi padanya dan
berbalik sekali lagi. Kobold itu bersiap melancarkan serangan yang sama.
Silahkan dan coba saja!
Pikir Haruhiro. Dia bisa melihatnya sekarang. Setelah melihat teknik yang telah
digunakan sekali, tidak ada yang ditakutkan sekarang. Haruhiro melompat mundur,
memberikan jarak yang cukup jauh sehingga serangan kobold itu tak bisa
menggapainya. Paling tidak, begitulah yang dia harapkan. Tapi kobold itu
tiba-tiba melakukan salto, dan datang menghampirinya.
“Apa-apaan--!” Haruhiro melotot dengan terkejut.
Bukannya menyerang
Haruhiro dengan senjatanya, Kobold A malah menendangnya tepat di dada, sehingga
menghempaskannya terbang. Haruhiro mendarat dengan punggungnya, keras, dan
kobold itu masih datang menghampirinya. Sial! Berakhir sudah riwayatnya.
“[LIGHT OF JUDGEMENT!]”
Secercah cahaya
menyilaukan ditembakkan ke Kobold A. Itu adalah sihir Lusi. Kobold itu langsung
melompat ke belakang mencoba untuk menghindarinya. Saat Haruhiro kembali
berdiri, Lusi membopongnya, dengan lembut dan anggun. Dia mengayunkan
tongkatnya melingkar dengan lengkungan lebar.
“[SMASH!]”
Senjata Lusi mengenai
__ADS_1
sisi tubuh kobold. Sungguh brilian, kombinasi menakjubkan dari teknik [LIGHT OF
JUDGEMENT] dan [SMASH]. Aku tidak bisa hanya berdiri dan mengaguminya! Pikir
Haruhiro. Kobold A tergoyang. Haruhiro langsung melaju ke belakangnya,
memperpendek jarak di antara mereka, dan, memakai [WIDOW MAKER], dia menusukkan
belatinya ke dahi kobold itu.
Saat Haruhiro melompat
menjauh, tatapan matanya bertemu dengan Lusi selama beberapa detik. “Terima
kasih!” ucap Haruhiro, sebelum mengalihkan perhatiannya ke keadaan yang ada di
sekitarnya.
Barto mendominasi
pertarungannya dengan bos petua, tapi Vina kesulitan melawan kobold pekerja
yang tersisa dan dia terlihat terluka juga. Dia membutuhkan pertolongan
secepatnya. Alice merapalkan [SHADOW BIND] pada petua, menghentikan
pergerakannya dan membuat Barto menyerang penuh untuk mengakhirinya. Setelah
itu, semuanya menyerang Kobold B dan membunuhnya dengan mudah.
Keadaan menjadi sunyi
setelahnya, dan mereka akhirnya bisa beristirahat. Mereka bergegas mengumpulkan
jimat dari tubuh para kobold, sedangkan Lusi menyembuhkan mereka.
“Sepertinya kita
berhasil, walau tanpa Marco,” ucap Vina dengan sedikit senyum, walau kelelahan
terpancar di wajahnya.
Seperti Haruhiro, dia
juga terluka karena pertarungan tadi. Baginya, sepertinya ‘berhasil’ kurang
tepat untuk diucapkan, daripada “Mereka berhasil dengan mati-matian.”
“Tapi... tadi sungguh
nyaris, kurasa,” ucap Alice, menatap ke bawah. “Mungkin... Vina, Haruhiro,
kalian berdua hanya tak cukup bagus bertarung di lini depan. Ah... tapi,
bukannya aku mencoba untuk mengkritik kalian atau semacamnya...”
“Aku tahu,” Haruhiro
tersenyum pada Alice, walau senyumnya sedikit berlebihan daripada apa yang dia
maksudkan. “Aku setuju. Aku dan Vina sungguh tak cocok untuk melawan langsung
musuh dalam pertarungan, tak peduli betapa keras kami mencoba. Untukku, paling
tidak, ketika keadaan memburuk, aku termanipulasi oleh musuhku. Dan ketika
keadaannya membaik, itu karena aku sedikit saja berhasil menghindarinya. Atau
begitulah yang aku rasakan. Dan karena itu, keadaan menjadi terlalu tegang,
Kurasa hal tersebut membuatnya semakin susah untuk memperhatikan semua yang
terjadi di sekeliling.”
“Tapi ini tidak seperti kalau Marco ada di sini juga,” Ucap Lusi.
Walau Lusi mungkin
terlihat ingin mendukung pendapat Haruhiro dengan pernyataan tersebut, sesuatu
membuat Haruhiro memiringkan kepalanya karena bingung.
“Ya, itu benar. Tapi
kupikir Marco bermaksud mencoba menjaga perhatian satu musuh benar-benar
kepadanya, ketika pertarungan berlangsung. Saat kita menawarkan bantuan
kepadanya sebelumnya, dia akan terganggu oleh kita. Tentu, terkadang itu
sungguh bodoh, tapi kalau kita biarkan dia melakukannya, dia benar-benar
menjaga satu musuh itu dari kita. Aku menyadarinya betapa besar perbedaan yang
ia buat. Dan dia juga...”
Haruhiro tak mau
mengakuinya, tapi akan tidak adil kalau dia tidak mengakuinya. Dan itu adalah
kenyataannya, jadi dia merasa ragu.
Dia mengambil nafas dalam
dan berkata, “Kenyataannya, dia juga menjadi lebih kuat. Dia bertarung lebih
baik daripada sebelumnya. Aku tidak tahu, mungkin itu karena dia menggunakan
tekniknya berlebihan, tapi dia menjadi sangat piawai untuk mengkombinasikan
tekniknya dengan milik kita. Tanpa keraguan lagi, aku mengakui bahwa dia
menjadi aset yang penting.”
Mungkin aset yang lebih
penting daripada aku, Haruhiro berpikir seperti itu dan hampir menyeplos, tapi
dia langsung berhenti sejenak. Tidak ada gunanya dia merendahkan dirinya
sendiri sekarang.
“M-Mungkin kita harus…”
Barto memulai bicara namun, langsung terdiam.
“Semuanya tahu Vina benci
sama Marco,” ucap Vina, dia menggembungkan satu sisi pipinya dan melotot
memandang ke sekeliling. “Kapan pun Marco bilang Vina berdada rata, itu sungguh
membuat Vina sakit hati, tak peduli seberapa banyak celaan yang Vina katakan
__ADS_1
padanya, dia tak menyerah. Jadi kalau orang-orang tanya apa ada alasan Vina
suka sama orang kayak gitu, Vina gak bisa jawab.”
“Ya,” Haruhiro
mengangguk, menyemangatinya untuk melanjutkan perkataannya.
“Tapi walau begitu,”
tatapan Vina jatuh ke lantai sembari dia menggembungkan kedua sisi pipinya.
“Tapi walau Vina benci sama kelakuan Marco, tim ini mengalami kesulitan
tanpanya. Walau dia hanya satu orang. Ketika Vina berpikir gimana jadinya kita
di posisi Marco... dia kehilangan Haruhiro, Barto, Alice, Lusi, Vina... lima
dari kita. Bayangin betapa kuatnya dia harus kehilangan kita semua.”
“Vina...” Alice berbisik
padanya, memeluknya di sekitar pundak.
“Ketika Vina
membayangkannya...” Vina kelihatannya akan menangis. “Kalau Vina ada di posisi
seperti itu, sendirian di tempat kayak gitu, Vina bakal beneran kesepian dan
putus asa hingga gak bisa lakuin apa-apa. Bagaimana dengan Marco, Vina gak
tahu...”
“Lagian, dia...” Haruhiro
mulai berbicara, lalu kembali menutup mulutnya, dan mengambil nafas dalam
melalui hidungnya.
Sungguh rancu kalau kita
harus berpikir serius sekarang. Itu seperti, saat ini dia sedang berada pada
jurang di gunung kegilaan, tapi bagaimanapun juga, dia harus menenangkan
pikirannya, dan membuat keputusan yang logis. Bisakah dia melakukannya? Bisakah
dia menggunakan kesempatannya?
Jujur saja, dia tak akan
tahu sampai dia mencobanya. Dan walau dia mencobanya, mungkin dia masih akan
tak tahu. Saat ini dia tenang dan kalem kan? Bagaimana bisa dia tahu kalau dia
sedang tenang? Dengan menanyakannya pada seseorang, mungkin? Menengok ke yang
lain dan bertanya, hei kawan-kawan, apakah aku terlihat tenang di mata kalian?
Apa-apaan itu, tidak mungkin lah.
Semuanya menatap
Haruhiro, menunggu untuk mendengar apa yang akan dia katakan selanjutnya.
Semuanya melihatnya untuk mengambil keputusan. Dia tak punya pilihan selain
mengumumkan keputusannya.
“Kita tak tahu apakah Marco
masih hidup atau tidak,” ucap Haruhiro. “Tapi aku ingin mempercayai bahwa dia
masih hidup. Dan aku ingin berasumsi bahwa dia bertahan. Kalau kita tak
mempercayainya, maka tak ada gunanya kita melakukan apapun. Ya, Marco masih hidup.
Dan kalau dia masih hidup, aku ingin menolongnya.”
Haruhiro tak bisa memaksa
seseorang untuk mengambil keputusan atau meninggalkannya, dan mengabaikan
semuanya lalu lari dari tanggung jawab itu. Itulah kenyataannya.
“Kita akan turun ke
tingkatan keempat dulu, lalu melihat keadaan jika kita bisa turun kembali ke
tingkatan kelima. Tapi aku tidak mau mengambil risiko apapun. Marco tertinggal
untuk memberi kita kesempatan lari. Kalau kita semua sampai terbunuh saat akan
menolongnya, maka perjuangan Marco akan menjadi sia-sia.”
Aku sungguh orang yang
buruk, Haruhiro tak bisa menyangkalnya. Dia tak bisa mengucapkannya
keras-keras, tapi kalau itu adalah rekannya selain Marco, dia mungkin akan
membuat keputusan yang sama, tapi dengan prioritas yang berkebalikan dan kurang
hati-hati. Marco... mungkin ini karena kau, aku bisa menghindari mengambil
keputusan yang tergesa-gesa.
“Keselamatan grup kita
akan menjadi prioritas utama. Kita tak akan memaksakan diri kalau keadaan
terlihat berbahaya, kita akan kembali dan pergi keluar. Jika hal itu terjadi,
kita bisa memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ada yang menyangkal
pendapatku?”
Dia sungguh tidak percaya akan ada yang mengangkat tangannya. Dan tidak ada yang melakukannya.
Tapi Haruhiro adalah
orang yang mengambil keputusan tersebut, semuanya hanya menyetujuinya. Dia
hanya berpikir bahwa beban akan tanggung jawabnya, beban dari semua ketakutan
dan keraguan berada di pundaknya, akan menghancurkannya; walau bukan itulah
masalah sebenarnya. Entah kenapa, dia merasa tenang walau agak aneh.
Keputusannya sudah
dibuat. Sekarang apa yang harus mereka lakukan adalah menjalankannya. Dan
__ADS_1
mereka mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk berhasil melakukannya.
“Baiklah,” ucap Haruhiro. “Ayo. Marco sudah menunggu kita.”