KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 12 - Saat Kritis


__ADS_3

Mereka telah mencapai


tingkatan ketiga dan baru saja mau menghela nafas ketika seekor petua dan


bawahannya muncul, kemudian menyerang mereka secara tiba-tiba. Pertarungannya


langsung berubah menjadi kacau.


Haruhiro menggerutu


sembari dia terus-terusan melakukan [SWAT], [SWAT], [SWAT] dan berhasil


menangkis serangan Kobold A. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu. Itulah


apa yang terjadi kalau dia bertarung berhadap-hadapan dengan musuh. Dan karena


dia harus memfokuskan perhatiannya kepada pergerakan tangan kobold dan


senjatanya, dia tak tahu apa yang terjadi dengan yang lainnya.


Apakah semuanya baik-baik


saja? Bagaimana dengan mereka? Dia cemas, tapi tak bisa beralih sedetik pun


untuk memikirkannya. Waktu. Dia harus mengulur waktu, bahkan walau sebentar


saja, dengan menjaga perhatian musuhnya kepadanya. Kemampuan Barto saat ini


pasti bisa membuatnya mengalahkan satu petua sendirian. Vina tak takut akan


pertarungan, jadi dia pasti sanggup menahan Kobold B sendirian.


Haruhiro juga punya Lusi


dan Alice yang bisa membantunya. Kalau Haruhiro bisa benar-benar mendominasi


Kobold A, pasti ada kesempatan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia mungkin


tak bisa membunuhnya sendirian, tapi paling tidak dia bisa membuatnya tetap


sibuk.


Kobold A mengaum dan


tiba-tiba berbalik darinya. Sial! Dengan melihat pergerakan ekornya, Haruhiro


tahu dia berada dalam masalah. Kobold A berputar, mengayunkan pedang, lengannya


menjulur panjang. Haruhiro sadar bahwa tak mungkin dia bisa menangkis sebuah


serangan seperti itu, tapi tubuhnya bergerak melancarkan [SWAT] karena refleks.


Kapan pun dia diserang,


[SWAT] pun datang. Dia telah berlebihan menggunakan teknik itu, hingga membentuk


suatu kebiasaan buruk. Semuanya berubah menjadi hal yang ia takutkan.


“Argh!” Haruhiro


menggerutu saat pedang kobold itu menghancurkan, melewati belatinya, dan


menghempaskan dirinya. Kobold A menekannya, sembari mengaum gila.


Haruhiro tak punya waktu


untuk menangkis, jadi dia hanya menghindar. Menghindari pergerakan sia-sia tak


pernah terlintas di pikirannya, malahan, dia mengerahkan semua yang ia punya


untuk menggerakkan tubuhnya menghindar. Dia tahu bahwa pergerakannya sungguh


tidak efisien, dan berharap dia bisa menenangkan dirinya sendiri sembari


bertarung dengan benar. Tapi dia tak bisa. Dia panik.


Haruhiro tahu dirinya


megap-megap saat pedang kobold itu menusuk ke lengan kirinya, sedikit di atas


siku. Tak apa... hanya sebuah goresan... dia mengatakannya pada dirinya


sendiri. Tapi darah yang mengucur dari lukanya semakin banyak. Dan itu sakit.


Sialan?! Kobold, beri aku waktu istirahat, boleh? Aku memohon dengan baik-baik!


Mengapa dia memohon? Haruhiro sungguh bodoh.


Bahkan kalau Haruhiro


memohon baik-baik, kobold itu mungkin tak peduli. Kobold A mungkin akan


menjawabnya, “jangan pikir aku bodoh”. Kobold itu mengaum lagi padanya dan


berbalik sekali lagi. Kobold itu bersiap melancarkan serangan yang sama.


Silahkan dan coba saja!


Pikir Haruhiro. Dia bisa melihatnya sekarang. Setelah melihat teknik yang telah


digunakan sekali, tidak ada yang ditakutkan sekarang. Haruhiro melompat mundur,


memberikan jarak yang cukup jauh sehingga serangan kobold itu tak bisa


menggapainya. Paling tidak, begitulah yang dia harapkan. Tapi kobold itu


tiba-tiba melakukan salto, dan datang menghampirinya.


“Apa-apaan--!” Haruhiro melotot dengan terkejut.


Bukannya menyerang


Haruhiro dengan senjatanya, Kobold A malah menendangnya tepat di dada, sehingga


menghempaskannya terbang. Haruhiro mendarat dengan punggungnya, keras, dan


kobold itu masih datang menghampirinya. Sial! Berakhir sudah riwayatnya.


“[LIGHT OF JUDGEMENT!]”


Secercah cahaya


menyilaukan ditembakkan ke Kobold A. Itu adalah sihir Lusi. Kobold itu langsung


melompat ke belakang mencoba untuk menghindarinya. Saat Haruhiro kembali


berdiri, Lusi membopongnya, dengan lembut dan anggun. Dia mengayunkan


tongkatnya melingkar dengan lengkungan lebar.


“[SMASH!]”


Senjata Lusi mengenai

__ADS_1


sisi tubuh kobold. Sungguh brilian, kombinasi menakjubkan dari teknik [LIGHT OF


JUDGEMENT] dan [SMASH]. Aku tidak bisa hanya berdiri dan mengaguminya! Pikir


Haruhiro. Kobold A tergoyang. Haruhiro langsung melaju ke belakangnya,


memperpendek jarak di antara mereka, dan, memakai [WIDOW MAKER], dia menusukkan


belatinya ke dahi kobold itu.


Saat Haruhiro melompat


menjauh, tatapan matanya bertemu dengan Lusi selama beberapa detik. “Terima


kasih!” ucap Haruhiro, sebelum mengalihkan perhatiannya ke keadaan yang ada di


sekitarnya.


Barto mendominasi


pertarungannya dengan bos petua, tapi Vina kesulitan melawan kobold pekerja


yang tersisa dan dia terlihat terluka juga. Dia membutuhkan pertolongan


secepatnya. Alice merapalkan [SHADOW BIND] pada petua, menghentikan


pergerakannya dan membuat Barto menyerang penuh untuk mengakhirinya. Setelah


itu, semuanya menyerang Kobold B dan membunuhnya dengan mudah.


Keadaan menjadi sunyi


setelahnya, dan mereka akhirnya bisa beristirahat. Mereka bergegas mengumpulkan


jimat dari tubuh para kobold, sedangkan Lusi menyembuhkan mereka.


“Sepertinya kita


berhasil, walau tanpa Marco,” ucap Vina dengan sedikit senyum, walau kelelahan


terpancar di wajahnya.


Seperti Haruhiro, dia


juga terluka karena pertarungan tadi. Baginya, sepertinya ‘berhasil’ kurang


tepat untuk diucapkan, daripada “Mereka berhasil dengan mati-matian.”


“Tapi... tadi sungguh


nyaris, kurasa,” ucap Alice, menatap ke bawah. “Mungkin... Vina, Haruhiro,


kalian berdua hanya tak cukup bagus bertarung di lini depan. Ah... tapi,


bukannya aku mencoba untuk mengkritik kalian atau semacamnya...”


“Aku tahu,” Haruhiro


tersenyum pada Alice, walau senyumnya sedikit berlebihan daripada apa yang dia


maksudkan. “Aku setuju. Aku dan Vina sungguh tak cocok untuk melawan langsung


musuh dalam pertarungan, tak peduli betapa keras kami mencoba. Untukku, paling


tidak, ketika keadaan memburuk, aku termanipulasi oleh musuhku. Dan ketika


keadaannya membaik, itu karena aku sedikit saja berhasil menghindarinya. Atau


begitulah yang aku rasakan. Dan karena itu, keadaan menjadi terlalu tegang,


Kurasa hal tersebut membuatnya semakin susah untuk memperhatikan semua yang


terjadi di sekeliling.”


“Tapi ini tidak seperti kalau Marco ada di sini juga,” Ucap Lusi.


Walau Lusi mungkin


terlihat ingin mendukung pendapat Haruhiro dengan pernyataan tersebut, sesuatu


membuat Haruhiro memiringkan kepalanya karena bingung.


“Ya, itu benar. Tapi


kupikir Marco bermaksud mencoba menjaga perhatian satu musuh benar-benar


kepadanya, ketika pertarungan berlangsung. Saat kita menawarkan bantuan


kepadanya sebelumnya, dia akan terganggu oleh kita. Tentu, terkadang itu


sungguh bodoh, tapi kalau kita biarkan dia melakukannya, dia benar-benar


menjaga satu musuh itu dari kita. Aku menyadarinya betapa besar perbedaan yang


ia buat. Dan dia juga...”


Haruhiro tak mau


mengakuinya, tapi akan tidak adil kalau dia tidak mengakuinya. Dan itu adalah


kenyataannya, jadi dia merasa ragu.


Dia mengambil nafas dalam


dan berkata, “Kenyataannya, dia juga menjadi lebih kuat. Dia bertarung lebih


baik daripada sebelumnya. Aku tidak tahu, mungkin itu karena dia menggunakan


tekniknya berlebihan, tapi dia menjadi sangat piawai untuk mengkombinasikan


tekniknya dengan milik kita. Tanpa keraguan lagi, aku mengakui bahwa dia


menjadi aset yang penting.”


Mungkin aset yang lebih


penting daripada aku, Haruhiro berpikir seperti itu dan hampir menyeplos, tapi


dia langsung berhenti sejenak. Tidak ada gunanya dia merendahkan dirinya


sendiri sekarang.


“M-Mungkin kita harus…”


Barto memulai bicara namun, langsung terdiam.


“Semuanya tahu Vina benci


sama Marco,” ucap Vina, dia menggembungkan satu sisi pipinya dan melotot


memandang ke sekeliling. “Kapan pun Marco bilang Vina berdada rata, itu sungguh


membuat Vina sakit hati, tak peduli seberapa banyak celaan yang Vina katakan

__ADS_1


padanya, dia tak menyerah. Jadi kalau orang-orang tanya apa ada alasan Vina


suka sama orang kayak gitu, Vina gak bisa jawab.”


“Ya,” Haruhiro


mengangguk, menyemangatinya untuk melanjutkan perkataannya.


“Tapi walau begitu,”


tatapan Vina jatuh ke lantai sembari dia menggembungkan kedua sisi pipinya.


“Tapi walau Vina benci sama kelakuan Marco, tim ini mengalami kesulitan


tanpanya. Walau dia hanya satu orang. Ketika Vina berpikir gimana jadinya kita


di posisi Marco... dia kehilangan Haruhiro, Barto, Alice, Lusi, Vina... lima


dari kita. Bayangin betapa kuatnya dia harus kehilangan kita semua.”


“Vina...” Alice berbisik


padanya, memeluknya di sekitar pundak.


“Ketika Vina


membayangkannya...” Vina kelihatannya akan menangis. “Kalau Vina ada di posisi


seperti itu, sendirian di tempat kayak gitu, Vina bakal beneran kesepian dan


putus asa hingga gak bisa lakuin apa-apa. Bagaimana dengan Marco, Vina gak


tahu...”


“Lagian, dia...” Haruhiro


mulai berbicara, lalu kembali menutup mulutnya, dan mengambil nafas dalam


melalui hidungnya.


Sungguh rancu kalau kita


harus berpikir serius sekarang. Itu seperti, saat ini dia sedang berada pada


jurang di gunung kegilaan, tapi bagaimanapun juga, dia harus menenangkan


pikirannya, dan membuat keputusan yang logis. Bisakah dia melakukannya? Bisakah


dia menggunakan kesempatannya?


Jujur saja, dia tak akan


tahu sampai dia mencobanya. Dan walau dia mencobanya, mungkin dia masih akan


tak tahu. Saat ini dia tenang dan kalem kan? Bagaimana bisa dia tahu kalau dia


sedang tenang? Dengan menanyakannya pada seseorang, mungkin? Menengok ke yang


lain dan bertanya, hei kawan-kawan, apakah aku terlihat tenang di mata kalian?


Apa-apaan itu, tidak mungkin lah.


Semuanya menatap


Haruhiro, menunggu untuk mendengar apa yang akan dia katakan selanjutnya.


Semuanya melihatnya untuk mengambil keputusan. Dia tak punya pilihan selain


mengumumkan keputusannya.


“Kita tak tahu apakah Marco


masih hidup atau tidak,” ucap Haruhiro. “Tapi aku ingin mempercayai bahwa dia


masih hidup. Dan aku ingin berasumsi bahwa dia bertahan. Kalau kita tak


mempercayainya, maka tak ada gunanya kita melakukan apapun. Ya, Marco masih hidup.


Dan kalau dia masih hidup, aku ingin menolongnya.”


Haruhiro tak bisa memaksa


seseorang untuk mengambil keputusan atau meninggalkannya, dan mengabaikan


semuanya lalu lari dari tanggung jawab itu. Itulah kenyataannya.


“Kita akan turun ke


tingkatan keempat dulu, lalu melihat keadaan jika kita bisa turun kembali ke


tingkatan kelima. Tapi aku tidak mau mengambil risiko apapun. Marco tertinggal


untuk memberi kita kesempatan lari. Kalau kita semua sampai terbunuh saat akan


menolongnya, maka perjuangan Marco akan menjadi sia-sia.”


Aku sungguh orang yang


buruk, Haruhiro tak bisa menyangkalnya. Dia tak bisa mengucapkannya


keras-keras, tapi kalau itu adalah rekannya selain Marco, dia mungkin akan


membuat keputusan yang sama, tapi dengan prioritas yang berkebalikan dan kurang


hati-hati. Marco... mungkin ini karena kau, aku bisa menghindari mengambil


keputusan yang tergesa-gesa.


“Keselamatan grup kita


akan menjadi prioritas utama. Kita tak akan memaksakan diri kalau keadaan


terlihat berbahaya, kita akan kembali dan pergi keluar. Jika hal itu terjadi,


kita bisa memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Ada yang menyangkal


pendapatku?”


Dia sungguh tidak percaya akan ada yang mengangkat tangannya. Dan tidak ada yang melakukannya.


Tapi Haruhiro adalah


orang yang mengambil keputusan tersebut, semuanya hanya menyetujuinya. Dia


hanya berpikir bahwa beban akan tanggung jawabnya, beban dari semua ketakutan


dan keraguan berada di pundaknya, akan menghancurkannya; walau bukan itulah


masalah sebenarnya. Entah kenapa, dia merasa tenang walau agak aneh.


Keputusannya sudah


dibuat. Sekarang apa yang harus mereka lakukan adalah menjalankannya. Dan

__ADS_1


mereka mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk berhasil melakukannya.


“Baiklah,” ucap Haruhiro. “Ayo. Marco sudah menunggu kita.”


__ADS_2