
Panas ... itu adalah hal pertama yang terpikirkan oleh mereka ketika menuruni sumur tenggelam dari tingkat empat ke tingkat lima. Suhu di tingkat empat cukup dingin, sedangkan tingkat kelima sungguh kontras. Suhunya jauh lebih tinggi, dan alasannya sangatlah jelas. Penyebabnya adalah tungku, baik besar maupun kecil, semuanya berjajar pada jalur terowongan.
Tingkat kelima adalah kilang, di mana bijih mineral digali dan dileburkan. Tidak semua tungku dinyalakan, tetapi terdapat banyak kobold pekerja yang hiruk-pikuk pada tungku yang digunakan. Kobolds pekerja lainnya duduk dengan santai di sekitar ruang, sepertinya itu memang ruangan yang digunakan untuk istirahat. Beberapa tempat
dipenuhi oleh kobolds, sementara tempat lainnya cukup tenang dan sepi. Sesekali, seorang petua dan bawahannya muncul.
Ada juga tempat yang dibuat untuk lahan berburu untuk pasukan cadangan, dan Lusi pun menuntun mereka pada tempat tersebut. Itu merupakan terowongan yang salah satu ujungnya buntu, tapi jalannya cukup besar dan melingkar, sehingga itu tidak benar-benar buntu.
Tempat itu berjarak cukup jauh dari salah satu tungku, tapi tidak terlalu jauh dari daerah peristirahatan para kobolds pekerja, atau beberapa pos di mana para petua mengawasi anak buahnya. Itu adalah area yang mungkin bisa dimasuki kobolds jika mereka pergi berjalan-jalan ketika berganti shift, dan beberapa kobold terlihat semakin
mendekat.
Di tempat itulah Haruhiro dan kawan-kawan menunggu ... dan mereka akan segera bergerak ketika ada kobold yang datang. Marco, semakin tidak sabar, geram, dan jengkel.
Vina mendesah kesal. "Jika kau tidak bisa bersabar, maka mengapa kau tidak mencoba tidur siang?"
"Jika aku tertidur," Marco balas, "kalian akan meninggalkan aku di belakang sendirian. "
"Sial. Gagal lagi. "
“Sungguh sialan, nona Papan Cucuian. Aku tahu apa yang kau pikirkan bahkan sebelum kau memikirkannya. Aku bisa melihat menembus dirimu!”
"Jangan sebut Vina dengan panggilan seperti itu!" Kata Vina.
“Aku akan memanggilmu apa pun yang aku inginkan, dasar bodoh! Datar datar datar datar datar datar datar datar datar!”
Ekspresi Vina berubah menjadi geram.
"V-Vina ..." kata Alice, sembari dengan lembut menepuk punggung Vina, "Menurutku, dadamu tidak datar".
"Alice punya dada besar, sehingga itu tidak membuat Vina merasa lebih baik!"
"Oh ... aku ... maaf ... tapi aku hanya berlemak ... Maafkan aku ..."
"Vina juga," kata Vina untuk minta maaf. "Jangan pedulikan apa yang Vina katakan. Memiliki dada yang besar bukanlah salahmu, dan Vina juga tak pernah minta untuk diberi dada yang kecil. Dan Vina adalah seorang Hunter yang menggunakan busur untuk berburu, sehingga terkadang, memiliki dada besar hanya akan menggangguku
ketika bergerak ..."
"Um ... itu mungkin benar," Alice setuju dengan ragu-ragu.
"Vina mungkin memang dilahirkan untuk menjadi seorang Hunter," kata Vina.
"Jenis penalaran aneh macam apa itu?" Marco menantang.
Haruhiro sedikit setuju pada Marco kali ini, tapi lebih baik dia tidak melibatkan diri dalam percakapan bodoh ini. Karena inilah saat yang tepat untuk melatih skill “biarkan saja” miliknya. Biarkan saja ... Sudah, biarkan saja ... Haruhiro punya firasat bahwa jika dia terus melatih skill “biarkan saja”, maka dia akan naik level pada suatu tingkatan tertentu.
Tingkat kelima adalah tempat yang berisik, tapi lahan berburu yang mereka diami sekarang relatif tenang. Kebisingan juga bergema dengan mudah, karena ini adalah terowongan pertambangan. Mereka bisa mendengar langkah kaki mendekat. Kemungkinan besar itu adalah suara langkah kaki kobold.
Haruhiro mengangkat tangannya dan menunjukkan jari ke arah itu. Ia kemudian memberi jempol, dan menurunkannya dengan segera. Itu adalah sinyal yang berarti "musuh mendekat, bersiap-siaplah" mereka telah mensepakati kode-kode sinyal seperti itu tepat sebelum memasuki tambang.
Vina menyiapkan busur dan anak panahnya, lantas dia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Alice dan Lusi menyiapkan tongkat mereka. Barto menghunuskan pedang raksasanya, dan Marco melakukan hal yang sama terhadap pedang panjangnya. Haruhiro pun melakukan itu pada belatinya.
Kobold sudah nampak. Seorang petua. Vina membuka matanya mereka bergerak dengan gerakan tertentu, yang menunjukkan bahwa Vina sudah mengaktifkan [SHARP SIGHT], itu adalah skill yang memungkinkan dia untuk melacak gerakan dengan ketelitian tinggi. Lantas dia menembakkan panahnya. Petua itu menjerit saat panah menghujam wajahnya.
Petua itu roboh, dan menggeliat kesakitan, tapi segera datang kobold-kobold lainnya. Yang satu itu juga seekor petua. Mereka berdua, Petua A sudah terluka, sementara yang lain belum.
"Barto, serang yang belum terluka!" Haruhiro memerintahkan itu, dan segera berlari untuk melaksanakannya.
"MATIIIIIIIIIIII!" Marco sudah menyerang si petua A.
Vina telah menjatuhkan busur, lantas menghunuskan Kukri-nya. Alice pun melantunkan, "Oom rel eckt vel dasbor!" mantra [SHADOW ECHO]. Elemental bayangan yang berbentuk seperti rumput laut hitam melonjak dari ujung tongkatnya.
Petua B itu menangkis serangan Barto dengan menggunakan pedang berbilah yang lebar, tetapi pada saat itu juga, elemental bayangan memukulnya tepat di perut. Dia mulai bergetar tak terkendali. Barto menekan pedang petua B ke bawah, lantas dengan teriakan kencang, dia mengangkat pedang raksasa ke atas kepala si monster itu. Kobold
petua berhasil memutar tubuhnya untuk menjauh pada saat-saat terakhir, dan pedang Barto hanya menyerempet sisi kepalanya, bukan membelah tengkorak.
Sementara itu, Marco sambil meneriakkan amarahnya, menghujamkan pedang panjang untuk menembus dada petua A. Ketika Haruhiro dan Vina membantu Barto, petua B langsung memalingkan mukanya lantas kabur.
"Jangan biarkan dia pergi!" Teriak Lusi.
Vina mengoper Kukri-nya pada tangan kiri, dan dengan tangan kanannya, dia mengeluarkan pisau, lantas melemparkannya pada petua itu. [STAR PIERCE], skill itu menghantam petua B pada bahu bawah, tetapi bukannya roboh, monster itu justru terus berlari. Barto berada tepat di belakangnya. Suara armor-nya yang berdentang terdengan dengan jelas, dia mengankat pedangnya tinggi-tinggi, namun musuh masih berada di luar
jangkauan.
"Aku akan menangkapnya!" Haruhiro mempercepat langkahnya, mendorong Vina ke samping, dan melewati Barto. Punggung petua B adalah santapan empuk bagi seorang Thief seperti Haruhiro, monster itu tidak memperhatikan kedatangan Haruhiro karena dia begitu terfokus melarikan diri. Monster itu tidak berusaha memberikan serangan balik untuk melindungi dirinya. Dia juga terluka pada kakinya, dan pergerakannya goyah. Dengan keadaan seperti ini, Haruhiro pasti bisa mengejar monster itu.
"[WIDOW MAKER]!" Haruhiro melompat pada punggung si kobold, menggorok lehernya, dan melompat lagi untuk menjauh.
Si petua terhuyung sebentar, kemudian jatuh ke tanah.
Haruhiro menghela napas lega, "aku berhasil melakukannya ..."
"Kudapatkan Vice-ku" Marco berteriak dengan nada ganas.
Jadi tampaknya Kobold A juga sudah mati.
"Entah kenapa ..." Haruhiro akhirnya tidak kuasa membungkam mulutnya, dan dia mengucapkan beberapa patah kata.
Itu bukanlah pertempuran yang adil, tapi ini juga bukan pertempuran yang licik. Mereka tidak menempatkan semua tanggungan pada Priest, yaitu Lusi, dan setiap orang memberikan kontribusi sesuai dengan keahlian masing-masing. Mereka mampu menyelesaikannya dengan cepat. Itu hampir seperti kerja sama tim yang sesungguhnya.
"Entah kenapa, aku berpikir bahwa ini berjalan dengan sangat baik," Haruhiro melanjutkannya. "Tidakkah kalian berpikir begitu?"
"S-setuju," kata Barto, sembari helm Barbute-nya bergerak naik dan turun, senada dengan gerakan mengangguk. "Aku pikir juga begitu."
"Ya," Vina berkata, sembari melebarkan lubang hidungnya dan menepuk pundak kanan dengan menggunakan tangan kiri. "Panah dan pisau lempar milik Vina sungguh mantap. Vina agak merasa kasihan pada petua itu, tapi Vina sendiri cukup puas"
Alice tersenyum, "Sepertinya, kita sudah memiliki ritme yang bagus. Seakan-akan kita sudah tahu apa yang harus dilakukan setelahnya, dan itulah yang menyebabkan kita menang."
"Ya," Lusi menunjukkan kelebatan senyum pada mereka. "Aku pikir, ini adalah kerja baik."
"Dan itu semua KARENA AKU!!!" Marco mulai membual.
"SEMUA KARENA AKU, DAN SEMUANYA ADALAH MILIKKU!"
Haruhiro menduga bahwa terlalu cepat bagi dirinya untuk mengharap perubahan pada tabiat Marco. Yang, yang perlu ia lakukan hanyalah “biarkan saja” ... tapi kali ini dia tidak bisa.
"Apa maksudmu?" Haruhiro menantang. "Apakah kau mencoba berlagak keren?"
"Tidak, tunggu sebentar ... Aku adalah DUNIA ini! Bukan, bukan! Maksudku, dunia ini adalah milikku!"
"Oh. Kalau begitu, selamat ya. "
“Kau sama sekali tidak berniat memujiku! Kau hanya mengatakan itu!” Marco mendakwanya.
"Nggak. Aku pikir itu adalah sesuatu yang bagus," kata Haruhiro. "Itu bagus. Selamat ya."
"Terima kasih!" Marco menendang tanah. “Dan mengapa aku harus berterima kasih pada orang ini sih?!”
Biasanya, Haruhiro sudah jengkel dengan ocehan Marco macam ini, tapi entah kenapa kali ini dia merasa bahwa itu adalah lelucon yang cukup menyenangkan, dan dia pun sedikit tertawa. Semuanya mengumpulkan barang jarahan dengan semangat. Tiba-tiba, Haruhiro merasakan sesuatu yang aneh ... sesuatu yang salah. Dia dengan cepat melihat sekeliling.
"Ada ap-" Lusi mulai berkata, tapi sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, ia melihat hal yang sama seperti Haruhiro lihat ... Sebuah kepala menyembul keluar dari sisi terowongan yang melengkung. Itu adalah seekor kobold. Pasti.
Ketika kobold itu menyadari bahwa Haruhiro dan Lusi telah melihatnya, dia kembali menunduk untuk bersembunyi.
"Hei ... cukup bagus," kata Marco sambil mencabut jimat dari bangkai petua A. "Sepertinya harganya akan cukup tinggi ..."
"Tunggu," kata Haruhiro sembari mengangkat tangan untuk meminta Marco diam. "Lusi, kau menyadarinya?"
"Apa?" Marco menjulurkan lehernya untuk melihat. "Apa yang sedang terjadi?"
"Ada apa?" Vina bertanya sambil berlutut dengan satu kaki di samping bangkai petua B. Alice berjongkok di samping Vina, lantas dia memalingkan pandangannya ke arah Haruhiro, sembari berkedip dengan kebingungan. "Hm? Apa-"
Barto mendengus dan membungkuk rendah.
Lusi menempatkan jari di dagunya, "Bagaimana yaa ..."
Terdengar sebuah lolongan mirip suara anjing yang memekakkan telinga. Tapi si pelolong itu tentu saja bukan seekor anjing. Itu adalah seekor kobold. Seorang pekerja atau petua, Haruhiro tidak tahu, tapi si pelolong pasti adalah seekor kobold yang baru saja dia lihat.
__ADS_1
"O-oy ..." Marco meneguk keras dan meletakkan tangannya di atas mulut. "Apa-apaan ini ... sepertinya ini buruk ..."
Mata Lusi melebar, dan kepanikan terlihat jelas di wajahnya. "Ini buruk. Itu adalah ... "
Lolongan keras lain terdengar, dan menjawab lolongan yang pertama, kemudian suara serupa saling saut-menyaut. Terdengar beberapa kali suara lolongan yang saling seirama. Kobold pertama telah memulainya, maka yang lain pun menjawab. Lagi, lagi, lagi, dan lagi… semuanya saling berkomunikasi.
"L-Lari!" keputusan Haruhiro ditetapkan dengan begitu cepat.
Vina meraih lengan Alice dan menyeret ke arahnya, "Ayo Alice, bangun!"
Lari. Mereka harus lari. Larilah sekencang mungkin. Tapi lari ke mana? Selama sepersekian detik, Haruhiro tidak tahu jawaban pertanyaan tersebut. Tenanglah! Lalu ia mengingat sesuatu, itu tidak masalah. Terowongan ini tidak memiliki ujung, dan terus terhubung bagaikan lingkaran. Kabar baiknya adalah, kemanapun mereka pergi, mereka tidak akan menemukan jalan buntu, namun kabar buruknya adalah, di manakah tempat yang aman untuk bersembunyi?
Tingkat kelima bagaikan labirin yang berliku-liku. Bisakah mereka menemukan sumur tenggelam untuk naik ke tingkat keempat tanpa tersesat? Haruhiro bukanlah orang yang tidak peka terhadap arah, tapi dia juga tidak begitu mahir menentukan arah. Semuanya akan baik-baik saja ... Entah kenapa, dia punya perasaan bahwa mereka akan baik-baik saja, tapi ia tidak sepenuhnya yakin. Ini bagaikan berada di atas kapal, dan terombang-ambing oleh gelombang air laut.
"Ikuti aku!" Kata Lusi, sembari melompat dan berlari.
Oh. Benar juga. Lusi pernah turun ke tingkat ini sebelumnya. Yang mereka harus lakukan hanyalah mengikuti apa katanya.
"S-Semuanya, ayo pergi!" Haruhiro mengatakannya, meskipun semuanya sudah paham apa yang harus mereka lakukan.
Dia membuntuti di belakangnya Lusi, sembari sesekali berbalik melihat ke belakang untuk memastikan apakah semua anggota tim lengkap dan tidak ada yang tertinggal. Haruhiro sadar betapa payah kemampuannya sebagai seorang pemimpin. Meskipun sekarang dia adalah seorang pemimpin, namun dia pernah menjadi bawahan yang tidak tahu apa-apa. Ketika menjadi bawahan, dia tak sekalipun memperhatikan teman-temannya yang lain, dan yang dia pikirkan hanyalah keselamatannya sendiri. Betapa menyedihkan. Sungguh memalukan. Vina dan Alice benar-benar panik. Ia harus menenangkan mereka agar tidak panik.
Tenang?! Pada saat seperti ini? Bagaimana bisa?!
"Tidak apa-apa! Teruskan saja- " Haruhiro merasa seperti kata-katanya tertelan. Apanya yang tidak apa-apa? Kali ini, dia lah yang mengoreksi perkataannya sendiri. Ini adalah suatu masalah besar. Andaikan saja mereka tidak dalam keadaan panik, maka Haruhiro sudah menertawakan dirinya sendiri karena mengucapkan suatu hal yang begitu konyol. Dia akan marah, pasti akan marah.
Dia tidak bisa berlari dengan baik sembari memalingkan kepalanya ke belakang, sehingga ia mengalihkan pandangannya ke depan lagi. Sekujur tubuhnya gemetaran. Pandangannya bergoyang. Semuanya gemetar dan bergoyang, sampai-sampai dia kebingungan mengapa dunia ini berguncang begitu kuat. Pada telinganya terdengar detak jantungnya sendiri yang begitu jelas. Oh. Mungkin itu sebabnya. Rasanya seperti, jantungnya akan melompat keluar dari mulutnya.
Mereka melewati lorong-lorong bagaikan labirin, kemudian melewati tempat peristirahatan para kobold. Semuanya kosong ketika mereka melewatinya tadi, namun sekarang berbeda. Daerah peristirahatan itu penuh dengan kobolds pekerja yang segera bergegas mengejar mereka.
"Sial! Sial sial sial!” Tanpa disadari, mulutnya mengumpat berkali-kali. Sial! Apa yang harus kami lakukan?! Pikirannya dipenuhi oleh kekesalan dan amarah.
Kecepatan Lusi melambat sehingga Haruhiro bisa menyusulnya. Oh. Jadi itu sebabnya. Sekelompok kobolds berlari ke arah mereka dan mereka pasti akan tertangkap jika tidak berlari sekencang-kencangnya. Sialnya, ada juga beberapa ekor kobold yang menyerang dari depan. Lengkaplah penderitaan mereka, dan mereka akan menemui jalan buntu jika berbalik. Satu-satunya pilihan adalah menerobos gerombolan kobold yang menyerang dari depan. Tentu saja, jangan biarkan Lusi berada di barisan paling depan.
"B-Barto!" Haruhiro berbalik dan berteriak. "M-Majulah ke depan! Ke sinilah! Gunakan [WAR CRY]!”
"B-benar!" Barto menjawab dengan nada sedikit putus asa, dan dia pun melewati Lusi dan Haruhiro dengan suara armor-nya yang berdentang.
Empat belas kobolds, atau mungkin lebih, mereka berhadapan melawan Barto dengan membawa tongkat berapi. Barto tiba-tiba berhenti ketika beberapa tongkat api dilemparkan padanya. Tanpa berkedip, Barto membentuk kuda-kuda kuat di tanah, kemudian melepaskan teriakan kencang di udara, skill Warrior [WAR CRY].
Dengan suara khusus yang memekakkan telinga, [WAR CRY] berhasil mengintimidasi musuh-musuhnya. Ketika
seseorang tidak siap menghadapi [WAR CRY], maka dia akan berhenti di tempat tanpa gerak sedikitpun, tak peduli itu manusia, monster, ataupun makhluk hidup lainnya. Itu membuat beberapa kobolds di depan mereka melonjak ke udara, sementara kobold lainnya terlumpuhkan dengan ketakutan. Beberapa bahkan mundur, sembari memegang kepala mereka dengan tangan.
"SEKARANG!" Barto berteriak dengan nada kasar dan jantan.
Haruhiro berlari seolah-olah hidupnya akan segera berakhir, dan dia pun berteriak, "Semuanya, maju sekaligus!"
Marco berteriak sembari menyerang. Lusi berada tepat di samping Haruhiro. Bagaimana dengan Vina? Alice?
Haruhiro melirik ke belakang. Keduanya masih di sana.
"L-Lari! Ayo! Ayo ayo ayo!” Dia berteriak.
Apakah hanya itu yang bisa dia ucapkan saat ini? Betapa menyedihkan. Haruhiro dan Lusi menyusul Barto dengan cepat. Tapi Barto bukanlah tipikal pelari cepat, dan senjatanya yang berak semakin memperlambat pergerakannya.
Dentang suara armor bergema melalui terowongan itu. Haruskah aku melewati Barto dan meninggalkannya di belakang? Haruhiro bertanya-tanya. Tidak, itu bukanlah ide yang baik. Lebih banyak kobolds akan muncul menghadang mereka. Lebih banyak lagi. Berapa banyak? Ia tidak tahu.
“Aku tidak bisa menggunakannya lagi! Tidak secepat ini!” Kata Barto dengan terbata-bata, sembari berlari sekuat tenaga.
Jadi, [WAR CRY] bukanlah skill yang dapat digunakan secara beruntun. Lantas, apa yang akan mereka lakukan?
"K-kita harus menyerbu melalui mereka!" Kata Haruhiro.
Sebuah suara kecil di dalam hati bertanya padanya, Serbu? Melalui? Apakah kau sungguh bisa melakukannya? Tapi, tidak ada pilihan yang lebih baik selain ini, kan? Yang dia ingin lakukan saat ini adalah melampiaskan semua keraguan dan rasa frustasi di dalam benaknya, namun ini bukanlah tempat yang tepat melakukan itu.
"ARGH!" Barto berteriak.
Kobolds saling berbenturan sembari memburu mereka, dan monster-monster itu memekikkan lolongan keras. Mereka ada tiga, tapi kobold yang keempat melompat lantas menungganginya. Barto jatuh ke tanah, berguling berulang kali, tapi entah bagaimana, setelah berguling beberapa kali, dia bisa kembali bangkit. Barto juga tampak bingung, seolah-olah ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
"Terus, Barto!" Teriak Haruhiro.
"Belok kanan!" Kata Lusi.
Marco tiba-tiba berteriak, disertai dengan jeritan Alice. Haruhiro berbalik dan melihat bahwa seekor kobold telah meraih ujung jubah penyihir milik Alice. Vina mencincang tangan kobold itu dengan menggunakan Kukri-nya, melepaskannya, dan mencegah agar Alice tidak tertarik jatuh ke tanah.
Sementara itu Barto mengayunkan pedang selebar-lebarnya sembari berlari, sehingga memaksa kobold yang menghalanginya untuk menyebar. Lusi juga berusaha untuk melawan, dia menghujamkan tongkatnya pada setiap kobold yang berada dalam jangkauan serangan. Dan aku tidak melakukan apapun ... pikir Haruhiro. Dia hanya berlari dan terus berlari tanpa melakukan apapun. Dia pun tak sanggup melakukan apapun selain berlari.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana semuanya bisa berubah jadi seperti ini? Semuanya berjalan dengan baik. Benar-benar baik. Semuanya merasakan hal yang sama, suasana hati kami juga baik, dan kami begitu percaya diri. Apakah ini mungkin karena ... mereka terlalu percaya diri bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar? Tidak,
tidak sampai begitu. Namun, mereka harus mengakui bahwa mereka hampir saja terlalu percaya diri. Hanya selangah di belakang batas kepercayaan diri yang berlebih.
Apakah mereka begitu ceroboh? Terlena?
Haruhiro tidak bisa menyangkalnya. Mereka tidak menyadari adanya si kobold pelolong sampai akhirnya semuanya terlambat. Sangat terlambat? Separah itukah? Bukankah itu merupakan hal yang seharusnya bisa Haruhiro tangani, namun dia gagal? Dia tidak yakin apakah dia sendiri bisa menangani ini dengan kekuatannya.
Mereka terlalu meremehkan lawan.
Tidak ada hal positif yang mereka dapatkan ketika semuanya sudah terlambat. Mereka telah kehilangan Udin ketika mereka berpikir bahwa semuanya bisa ditangani dengan lancar. Dan sekarang, di sini, mereka mengalaminya lagi, dan mereka mengulangi kesalahan yang sama. Haruhiro telah gagal belajar dari peristiwa yang memakan nyawa Udin.
"Apa sih yang sedang aku lakukan…"
Dia menyedihkan. Lebih buruk daripada orang-orang yang tak berharga. Tapi, menyalahkan diri sendiri karena kesalahan tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik. Namun, ia juga gagal memikirkan suatu hal yang bisa membalik keadaan ini, sehingga kembali menguntungkan mereka.
Tidak memungkinkan. Mereka tidak akan bisa lolos. Sudah berakhir. Selesai sudah.
Kobolds terlalu banyak. Jumlahnya terlalu banyak. Jika mereka berlari lurus ke depan, ada kobolds. Jika mereka berbalik, ada kobolds. Di sisi kanan, ada kobolds. Di sisi kiri, ada kobolds. Terowongan itu penuh dengan kobolds. Mereka mau menuju ke mana? Haruhiro tidak tahu. Dia hanya mengikuti Lusi.
Pergerakan Barto telah melambat, tetapi jika Haruhiro melewatinya, dia lah yang berada paling depan. Dia tidak bisa melakukan itu. Dia tidak sanggup berada di garis depan. Tidak mungkin dia bisa menjadi pemain terdepan.
Napas Barto mulai terengah-engah. Dia pasti kelelahan, tapi ia tidak pernah berhenti mengayunkan pedangnya sambil berlari. Tidak, ia memaksakan dirinya, seolah-olah ini adalah masalah hidup atau mati. Barto melakukan yang terbaik untuk mereka.
Maaf, Haruhiro meminta maaf dengan hampa, dia ingin menangis. "Barto ... Aku sangat menyesal. Aku tidak berguna bagi kalian ..."
Tetapi bahkan jika demikian, ia masih harus melakukan sesuatu. Bahkan jika hanya sesaat, ia harus membiarkan Barto istirahat, atau dia tidak akan pernah berhasil. Dan tanpa Barto, mereka semua tak akan mampu keluar dari sini.
"Barto, mundur! Aku akan menggantikan tempatmu!” Teriak Haruhiro.
Dia takut. Begitu takut, sampai-sampai ia ingin menangis. Tapi apa pun yang terjadi, ya terjadilah. Dengan teriakan marah, Haruhiro menyerang ke depan Barto, dan dia pun segera mendapatkan serangan balasan dari beberapa ekor kobold.
Kobolds, kobolds, kampret, kobolds, Barto, bedebah, konyol, gila, menakutkan, sialan, sialan, sialan, GAK MUNGKIN, sialan, aku akan mati, aku akan mati, aku akan mati ...
Rasanya sakit, mungkin dia terkena hantaman atau potongan pada tubuhnya, tapi ia tidak tahu di mana dia terluka. Dia juga tidak tahu bagaimana cara memukul mundur para kobold, sehingga Party-nya bisa terus melaju. Tindakannya saat ini benar-benar hanya didasari oleh ... insting? Atau sesuatu yang menyerupai itu. Tunggu. Bahkan, apakah aku sanggup bergerak? Tidak tahu.
Pada saat itu, apa yang dia tahu hanyalah satu hal, seekor kobold petua berdiri tepat di depannya, sembari mengangkat pedang dan siap untuk membelah kepala Haruhiro. Bagi Haruhiro, seakan-akan waktu berhenti, dan kesunyian mengisi setiap adegan di sekelilingnya.
Dia tidak bisa mendengar suara apapun ... Keheningan yang aneh.
Haruhiro melihat dirinya sendiri sedang duduk di kursi, pada sebuah ruangan di suatu tempat. Sepertinya dia mengenali tempat ini, tapi sepertinya juga tidak. Apa yang aku lakukan di sana, di tempat itu? Lalu ia berada di tempat yang berbeda, dikelilingi oleh orang-orang. Lagi-lagi…. Sepertinya dia mengenali orang-orang itu, tapi
sepertinya juga tidak. Dia tertawa. Sekarang dia berada pada suatu kendaraan, dan tampaknya dia sedang menuju ke suatu tempat. Ada orang lain mengendarai kendaraan yang sama. Siapa? Lagi-lagi… Sepertinya dia mengenalinya, tapi sepertinya juga tidak. Siapa sih mereka?
Dia berjongkok di depan sebuah benda mirip kotak besar yang bersinar, tapi cahaya itu cukup kabur. Orang yang berdiri di sampingnya adalah seorang gadis dengan gaya rambut Bob.
Choco
Itulah nama yang Haruhiro tujukan pada si gadis berambut Bob. Choco. Siapa dia? Haruhiro pun tidak tahu. Tapi Choco ... entah kenapa, ia merasa bahwa ia mengenalnya.
Siapa dia?
Di mana mereka pernah bertemu? Apakah mereka pernah bertemu di suatu tempat? Dia melihatnya sekarang, tempat itu. Dimana itu?
Choco. Hei, Choco ... Siapa kau? Apakah kau mengenalmu? Dimanakah aku pernah mengenalmu? Kapan itu terjadi? Kapan dan ... di tempat itu, aku tahu kau ...
Tapi Haruhiro tidak tahu sedikitpun jawabannya. Ia tidak ingat…. tidak, bukannya tidak ingat…. Tapi memorinya menghilang ketika dia hampir saja mengingatnya. Wajah Choco ... fisiknya ... dia tidak bisa mengingat bagaimana bentuknya. Choco. Tapi dia jelas-jelas mengingat nama itu. Memori itulah satu-satunya hal yang tidak hilang dari ingatannya; dan itu tetap tersimpan di dalam pikirannya.
Namun, itu semua sudah tidak penting lagi karena tak lama lagi dia akan mati. Anehnya, pergerakan kobolds tampak lebih lambat dari biasanya, tapi mereka tidak seperti beberapa saat yang lalu. Semua benda di sekitarnya bergerak, namun itu tidak berlaku bagi Haruhiro. Dia tidak bisa menghindari pedang milik petua, dan ia sama sekali tidak mengenakan helm pelindung seperti Barto. Jika dia mendapatkan pukulan tepat di kepala, maka tidak mungkin dia bisa selamat.
__ADS_1
Dia mungkin akan mati. Oh, apa ini? Sesuatu seperti rekaman hidupnya, berkedip di hadapannya? Apapun itu, dia akan mati sebentar lagi.
Choco, aku akan mati. Aku berharap aku bisa bertemu denganmu. Aku tidak tahu apapun selain namamu, tapi aku berharap kita bisa bertemu ...
Itu tidak mungkin terjadi sekarang.
Namun dia ingin setidaknya mencoba. Menghindar! Lakukan sesuatu! Apapun! Tapi Haruhito tidak berpikir ia punya kesempatan sedikit pun untuk menghindari pukulan tersebut. Pedang kobold itu mendekat dengan semakin cepat. Ketika pedangnya disabetkan. Haruhiro mengangkat lengannya. Dia harus melakukan sesuatu untuk menahan itu. Tapi pergerakan lengannya tidak akan tepat waktu.
"[ANGER THRUST!]"
Haruhiro, dengan lengannya yang setengah terangkat, hampir saja kehilangan kepalanya jika Marco tidak melompat masuk dan menusukkan pedangnya.
"Ha ha! Beri jalan untuk Tuan Marco!” Ia menyatakan itu.
Haruhiro tidak tahu bagaimana Marco bisa bergerak seperti itu, dia memutarkan tubuhnya dan mengayunkan pedang panjangnya dengan begitu terampil, kemudian tiba-tiba dia membalik arah putaran.
"[PROPEL LEAP]!"
"Apa yang-!" Haruhiro tak bisa berkata.
Itu adalah serangan kombinasi. Dia telah menggunakan [PROPEL LEAP] untuk meluncurkan tubuhnya sendiri ke belakang, sehingga dia meluncur pada kobold yang berdiri di belakangnya tapi bukannya menghantam dengan pukulan, Marco justru mementalkannya dengan tabrakan pantat.
"YA! Aku sungguh mengagumkan" kata Marco dengan senang hati.
"MAKASIH!" [RAGE CLEAVE] milik Barto datang dengan sekejap dari belakang, dan itu berhasil membelah kobold yang menjadi targetnya. Lusi mementalkan kobold lainnya dengan menggunakan skill [SMASH]. Vina memukul mundur kobold dengan serangan Kukri-nya, sementara Alice juga menggunakan tongkatnya untuk menghantam
beberapa ekor kobold sampai mereka mundur.
"Haruhiro!" Marco berteriak sambil menggunakan helm, lantas dia bertahan dari serangan kobold yang menggunakan tongkat api. Marco pun berhasil menusukkan pedangnya pada perut kobold tersebut. “Kau lemah, maka lebih berhati-hatilah! Kami akan berada dalam kesulitan jika kau mati!”
"Aku tahu!" Haruhiro berteriak balik padanya.
Dia tidak perlu diberitahu. Apa lagi diberitahu oleh Marco ... Haruhiro sungguh tidak mau mendengarkan kata-kata seperti itu dari Marco. Tapi dia layak mendapatkannya. Haruhiro benar-benar menyerah. Ketika hendak putus asa, dia sungguh tidak berguna. Seorang pemimpin, ya? Dia terlalu tidak kompeten. Ia lemah, seperti kata Marco. Tidak mungkin baginya untuk membuat keputusan dengan begitu tenang.
Namun demikian, ia tetap akan melakukannya. Dia tidak boleh kalah mental di sini. Musuhnya bukanlah kobolds. Namun, musuh sejati yang harus dikalahkannya adalah dirinya sendiri yang lemah.
“Lusi! Apakah masih jauh jarak kita ke sumur tenggelam terdekat?!” Haruhiro memanggilnya.
"Tidak begitu jauh!" Datang jawaban dengan segera.
“Baik! Bertahanlah semuanya, kita sudah hampir sampai!” Haruhiro berteriak. "Lebih dekat ke dinding! Tempelkan punggung kalian pada dinding jika kalian mengalami kesulitan! Lebih baik dikepung dari tiga arah daripada empat arah! Marco, maju ke depan! Kami mengandalkanmu! Barto, lindungi kami dari belakang! Vina dan Lusi, jagalah sisi kiri dan kanan! Alice, jangan melakukan hal-hal yang gegabah! Kita pasti akan keluar dari sini, ayo melangkah maju bersama-sama!”
Tidak ada yang tak terluka. Semuanya menderita cidera, tapi tak satu pun dari mereka kehilangan harapan. Haruhiro hampir saja putus asa, tapi kini dia baik-baik saja. Sekarang, dia telah memperhatikannya dengan baik, bahwa kobolds yang mengelilingi mereka tidaklah menumpuk begitu banyak. Jumlah monster itu tidaklah sebanyak 10 atau 20 baris. Jumlah mereka memang tidak sedikit, namun tak ada yang memberi perintah dan mengordinasi mereka.
Gerakan mereka tidak terorganisir, tersebar, dan mereka mundur dengan cepat setiap kali mendapatkan serangan balik yang dilakukan oleh Haruhiro dan timnya. Mungkin itu terjadi karena mereka memiliki keuntungan besar dalam jumlah, tetapi mereka tidak bertarung dengan begitu serius. Tentu saja, mereka juga tidak sedang main-main. Namun bukannya mengepung, menekan, kemudian menghabisi Haruhiro dkk, para kobold itu justru lebih suka mempermainkan mereka.
Di sisi lain, Haruhiro dan yang lainnya bertarung dengan serius, dan mereka tanpa ampun membunuh kobold yang datang menyerang.
Bagi para kobolds, kematian bukanlah hal yang diinginkan, sehingga mereka mundur dengan cepat. Jadi Haruhiro dan yang lainnya hanya dikepung tanpa diberikan tekanan yang berarti. Mereka masih bisa melanjutkan untuk bergerak, dan terus berjalan.
Situasi ini mungkin sangatlah menakutkan, namun tidak ada alasan untuk menjadi paranoid dan mengkhawatirkan berbagai hal. Terlalu mengkhawatirkan keselamatan diri hanya akan menyebabkan mereka menjadi panik, sehingga tidak bisa mengambil tindakan dengan biasa.
"Itu sumur tenggelamnya!" Haruhiro berteriak. “Alice, kau duluan. Lusi berikutnya! Kemudian Vina, aku, Marco,
dan Barto!”
Dengan Marco memimpin di depan, Vina, Lusi, dan Haruhiro memotong jalan untuk mencapai sumur tenggelam. Sumur tersebut hanyalah lubang kecil, dengan hanya satu tali yang melekat pada sisinya. Alice mulai naik, namun dia terhenti dan ragu-ragu. Berteriak padanya untuk bergegas bukanlah pilihan yang baik, dan Haruhiro tahu betul akan hal itu. Bentakan hanya akan semakin membingungkan Alice.
"Tidak apa-apa!" Katanya. "Santai saja! Kau tidak perlu buru-buru!"
Ketika perkataan itu terselip keluar dari mulutnya, garis cahaya buram muncul, dan menghubungkannya pada seekor kobold yang kebetulan menghadapkan punggungnya pada Haruhiro. Tubuh Haruhiro pun bergerak dengan gerakan sehalus mentega, lantas belatinya meluncur dengan mudah ke punggung lawannya.
Lusi sekarang sedang menuju ke atas, diikuti oleh Vina.
"Ayo, Haruhiro!" Marco melepaskan helmnya, membidik, dan melemparkan helm tersebut pada seekor kobold yang menjadi sasarannya, sembari dia berteriak. “[PROPEL LEAP]! [HATRED’S CUT]!”
Dengan [PROPEL LEAP], ia mengirim dirinya melambung ke belakang, lantas dia memukul kobold tersebut dengan serangan pantat. Dia melanjutkan serangannya dengan [HATRED’S CUT], dan berhasil menghantam kobold langsung di depan. Itu adalah serangan langsung yang sungguh berani.
Teriakan keras bergema di udara. [WAR CRY] dari Barto membuat gentar para kobolds di sekitar sumur tenggelam. Sekarang atau tidak sama sekali. Haruhiro mulai memanjat tangga tali dengan gesit dan dia sebenarnya cukup ahli dalam hal-hal seperti ini.
“Marco, kau berikutnya! Ayo!” Haruhiro memanggilnya.
“Tidak! Barto, kau duluan!” Kata Marco, sembari memukul punggung Barto dengan menggunakan tapak pedangnya. "Kau lebih lambat, jadi pergilah terlebih dahulu!"
Barto melakukan seperti yang diperintahkan olehnya. Mungkin dia melakukan itu hanya karena terkejut. Barto pun naik, sehingga Haruhiro tidak bisa berhenti di sini. Dia tidak punya pilihan selain ikut naik.
“Marco! Cepat!” Kata Haruhiro lagi.
"Baiklah!"
Haruhiro mendengar jawabannya, tapi Marco tidak pernah datang. Bukannya Marco, malah beberapa ekor kobolds yang memperebutkan tangga tali, kemudian mereka mulai naik. Barto menendang mereka agar jatuh, tetapi kobold-kobold lainnya mulai ikut memanjat tali itu.
"Barto, naiklah terlebih dahulu!" Haruhiro memerintahkan sambil mencapai tingkat keempat, dan dia mencoba untuk membantu menarik tubuh Barto. Tapi ... berat. Dia terlalu berat. "ARGH!"
"Kami datang membantu!" Lusi, Vina, dan Alice meraih Barto. Dengan tarikan empat orang, entah bagaimana caranya, mereka akhirnya bisa mengeluarkan Barto dari sumur tenggelam.
Barto baik-baik saja, tapi Marco ... Bagaimana dengan Marco? Marco masih di bawah ...
Marco tidak juga menaiki tali. Yang datang hanyalah kobold, kobold, kobold, dan kobold terus. Mereka terus berdatangan.
"Marco!" Teriak Haruhiro. Tidak ada respon, tapi di antara lolongan marah dari para kobolds, Haruhiro merasa mendengar suara Marco yang teredam, “Pergilah! Aku baik-baik saja meskipun kalian tinggalkan!”
"Tinggalkan….!!??" Haruhiro mengulanginya seakan tidak percaya. “Barto! Tangani kobold-kobold yang berdatangan!”
Barto berteriak, sembari menghempaskan setiap kobold yang menaiki tali. Dia menghancurkan wajah seekor kobold dengan sekali ayunan pedang, sehingga monster itu jatuh ke kobold lain di bawahnya. Mereka semua jatuh ke dalam sumur, dan terbentuk suatu tumpukan besar, sehingga menyebabkan kobolds terbawah menjerit. Setelah melihat hal itu, beberapa kobold tampak ragu memanjat tali itu lagi.
"... Talinya!" Alice meraih tali itu.
Betul. Jika mereka menaikkan tali tersebut ...
"Baiklah!" Haruhiro bergegas untuk membantu Alice, dan dengan bersama-sama mereka mulai menggulung tali tersebut. Setelah setengah jalan, mereka pun berhenti menggulung dan menyadari akan suatu hal, "T-tapi ..."
Vina meletakkan tangannya di tepi sumur dan membungkuk untuk melihat. "Marco!" Serunya.
"Baru saja ..." kata Alice.
Haruhiro mengangguk dan menarik sisa talinya. Alice benar. Setelah kobolds di sana menyerah, mereka bisa turun lagi. Dengan kondisi seperti ini, bahkan Marco sekalipun tidak akan bisa beranjak ke manapun.
Marco ... Apakah ia bisa kabur? Apakah dia menemukan cara untuk kabur? Sejujurnya, Haruhiro meragukannya. Marco selalu saja mendapatkan keberuntungan di saat genting, namun tampaknya sekarang bukanlah saatnya bergantung pada hal seperti itu.
"Bodoh!" Haruhiro mengantam tanah. "Marco, apa-apaan yang kau lakukan!! Kau bilang bahwa kami naik duluan…. Apakah kau mencoba jadi keren?? Ini tidak seperti dirimu yang biasanya! Kau tidak seharusnya menjadi keren..."
Tidak ada yang mengatakan sepatah kata pun. Para kobolds masih gempar di bawah sumur. Sialan ... Apa yang harus dilakukan sekarang? Apa yang mereka akan lakukan?
Haruhiro dan yang lainnya baik-baik saja. Tidak ada seorang pun terluka, tapi… walaupun tak seorang pun menderita luka serius, tak berarti bahwa mereka bisa melakukan sesuatu. Terk ecuali Marco. Jika bukan karena Marco, tidak akan ada gagasan untuk buru-buru keluar dari tambang. Andaikan saja Marco masih bersama mereka saat ini.
Tetapi bahkan tanpa Marco, mereka mungkin akan mampu keluar dari sini. Tinggalkan Marco di belakang ... Haruskah mereka mengejarnya? Turun ke bawah sumur tenggelam, kemudian mencarinya? Tentu saja itu akan berbahaya. Mereka bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup. Mungkin dia sudah mati. Jika dia sudah mati, maka usaha apapun yang mereka upayakan akan sia-sia.
Apa yang aku pikirkan? Mengapa aku berpikir bahwa Marco sudah mati? Tapi, peluangnya tinggi. Haruhiro tidak berpikir bahwa seseorang akan bertahan hidup jika dikejar oleh kobold sebanyak itu. Jika Haruhiro di sana, ia tahu bahwa ia tidak akan mampu melakukannya. Dia hanya akan menyerah.
Bagaimana dengan Marco? Mungkin Marco tidak akan menyerah ...
"Haru ..." Lusi telah memanggil namanya, sehingga Haruhiro kembali tersadar.
Sial. Dia benar-benar telah terhanyut jauh ke dalam pikiran sendiri.
"Emm ... Ya?" Jawabnya.
"Kobolds!" Teriaknya.
"Tidak mungkin-!"
Tapi itu benar. Haruhiro melihat ke arah yang ditunjuk oleh Lusi, dan di sana ada kawanan kobold yang mendekat, ada petua yang memimpin, dan para kobold pekerja di belakangnya.
"Jumlah mereka ribuan!" Vina menjerit, sepertinya dia benar-benar akan menangis.
Barto tergagap dan mengatakan sesuatu yang tidak jelas. Alice menggelengkan kepalanya bolak-balik. seolah-olah dia mengatakan tidak, tidak, tidak. Lalu dia berkata, "K-Kita h-harus lari!"
__ADS_1
Pikiran Haruhiro kosong selama sepersekian detik. Tapi hanya sepersekian detik. Tidak ada lagi waktu untuk ragu-ragu. Dan dia mulai berdiri. "Semuanya, lari!"