KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 4 - Gaya Hitam Legam


__ADS_3

Bagaimanapun juga, namanya adalah “tambang”. Tentu saja, akan ada lubang-lubang bagaikan labirin yang menuju ke gunung, dan tentu saja terowongan itu gelap gulita. Paling tidak seperti itulah yang diasumsikan oleh Haruhiro, namun itu semua salah total.


Bunga mekar sepanjang jalan terowongan, dan itu bukanlah bunga biasa. Itu adalah bunga yang memancarkan cahaya zamrud. Menurut Lusi, itu disebut "bunga bercahaya", dan sesuai dengan namanya, bunga itu benar-benar memancarkan cahaya. Setelah pemeriksaan lebih dekat, itu lebih mirip seperti tempat tidur yang terbuat dari lumut. Apapun itu, berkat bunga-bunga tersebut suasana tambang tidaklah gelap gulita. Tidak juga terang benderang, namun seseorang masih bisa mengenali ke mana arah jalan.


“Apakah kalian pikir, kita bisa ...” Marco memetik beberapa bunga, dan dengan ekspresi mellow dia meletakkan bunga tersebut di sisi bibirnya, namun tak lama berselang dia meludahkannya dengan keras. “Bleh! Rasanya seperti ampas! Pahit dan kotor.”


“Berhenti main-main,” Haruhiro mendesah.


“Apa?” Jawab Marco, sembari menyeka mulutnya. “Aku hanya ingin coba merasakannya.”


“Mengapa kau melakukan hal bodoh pada dirimu sendiri?”


“Gak tahu. Moodku sedikit bosan, jadi aku sengaja melakukan itu untuk menghiburmu. Terimakasih kembali.”


“Kau sama sekali tidak menghiburku,” kata Haruhiro dengan putus asa. “Tidak ada yang salah dengan Mood, dan jika ada, yang salah pasti adalah dirimu!”


“APA!!. Jangan mengatakan omong kosong bodoh seperti itu. Di mana salahku? Berhentilah menyalahkan orang lain, apapun itu!”


“Haru, kau lebih baik gak perhatiin dia,” kata Vina, sembari menarik-narik lengan Haruhiro. “Gak ada kata-katamu yang bisa menembus tengkorak tebalnya, jadi kamu cuma buang-buang napas.”


Haruhiro mengangguk. “Ya. Kamu benar.”


“Hei!” Teriak Marco. “Jangan cuma-! OY!”


“Yang terbaik adalah berusaha tenang,” kata Lusi dengan lembut, sembari melotot pada Marco.


“Kita berada di wilayah musuh sekarang.”


Marco mengerutkan alisnya dan memutar bibirnya untuk menunjukkan ekspresi muram. “Yang terbaik adalah menjadi tenang,” ia menirukan Lusi, sambil terkikik. “Sepi banget. Diam. Aku tidak ingin mendengar satu kata pun, mengerti?”


"Perasaanku sedikit tak enak," Alice bergumam lirih.


“Apa katamu?!” tuntut Marco dengan menonjolkan pembuluh darah di pelipisnya.


“Hentikan itu, Marco,” kata Haruhiro dengan nada yang sengaja dia buat kasar.


“Kita di sini bukan untuk bikin ribut. Jika sesuatu terjadi, salah satu dari kita mungkin akan terbunuh.”


Marco berbalik, mungkin karena malu, lantas dia menjawab, “Tidak perlu memberitahuku, aku sudah tahu.”


“Benarkah?” Haruhiro menantang. “Kau yakin?”


Haruhiro marah. Apakah itu tidak masalah? Dia hanya bisa berpikir. Apakah benar-benar tak masalah memelihara Marco di Party ini?


Demi tim, tidak seharusnya mereka menendang keluar Marco lebih cepat? Bukan berarti ia tidak bisa bertarung atau tidak berkontribusi, tapi orang ini memang memiliki bakat untuk membuat teman-temannya kesal. Dia menyebabkan perselisihan dan stress dalam tim.


Bukankah dia sudah keterlaluan? Bukankah itu lebih banyak kerugiannya daripada manfaatnya?


Sekarang mungkin saat yang tepat untuk berpikir tentang hal itu. Namun, jika ia mulai memikirkan itu dengan sungguh-sungguh, maka seharusnya dia sudah bisa memutuskan.


Karena mereka berhasil memasuki terowongan, maka mereka bertemu tiga Kobolds yang menghalang-halangi jalan. Kobolds itu pun tampak ketakutan, tapi mereka tetap memberikan perlawanan. Setelah Barto dan Marco mengalahkan keduanya, Kobold yang terakhir pun kabur.


Kobolds biasanya berjalan tegak dengan dua kaki, tetapi ketika mereka berlari, mereka melompat-lompat, menggunakan lengan bersenjata mereka sebagai kaki ketiga. Walaupun itu terlihat aneh, tapi cara itulah yang membuat mereka sanggup lari dengan begitu cepat, sehingga mengejar Kobold yang melarikan diri bukanlah pekerjaan gampang dan membuat mereka kelelahan. Mereka akan berada dalam masalah besar jika Kobolds lainnya ikut menyerang.


Untungnya, mereka mampu menyusul Kobold terakhir, kemudian menghabisinya tanpa kesulitan. Haruhiro mengecamkan pada pikirannya bahwa lain kali lebih baik dia tidak mengejar Kobold yang sudah melarikan diri, itu mungkin memakan waktu cukup lama, tapi sepertinya skill-nya akan meningkat jika dia bisa membunuh Kobold semahir ketika dia membunuh para Goblin. Mereka hanya membutuhkan lebih banyak pengalaman.


"Tambang Siren dalamnya lebih dari 10 tingkat ke bawah." suara Lusi bergema melalui dinding tambang, dan juga dada Haruhiro. “Di sini adalah lapisan pertama, persediaan bijih di sini telah lama habis, dan yang tersisa hanyalah bunga cahaya. Kobold kecil terendah tinggal di sini. Tangga tambang digunakan untuk menuju pada tingkatan yang lebih rendah, tapi itu tidak lagi dapat diakses. Satu-satunya cara untuk sampai ke tingkat kedua adalah dengan menggunakan Sumur Tenggelam.”


"Sumur Tenggelam?" Tanya Alice.


Lusi mengangguk. “Itulah nama yang diberikan oleh para anggota Red MooN. Sumur itu hanyalah poros vertikal antara tingkat. Dari ketiga tingkat di bawah, poros dipasang dengan menggunakan lift gondola, tapi kami menggunakan sumur itu untuk masuk pada tingkatan yang lebih bawah.”


Barto menghembuskan udara melalui hidungnya dan berkata, "Apakah lift itu sangat rawan?"


“Ya. Kobolds dibagi menjadi tiga jenis, yaitu Kobolds kecil, Kobolds normal, dan Kobolds petua. Hanya Kobolds petua yang diizinkan untuk menggunakan lift dengan bebas. Kobolds normal hanya dapat menggunakan lift saat diperintahkan atau diizinkan oleh si petua.”


"Vina merasa bahwa si petua tidak begitu mempercayai bawahannya," Vina berkomentar.


Vina adalah Vina, Haruhiro menduga bahwa dia merasa sedikit kasihan pada Kobolds normal.


Ekspresi Lusi melunak sedikit ketika ia menjelaskan. “Petua adalah kelas elit, sementara Kobolds biasa adalah kelas pekerja. Kobolds kecil bahkan tidak dianggap sebagai anggota dari masyarakat mereka. Kobolds pekerja yang berlevel rendah tinggal pada lapisan kedua. Di situlah semuanya semakin sulit.”


"Jadi mereka keluar dari sini, ya ..." Haruhiro menjilat karena tiba-tiba bibirnya terasa kering.


Mereka berhenti ketika mencapai celah cukup besar dan berbentuk lobang yang tidak sempurna. Jadi ini adalah Sumur Tenggelam yang dibicarakan oleh Lusi. Itu adalah lubang vertikal dengan ukuran diameter sekitar 10 kaki, dan ada juga empat simpul tali yang terpasang pada sisi-sisinya. Haruhiro menelan ludah, dia tak yakin apakah ingin turun atau tidak.


Tapi sementara Haruhiro galau, Marco sudah menuruni tangga.


"Marco, tahan ..." sebut Haruhiro.


"Apa?" Marco memelototinya. “Mengapa ragu? Kita sudah datang jauh-jauh ke sini, maka tidak ada gunanya berhenti sekarang. Kau bahkan tak berhak bertanya, ayo cepat! Jika kau masih saja seperti anak kecil, aku akan meninggalkanmu di belakang.”


“Atau mungkin kami yang akan meninggalkanmu di bawah sana,” balas Haruhiro.


“Akan kubunuh kau dua kali jika kau melakukannya. Aku tak bercanda.”


Begitulah. Haruhiro dan yang lainnya meraih tali tangga dan mulai turun. Tampilan umum tingkat kedua jauh lebih polos daripada yang pertama. Seseorang masih bisa memahami bahwa tempat ini pernah menjadi tambang, tapi banyak terdapat celah-celah pada dinding. Haruhiro menduga bahwa mungkin saja celah-celah itu adalah tempat


tinggal Kobold.


Dugaannya segera ketahuan ketika mereka menyelinap mengintip ke dalam salah satu celah, dan seperti yang dikhawatirkan Haruhiro bahwa ada beberapa Kobolds yang sedang mendengkur di sana.


"Bukankah semuanya akan kacau jika kita membangunkan mereka?" Bisiknya. "Sepertinya ada banyak Kobold dalam satu lubang ini ..."


Sebelum tak seorang pun bisa menjawab, suara menggeram anjing bergema dari kejauhan. Apakah para Kobolds saling berkelahi? Sepertinya itulah yang terjadi. Suara lolongan itu segera mereda, tetapi tidak lama kemudian suara lolongan yang lebih banyak pun terdengar.


"Vina tidak kira, bahwa ternyata mereka cukup berisik," kata Vina, sepertinya dia tidak khawatir sama sekali.

__ADS_1


"B-Bukankah seharusnya kita kembali sekarang?" Alice menempel erat pada tubuh Vina, sedangkan seluruh badannya gemetaran.


"Tidak apa-apa," kata Lusi dengan tenang. “Di sini selalu berisik, jika tidak terjadi hal yang luar biasa, mereka tidak akan bangun. Bahkan jika kita membuat sedikit kegaduhan, mereka jarang sekali mengejar kita.”


Barto menghela napas lega.


"Namun itu hanya berlaku untuk tingkatan kedua," Lusi menambahkannya dengan sedikit ekspresi tersenyum. “Kita harus waspada terhadap para petua, ketika kita berada di tingkat ketiga nanti. Dan jangan lupa, ada Deathspot di sana.”


Bukan hanya Haruhiro. Bahkan ekspresi Marco menjadi kaku saat mereka mendengar nama itu. Seekor Kobold berwarna hitam kelam dan bulu putih, ukuran tubuhnya lebih besar, dan dia lebih brutal dari petua manapun. Dia menjelajah seluruh area tambang bersama rombongannya. Nama itu berasal dari warna bulunya yang terdapat bintik-bintik, dan juga banyaknya anggota Red MooN yang tewas di tangannya, termasuk mantan sahabat Lusi. Dan bagi Lusi sendiri, nama itu begitu erat kaitannya dengan balas dendam.


Siapa pun yang membunuh makhluk seperti itu akan menjadi bahan pembicaraan di kota. Karena belum terdengar kabar heboh tentang seseorang yang berhasil menghabisinya, maka makhluk itu pasti masih hidup.


"Pernah terdengar kabar bahwa dia terlihat pada tingkat pertama," Lusi melanjutkan dengan nada suara tenang, seperti biasanya. Haruhiro pikir ketenangan Lusi agak sedikit aneh, seolah-olah ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. “Tapi laporan itu diragukan, jadi aku berpikir bahwa kita tidak perlu khawatir saat ini. Namun, kita tidak boleh lengah terhadap keberadaan Deathspot. Jika kita tidak bersiap-siap kabur ketika dia muncul, maka ...”


"Maksudmu ini?" Marco, tersenyum lebar, sembari membuat gerakan mirip memenggal kepala dengan mengayunkan tangannya.


"Hentikan itu!" Vina meninju bahu Marco.


“Ow! Apa sih….?!”


"Mengapa kau tidak bisa bertindak sedikit lebih peka?" Vina bertanya.


“Apa? Kok bisa? Apakah kau bisa menemukan orang yang lebih peka daripada diriku pada kelompok ini!??”


"Hentikan tingkahmu itu!" bentak Vina.


"Vina, jika kau berkata demikian, maka artinya kau tidak bisa tahan terhadap polahnya," Haruhiro si pengkoreksi memotong, namun sebenarnya dia ingin membiarkan mereka berdua terus bertengkar karena dia tidak begitu mempedulikannya.


Haruhiro berdeham dan menatap Lusi. Dia tampak seperti yang biasa, tapi Haruhiro bertanya-tanya apakah dia sungguh baik-baik saja. Haruhiro merasa bahwa Lusi adalah tipe cewek yang suka memendam emosinya.


"Bagaimanapun juga," Haruhiro melanjutkan, “Marco, jika kau tidak bisa mengatakan hal yang positif, maka lebih baik kau diam saja.”


"Kalau begitu, bagaimana jika aku memberikan saran pada kalian. Ayo kita pancing mereka," Marco berkata, dan menggunakan dagunya untuk menunjuk pada Kobold pekerja yang tertidur di celah-celah pada dinding. “Mereka tidak akan bangun kecuali kita membuat kegaduhan, kan? Jadi, ayo kita bunuh mereka ketika masih tidur. Ini akan mudah…. Kita hanya perlu tusuk- tusuk- tusuk- tusuk- tusuk-… kemudian ambil barang mereka, kemudian kabur.”


Haruhiro kehabisan kata-kata sesaat. Akhirnya, ia menjawab, "Terkadang kau tidak punya kepekaan akan tata krama."


"Ini tidak ada hubungannya dengan tata krama. Aku adalah seorang Dark Knight, yaitu pengikut Skulheill. Kami percaya bahwa segala sesuatu adalah sama sebelum ajal menjemput. Vices yang kami kumpulkan adalah sebaliknya, Vice adalah perwujudan logika, moral, dan segala sesuatu yang kau anggap sebagai hal baik. Vice adalah perwujudan dari itu semua. Ini penting, jadi aku akan mengatakan sekali lagi, PERWUJUDAN. Meskipun semuanya sama terikat oleh kematian, namun orang yang memiliki Vice lebih tinggi tentu saja memiliki kasta yang lebih tinggi pula. Kau bisa memahaminya, kan? Beberapa hal yang melekat pada setiap insan adalah hasrat, insting dasar, kehendak, dan hal-hal lain sejenisnya. Dan itulah yang membedakan kita di hadapan malaikat kematian. Apakah kau paham?"


"Sama sekali tidak," kata Haruhiro. “Dan aku bahkan tidak ingin mencoba untuk memahaminya.”


“Haruhiro ... Kau perlu melatih dirimu lebih keras. Maksudku, kau harus melatih otakmu lebih keras. Dengan tingkat pemahaman seperti sekarang, tidak mungkin kau bisa menjadi seorang pemimpin yang kompeten. Itu hanyalah sepenggal saran dari lubuk hatiku yang terdalam. Aku memberimu saran karena aku adalah orang yang baik hati.”


Wow. Apa? Apa sih yang sedang aku lakukan di sini? Entah kenapa, aku sekarang sangat sangat sangat sangat sangat sangat ingin menjotos pria ini.


Apakah Marco sudah termakan ajaran Dark Knight? Tidak, itu tidak bisa menjelaskan semuanya. Marco seharusnya bergabung dengan guild Warrior, tapi dia berubah pikiran, dan dia malah memilih profesi sebagai Dark Knight. Namun, sebuah Party sangat memerlukan Warrior, bahkan tanpa adanya Warrior, suatu Party tidak akan bisa berburu. Semua ini terjadi karena dia berpikiran bahwa Dark Knight adalah suatu profesi yang "keren".


Satu-satunya penjelasan adalah Marco orang yang egois sejak awal. Keegoisan adalah bagian dari sifatnya, kepribadiannya, dan wataknya. Tidak ada cara untuk mengubahnya. Marco akan selalu seperti itu.


Apakah Party ini akan terus berlanjut dengan keadaan seperti ini? Sejujurnya, Haruhiro tidak sepenuhnya percaya bahwa mereka bisa terus melanjutkan perjalanan ini. Jika dia tidak yakin bahwa Marco bisa berubah menjadi lebih baik, maka semuanya berakhir.


Ini juga demi kepentingan Marco. Tambang ini bukanlah tempat yang tepat untuk membuat keputusan seperti itu, tapi ...


keluar Marco di sini hanya akan memperburuk citra Haruhiro sebagai seorang pemimpin.


"Saran ditolak," Haruhiro berkata demikian sebagai gantinya. “Kau bahkan tidak perlu mengadakan pemungutan suara, kan?”


Yang lain mengangguk dengan penuh semangat. Semua orang kecuali Marco.


"Terserah," Marco mengejek. “Aku juga sudah tahu kalian bakal bilang begitu.”


"Kalau begitu, jangan menyarankan apapun sejak awal," kata Haruhiro.


“Demi kalian, aku memikirkan sesuatu yang tidak mungkin ada di benak kalian. Kalian saja yang tidak mengerti akan perhatianku terhadap sesama.”


"Kenapa kau begitu perhatian pada kami? Apakah kau ibuku?" Haruhiro mementahkan pembelaan Marco.


Percakapan dengan Marco tidak akan pernah berakhir jika ia terus membalas. Sungguh, bahkan sejak awal seharusnya Haruhiro tak pernah menanggapi bocah berambut acak-acakan itu.


Mereka melanjutkan. Seharusnya ada lima Sumur Tenggelam untuk tingkat ketiga yang tersebar di sini, dan mereka mengeksplorasi setiap tempat untuk menemukannya. Tiba-tiba, mereka bertemu dengan kelompok yang terdiri dari empat Kobolds pekerja berperingkat rendah, mereka membawa sekop dan pacul di atas bahunya.


Mereka pasti dalam perjalanan setelah kembali dari pekerjaan.


“Empat?! Itu terlalu banyak!” Haruhiro segera terlibat perkelahian dengan salah satu di antara mereka, namun Kobold itu dengan cekatan menahan belati Haruhiro dengan menggunakan sekopnya.


Dia memberikan balasan dengan mengayunkan sekopnya, sekali, dua kali ... empat kali berturut-turut. Haruhiro mentargetkan alatnya, dan memberikan serangan balik dengan menggunakan teknik Thief yang pernah dipelajarinya, [SWAT]. Bertahan dengan cara seperti ini akan semakin menyebabkan senjatanya aus, maka dia sebisa mungkin menghindari bentrokan antar senjata, tapi tidak ada pilihan lain sekarang.


Bagaimana dengan yang lainnya? Barto, Marco, dan Vina masing-masing berhadapan dengan seekor Kobold,


dan selama beberapa detik, mereka semua mengalami kesulitan.


"Oom rel eckt vel dasbor!" Voash! Mantra [SHADOW ECHO] milik Alice menabrak lawan Barto. Tubuh Kobold pekerja itu mulai bergetar dan pertahanannya sedikit terbuka.


Barto tidak melewatkan kesempatan. “Makasih…!!” Teriaknya, sembari melepaskan skill [RAGE CLEAVE], teknik itu juga berarti : "terima kasih karena telah membiarkan aku membunuhmu".


Haruhiro tidak pernah memperhatikan dengan seksama perkembangan kepribadian setiap rekannya, tapi ketika melihat Barto, sekarang ia harus mengatakan bahwa [RAGE CLEAVE], tanpa diragukan lagi, lebih akurat dan mematikan daripada sebelumnya. Barto menebang Kobold dengan sekali tebas, dan dia segera menuju ke arah Vina.


Ketika Haruhiro memikirkan “Bagus. Kita bisa melakukan ini,” sesuatu terhempas pada punggungnya.


“Apa yang-! Haruhiro, kau bajingan!” Marco mengamuk padanya.


“Marco! Lebih perhatikan sekelilingmu!” Haruhiro membalas.


"Kau sendiri yang salah!"


"Baik! Maaf!"


"Lebih baik begitu!"

__ADS_1


Semuanya yang Marco omongkan membuatnya kesal. Haruhiro telah meminta maaf terlebih dahulu. Apakah pantas dia mengharapkan ucapan maaf dari Marco?


"MAKASIH!" Barto menyudahi perlawanan Kobold lainnya.


Dengan demikian, Vina dan juga Barto sekarang bebas membantu, tapi Marco berteriak, "Aku baik-baik saja! Aku akan menghabisi yang ini sendirian! Pergilah bantu si bodoh Haruhiro!”


Ampun deh, aku sudah gak tahan lagi, dialah yang terburuk, dialah yang terburuk dari yang terburuk! Darah di pembuluh darahnya mendidih dan hampir meledak, dia begitu marah.


Tapi Barto dan Vina datang, dan ia harus fokus pada lawan di hadapannya. Kobold itu berbalik menghadapi mereka, sehingga memberikan Haruhiro kesempatan untuk menyelinap di baliknya. Sekarang!


"[BACKSTAB]!"


Tapi itu tidak baik. Ujung belati membentur tulang. Haruhiro menggigit bibir dengan rasa frustrasi, lantas dia melompat ke belakang. Bahkan jika itu tidak fatal, Kobold tidak bisa mengabaikan luka tersebut, dan makhluk itu ragu-ragu antara menghadapi Haruhiro atau melawan Vina dan Barto, lantas dia memutuskan untuk menghadapi mereka semua. Namun tentu saja kosentrasinya terbagi, karena menghadapi 3 musuh sekaligus bukanlah keputusan yang tepat. Mogzo mulai bergerak tak lama kemudian.


"MAKASIH!"


Tiga Kobolds, tiga ledakan [RAGE CLEAVE] secara berturut-turut.


Haruhiro melihat pedang Barto merobek dengan keras bahu kanan Kobold.


"Barto, kau mantap!" Vina berteriak, dan Haruhiro sepakat dengannya. Barto benar-benar luar biasa.


Beberapa orang mungkin melihat Barto hanya sebagai sesosok pria berotot, dan dia sama sekali tidak punya bakat lain. Beberapa orang bahkan mungkin mengatakan bahwa dia malas dan lambat, tapi Barto sungguh-sungguh dapat dipercaya. Memukul mundur lawan-lawannya dengan menggunakan pedang dan armor, ia tak hanya piawai dalam mencari celah, namun dia juga mahir dalam mengunci pergerakan lawan dengan pedangnya [SPIRAL SLASH], kemudian memaksa lawannya mundur sampai kehilangan keseimbangan. Lalu ia menghabisi mereka dengan [RAGE CLEAVE].


Tidak banyak variasi untuk gaya bertarung, tapi karena dia tidak keberatan menggunakan teknik yang sama berulang-ulang, sehingga dia semakin piawai dalam menggunakan teknik-teknik tersebut. Dari semua orang di tim, Barto ini memiliki skill paling baik karena banyak latihan secara langsung di medan tempur.


"[PROPEL LEAP]!" Marco mempersiapkan diri sebelum melompat mundur, lantas dia memancing Kobold bergerak mengampirinya bagaikan menyedotnya dengan vacuum cleaner. Lantas, Marco mendorong pedang panjangnya "[JUKE STAB]!"


Kobold yang memutar tubuhnya ke samping, berhasil menghindari serangan itu. Marco melompat ke belakang sekali lagi "[PROPEL LEAP]!"


Untuk sesaat, sepertinya Kobold akan terpancing lagi untuk bergerak maju. Tapi tentu saja dia tidak mau tertipu dua kali. Tak mungkin tipuan yang sama bekerja dua kali.


“Sialan! Kalau begitu, makan ini!” Marco mengambil langkah panjang, kemudian dia melompat maju dan mengayunkan pedangnya secara diagonal.


"[HATRED’S CUT]!"


Suara logam yang berbenturan dengan logam menggema melalui udara ketika Kobold menangkis sabetan pedang Marco, dengan menggunakan momentumnya. Marco mengambil dua, tiga langkah mundur. “Tidak buruk untuk lawan kurus sepertimu,” ejeknya. “Baiklah kalau begitu. Aku sudah mengakuimu sebagai sainganku!”


Si Kobold memamerkan taring padanya, dan menggeram dengan nada rendah.


"Oh?" Bisik Alice dengan suara datar. “Rival, ya ...”


"Kau mulai senang, ya?!" Marco berteriak pada si Kobold.


Apanya yang senang? Haruhiro tergoda untuk bertanya, tapi dia menahan diri untuk tidak membuka mulutnya. Berpikir tentang hal itu sungguh bodoh.


“Tapi! Aku akan menghabisimu pada langkah berikutnya!” Marco melompat.


"[HATRED'S CUT]!"


Kobold menghindarinya, lantas melakukan serangan balasan. Marco menanggapinya dengan menggunakan [PROPEL LEAP] untuk menghindari, kemudian [JUKE STAB]. Tapi dia tak memotong apapun kecuali udara.


[HATRED’S CUT], [PROPEL LEAP], [ANGER THRUST], [PROPEL LEAP], [ANGER THRUST], kemudian [PROPEL LEAP] lagi. Setelah [ANGER THRUST] lagi, [PROPEL LEAP], kemudian [ANGER THRUST] dan [PROPEL LEAP] lagi.


[HATRED’S CUT], [PROPEL LEAP]. [HATRED’S CUT], [PROPEL LEAP]. [PROPEL LEAP], [PROPEL LEAP], [PROPEL LEAP], [PROPEL LEAP], [PROPEL LEAP], [PROPEL LEAP].


Tentu saja napas Marco menjadi senin-kamis. Berkali-kali menggunakan skill yang membuatmu begitu banyak bergerak akan membuat siapa pun kelelahan.


"Mungkin lebih baik jika kita membantunya ..." Lusi berkata, sembari melihat Haruhiro.


Marco memelototinya dengan mata merah. “Tidak usah repot-repot! Dia adalah sainganku! Dia adalah mangsaku! Punyaku! Aku bilang, aku akan membunuhnya, jadi aku pasti akan membunuhnya! Kalian pergi saja untuk istirahat minum teh atau sejenisnya!”


Mengapa Marco sangat tidak mampu menanggapi sesuatu dengan serius? Haruhiro tidak memahaminya sedikit pun, dan Haruhiro memiliki perasaan bahwa ia masih tidak akan memahaminya bahkan setelah merenungkan itu selama lima ratus tahun.


"Benarkah?" Kata Haruhiro. “Di sini tidak ada yang membawa teh!”


"Itu hanyalah kiasan!" Kata Marco. “[HATRED’S CUT]!”


Serangan itu akhirnya menggores Kobold, sehingga memaksanya mundur. Marco melesat setelah melihat lawannya terpojok, sembari berteriak dengan galak dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Dia memangkas si Kobold dengan liar dan ngawur. Dia mengayun-ayunkan pedangnya seperti menggunakan palu, tapi si Kobold pekerja sudah berada pada ambang batasnya, dan dia tidak lagi bisa menahan semua serangan yang dihujamkan padanya. Marco menyelesaikan serangan biadabnya dengan bacokan di kepala.


"MATILAH!" Marco berteriak, menyodorkan pedang panjangnya pada dada si Kobold naas, kemudian dia memutar pedangnya, sebelum akhirnya menariknya keluar.


Dia menyeka keringat dan mendesah panjang, ekspresi penuh kepuasan terlihat di wajah Marco, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan kerja keras seharian. Tapi Haruhiro merasa jijik. Sangat, sangat jijik. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang akan dia lakukan? Tapi saat ini, dia tidak perlu melakukan apapun.


"Ayoi kita menjarah barangnya, kemudian pergi." kata Haruhiro.


“Itu saja? Apa-apaan sih?!” Marco protes. “Bagaimana kalau kau bilang: 'Kerja bagus, Marco atau 'Keren banget, Marco atau 'Kau menakjubkan dan fantastis, Marco '?!”


"Um. Tidak."


"Bod-"


Haruhiro meninggalkan Marco dan membiarkannya tetap menjadi orang bodoh, lantas Haruhiro mengumpulkan jimat dari Kobolds pekerja. Si Kobold pekerja memiliki cincin pada hidung dan telinganya, dan terdapat batu mulia tertanam dalamnya, ini tidak seperti Kobolds kecil. Ini tampak jauh lebih tinggi harganya di pasar.


Sembari mengabaikan Marco yang terus membual, Haruhiro semakin termotivasi kemudian dia menghabisi empat


Kobold level rendah lainnya, dan itu bukan pekerjaan sulit baginya. Haruhiro dan yang lain terus maju, dan mereka mencari sumur tenggelam untuk masuk ke tingkat di bawahnya.


Mereka menghabiskan waktu setengah jam untuk menemukan sumur tersebut, dan ketika menemukannya, mereka


segera bertemu dengan tiga Kobold pekerja yang sedang naik ke tingkat atas. Setelah Party mengalahkannya, mereka dihadapkan dengan pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”


“Bicara apa kau? Tentu saja kita akan terus menuju ke bawah.” Saat Marco selesai mengungkapkan pendapatnya, mereka berlima pun selesai membuat keputusan.


“Ayo kita sudahi perburuan hari ini, lantas pulang,” kata Haruhiro, pada rekan-rekan lainnya. “Tempat ini baru bagi kita, dan menurutku bukanlah ide bagus jika kita menganggap bahwa semua lawan yang menghampiri kita bisa dikalahkan dengan mudah. Terlebih lagi, kita masih harus berusaha untuk kembali ke permukaan. Ayo kita pulang, memilah apa yang telah kita pelajari tentang tempat ini, dan datang lagi besok.”

__ADS_1


Marco adalah satu-satunya orang yang menentang keras keputusan pulang ke Atalante, tapi Haruhiro tidak peduli.


Karena masalah terbesar sekarang adalah mencari tahu tentang apa yang bisa kita lakukan terhadapmu.


__ADS_2