KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 2 Chapter 11 - Serahkan Ini Padaku!


__ADS_3

Aku hebat kan? Kampret, tentu saja. Aku benar-benar keren. Aku emang jantan, lebih dari dewa. Tunggu, dewa siapa? Um, Dewa Kegelapan? Skulheill? Biarlah, gak peduli. Aku sungguh terkutuk.


Karna aku masih belum mati.


Marco menghembuskan nafas panjang. Bahkan untuk seorang Tuan Marco yang jenius, bagaimanapun juga, hal ini mungkin sudah sedikit terlalu berantakan. Mungkin dia sudah... selesai? Semuanya... terlihat seperti itu. Seperti. Ini adalah AKHIRNYA. Mungkin.


Ini tidak terlihat seperti dia gagal meluruskan pikirannya.


Dia mulai mengutuk dirinya sendiri. Kecuali tidak benar. Baik, mungkin dia melakukannya. Sedikit.


Tapi hal yang paling penting adalah, dia masih hidup. Itu adalah suatu keajaiban. Marco telah melakukan apa yang lainnya tak bisa lakukan. Tidak ada salahnya membanggakan hal tersebut. Dia merasa bahwa melakukan hal seperti itu akan menyempurnakan dirinya yang kacau. Setiap makhluk cerdas di dunia ini harusnya melengkapi Tuan Marco.


“...Bukankah begitu, Zodiak?” tanya Marco, melirik ke arah setan berwarna ungu-kehitaman yang melayang-layang di atas wajahnya.


Setan adalah budak dari Dewa Kegelapan Skulheill, dipanggil dengan menggunakan ilmu sihir Dark Knight [DARK INVITATION]. Penampilan seekor setan berubah menyesuaikan banyaknya Vice yang telah seorang Dark Knight kumpulkan, dan setan milik Marco menyerupai tubuh manusia tanpa kepala, dengan dua lubang di sekitar dada untuk matanya, di bawahnya terdapat mulut yang tersenyum lebar.


{Tidak, tidak, tidak tidak tidak, tidak sama sekali, tidak tidak...} si setan mendesis.


Mulut Zodiak berdesir saat dia berbicara, dan suaranya seperti beberapa anak kecil yang berbisik berbarengan. Sebelum Marco mulai terbiasa dengannya, setan tersebut sungguh mengganggunya, dan bahkan seiring waktu berjalan, hal tersebut masih saja bisa membuatnya merinding.


“Tak apa. Masih lebih baik ditemani kau daripada sendirian di sini...”


{Penakut, penakut,  penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut...}


“Oy. Jadi kau bilang bahwa aku penakut.”


{Penakut penakut penakut penakut penakut... Eeeehehehehehe... penakut... hehehe... penakut...}


“Hentikan itu.” Marco mengangkat tangannya untuk memukul setan itu, tapi sebelum ia bisa melakukannya, Zodiak sudah terbang ke atas dan tak bisa ia jangkau.


{Eeeehehehe… ehehehe… ehehehe… penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut… eeeehehehe…}


“Sialan, mengapa? Zodiak...” Marco menekuk lutut ke arah dadanya dan berpura-pura untuk menangis. Tapi Zodiak gagal menangkap maksudnya, jadi Marco menyerah dan malah berkata, “Terserah. Aku tak percaya aku bisa kembali ke tingkatan keempat.”


Ya, Marco tak lagi berada di tingkatan kelima yang terlihat seperti bengkel pandai besi, dia telah berhasil kembali ke tingkatan keempat, yaitu sektor pertanian. Bagaimana caranya dia bisa kembali ke situ sungguh keajaiban Tuhan... bahkan dia tak mempercayainya. Dia membiarkan Barto menaiki tangga terlebih dahulu, dan akhirnya dia lari, lari, lari demi hidupnya hingga ia beruntung bisa menemukan sumur tenggelam yang lainnya.


Dia ingat dia menendang beberapa kobold saat menaiki talinya, tapi bagaimanapun, beberapa kobold tingkatan kelima berhasil mengejarnya. Beruntung, di tingkatan keempat, sebuah gerbang menuju kandang hewan ada yang dibiarkan terbuka. Lantas Marco masuk ke dalamnya, ****-tikus yang ada di dalam pun panik dan membuat keributan, sehingga membuat Marco pun ikut kebingungan.


Itu bukanlah rencana yang bagus, tapi Marco merasa itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Setelah itu, dia merangkak melewati kandang ****-tikus dan ****-cacing, mengalahkan kobold yang mengikutinya satu persatu, hingga tak tersisa seekor pun. Dan sekarang di sinilah ia berada sekarang. Di dalam sebuah kandang ****-cacing, dikerubungi oleh ****-cacing.


Hanya Marco, Zodiak, dan makhluk dengan segumpal daging.

__ADS_1


“Tunggu... bagaimana jika...”


Marco menyodok salah satu babi-cacing itu. Tak ada respons. Lalu dia menamparnya dengan telapak tangannya. Tak terjadi apa-apa.


“Hebat. Menakjubkan.”


Kalau begitu, maka... Marco mencoba mencubit kulit tebal ****-cacing itu. ****-cacing itu menatap Marco dengan mata murung, hitamnya yang setengah tertutup oleh tubuhnya dan mengeluarkan suara seperti “gufuugufuu” kepadanya.


“Ja-jangan marah...”


Gufuu! Gufuu!


“Wah—tunggu, hentikan itu! Jangan... mengeluskan tubuhmu ke wajahku! Eww...”


Bufuu... bufufu... gufuu!


“Tidak, jangan—jilat... menjijikkan... Dan apa yang salah dengan lidahmu? Terasa seperti ampelas...”


Fuu... gufuu... fuufuu... fuu... fuu...


****-cacing itu mulai berbaring kepadanya. Marco mencoba untuk menyingkirkannya, tapi tak bisa. Babi-cacing itu sangat kuat. Dia tak bisa menyingkirkannya. Tiba-tiba, babi-cacing itu menyelimuti Marco, dan ketika Marco menggeliat dan mencoba menyingkir, ****-cacingnya membelit lebih erat. Tapi ketika Marco terdiam, babi-cacing itu merasa tenang.


“Serius...? Makhluk ini merasa nyaman denganku... Sialan...”


“Berhenti menertawakanku, Zodiak!”


{Mati! Matilah sekarang, matilah sekarang! Diambil oleh Skulheill! Ambil ambil ambil ambil!}


“Jangan katakan hal mengerikan seperti itu...”


{penakut… penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut penakut… eeehehehehe…!}


“Masih saja bilang penakut, huh...”


Dia tak sendirian. Dia ditemani oleh Zodiak dan ****-cacing yang mulai menyukainya... tapi Marco sungguh kesepian. Sendirian tanpa ada pertolongan datang.


“Makhluk ini bau... menjijikkan...”


Tidak ada gunanya menyangkal hal tersebut, jadi dia merasa lebih baik mengatakannya, ****-cacing itu bau seperti air kencing. Berada di dalam kandang ****-cacing sungguh buruk dan kelewat menjijikkan, tapi kalau dia pergi, dia berisiko terlihat oleh salah satu kobold petua yang sedang berpatroli. Kalau cuma satu lawan satu dengan seekor petua, Marco percaya dia bisa mengalahkannya. Dia bisa menang. Dia cukup kuat.


Tapi dia juga kelelahan. Dia tak ingin membuang energinya. Kalau dia bersikeras, dia bisa mengalahkan seekor, atau mungkin dua ekor petua dengan mudah, tapi dia merasa ingin beristirahat sekarang. Bahkan seorang Dark Knight gigih yang tak kenal takut, butuh istirahat juga.

__ADS_1


Rencananya sekarang adalah istirahat, membangun kembali kekuatannya, lalu mulai bergerak lagi.


“Aku harus pergi dari sini dengan kekuatanku sendiri...”


Barto. Vina. Alice. Lusi... Haruhiro. Wajah mereka tiba-tiba muncul di pikirannya. Tidak... mereka tidak akan datang. Atau lebih tepatnya, dia tak bisa membuat dirinya percaya kalau teman-temannya akan kembali untuk menyelamatkannya.


Marco mengeluarkan sedikit, tawa datar. “...Karena aku sudah tau. Kalian semua membenciku. Aku sudah tau sejak lama.”


Tapi mengapa? Mengapa semuanya membenciku? Tak ada yang bisa mengingat masa lalu mereka, jadi dia tak bisa mengerti alasannya. Mungkin itu karena dia tidak bisa bersikap ramah atau setidaknya pura-pura ramah. Hal itu membuatnya muak, berpikir untuk bersikap ramah pada orang lain atau mempedulikan mereka. Dan berkata sesuatu yang tak sesuai isi hatinya... Dia tak bisa melakukannya bahkan jika seseorang memaksanya.


Tapi walaupun dia mengerti, Marco tak bisa berhenti. Dan mengapa dia harus mencoba untuk berhenti seperti itu? Lagian, dia hanya menjadi dirinya sendiri. Mencoba bersikap layaknya Tuan Orang Baik, hanya untuk mengelabui orang agar menyukainya, sungguh di luar akal sehat. Dia tak ingin orang-orang menyukainya karena kepribadian palsu.


Dan dia juga tak masalah kalau dirinya dibenci. Kalau orang-orang membencinya, tak apa. Pembenci akan selalu benci. Mereka yang mengerti dirinya, akan bisa menerimanya, atau begitulah yang Marco pikir. Dan di luar sana pasti ada orang yang mengerti akan... akan apa? Harga dirinya? Sesuatu seperti itu.


Orang yang bisa menerimanya, dan menghargai akan dirinya, mereka mungkin ada di luar sana. Jadi tak apalah. Mereka yang tak mengerti dirinya bisa terus mengabaikannya. Tapi walau begitu, bukankah mereka rekan seperjuangan? Marco juga bagian dari tim.


Dalam pandangannya, dia sudah berkontribusi kepada tim hingga saat ini, dan dia bermaksud terus melakukannya. Dia mempercayainya, cepat atau lambat, yang lain akan mengerti itu. Mereka akan mengerti harga diri seorang Tuan Marco. Dan saat mereka mengerti bahwa mereka telah meremehkan Marco, sikap mereka kepadanya akan berubah.


Marco sadar bahwa mereka belum mengerti akan hal itu. Masih belum cukup waktu yang berlalu. Lalu dia pergi dan melakukannya... sesuatu seperti “Kalian pergi duluan saja, serahkan ini padaku”.


“Tapi itu...”


Ya. Seseorang pasti telah melakukannya, kalau ada kesempatan. Itu adalah tindakan refleks, untuk seorang pria. Tak ada pilihan selain melakukannya. Seorang pria yang tak bisa melakukannya bukan lagi pria. Bahkan jika dirinya adalah seorang wanita, mungkin dia akan melakukannya. Jika Marco seorang wanita, dia tahu dia pasti masih bisa melakukannya.


Dia hanya mengharapkannya... kesempatan itu sudah terlewatkan. Setelah rekan-rekannya menyadari betapa hebatnya dirinya. Itu mungkin sungguh keren, jika kesempatan untuk melakukan HAL ITU datang setelah mereka benar-benar menyadari betapa berharganya Marco untuk tim. Haruhiro, si boodoohh itu, mungkin sudah menangis. Barto mungkin akan menjerit. Dan para wanita, mereka semua mungkin akan jatuh cinta kepadanya.


Tidak mungkin kita bisa meninggalkan Tuan Marco kita yang berharga! Mereka akan mengatakannya. Semuanya, kita harus menyelamatkannya! Mereka akan mengatakannya. Itulah hal yang mungkin saat ini sedang terjadi.


Tapi hal itu terlalu dini. Waktunya tiba terlalu dini.


“Kalau begitu, berarti aku sedikit terlalu cepat...?”


Ataukah aku salah? Marco berbicara pada dirinya sendiri, sembari menghela nafas dalam. Tapi tidak, dia tak bisa mengharapkan semuanya datang untuk menyelamatkannya. Tidak ada seorang pun yang akan datang menolongnya. Dia harus mencari jalan keluar dari sini sendirian.


{Mati! Keehehehehe! Mati mati mati mati mati! Mati mati mati mati! Keehehehehe… penakut penakut penakut penakut!}


Kepribadian buruk setan itu sungguh menusuk ke dalam hati Marco. Master guild Dark Knight-nya pernah berkata, “Seekor setan adalah cerminan dari pemanggilnya. Dia menyerupai Dark Knight yang memanggilnya.”


Kau pasti bercanda, itulah apa yang ingin Marco teriakkan, tapi masternya, Cidney Agguro, sungguh menyeramkan. Masternya tidak ada di sini sekarang, tapi Marco tahu jika dia menyangkal perkataan masternya, dia mungkin akan mati di tempat. Itulah betapa menyeramkan orang itu.


“Yang mana, kurasa aku masih punya sedikit kemarahan yang tersimpan dalam diriku sekarang,” Marco menggerutu sembari sebuah senyuman muncul di wajahnya.

__ADS_1


Aku bisa melakukannya, aku akan baik-baik saja, Marco mengatakan itu pada dirinya sendiri. Kau akan lihat, Haruhiro. Aku akan keluar dari sini dengan kekuatanku sendiri. Dan setelah nanti kau terkejut dengan itu, kau boleh berlutut di depanku...


__ADS_2