
"Marco! Jangan
terlalu terpisah dari kami!" Haruhiro memperingatkannya sambil memutar
badan untuk berada di sisi belakang kobold bos yang sedang terlibat pertempuran
dengan Barto, dia sedang mencari celah yang bisa dia manfaatkan.
Bukannya sulit untuk
menemukan celah seperti itu. Ada! Sekarang! Pertahanan kobold petua itu penuh
dengan celah. Dia bisa dengan mudah menjatuhkan lawannya. Haruhiro melihat ekor
kobold petua yang dengan cepat menyapu apapun di sekelilingnya, tapi ia telah
memahami pola gerakannya sekarang.
Jika Barto menyerang
dengan cara 'A', maka si kobold akan bereaksi dengan cara 'B', maka berikutnya
mereka tinggal melakukan cara 'C'. Dan jika 'C' tidak berhasil, maka lakukan
'D', pasti itu akan berhasil. Haruhiro mampu memprediksi gerakan lawannya. Dia
yakin bisa menghabisinya dengan cepat, baik itu menggunakan skill [BACKSTAB],
maupun [WIDOW MAKER].
Tapi dia tidak berada di
dekat si kobold. Dia tidak ingin menghabisinya. Membunuh lawannya begitu saja
bukanlah tujuan akhir Haruhiro.
Dia ingin garis itu
muncul lagi. Garis yang kabur, buram, dan bersinar seperti api. Dia ingin bisa
melihatnya. Master Barbara pada Guild Thief pernah mengatakan kepadanya,
"Garis yang kau lihat itu, muncul sekali atau dua kali pada siapapun yang
memiliki cukup pengalaman bertarung."
Dia juga mengatakan,
"Itu bukanlah hal yang bisa kau munculkan dengan konsentrasi keras atau
apa pun." Dan meskipun dia mengatakan begitu," Itu juga bukan
pertanda buruk,", dia juga memperingatkan Haruhiro, "Tapi jangan
salah sangka. Garis itu bukanlah sesuatu yang istimewa.”
Garis itu bisa muncul
sekali atau dua kali pada siapapun yang memiliki pengalaman bertarung cukup
banyak. Tapi itu telah muncul lebih dari sekali atau dua kali bagi Haruhiro.
Garis itu muncul dengan wujud cerah dan nyata ketika ia membunuh Deathspot.
Jika garis itu tidak muncul, tidaklah mungkin Haruhiro mampu membunuh bos
kobold sekuat itu.
Deathspot harusnya bisa
meninggalkan Haruhiro di belakang, dan pergi mengejar rekan-rekannya yang lain,
mungkin bahkan membunuh mereka semua. Berapa banyak orang yang mati? Garis itu
telah menyelamatkan Haruhiro dan semua rekannya.
Tapi itu muncul secara
kebetulan. Itu hanya kebetulan muncul di hadapan Haruhiro. Dan jika memang
demikian, maka itu adalah suatu murni keberuntungan. Haruhiro baru saja
memperoleh salah satu keberuntung terbesar di hidupnya. Jika dewi fortuna tidak
tersenyum padanya hari itu, maka semuanya pasti sudah mati.
Haruhiro tidak ingin
percaya bahwa mereka telah diselamatkan oleh suatu keberuntungan. Dia tidak
benar-benar memahami alasannya, tapi ia sungguh ingin melihat garis itu lagi.
Jika saja Haruhiro bisa melihat garis itu kapanpun dia ingin, maka mungkin dia
akan menjadi ... tak terkalahkan?
Bukan berarti ia memiliki
ambisi untuk menjadi dewa atau sejenisnya, tapi dia ingin menjadi lebih kuat.
Dia ingin memiliki kekuatan untuk mengubah jalannya pertempuran ketika
diperlukan.
"MAKA-!" Datang pukulan terakhir dari Barto.
Garis ...ayolah, muncul!
Ayo! Muncul, garis! Haruhiro memohon. Tapi sabetan diagonal pedang Barto telah
datang sembari melancarkan skill [RAGE CLEAVE], dia menghempaskan lawannya
dengan kekuatan fisik yang mengerikan. Barto menghancurkan lawannya dengan
sekali sabet.
Pedang Barto memotong
luka selebar dua puluh inci pada bahu kobold petua tersebut, dan menembus armor
yang dikenakan oleh si kobold, seakan-akan armor besi itu hanyalah kertas.
Kekuatan Barto sungguh luar biasa. Itu semua tidak hanya dikarenakan kemampuan
otot yang dominan, melainkan juga karena pedang barunya, yaitu The Chopper.
Semuanya telah memberikan
saran untuk nama pedang baru Barto, tetapi akhirnya saran terakhir dari Marco,
yaitu "The Chopper" yang diambil. Panjang rata-rata pedang itu adalah
sekitar empat kaki, tapi mata pisaunya sangatlah tebal. Dan meskipun pedang itu
berbentuk lebar seperti perisai, namun penampilannya secara keseluruhan mirip
seperti pencincang daging raksasa.
Itu pedang yang
sebelumnya dimiliki oleh Deathspot, tapi Barto juga bisa menggunakannya dengan
begitu efektif. Dia menendang kobold bos sampai jatuh dengan kasar, kemudian
menyabetkan pedang ke arah kepala si monster naas, sehingga tengkoraknya retak
bagaikan cangkang telur.
"BERIKUTNYA!" Teriak Barto.
Kampret, dia begitu mengagumkan dan keren, begitulah pikir Haruhiro.
"Haru!" Lusi memanggil, sementara dia masih terpesona kehebatan Barto.
"Er ... y-ya !?" Haruhiro berteriak balik padanya.
"Apa sih yang sedang kau lakukan !?" Marco mencerca.
Sebenarnya Haruhiro gak sudi mendengar kalimat itu dari Marco, tapi dia harus mengakui bahwa dia sedikit bengong tadi.
Akhir-akhir ini, mereka
sering berburu kobolds petua pada habitatnya, yaitu tingkat ketiga Tambang
Siren. Kebanyakan jimat kobold petua berharga tinggi di pasaran, dan setelah
mereka menghabisi Deathspot, tingkat ketiga menjadi tempat yang relatif aman
untuk melakukan perburuan. Pendapatan yang mereka kumpulkan semakin stabil.
Namun, tidak berarti
bahwa probabilitas bahayanya nol. Ini masihlah wilayah musuh, dan mereka akan
membayar harga mahal jika terlalu cepat puas. Barto telah menumbangkan seekor
bos kobold, sehingga hanya menyisakan dua pekerja kobold lainnya. Marco
berusaha melawan Kobold A, sementara Vina dan Lusi bekerja sama untuk menangani
Kobold B.
Tapi kemudian, petua
lainnya datang sembari memimpin tiga ekor kobold pekerja, mereka menyerang
Haruhiro dan yang lainnya dari jarak cukup jauh. Tepat ketika mereka berpikir
bahwa pertarungan ini sudah hampir berakhir dengan mudah, takdir berkata lain
dengan menghadirkan lawan-lawan baru untuk mereka.
"Semuanya ada
enam!" ketika Haruhiro selesai menghitung jumlah musuhnya, Barto berteriak
"MAKASIH!" dan menghancurkan lawan Lusi dan Vina, yaitu Kobold B.
"Uh, kalau begitu tinggal lima!" Haruhiro mengoreksi hitungannya.
"Rasakan ini!" Marco mengunci pedangnya pada Kobold A, lantas mendorongnya dengan keras.
Itu adalah skill baru
Dark Knight, [EXPEL FRENZY], di mana ia menekan dengan menggunakan pedangnya
untuk memukul mundur lawan yang sudah berada terlalu dekat, lantas dia melompat
mundur dan memperlebar jarak diantara mereka. Sebetulnya itu bukanlah teknik
yang begitu hebat, namun Marco mempunyai keahlian untuk melebih-lebihkan apapun
yang dilakukannya.
Haruhiro harus
mengakuinya, meskipun begitu, skill [EXPEL FRENZY] memiliki potensi untuk
dikombinasikan dengan teknik lainnya.
"[ANGER THRUST]!"
Marco telah melancarkan
teknik lainnya walaupun jangkauan masih terlalu lebar, tetapi dia sanggup
melangkah lebih jauh untuk memperpendek jarak dengan lawan, kemudian menusukkan
pedangnya pada tenggorokan Kobold A. Selang beberapa detik, kobold itupun
kehilangan nyawanya, sedangkan Haruhiro dengan enggan mengakui bahwa Marco
terlihat keren saat ini. Ya, keren untuk sepersekian detik saja, tak lebih.
Bukan hanya teknik
bertarung yang telah mengalami peningkatan, Marco juga dilengkapi dengan helm
baru. Helm sebelumnya milik Marco begitu terbuka, dan telah rusak sehingga
tidak bisa lagi diperbaiki, dan dia pun membeli helm bascinet baru, lengkap
pelindung muka. Itulah yang digunakannya saat ini. Helm baru itu dicat hitam,
dan Marco mengatakan suatu hal yang bodoh tentang helm itu, sehingga membuatnya
terlihat seperti seorang Dark Knight yang greget.
[Bascinet adalah tipe helm besi yang dilengkapi pelindung muka.]
Yah, Haruhiro harus
mengakuinya sekarang, karena dia baru saja melihat Marco sebagai seorang Dark
Knight yang begitu keren. Walaupun itu hanya untuk sepersekian detik saja.
"Uh ... empat telah
tumbang!" Haruhiro berteriak, dia sedikit bingung sehingga dia memberikan
perintah sekali lagi. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin Party ini. "Barto,
kau tangani si petua! Marco, hadapi salah satu pekerja dan kalahkan dia secepat
mungkin! Aku dan Vina akan mengurus dua lainnya!”
Barto menghadapi si petua
sembari mengerang. Ketika mereka saling mengunci pedang, Barto mengeksekusi
skill [SPIRAL SLASH], dia menekankan serangan, sehingga lawannya pun terpaksa
terdorong mundur.
"[HATRED’S
__ADS_1
CUT]!" Marco melompat pada Kobold C. Serangan pertamanya masih bisa
dimentahkan, tapi Marco terus menekan ke depan, sembari melancarkan serangan
lain secara bertubi-tubi.
Vina menyerang Kobold D
secara langsung, dan ketika monster itu membalas dengan ayunan sekopnya, dia
menjungkir rendah untuk menghindari serangan tersebut dan itu adalah skill
barunya, [FOX VAULT]. Itu benar-benar skill yang berdasar pada teknik pemakaian
Kukri, namun Haruhiro tidak mengerti mengapa senjata itu tidak digunakan secara
langsung saja. Vina mendekatinya dalam sekejap, sehingga membuat Kobold D
terkejut, lantas Vina mengeksekusi kombinasi skill [SWEEPING SLASH] dan [CROSS
CUT], dan lawannya pun menyerah.
"Whoa!" Teriak Haruhiro, namun sama sekali tidak berniat membuat keributan sedikitpun.
Melawan musuh dengan duel
tunggal bukanlah keahlian seorang Thief. Kobold E mengayunkan sekop pada
Haruhiro beberapa kali, sementara dia membelokkan itu dengan skill [SWAT].
Sekop tersebut adalah alat yang biasa digunakan untuk kegiatan pertambangan,
dan terbuat dari logam pada pegangan hingga ke ujung, sehingga itu juga efektif
sebagai senjata.
[SWAT] adalah skill yang
lebih dimaksudkan untuk bertahan, namun jika kesempatan muncul, Haruhiro juga
bisa menggunakannya untuk membuat celah pada pertahanan musuh.
Ia melakukan metode itu
ketika menghadapi Kobold E yang terus mengayun-ayunkan sekopnya dengan lebar.
Haruhiro lebih memilih untuk mengelak daripada membelokkan serangan tersebut
dengan [SWAT]. Kobold E segera menyadari bahaya, dan dia dengan cepat menarik
senjatanya kembali. Dia menyerang lagi, tapi kali ini dengan ayunan sekop yang
lebih pendek, namun cukup cepat. Tampaknya dia kini lebih mengutamakan
kecepatan daripada kekuatan.
Sekarang! Haruhiro
berpikir sejenak, lantas dia membelokkan sekop Kobold E dengan menggunakan
[SWAT]. Itu bukanlah [SWAT] yang biasa. Kali ini Haruhiro memadukan kekuatan
ototnya pada [SWAT] yang dia lepaskan, sehingga memaksa sekop kobold mental
jauh dari tubuhnya. Kobold itu sekarang tanpa pertahanan.
Haruhiro langsung
memangsanya, dia menggunakan tangan kiri dan lengan kanan untuk mengunci
pergerakan Kobold E. Monster itu mengerang ketika sikunya tak lagi bisa
bergerak, kemudian Haruhiro menyapu kaki lawannya sehingga dia terjerembab ke
tanah.
Ini adalah teknik baru
yang Master Barbara ajarkan, atau lebih tepatnya, dipaksakan oleh gurunya, nama
skill ini adalah [ARREST]. Meskipun terlihat bagus ketika skill ini berhasil
dieksekusi, namun sebenarnya ini juga bukan skill yang teramat istimewa.
Sementara Kobold E masih
jatuh di tanah, Haruhiro menyematkan kakinya pada rahang si kobold sekeras-kerasnya.
Kepala seekor kobold berbentuk seperti anjing, gigitan mereka begitu kuat,
tetapi struktur tulangnya lembek. Struktur rahang mereka sangatlah rentan
terhadap serangan dari samping. Kobold E sekarang tak sadarkan diri, atau lebih
tepatnya, hampir tidak sadarkan diri.
"Oom rel eckt pram das!" Teriak Alice.
Sebuah elemental bayangan
yang berbentuk seperti rumut laut hitam ditembakan dari ujung tongkat Alice,
benda itu terbang di udara dengan jalur spiral rapat.
"Vina, hati-hati!" Alice memperingatkan.
Vina merunduk sembari
menjerit ketika elemental bayangan itu terbang melewati atas kepalanya. Sihir
itu tepat menghantam Kobold D langsung di wajah, kemudian mulai meresap ke
dalam tubuh melalui telinga, mulut, dan hidung. Kobold D berhenti bergerak
sepenuhnya, tubuhnya kaku seperti papan kayu.
Walaupun kelihatannya
sama, namun ini adalah teknik baru Alice bernama [SHADOW COMPLEX], ini adalah
mantra yang benar-benar masuk ke kepala musuh untuk membingungkan mereka. Alice
telah mempelajari mantra tertentu karena dia ingin lebih menguasai sihir
ofensif. Memang, ini tidak seperti [PHANTOM SLEEP], sihir ini akan bekerja
bahkan pada musuh yang memiliki mental kuat dan selalu waspada. Mantra ini
begitu cocok dengan Alice itu sendiri, dan sangat berguna ketika bertarung
dalam grup.
Bahkan ketika Vina
melihatnya, Kobold D tiba-tiba melemparkan sekopnya, dan terlihat sangat
bingung. Vina menyerang dengan penuh amarah menggunakan kukri-nya, dan dia
menikamkan senjata tersebut sembari berteriak. Pada saat Kobold D kembali
sadar, itu sudah terlambat. Vina telah merobek tubuhnya dengan begitu parah,
"ARGH!" Marco
menghabisi Kobold C dengan kombinasi skill [EXPEL FRENZY] dan [ANGER THRUST],
akhir-akhir ini dia terlihat begitu kecanduan bertarung.
Dengusan Barto terdengar
dari jarak dekat, dan Haruhiro bertanya-tanya apakah si petua itu menyulitkan Barto
ketika melawannya. Tidak, bukan itu masalahnya, Haruhiro pun telah menyadari
itu. Sepertinya si petua telah menemukan celah pada pertahanan Barto, lantas si
monster menyabetkan pedangnya pada lengan kiri Barto. Tapi, itu bisa terjadi
semata-mata karena Barto memang mempersilahkan lawannya berbuat demikian.
Barto sekarang dilengkapi
dengan armor baja yang melindungi pinggangnya, dan juga kedua lengannya. Kedua
plat baja tersebut memang barang bekas, tetapi sudah dipaskan oleh seorang ahli
armor. Dan Barto juga telah mendapatkan teknik pertempuran baru untuk digunakan
bersama armor yang berat.
Pedang kobold bos
menghujam pada pelindung lengan Barto dan membenturnya dengan suara klang yang
keras, namun pedang itu mental. Itu bukanlah pantulan sederhana, melainkan itu
adalah salah satu skill baru milik Barto, yaitu [STEEL GUARD]. Faktanya, Barto
sama sekali tidak pernah mengikuti program pelatihan pada Guild Warrior,
sehingga Haruhiro tidak pernah tahu bagaimana rekannya itu mendapatkan skill
seperti itu, tapi skill tersebut adalah semacam metode khusus untuk memperkuat
armor seseorang dengan memanfaat energinya, sehingga semua serangan musuh akan
memantul.
Dan tidak hanya itu
perlindungan yang dimiliki oleh anggota Party ini, semuanya berada dalam
lingkupan skill Lusi, yaitu [LIGHT OF PROTECTION]. Sihir itu bisa meningkatkan
kemampuan fisik, ketahanan, dan mempercepat kemampuan tubuh untuk menyembuhkan
dirinya sendiri. Mantra ini mungkin ada hubungannya dengan Dewa Cahaya
Luminous, karena ketika Lusi mengaktifkannya, simbol segi enam melayang di atas
pergelangan tangan kiri setiap anggota Party, sementara mereka berada di bawah
pengaruh mantra ini. Menurut Lusi, mantra ini bisa diberikan pada 6 orang
sekaligus dan berlangsung hingga 30 menit lamanya. Haruhiro merasakan efektivitas
mantra tersebut ketika tubuhnya menjadi terasa lebih ringan, dan itu sangat
meningkatkan kemampuan bertarung mereka.
Dan mungkin berkat [LIGHT OF PROTECTION], Barto juga bergerak cepat untuk menyelesaikan si petua itu.
"MAKASIH!!!" Barto berteriak.
Tentu saja Barto masih
menggunakan skill andalannya, [RAGE CLEAVE]. Skill tersebut bukan hanya
bertindak sebagai sentuhan akhir, namun skill itu cukup kuat, stabil, dan yang
terpenting, skill itu begitu keren. Pedang Barto menghancurkan bahu petua yang
sudah kehilangan keseimbangan. Itu adalah cara yang hampir sama persis ketika
membunuh petua pertama.
Postur dan gaya Barto
begitu elegan, tidak seperti Marco, ia tidak pernah mengumbar omong kosong aneh
dan trik murahan hanya agar terlihat keren. Dia adalah sosok pria sederhana
baik dari segi penampilan maupun sifat. Dia hanya memiliki teknik dasar dan
begitu kesulitan mengembangkannya, namun dia terus berlatih sesering mungkin,
sehingga dia mendapatkan teknik original buatannya sendiri.
Mungkin Haruhiro sedikit
melebih-lebihkan, tapi tidak ada keraguan bahwa [RAGE CLEAVE] milik Barto telah
berkembang menjadi jurus pembunuh mengerikan untuk menghancurkan
lawan-lawannya.
Tentu saja efektivitas
[RAGE CLEAVE] juga dipengaruhi oleh hal-hal seperti kekuatan fisik, kemampuan,
dan kualitas senjata, dan juga faktor-faktor lainnya. Namun, kenapa teknik itu
begitu efektif ketika digunakan oleh Barto? Jawabannya tentu saja adalah timing-nya.
Setiap kali dia melihat
celah pada pertahanan musuh, Barto menggunakan [RAGE CLEAVE] pada momen yang
begitu tepat, sampai-sampai Haruhiro ingin berdiri untuk bertepuk tangan setiap
kali Barto sukses mengeksekusi skill-nya.
Saat inipun, dia ingin bertepuk tangan sekencang-kencangnya pada rekan setimnya
ini….. namun, apakah itu begitu penting dilakukan?
Katika Haruhiro masih
kebingungan, Marco menyerang Kobold D dari sisi belakang. Vina sudah melawannya
sejak tadi, namun Marco berhasil menghabisinya dengan serangan pamungkas.
"Ha ha ha! YESSSSS! Aku dapat Vice!” Marco menyatakan kemenangannya.
"Marco bodoh!" Teriak Vina. “Harusnya Vina bisa mengatasi ini sendirian!”
__ADS_1
"Apa-apa’an? Kau
berusaha membunuhnya dengan tanganmu sendiri? Nona Papan Cucian, sekarang
kenapa kau begitu haus darah layaknya hewan buas!? Ha! Kau ingin mengabdikan
diri untuk Dewa Skulheill juga?" Marco memberikan penawaran.
"Tidak
mungkin!" Jawab Vina. “Vina adalah seorang Hunter yang mencintai Dewi
Putih Eldritch. Vina hanya berpikir bahwa jika dia bertarung satu lawan satu
dengan Kobos itu sampai akhir, maka Vina akan memenangkan pertarungan ini! Dan
jangan panggil Vina Papan Cucian!!!”
"Vina, yang benar
Kobold ..." Haruhiro hanya bisa mengoreksi perkataan si gadis Hunter,
namun seperti yang sudah diduganya, bahwa dia diabaikan begitu saja.
“Papan cucian, papan
cucian, datar, datar, dada datar! Kalau kami tidak mau dipanggil datar, maka
tumbuhlah yang besar!” Marco kembali membentaknya.
"Vina tidak tahu
bagaimana caranya menumbuhkan dada menjadi besar!" Vina berkata dengan
sungguh-sungguh.
"Lakukan saja
seperti ini!" Marco berbalik ke arah Vina, dan dia meremas-remas sembari
memijit dadanya sendiri.
"Pelecehan
seksual!" Alice protes, sembari memelototi Marco dengan tatapan setajam
pisau belati, sementara Lusi hanya mendesah dan bergumam, "Benar-benar
keji."
"Akulah yang
terbaik!" Marco berteriak, dengan pembuluh darah yang menggembung di
pelipisnya. "Akulah Sang Peleceh Seksual terbaik! Akulah yang paling
tercela! Ayo! Apapun yang kalian katakan, itu tidak akan menggangguku! Aku akan
menjadi raja peleceh seksual yang paling tercela di dunia ini!”
"Hm ..." Vina
merenungkan dan mengulangi kata-kata Marco barusan ... atau lebih tepatnya, dia
meniru gerakan Marco, yaitu meremas-remas dadanya sendiri. “Apakah kau
digini’in benar-benar akan tumbuh besar? Vina sih merasa ini tidak tumbuh
besar! Atau lebih sulit tumbuh daripada kelihatannya?”
Barto mengeluarkan
semacam suara tersedak, sementara Alice dengan cepat menyambar tangan Vina dan
berkata, "V-Vina ... itu bukanlah sesuatu yang boleh kau lakukan di depan
orang lain!”
"Oh, jadi ini hanya akan berhasil jika Vina lakukan secara pribadi?" Tanya Vina.
"Um…. sepertinya bukan itu masalahnya ..." jawab Alice.
Marco mengejek. “Apa
masalahnya? Terus remas saja! Punyamu begitu kecil, jadi orang lain tidak akan
melihat apa-apa!”
"Dasar Bodoh!" Teriak Vina.
“Aku bukan orang bodoh !
Aku adalah Raja Peleceh Seksual Paling Tercela! Itulah gelar baru yang aku
peroleh, jadi kau jangan lupa, ya! Sekarang, sujud dan sembahlah kemesumanku!”
"Berhenti menganggap
itu sebagai hal yang baik," kata Haruhiro sambil mulai mencari
barang-barang yang kobolds tinggalkan.
Tak satu pun dari
barang-barang mereka bisa dijual, jadi dia harus puas dengan jimat saja. Saat
ia berjongkok di dekat mayat kobold, dan dengan hati-hati melepaskan jimat
berupa anting-anting dari salah seekor kobolds pekerja, Marco tiba-tiba
melompat di dekatnya dan merobek anting-anting emas dari jasad kobold tersebut.
Haruhiro sangat membenci
perlakuan kasar Marco terhadap mayat monster. Masih banyak hal lain yang
Haruhiro benci dari sosok Marco. Bahkan, ia tidak menyukai segala sesuatu pada
sosok pria berambut berantakan itu.
"Apa sih?" Marco memelototi Haruhiro. ”Kau mau bilang sesuatu padaku?"
"Tidak juga," jawab Haruhiro.
"Kalau begitu, izinkan aku mengatakan ini kepadamu."
"Apa?"
"Haruhiro," Marco menggunakan ibu jarinya untuk menjentikkan cincin emas ke udara, dan membiarkannya mendarat di telapak tangan. “Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.”
"Hal yang tidak-tidak?" Tanya Haruhiro. “Maksudnya apa?”
"Kau pikir kau sudah menjadi semacam pahlawan, bukan?" Marco menuduhnya.
"Pahlawan?" Ulang Haruhiro.
Hanya si Marco bodoh yang
memikirkan hal konyol seperti itu, dan begitupun pikir Haruhiro. Tapi perkataan
itu langsung membuat dadanya sesak, dan dia tidak memberikan jawaban dengan
cepat. Seorang pahlawan, ya? Haruhiro tidak pernah berpikir bahwa dirinya layak
disebut pahlawan atau semacamnya. Tidak sama sekali. Bahkan dia tidak pernah
memikirkan itu sedetik pun. Tapi...
"Gerakanmu dalam
pertarungan barusan," Marco meneruskan ocehannya dengan nada rendah,
sehingga tak seorang pun bisa mendengarnya. Aneh, karena Marco adalah tipe
orang yang suka cari perhatian. “…….benar-benar aneh.”
"Tidak mungkin. Aku melakukannya seperti biasa, kok" Haruhiro menolaknya.
"Tidak. Kau
bertarung dengan aneh," kata Marco. “Seakan-akan, kau setingkat lebih
lambat daripada biasanya. Atau mungkin, tidak tepat juga bila disebut lambat
... Kau mencoba untuk melakukan “itu”, bukan? Jurusmu yang sekali bunuh itu.”
Haruhiro tidak menjawab,
tapi dia mengangkat bahu sesaat. Dia berusaha untuk menjaga agar ekspresi
wajahnya tetap datar, namun dia mulai merasakan keringat dingin membanjiri
tubuhnya. Karena apa yang dikatakan Marco adalah benar. Bagaimana mungkin orang
seperti Marco menyadari hal ini?
"Kau tidak memiliki
bakat untuk menjadi seorang pahlawan, Haruhiro," lanjut Marco. “Paham?
Tahu sendiri tahu sampai mana batasmu.”
Dia menepuk bahu Haruhiro
dengan simpatik. Haruhiro ingin membalasnya lebih keras, tapi dia tidak mau
repot. Apapun yang akan Haruhiro katakan pada orang seperti Marco, itu akan
sama saja. Marco, apakah kau benar-benar mengerti? Tidak, dia tidak akan
mengerti. Marco tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh orang seperti
Haruhiro.
Haruhiro hampir mati.
Sebagai imbalan atas keselamatan rekan-rekannya, ia hampir mengorbankan
nyawanya sendiri. Tapi, akhirnya semuanya berhasil pulang dalam keadaan
bernyawa, mereka bahkan sudah membunuh Deathspot, dan segala sesuatu yang indah
juga sudah terjadi. Akhirnya, semuanya akan baik-baik saja, seperti kata
pepatah. Tapi, semua kebahagiaan ini mereka dapatkan atas dasar keberuntungan semata.
Haruhiro tidak akan mampu
melakukannya, jika garis itu tidak muncul. Namun dia memutuskan untuk tidak
memikirkannya terlalu dalam, dan hanya menerima keberuntungan di saat itu
dengan lapang dada. Namun, apakah yang akan terjadi jika hal yang sama kembali
terulang berikutnya? Bagaimana jika mereka kembali terjebak dalam situasi
seperti itu? Apakah dia hanya perlu mengandalkan keberuntungan datang lagi?
Tidak, itu bukan pilihan. Jadi apa yang bisa dilakukannya?
Dia memiliki dua pilihan.
Yang pertama adalah, sebisa mungkin menghindari terulangnya keadaan bahaya
seperti itu. Dan tentu saja, Haruhiro berusaha sekuat tenaga untuk
menghindarinya. Yang kedua adalah, mengubah kebetulan menjadi kepastian. Yang
dia harus lakukan saat ini adalah, berupaya agar dia bisa melihat garis itu
kapanpun dia mau.
Tapi tidak sesederhana
itu. Master Barbara telah mengatakan kepadanya sebelumnya, “Kadang-kadang
muncul, kadang-kadang tidak. Itu bukanlah hal yang bisa muncul walaupun kita
sudah berkosentrasi keras atau sejenisnya.” Itu bukanlah teknik yang bisa
diandalkan, dan tergantung pada teknik seperti itu adalah suatu kesalahan
besar. Haruhiro menyadari kebijaksanaan yang terkandung pada kata-kata
Master-nya.
Namun, Haruhiro hanya
bisa berharap. Andaikan saja dia mampu melihat garis itu kapanpun dia mau, maka
di saat itulah akan lahir seorang pahlawan yang siap melindungi siapapun. Dan
bukankah itu keren? pikirnya.
"Haru?" Lusi bertanya.
Haruhiro bahkan tidak menyadari bahwa gadis putih itu telah berjongkok di sampingnya.
"Err … ada sesuatu yang salah?" Tanyanya.
"Aku juga mau menanyakan suatu hal padamu," kata Lusi sambil tersenyum kecil. “Apakah ada suatu beban yang sedang kau pikirkan?”
"Tidak ... tidak juga," Haruhiro berbohong.
Jika saja mereka berdua sendirian
pada tingkat ketiga Tambang Siren ini, maka Haruhiro pasti memiliki keberanian
untuk menjawabnya dengan jujur. Atau mungkin tidak, terlepas di mana dan siapa
yang ada di sana.
"Aku baik-baik saja," ia mencoba menenangkannya.
"Ampun deh ... baiklah, jika kau berkata demikian, ya sudah……" kata Lusi dengan ekspresi tidak yakin.
__ADS_1
Dan Haruhiro tahu dari ekspresi si gadis bahwa dia sama sekali tidak percaya. Haruhiro merasa bahwa dirinya telah melakukan hal mengerikan yang menyebabkan rasa sesak di dadanya semakin sakit.
Ini benar-benar... tidak adil.