KENANGAN DAN ABU HORMUZ

KENANGAN DAN ABU HORMUZ
Jilid 3 Chapter 1 - Diriku, Bakat Alami, dan Suka-Duka


__ADS_3

"Marco! Jangan


terlalu terpisah dari kami!" Haruhiro memperingatkannya sambil memutar


badan untuk berada di sisi belakang kobold bos yang sedang terlibat pertempuran


dengan Barto, dia sedang mencari celah yang bisa dia manfaatkan.


Bukannya sulit untuk


menemukan celah seperti itu. Ada! Sekarang! Pertahanan kobold petua itu penuh


dengan celah. Dia bisa dengan mudah menjatuhkan lawannya. Haruhiro melihat ekor


kobold petua yang dengan cepat menyapu apapun di sekelilingnya, tapi ia telah


memahami pola gerakannya sekarang.


Jika Barto menyerang


dengan cara 'A', maka si kobold akan bereaksi dengan cara 'B', maka berikutnya


mereka tinggal melakukan cara 'C'. Dan jika 'C' tidak berhasil, maka lakukan


'D', pasti itu akan berhasil. Haruhiro mampu memprediksi gerakan lawannya. Dia


yakin bisa menghabisinya dengan cepat, baik itu menggunakan skill [BACKSTAB],


maupun [WIDOW MAKER].


Tapi dia tidak berada di


dekat si kobold. Dia tidak ingin menghabisinya. Membunuh lawannya begitu saja


bukanlah tujuan akhir Haruhiro.


Dia ingin garis itu


muncul lagi. Garis yang kabur, buram, dan bersinar seperti api. Dia ingin bisa


melihatnya. Master Barbara pada Guild Thief pernah mengatakan kepadanya,


"Garis yang kau lihat itu, muncul sekali atau dua kali pada siapapun yang


memiliki cukup pengalaman bertarung."


Dia juga mengatakan,


"Itu bukanlah hal yang bisa kau munculkan dengan konsentrasi keras atau


apa pun." Dan meskipun dia mengatakan begitu," Itu juga bukan


pertanda buruk,", dia juga memperingatkan Haruhiro, "Tapi jangan


salah sangka. Garis itu bukanlah sesuatu yang istimewa.”


Garis itu bisa muncul


sekali atau dua kali pada siapapun yang memiliki pengalaman bertarung cukup


banyak. Tapi itu telah muncul lebih dari sekali atau dua kali bagi Haruhiro.


Garis itu muncul dengan wujud cerah dan nyata ketika ia membunuh Deathspot.


Jika garis itu tidak muncul, tidaklah mungkin Haruhiro mampu membunuh bos


kobold sekuat itu.


Deathspot harusnya bisa


meninggalkan Haruhiro di belakang, dan pergi mengejar rekan-rekannya yang lain,


mungkin bahkan membunuh mereka semua. Berapa banyak orang yang mati? Garis itu


telah menyelamatkan Haruhiro dan semua rekannya.


Tapi itu muncul secara


kebetulan. Itu hanya kebetulan muncul di hadapan Haruhiro. Dan jika memang


demikian, maka itu adalah suatu murni keberuntungan. Haruhiro baru saja


memperoleh salah satu keberuntung terbesar di hidupnya. Jika dewi fortuna tidak


tersenyum padanya hari itu, maka semuanya pasti sudah mati.


Haruhiro tidak ingin


percaya bahwa mereka telah diselamatkan oleh suatu keberuntungan. Dia tidak


benar-benar memahami alasannya, tapi ia sungguh ingin melihat garis itu lagi.


Jika saja Haruhiro bisa melihat garis itu kapanpun dia ingin, maka mungkin dia


akan menjadi ... tak terkalahkan?


Bukan berarti ia memiliki


ambisi untuk menjadi dewa atau sejenisnya, tapi dia ingin menjadi lebih kuat.


Dia ingin memiliki kekuatan untuk mengubah jalannya pertempuran ketika


diperlukan.


 "MAKA-!" Datang pukulan terakhir dari Barto.


Garis ...ayolah, muncul!


Ayo! Muncul, garis! Haruhiro memohon. Tapi sabetan diagonal pedang Barto telah


datang sembari melancarkan skill [RAGE CLEAVE], dia menghempaskan lawannya


dengan kekuatan fisik yang mengerikan. Barto menghancurkan lawannya dengan


sekali sabet.


Pedang Barto memotong


luka selebar dua puluh inci pada bahu kobold petua tersebut, dan menembus armor


yang dikenakan oleh si kobold, seakan-akan armor besi itu hanyalah kertas.


Kekuatan Barto sungguh luar biasa. Itu semua tidak hanya dikarenakan kemampuan


otot yang dominan, melainkan juga karena pedang barunya, yaitu The Chopper.


Semuanya telah memberikan


saran untuk nama pedang baru Barto, tetapi akhirnya saran terakhir dari Marco,


yaitu "The Chopper" yang diambil. Panjang rata-rata pedang itu adalah


sekitar empat kaki, tapi mata pisaunya sangatlah tebal. Dan meskipun pedang itu


berbentuk lebar seperti perisai, namun penampilannya secara keseluruhan mirip


seperti pencincang daging raksasa.


Itu pedang yang


sebelumnya dimiliki oleh Deathspot, tapi Barto juga bisa menggunakannya dengan


begitu efektif. Dia menendang kobold bos sampai jatuh dengan kasar, kemudian


menyabetkan pedang ke arah kepala si monster naas, sehingga tengkoraknya retak


bagaikan cangkang telur.


"BERIKUTNYA!" Teriak Barto.


Kampret, dia begitu mengagumkan dan keren, begitulah pikir Haruhiro.


"Haru!" Lusi memanggil, sementara dia masih terpesona kehebatan Barto.


"Er ... y-ya !?" Haruhiro berteriak balik padanya.


"Apa sih yang sedang kau lakukan !?" Marco mencerca.


Sebenarnya Haruhiro gak sudi mendengar kalimat itu dari Marco, tapi dia harus mengakui bahwa dia sedikit bengong tadi.


Akhir-akhir ini, mereka


sering berburu kobolds petua pada habitatnya, yaitu tingkat ketiga Tambang


Siren. Kebanyakan jimat kobold petua berharga tinggi di pasaran, dan setelah


mereka menghabisi Deathspot, tingkat ketiga menjadi tempat yang relatif aman


untuk melakukan perburuan. Pendapatan yang mereka kumpulkan semakin stabil.


Namun, tidak berarti


bahwa probabilitas bahayanya nol. Ini masihlah wilayah musuh, dan mereka akan


membayar harga mahal jika terlalu cepat puas. Barto telah menumbangkan seekor


bos kobold, sehingga hanya menyisakan dua pekerja kobold lainnya. Marco


berusaha melawan Kobold A, sementara Vina dan Lusi bekerja sama untuk menangani


Kobold B.


Tapi kemudian, petua


lainnya datang sembari memimpin tiga ekor kobold pekerja, mereka menyerang


Haruhiro dan yang lainnya dari jarak cukup jauh. Tepat ketika mereka berpikir


bahwa pertarungan ini sudah hampir berakhir dengan mudah, takdir berkata lain


dengan menghadirkan lawan-lawan baru untuk mereka.


"Semuanya ada


enam!" ketika Haruhiro selesai menghitung jumlah musuhnya, Barto berteriak


"MAKASIH!" dan menghancurkan lawan Lusi dan Vina, yaitu Kobold B.


"Uh, kalau begitu tinggal lima!" Haruhiro mengoreksi hitungannya.


"Rasakan ini!" Marco mengunci pedangnya pada Kobold A, lantas mendorongnya dengan keras.


Itu adalah skill baru


Dark Knight, [EXPEL FRENZY], di mana ia menekan dengan menggunakan pedangnya


untuk memukul mundur lawan yang sudah berada terlalu dekat, lantas dia melompat


mundur dan memperlebar jarak diantara mereka. Sebetulnya itu bukanlah teknik


yang begitu hebat, namun Marco mempunyai keahlian untuk melebih-lebihkan apapun


yang dilakukannya.


Haruhiro harus


mengakuinya, meskipun begitu, skill [EXPEL FRENZY] memiliki potensi untuk


dikombinasikan dengan teknik lainnya.


"[ANGER THRUST]!"


Marco telah melancarkan


teknik lainnya walaupun jangkauan masih terlalu lebar, tetapi dia sanggup


melangkah lebih jauh untuk memperpendek jarak dengan lawan, kemudian menusukkan


pedangnya pada tenggorokan Kobold A. Selang beberapa detik, kobold itupun


kehilangan nyawanya, sedangkan Haruhiro dengan enggan mengakui bahwa Marco


terlihat keren saat ini. Ya, keren untuk sepersekian detik saja, tak lebih.


Bukan hanya teknik


bertarung yang telah mengalami peningkatan, Marco juga dilengkapi dengan helm


baru. Helm sebelumnya milik Marco begitu terbuka, dan telah rusak sehingga


tidak bisa lagi diperbaiki, dan dia pun membeli helm bascinet baru, lengkap


pelindung muka. Itulah yang digunakannya saat ini. Helm baru itu dicat hitam,


dan Marco mengatakan suatu hal yang bodoh tentang helm itu, sehingga membuatnya


terlihat seperti seorang Dark Knight yang greget.


[Bascinet adalah tipe helm besi yang dilengkapi pelindung muka.]


Yah, Haruhiro harus


mengakuinya sekarang, karena dia baru saja melihat Marco sebagai seorang Dark


Knight yang begitu keren. Walaupun itu hanya untuk sepersekian detik saja.


"Uh ... empat telah


tumbang!" Haruhiro berteriak, dia sedikit bingung sehingga dia memberikan


perintah sekali lagi. Bagaimanapun, dia adalah pemimpin Party ini. "Barto,


kau tangani si petua! Marco, hadapi salah satu pekerja dan kalahkan dia secepat


mungkin! Aku dan Vina akan mengurus dua lainnya!”


Barto menghadapi si petua


sembari mengerang. Ketika mereka saling mengunci pedang, Barto mengeksekusi


skill [SPIRAL SLASH], dia menekankan serangan, sehingga lawannya pun terpaksa


terdorong mundur.


"[HATRED’S

__ADS_1


CUT]!" Marco melompat pada Kobold C. Serangan pertamanya masih bisa


dimentahkan, tapi Marco terus menekan ke depan, sembari melancarkan serangan


lain secara bertubi-tubi.


Vina menyerang Kobold D


secara langsung, dan ketika monster itu membalas dengan ayunan sekopnya, dia


menjungkir rendah untuk menghindari serangan tersebut dan itu adalah skill


barunya, [FOX VAULT]. Itu benar-benar skill yang berdasar pada teknik pemakaian


Kukri, namun Haruhiro tidak mengerti mengapa senjata itu tidak digunakan secara


langsung saja. Vina mendekatinya dalam sekejap, sehingga membuat Kobold D


terkejut, lantas Vina mengeksekusi kombinasi skill [SWEEPING SLASH] dan [CROSS


CUT], dan lawannya pun menyerah.


"Whoa!" Teriak Haruhiro, namun sama sekali tidak berniat membuat keributan sedikitpun.


Melawan musuh dengan duel


tunggal bukanlah keahlian seorang Thief. Kobold E mengayunkan sekop pada


Haruhiro beberapa kali, sementara dia membelokkan itu dengan skill [SWAT].


Sekop tersebut adalah alat yang biasa digunakan untuk kegiatan pertambangan,


dan terbuat dari logam pada pegangan hingga ke ujung, sehingga itu juga efektif


sebagai senjata.


[SWAT] adalah skill yang


lebih dimaksudkan untuk bertahan, namun jika kesempatan muncul, Haruhiro juga


bisa menggunakannya untuk membuat celah pada pertahanan musuh.


Ia melakukan metode itu


ketika menghadapi Kobold E yang terus mengayun-ayunkan sekopnya dengan lebar.


Haruhiro lebih memilih untuk mengelak daripada membelokkan serangan tersebut


dengan [SWAT]. Kobold E segera menyadari bahaya, dan dia dengan cepat menarik


senjatanya kembali. Dia menyerang lagi, tapi kali ini dengan ayunan sekop yang


lebih pendek, namun cukup cepat. Tampaknya dia kini lebih mengutamakan


kecepatan daripada kekuatan.


Sekarang! Haruhiro


berpikir sejenak, lantas dia membelokkan sekop Kobold E dengan menggunakan


[SWAT]. Itu bukanlah [SWAT] yang biasa. Kali ini Haruhiro memadukan kekuatan


ototnya pada [SWAT] yang dia lepaskan, sehingga memaksa sekop kobold mental


jauh dari tubuhnya. Kobold itu sekarang tanpa pertahanan.


Haruhiro langsung


memangsanya, dia menggunakan tangan kiri dan lengan kanan untuk mengunci


pergerakan Kobold E. Monster itu mengerang ketika sikunya tak lagi bisa


bergerak, kemudian Haruhiro menyapu kaki lawannya sehingga dia terjerembab ke


tanah.


Ini adalah teknik baru


yang Master Barbara ajarkan, atau lebih tepatnya, dipaksakan oleh gurunya, nama


skill ini adalah [ARREST]. Meskipun terlihat bagus ketika skill ini berhasil


dieksekusi, namun sebenarnya ini juga bukan skill yang teramat istimewa.


Sementara Kobold E masih


jatuh di tanah, Haruhiro menyematkan kakinya pada rahang si kobold sekeras-kerasnya.


Kepala seekor kobold berbentuk seperti anjing, gigitan mereka begitu kuat,


tetapi struktur tulangnya lembek. Struktur rahang mereka sangatlah rentan


terhadap serangan dari samping. Kobold E sekarang tak sadarkan diri, atau lebih


tepatnya, hampir tidak sadarkan diri.


"Oom rel eckt pram das!" Teriak Alice.


Sebuah elemental bayangan


yang berbentuk seperti rumut laut hitam ditembakan dari ujung tongkat Alice,


benda itu terbang di udara dengan jalur spiral rapat.


"Vina, hati-hati!" Alice memperingatkan.


Vina merunduk sembari


menjerit ketika elemental bayangan itu terbang melewati atas kepalanya. Sihir


itu tepat menghantam Kobold D langsung di wajah, kemudian mulai meresap ke


dalam tubuh melalui telinga, mulut, dan hidung. Kobold D berhenti bergerak


sepenuhnya, tubuhnya kaku seperti papan kayu.


Walaupun kelihatannya


sama, namun ini adalah teknik baru Alice bernama [SHADOW COMPLEX], ini adalah


mantra yang benar-benar masuk ke kepala musuh untuk membingungkan mereka. Alice


telah mempelajari mantra tertentu karena dia ingin lebih menguasai sihir


ofensif. Memang, ini tidak seperti [PHANTOM SLEEP], sihir ini akan bekerja


bahkan pada musuh yang memiliki mental kuat dan selalu waspada. Mantra ini


begitu cocok dengan Alice itu sendiri, dan sangat berguna ketika bertarung


dalam grup.


Bahkan ketika Vina


melihatnya, Kobold D tiba-tiba melemparkan sekopnya, dan terlihat sangat


bingung. Vina menyerang dengan penuh amarah menggunakan kukri-nya, dan dia


menikamkan senjata tersebut sembari berteriak. Pada saat Kobold D kembali


sadar, itu sudah terlambat. Vina telah merobek tubuhnya dengan begitu parah,


"ARGH!" Marco


menghabisi Kobold C dengan kombinasi skill [EXPEL FRENZY] dan [ANGER THRUST],


akhir-akhir ini dia terlihat begitu kecanduan bertarung.


Dengusan Barto terdengar


dari jarak dekat, dan Haruhiro bertanya-tanya apakah si petua itu menyulitkan Barto


ketika melawannya. Tidak, bukan itu masalahnya, Haruhiro pun telah menyadari


itu. Sepertinya si petua telah menemukan celah pada pertahanan Barto, lantas si


monster menyabetkan pedangnya pada lengan kiri Barto. Tapi, itu bisa terjadi


semata-mata karena Barto memang mempersilahkan lawannya berbuat demikian.


Barto sekarang dilengkapi


dengan armor baja yang melindungi pinggangnya, dan juga kedua lengannya. Kedua


plat baja tersebut memang barang bekas, tetapi sudah dipaskan oleh seorang ahli


armor. Dan Barto juga telah mendapatkan teknik pertempuran baru untuk digunakan


bersama armor yang berat.


Pedang kobold bos


menghujam pada pelindung lengan Barto dan membenturnya dengan suara klang yang


keras, namun pedang itu mental. Itu bukanlah pantulan sederhana, melainkan itu


adalah salah satu skill baru milik Barto, yaitu [STEEL GUARD]. Faktanya, Barto


sama sekali tidak pernah mengikuti program pelatihan pada Guild Warrior,


sehingga Haruhiro tidak pernah tahu bagaimana rekannya itu mendapatkan skill


seperti itu, tapi skill tersebut adalah semacam metode khusus untuk memperkuat


armor seseorang dengan memanfaat energinya, sehingga semua serangan musuh akan


memantul.


Dan tidak hanya itu


perlindungan yang dimiliki oleh anggota Party ini, semuanya berada dalam


lingkupan skill Lusi, yaitu [LIGHT OF PROTECTION]. Sihir itu bisa meningkatkan


kemampuan fisik, ketahanan, dan mempercepat kemampuan tubuh untuk menyembuhkan


dirinya sendiri. Mantra ini mungkin ada hubungannya dengan Dewa Cahaya


Luminous, karena ketika Lusi mengaktifkannya, simbol segi enam melayang di atas


pergelangan tangan kiri setiap anggota Party, sementara mereka berada di bawah


pengaruh mantra ini. Menurut Lusi, mantra ini bisa diberikan pada 6 orang


sekaligus dan berlangsung hingga 30 menit lamanya. Haruhiro merasakan efektivitas


mantra tersebut ketika tubuhnya menjadi terasa lebih ringan, dan itu sangat


meningkatkan kemampuan bertarung mereka.


Dan mungkin berkat [LIGHT OF PROTECTION], Barto juga bergerak cepat untuk menyelesaikan si petua itu.


"MAKASIH!!!" Barto berteriak.


Tentu saja Barto masih


menggunakan skill andalannya, [RAGE CLEAVE]. Skill tersebut bukan hanya


bertindak sebagai sentuhan akhir, namun skill itu cukup kuat, stabil, dan yang


terpenting, skill itu begitu keren. Pedang Barto menghancurkan bahu petua yang


sudah kehilangan keseimbangan. Itu adalah cara yang hampir sama persis ketika


membunuh petua pertama.


Postur dan gaya Barto


begitu elegan, tidak seperti Marco, ia tidak pernah mengumbar omong kosong aneh


dan trik murahan hanya agar terlihat keren. Dia adalah sosok pria sederhana


baik dari segi penampilan maupun sifat. Dia hanya memiliki teknik dasar dan


begitu kesulitan mengembangkannya, namun dia terus berlatih sesering mungkin,


sehingga dia mendapatkan teknik original buatannya sendiri.


Mungkin Haruhiro sedikit


melebih-lebihkan, tapi tidak ada keraguan bahwa [RAGE CLEAVE] milik Barto telah


berkembang menjadi jurus pembunuh mengerikan untuk menghancurkan


lawan-lawannya.


Tentu saja efektivitas


[RAGE CLEAVE] juga dipengaruhi oleh hal-hal seperti kekuatan fisik, kemampuan,


dan kualitas senjata, dan juga faktor-faktor lainnya. Namun, kenapa teknik itu


begitu efektif ketika digunakan oleh Barto? Jawabannya tentu saja adalah timing-nya.


Setiap kali dia melihat


celah pada pertahanan musuh, Barto menggunakan [RAGE CLEAVE] pada momen yang


begitu tepat, sampai-sampai Haruhiro ingin berdiri untuk bertepuk tangan setiap


kali Barto sukses mengeksekusi skill-nya.


Saat inipun, dia ingin bertepuk tangan sekencang-kencangnya pada rekan setimnya


ini….. namun, apakah itu begitu penting dilakukan?


Katika Haruhiro masih


kebingungan, Marco menyerang Kobold D dari sisi belakang. Vina sudah melawannya


sejak tadi, namun Marco berhasil menghabisinya dengan serangan pamungkas.


"Ha ha ha! YESSSSS! Aku dapat Vice!” Marco menyatakan kemenangannya.


"Marco bodoh!" Teriak Vina. “Harusnya Vina bisa mengatasi ini sendirian!”

__ADS_1


"Apa-apa’an? Kau


berusaha membunuhnya dengan tanganmu sendiri? Nona Papan Cucian, sekarang


kenapa kau begitu haus darah layaknya hewan buas!? Ha! Kau ingin mengabdikan


diri untuk Dewa Skulheill juga?" Marco memberikan penawaran.


"Tidak


mungkin!" Jawab Vina. “Vina adalah seorang Hunter yang mencintai Dewi


Putih Eldritch. Vina hanya berpikir bahwa jika dia bertarung satu lawan satu


dengan Kobos itu sampai akhir, maka Vina akan memenangkan pertarungan ini! Dan


jangan panggil Vina Papan Cucian!!!”


"Vina, yang benar


Kobold ..." Haruhiro hanya bisa mengoreksi perkataan si gadis Hunter,


namun seperti yang sudah diduganya, bahwa dia diabaikan begitu saja.


“Papan cucian, papan


cucian, datar, datar, dada datar! Kalau kami tidak mau dipanggil datar, maka


tumbuhlah yang besar!” Marco kembali membentaknya.


"Vina tidak tahu


bagaimana caranya menumbuhkan dada menjadi besar!" Vina berkata dengan


sungguh-sungguh.


"Lakukan saja


seperti ini!" Marco berbalik ke arah Vina, dan dia meremas-remas sembari


memijit dadanya sendiri.


"Pelecehan


seksual!" Alice protes, sembari memelototi Marco dengan tatapan setajam


pisau belati, sementara Lusi hanya mendesah dan bergumam, "Benar-benar


keji."


"Akulah yang


terbaik!" Marco berteriak, dengan pembuluh darah yang menggembung di


pelipisnya. "Akulah Sang Peleceh Seksual terbaik! Akulah yang paling


tercela! Ayo! Apapun yang kalian katakan, itu tidak akan menggangguku! Aku akan


menjadi raja peleceh seksual yang paling tercela di dunia ini!”


"Hm ..." Vina


merenungkan dan mengulangi kata-kata Marco barusan ... atau lebih tepatnya, dia


meniru gerakan Marco, yaitu meremas-remas dadanya sendiri. “Apakah kau


digini’in benar-benar akan tumbuh besar? Vina sih merasa ini tidak tumbuh


besar! Atau lebih sulit tumbuh daripada kelihatannya?”


Barto mengeluarkan


semacam suara tersedak, sementara Alice dengan cepat menyambar tangan Vina dan


berkata, "V-Vina ... itu bukanlah sesuatu yang boleh kau lakukan di depan


orang lain!”


"Oh, jadi ini hanya akan berhasil jika Vina lakukan secara pribadi?" Tanya Vina.


"Um…. sepertinya bukan itu masalahnya ..." jawab Alice.


Marco mengejek. “Apa


masalahnya? Terus remas saja! Punyamu begitu kecil, jadi orang lain tidak akan


melihat apa-apa!”


"Dasar Bodoh!" Teriak Vina.


“Aku bukan orang bodoh !


Aku adalah Raja Peleceh Seksual Paling Tercela! Itulah gelar baru yang aku


peroleh, jadi kau jangan lupa, ya! Sekarang, sujud dan sembahlah kemesumanku!”


"Berhenti menganggap


itu sebagai hal yang baik," kata Haruhiro sambil mulai mencari


barang-barang yang kobolds tinggalkan.


Tak satu pun dari


barang-barang mereka bisa dijual, jadi dia harus puas dengan jimat saja. Saat


ia berjongkok di dekat mayat kobold, dan dengan hati-hati melepaskan jimat


berupa anting-anting dari salah seekor kobolds pekerja, Marco tiba-tiba


melompat di dekatnya dan merobek anting-anting emas dari jasad kobold tersebut.


Haruhiro sangat membenci


perlakuan kasar Marco terhadap mayat monster. Masih banyak hal lain yang


Haruhiro benci dari sosok Marco. Bahkan, ia tidak menyukai segala sesuatu pada


sosok pria berambut berantakan itu.


"Apa sih?" Marco memelototi Haruhiro. ”Kau mau bilang sesuatu padaku?"


"Tidak juga," jawab Haruhiro.


"Kalau begitu, izinkan aku mengatakan ini kepadamu."


"Apa?"


"Haruhiro," Marco menggunakan ibu jarinya untuk menjentikkan cincin emas ke udara, dan membiarkannya mendarat di telapak tangan. “Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak.”


"Hal yang tidak-tidak?" Tanya Haruhiro. “Maksudnya apa?”


"Kau pikir kau sudah menjadi semacam pahlawan, bukan?" Marco menuduhnya.


"Pahlawan?" Ulang Haruhiro.


Hanya si Marco bodoh yang


memikirkan hal konyol seperti itu, dan begitupun pikir Haruhiro. Tapi perkataan


itu langsung membuat dadanya sesak, dan dia tidak memberikan jawaban dengan


cepat. Seorang pahlawan, ya? Haruhiro tidak pernah berpikir bahwa dirinya layak


disebut pahlawan atau semacamnya. Tidak sama sekali. Bahkan dia tidak pernah


memikirkan itu sedetik pun. Tapi...


"Gerakanmu dalam


pertarungan barusan," Marco meneruskan ocehannya dengan nada rendah,


sehingga tak seorang pun bisa mendengarnya. Aneh, karena Marco adalah tipe


orang yang suka cari perhatian. “…….benar-benar aneh.”


"Tidak mungkin. Aku melakukannya seperti biasa, kok" Haruhiro menolaknya.


"Tidak. Kau


bertarung dengan aneh," kata Marco. “Seakan-akan, kau setingkat lebih


lambat daripada biasanya. Atau mungkin, tidak tepat juga bila disebut lambat


... Kau mencoba untuk melakukan “itu”, bukan? Jurusmu yang sekali bunuh itu.”


Haruhiro tidak menjawab,


tapi dia mengangkat bahu sesaat. Dia berusaha untuk menjaga agar ekspresi


wajahnya tetap datar, namun dia mulai merasakan keringat dingin membanjiri


tubuhnya. Karena apa yang dikatakan Marco adalah benar. Bagaimana mungkin orang


seperti Marco menyadari hal ini?


"Kau tidak memiliki


bakat untuk menjadi seorang pahlawan, Haruhiro," lanjut Marco. “Paham?


Tahu sendiri tahu sampai mana batasmu.”


Dia menepuk bahu Haruhiro


dengan simpatik. Haruhiro ingin membalasnya lebih keras, tapi dia tidak mau


repot. Apapun yang akan Haruhiro katakan pada orang seperti Marco, itu akan


sama saja. Marco, apakah kau benar-benar mengerti? Tidak, dia tidak akan


mengerti. Marco tidak akan mengerti apa yang dirasakan oleh orang seperti


Haruhiro.


Haruhiro hampir mati.


Sebagai imbalan atas keselamatan rekan-rekannya, ia hampir mengorbankan


nyawanya sendiri. Tapi, akhirnya semuanya berhasil pulang dalam keadaan


bernyawa, mereka bahkan sudah membunuh Deathspot, dan segala sesuatu yang indah


juga sudah terjadi. Akhirnya, semuanya akan baik-baik saja, seperti kata


pepatah. Tapi, semua kebahagiaan ini mereka dapatkan atas dasar keberuntungan semata.


Haruhiro tidak akan mampu


melakukannya, jika garis itu tidak muncul. Namun dia memutuskan untuk tidak


memikirkannya terlalu dalam, dan hanya menerima keberuntungan di saat itu


dengan lapang dada. Namun, apakah yang akan terjadi jika hal yang sama kembali


terulang berikutnya? Bagaimana jika mereka kembali terjebak dalam situasi


seperti itu? Apakah dia hanya perlu mengandalkan keberuntungan datang lagi?


Tidak, itu bukan pilihan. Jadi apa yang bisa dilakukannya?


Dia memiliki dua pilihan.


Yang pertama adalah, sebisa mungkin menghindari terulangnya keadaan bahaya


seperti itu. Dan tentu saja, Haruhiro berusaha sekuat tenaga untuk


menghindarinya. Yang kedua adalah, mengubah kebetulan menjadi kepastian. Yang


dia harus lakukan saat ini adalah, berupaya agar dia bisa melihat garis itu


kapanpun dia mau.


Tapi tidak sesederhana


itu. Master Barbara telah mengatakan kepadanya sebelumnya, “Kadang-kadang


muncul, kadang-kadang tidak. Itu bukanlah hal yang bisa muncul walaupun kita


sudah berkosentrasi keras atau sejenisnya.” Itu bukanlah teknik yang bisa


diandalkan, dan tergantung pada teknik seperti itu adalah suatu kesalahan


besar. Haruhiro menyadari kebijaksanaan yang terkandung pada kata-kata


Master-nya.


Namun, Haruhiro hanya


bisa berharap. Andaikan saja dia mampu melihat garis itu kapanpun dia mau, maka


di saat itulah akan lahir seorang pahlawan yang siap melindungi siapapun. Dan


bukankah itu keren? pikirnya.


"Haru?" Lusi bertanya.


Haruhiro bahkan tidak menyadari bahwa gadis putih itu telah berjongkok di sampingnya.


"Err … ada sesuatu yang salah?" Tanyanya.


"Aku juga mau menanyakan suatu hal padamu," kata Lusi sambil tersenyum kecil. “Apakah ada suatu beban yang sedang kau pikirkan?”


"Tidak ... tidak juga," Haruhiro berbohong.


Jika saja mereka berdua sendirian


pada tingkat ketiga Tambang Siren ini, maka Haruhiro pasti memiliki keberanian


untuk menjawabnya dengan jujur. Atau mungkin tidak, terlepas di mana dan siapa


yang ada di sana.


"Aku baik-baik saja," ia mencoba menenangkannya.


"Ampun deh ... baiklah, jika kau berkata demikian, ya sudah……" kata Lusi dengan ekspresi tidak yakin.

__ADS_1


Dan Haruhiro tahu dari ekspresi si gadis bahwa dia sama sekali tidak percaya. Haruhiro merasa bahwa dirinya telah  melakukan hal mengerikan yang menyebabkan rasa sesak di dadanya semakin sakit.


Ini benar-benar... tidak adil.


__ADS_2